Author And The Baby

Author And The Baby
Ternyata



"Mmh, kalau begitu, kami pamit dulu," ujar Abigail pada Sila.


Tak lama Sila menutup pintu.


"Kak," sahut Anka.


"Mmh?"


"Dia duda lho, Kak."


Sila melirik adiknya. "Kenapa memangnya?" tanyanya sambil tersenyum.


"Ganteng. Nanti lama-lama Marina suka, gimana, Kak?" tanya Anka khawatir.


Sila tertawa. "Ya gak apa-apa. Itu 'kan masalah hati, Anka. Tidak ada yang tahu."


Anka merengut.


"Kalau kamu suka sama Marina, kejar saja."


"Boleh, Kak?" tanya pemuda itu semringah.


"Ya, kalau dia belum menentukan pilihan, kenapa tidak?"


Anka tersenyum lebar.


-----------+++-----------


Di kantor polisi, keduanya, Abigail dan Marina melihat video itu.


Abigail terkejut. "Itu, wanita itu ...." Ia menunjuk layar, wanita yang membawa keranjang dan meletakkannya di samping Marina yang sedang sibuk melihat laptop.


Marina terlihat melirik ke arah wanita itu sebentar lalu ke arah bayi di sampingnya. Walaupun wanita itu membelakangi CCTV tapi di belakang Marina ada kaca jendela yang memantulkan wajah dan tubuh orang itu sehingga Abigail langsung tahu siapa wanita itu.


Abigail terperangah. Ia tak percaya dengan apa yang dilihat. "Dia ... dia mantan sekretaris saya. Dia memang dekat dengan istri saya sebelum dikeluarkan dari kantor. Aku pikir mereka tidak pernah lagi saling berhubungan sejak itu tapi ternyata mereka masih saling bertemu."


"Bisa kami minta alamatnya, Pak?"


"Oh, iya. Biar aku tanya HRD." Abigail mengeluarkan HP-nya dan menelepon kantor. Tak lama, ia mendapat alamat rumah dan nomor telepon yang diserahkan langsung pada polisi. "Aku tak mengerti kenapa dia dendam padaku?"


"Kalau itu kita tidak tahu, Pak. Biar kami temui dulu orangnya agar mendapat gambaran yang jelas tentang duduk perkaranya."


"Iya, jangan suudzon, Kak," sahut Marina dari samping.


"Iya, iya." Abigail mengangguk pelan.


----------+++---------


Mereka keluar dari kantor polisi.


"Mmh, bagaimana kalau kita ke rumah orang tuaku?"


"Mmh? Mau apa Kak?"


"Mau ambil surat-surat Farrel seperti akte kelahiran dan buku imunisasinya. Aku juga ingin memperlihatkan Farrel pada nenek kakeknya. Mereka baru bertemu Farrel saat lahir saja, setelah itu mereka pergi ke luar negeri."


"Oh, iya, Kak."


Mobil Abigail sampai ke sebuah rumah mewah berlantai 2 yang luas. Halaman depannya juga punya kolam ikan dan kandang berbagai jenis binatang seperti ayam, bebek dan kelinci.


Marina takjub saat memasuki rumah mewah yang mirip istana itu.


"Papa kok di rumah?" ucap Abigail terkejut ketika mendapati kedua orang tuanya ada di rumah.


"Ya, tentu saja. Melihat kabar gembira dari pesan yang kau kirimkan, Papa segera pulang," sahut pria paruh baya yang menyambut anak satu-satunya itu pulang.


Mama tersenyum di sampingnya. Dilihat dari penampilan, Abigail memang mirip ibunya yang bule sedang ayahnya orang Indonesia.


"Ma, Pa, ini kenalkan Marina yang telah merawat Farrel selama ini. Aku beruntung mengenalnya karena kita kebetulan juga tinggal di lantai yang sama."


Marina yang sedikit gugup, berusaha tersenyum dan menganggukkan kepala. Kedua orang tua Abigail juga melihat bayi Farrel yang digendong Marina.


"Oh, pernah di inkubator ya, Bu?" Marina terkejut.


"Oh, iya." Mama melirik Marina. "Dia 'kan lahir 7 bulan, jadi tubuhnya sangat kecil."


"Oh, begitu." Wanita itu mengangguk-angguk. "Pantas waktu pertama kali bertemu, tubuhnya sangat kecil hingga saya pikir bayi ini baru lahir."


"Tapi tubuhnya sangat kuat hingga sampai sekarang ia masih hidup. Padahal ia melewati rintangan yang tidak mudah dan ikut dalam perjalanan jauh seperti itu."


Netral Abigail berkaca-kaca. "Untung Tuhan melindunginya."


"Abi." Papa menepuk-nepuk bahu anaknya meneduhkannya.


Abigail segera mengerjap-ngerjapkan matanya. "Eh, jadi. Karena Marina sudah kenal dengan Farrel, aku mempekerjakannya menjadi babysitter Farrel, Bu."


