
"Mmh, tidak apa-apa, Ma. Yang penting sudah ditata rapi oleh Mama, aku sudah sangat bersyukur sekali," ujar Abigail.
"Kau sudah lihat kamarmu?"
"Belum, Ma. Nanti aku lihat."
Mereka kembali meneruskan makannya. Setelah selesai makan siang, Mama pulang dengan diantar supir. Mereka melambaikan tangan pada wanita itu seiring mobilnya keluar.
Abigail terpaksa menutup pagar karena mereka hanya tinggal berdua di rumah itu sekarang. Saat ia berbalik, Marina sudah tidak ada. Ia kemudian masuk ke dalam rumah. Rumah yang cukup besar, membuat ia bingung harus mencari wanita itu di mana tapi kemudian ia bisa menebak. Marina pasti pergi ke dapur, karena piring di atas meja sudah dirapikan.
Terdengar suara bayi mengoceh tak jelas ketika pria itu mulai sampai di dapur. Ternyata Marina ada di dapur sedang mencuci piring ditemani Farrel yang sepertinya terlihat senang melihat rumah baru itu yang lapang hingga bisa melihat sejauh mata memandang.
Bayi itu masih mengoceh saja saat Abigail datang membuat pria itu tertawa.
Marina cukup terkejut melihat kedatangan pria itu tapi kemudian ikut tertawa. "Dari tadi, Kak. Baru bangun langsung ngoceh terus."
Abigail masih tertawa. "Aku belum pernah lihat Farrel secerewet ini. Mungkin dia suka rumah barunya."
"Mungkin, Kak." Marina memperhatikan bayi itu yang terlihat begitu senang. "Atau mungkin, Farrel tipe yang cerewet ya?"
"Ah, masa?" Namun kemudian Abigail tertawa lagi. "Pasti ramai rumah kalau Farrel memang secerewet itu. Satu saja sudah ramai. Apalagi 2."
"Dua?"
Melihat Marina menatap ke arahnya, Abigail serasa mati kutu. Ia kembali salah bicara. "Eh ... itu kalau ...." Ia sendiri bingung mau bicara apa.
Marina segera menyudahi cuci piringnya karena pipinya mulai memanas. "Eh, Kak. Aku mau bawa koperku dulu ke atas." Ia meninggalkan pria itu dan Farrel.
Abigail kemudian mendorong kereta bayi ke ruang tengah dan melihat Marina kesulitan membawa kopernya menaiki tangga. "Eh, Marina." Ia mengejarnya. "Sini biar aku yang bawa." Pria itu mengambil alih koper wanita itu.
"Cuma susah naik tangga aja, Kak."
"Tidak apa-apa. Coba kamu bawa Farrel ke kamarnya. Mungkin Mama sudah menyediakan tempat tidur bayi di sana."
"Kereta bayinya?"
"Di bawah saja." Pria itu berhasil membawa koper Marina ke lantai atas disusul Marina yang menggendong Farrel.
Wanita itu mencari kamar Farrel. Sesuai keterangan ibu Abigail tadi, seharusnya pintu kamar nomor dua dan benar saja ada kamar bayi dengan interior yang lucu sekali.
Ada lukisan karakter jerapah dengan leher yang sangat panjang di dinding dengan nuansa biru di dalam ruangan. Marina terkagum-kagum dengan keindahan ruangan itu yang penuh dengan pernak-pernik lucu-lucu menghiasi ruangan.
Ada meja untuk berganti pakaian untuk bayi dengan rak-rak di bawahnya, juga karpet dari busa dan tempat tidur bayi yang seukuran orang dewasa dengan pagar yang tinggi.
"Wah, ini. Aku bisa tidur di dalamnya, ya?" Marina melihat ke dalam, tempat tidur yang empuk serta beberapa bantal mungil dan lucu untuk bayi itu, telah disediakan di dalamnya. "Wah, kamu mau guling-guling di dalam, Tante gak akan marah lho! Kamu gak akan jatuh."
"Ada apa?" ucap Abigail yang tiba-tiba bergabung. Ia terengah-engah mengangkat kopernya dan koper Marina serta koper Farrel juga, ke lantai atas. "Oh, tempat tidurnya besar!" Pria itu juga terkejut. "Oh, ini untuk ibu yang menyusui seharusnya." Ia menoleh ke arah Marina yang pipinya tiba-tiba kemerahan.
"Eh, kakak tau bagaimana cara membuka pagar ini karena tinggi sekali. Sepertinya bisa dibuka ya?"