"Oh, begitu. Mohon bantuannya ya, menjaga cucuku," sahut Mama Farrel pada wanita itu.


"Oh, iya, Bu."


"Sini, coba. Mama mau gendong Farrel."


Mama mengambil alih Farrel dari tangan Marina. "Mmh, cucu Nenek. Sehat-sehat ya, Sayang?"


Bayi itu mengoceh sedikit dan menatap wajah neneknya.


"Aku mau ambil berkas-berkas Farrel. Apa Mama menyimpannya?" tanya Abigail pada Mama.


"Oh, iya, ada."


--------------+++------------


Abigail dan Marina naik ke mobil. Mereka melambai kepada kedua orang tua Abigail sebelum mobil bergerak ke luar pagar.


"Sekarang yang terberat. Kita akan ke rumah orang tua almarhum istriku," ucap Abigail lirih. Ia sedang dalam kekuatan terendahnya, tapi dengan bersama Marina, ia yakin ia bisa melewati ini semua.


Kedua orang tua Alena sudah diberi tahu tapi belum ada respon apapun dari pesan telepon yang dikirim Abigail. Pria itu mempersiapkan hati, bilamana kecewa dengan hasilnya.


Mobil akhirnya sampai di sebuah bangunan rumah yang tak kalah mewah dari milik orang tua pria itu. Setelah mereka turun, seorang pembantu membawa mereka masuk ke dalam rumah. Mereka diminta menanti di sofa ruang tamu hingga kedua mantan mertua Abigail keluar menyambut mereka dengan dingin.


Abigail sebenarnya sedikit gugup dan Marina sudah melihatnya semenjak dari dalam mobil.


Ayah Alena berusaha bersikap sopan sementara istrinya masih terlihat dengan wajah tak percaya.


"Mana Farrel? Coba aku lihat dulu," ucap Ibu Alena dengan tatapan yang tak mau mengarah pada Abigail.


"Ini Marina, orang yang merawat Farrel selama ini." Abigail membuka percakapan.


Marina menganggukkan kepalanya saat menyerahkan Farrel pada Ibu Alena.


Wanita paruh baya itu meliriknya dengan pandangan yang entah. Ia memeriksa Farrel. "Bagaimana caranya kalian bisa berkenalan?" tanyanya dengan nada yang sedikit sinis. "Kalian 'kan memang berada di lantai yang sama di apartemen itu, 'kan?"


Ternyata, Abigail menceritakan pula bagaimana ia mengenal Marina di pesan yang dikirimkan lewat teleponnya. "Aku baru pindah, Bu, ke apartemen itu. Sebelumnya aku pernah lihat dia di kafe di lantai bawah apartemen. Lagipula yang memberikan bayi Farrel pada Marina juga sudah diketahui. Sebentar lagi mungkin akan jelas kenapa Alena ada di tempat itu."


"Polisi 'kan bisa saja kau suap," ucap Ibu Alena sarkastis dengan jawaban Abigail.


"Astaghfirullah alazim. Aku takkan berani melakukan itu, Bu." Abigail berusaha meyakinkan.


"Hei, jaman sekarang 'kan ...."


Bayi Farrel tiba-tiba menangis. Marina jadi tak tega. Ia ikut bicara. "Maaf ya, Bu. Kadang sakit hati membuat kita tidak bisa menerima kebenaran, sekecil apapun. Kak Abigail juga pasti datang ke sini dengan niat baik ingin memberitahukan pada ibu kabar gembira ini.


Sebaiknya apa kita tidak bisa melihat persoalan ini dengan kepala dingin? Kalian semua yang berada di sini pasti sedang merasa kehilangan, tapi kenapa tidak saling membantu, sebab bukan hanya ibu saja yang kehilangan tapi Kak Abigail juga. Setidaknya walaupun hanya sebentar, anak ibu pernah jadi istri Kak Abigail dan Farrel adalah hasil dari kedekatan mereka berdua.


Tidak bisakah kita mengubur masa lalu yang buruk dan hanya mengingat masa-masa indah saja sekarang ini? Tidak bisakah di antara yang berduka bisa saling menggenggam tangan untuk saling menguatkan di masa depan? Tolong, hilangkan keegoisan demi kebaikan bersama."


Abigail tak bisa menghentikan air matanya yang jatuh tiba-tiba mendengar ucapan Marina. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan tangan, sementara Marina mencarikan tisu di dalam tas kecilnya.


Ayah Alena melirik istrinya yang masih merengut dengan ucapan Marina tadi. "Maaf ya, kami masih sedikit terguncang dengan kepergian anak kami yang paling kecil ini. Anak yang paling di sayang dan kepergiannya memang sangat tragis hingga banyak orang tak percaya kalau ia meninggal karena bunuh diri," ucap Ayah Alena dengan mata berkaca-kaca.