"Iya. Sini."
Marina memberi jalan pria itu mendekati pagar tempat tidur. Pria itu mengangkat sedikit lalu menjatuhkan lagi perlahan pagar itu yang ternyata langsung lolos ke bawah sehingga Marina bisa meletakkan bayi itu di atas tempat tidurnya. "Sebentar ya, Kak. Aku mau memasukkan baju Farrel di lemari."
Abigail langsung mengambil alih menjaga Farrel sementara wanita itu menata barang-barang Farrel yang diambil dari dalam koper. Ia memasukkan ke dalam lemari dan rak peralatan bayi.
Setelah itu .... "Eh, aku ingin merapikan barang-barangku dulu di kamar, Kak."
"O ya sudah. Tinggalkan saja. Ngak papa."
Marina pun keluar kamar. Ditunggu sejam, dua jam, tiga jam wanita itu tak kunjung kembali membuat Abigail penasaran. Ia menggendong Farrel dan mendatangi kamar Marina lalu mengetuknya.
"Kau belum selesai?"
"Mmh, ada apa ya, Kak?"
"Bukan. Farrel gimana?" Abigail sendiri bingung kenapa Marina tiba-tiba berubah.
"Katanya aku libur hari ini?"
"O-oh, begitu."
Marina baru akan menutup pintu ketika pria itu kembali memanggilnya.
"Eh, Marina. Tunggu."
"Iya?" Wanita itu kembali membuka pintunya. Terlihat terganggu.
"Marina, apa kamu marah padaku?" Abigail langsung menebaknya. Tidak biasanya dia meninggalkan Farrel tanpa pesan walaupun sudah menitipkan.
Wanita itu menghela napas dengan kasar.
"Apa? Katakan, aku tidak tahu."
"Katanya ... Kakak mau nunggu, tapi ... dari tadi Kakak nyindir aku terus," ujar wanita itu sedikit kaku. Ia sendiri tidak yakin dengan apa yang dirasa.
"Nyindir apa? Astaghfirullah alazim. Aku ngomong apa?" Abigail masih tak tahu apa yang membuat wanita itu kesal.
"Itu, di tempat cuci piring tadi. Apa maksudnya punya anak dua? Tadi juga di kamar Farrel tentang tempat tidur buat ibu menyusui. Itu apa maksudnya?"
Pria itu terperangah. Kenapa wanita ini sesensitif itu dengan kalimat-kalimatnya? "Marina, aku bilang tempat tidur itu untuk ibu menyusui, itu benar adanya. Sedang di tempat cuci piring tadi, aku hanya keceplosan, maaf."
Marina merengut.
"Lagipula, apa masalahnya sih, kalau aku betulan ingin cepat menikah denganmu? Karir? Aku takkan membatasi. Percayalah, aku akan sewa babysitter agar kamu leluasa bekerja keluar rumah."
"Bukan begituuu ...." Marina masih merengut tapi kini butiran air matanya mulai berjatuh. Ia kini merasa bersalah pada Abigail karena ia tidak bisa membicarakan masalah keluarganya pada pria itu.
Pria itu menghela napas pelan. "Marina, aku menyayangimu karena itu aku melamarmu. Aku tidak main-main dalam masalah ini. Jika masih ada yang mengganjal dipikiranmu, aku tidak masalah. Aku akan menunggu."
Mulut wanita itu makin mengerucut dengan suara tangis kecilnya. Abigail berusaha mengerti tentang kegundahannya walau tidak tahu apa. Ia menarik wanita itu dalam pelukan.
Marina meletakkan wajahnya pada bahu pria itu dan menyelesaikan tangisnya. Tak lama ia menegakkan kepala dan menghapus air matanya.
"Mmh, gitu. Jangan lama-lama nangisnya nanti kamu laper, lagi."
Marina mulai tersenyum lebar.
"Eh, kita jalan-jalan yuk, keluar. Kita lihat fasilitas di perumahan ini. Katanya ada kolam renang dan tempat gym. Juga ada taman untuk duduk-duduk."
"Di mana?"
"Makanya kita cari sambil jalan. Kita jalan kaki saja sambil dorong kereta bayi Farrel."
"Panas gak? Jauh?"
"Mmh!" Abigail mencubit lembut pipi wanita itu. "Ya sekalian olahraga. Jangan malas ah! 'Kan aku temani. Lagi pula gak begitu panas kok di luar. Ayok?"
"Mmh." Marina mengangguk. Mereka menuruni tangga.