
Mobil kembali meluncur di jalan raya menuju ke tempat tujuan, sebuah perumahan elit yang masih baru. Di sana sini sudah ada rumah yang terisi dan terlihat bangunan rumahnya masih sangat baru.
Abigail mendatangi kantor pemasaran yang berada di dalam perumahan itu. Mobil di parkir di depan gedung.
"Tunggu sebentar ya, Marina. Aku hanya perlu menjemput seseorang." Pria itu keluar dari mobil itu dan masuk ke dalam gedung. Tak lama ia keluar lagi dengan seorang pria muda di sampingnya. Keduanya masuk ke dalam mobil.
"Ini Pak Nirwan. Dia yang bakal guide(pandu) kita ke rumah yang masih kosong." Abigail memperkenalkan pria itu pada Marina.
Marina menganggukkan kepala pada pria itu. Mobil kemudian dijalankan.
Pria itu menunjukkan beberapa tempat alternatif rumah yang belum memiliki pemilik dan Abigail memilih untuk berkeliling melihat rumah-rumah itu dari luar. Pria itu sambil lalu juga memberi tahu tipe-tipe rumah yang ada. Setelah puas, Abigail kemudian memilih rumah yang ingin dilihatnya. Pegawai pemasaran itu membawa peta rumah dari tiap-tiap unit yang ditawarkan.
Mereka turun dan melihat dari dalam, tiap tempat yang disinggahi. Marina ikut turun dengan menggendong Farrel. Ia melihat-lihat saja seperlunya sedang Abigail lebih detail dengan melihat kamar dan fasilitasnya.
Pria itu kemudian menjatuhkan pilihan pada salah satu rumah yang sudah dilihatnya. "Bagaimana Marina, rumah yang dekat pintu masuk perumahan ini, tadi. Bagus 'kan?" Ia menunjukkan peta rumah itu pada wanita itu. "Dia punya halaman belakang dan ruang tengah yang cukup luas jadi Farrel bisa berlarian di dalam rumah."
"Tapi anak-anak 'kan cepat besar."
"Paling tidak bisa menampung banyak tamu."
"Ya sudah, terserah, Kakak saja," ucap Marina pelan.
Nirwan menguping pembicaraan. "Bagaimana, Pak? Istri Bapak sudah menyerahkannya pada Bapak."
"Istri? Oh, bukan. Ini babysitter anak saya," terang Abigail.
"Baby ... sitter?" Pria itu menatap ke arah Marina.
Melihat pria itu memperhatikan Marina, Abigail segera meralat ucapannya. "Dia itu teman saya." Pria bule itu menghalangi pandangan pria itu dengan berdiri di depan wanita itu.
"Teman? Oh ...." Pria itu masih mengintip ke samping membuat akhirnya Abigail menggandeng tangan wanita itu.
"Kini jadi calon istri."
"Oh, maaf." Padahal pria itu hanya penasaran saja pada sikap pria bule itu karena menanyakan pendapat wanita itu tentang rumah itu padahal Marina bukan istrinya. Akhirnya rasa penasarannya terjawab sudah.
Marina menahan tawa karena terlihat sekali Abigail cemburu pada pegawai pemasaran itu.
"Apa bisa saya langsung beli?" tanya Abigail cepat.
"Cash(Bayar langsung) bukan kredit?" tanya pegawai itu terkejut. Biasanya, sekaya apapun, jarang ada yang mau beli rumah di perumahan elit itu dengan membeli langsung tanpa kredit.
"Cash karena aku ingin segera pindah. Fasilitasnya sudah bisa dipakai semua 'kan?"
"Bapak kapan mau pindah, biar kami periksa fasilitasnya kembali."
"Segera setelah membayarnya," ucap pria bule itu datar. Ia masih menghalangi pegawai pemasaran itu memandangi Marina.
"Oh, jadi Bapak akan bayar ...."
"Sekarang, kalau bisa."
"Se-sekarang? Oh, tentu saja bisa, Pak. Bagaimana kalau kita kembali ke kantor? Eh, tapi beri kami satu hari untuk memeriksa dan membetulkan fasilitas yang ada agar segala sesuatunya sesuai dengan keinginan Anda, Pak," jawab pegawai itu dengan wajah senang.
"Ok."
Mereka kemudian kembali ke kantor pemasaran dan menyelesaikan semuanya. Setelah itu Marina dan Abigail kembali ke dalam mobil.
Marina mengerut kening. Biasanya pria itu yang menentukan tempat untuk makan tapi sekarang ... Bukankah pilihannya selalu diragukan karena dianggap selalu memilih makan yang tidak sehat? "Biasanya 'kan Kakak yang punya ide untuk restoran makan siangnya?"
"Oh, hanya mungkin kau tidak suka dengan pilihanku atau ingin coba makan di tempat lain."
"Mmh." Marina berpikir sebentar. "Bagaimana kalau ke mal."
"Mal?"
"Di situ ada banyak pilihan dan lagi apa kau tidak merasa Farrel tak punya mainan?"
"Apa?" Abigail menoleh pada bayi yang duduk tenang sambil melihat sekeliling. Bayi itu bahkan mulai tertarik dengan yang berada di dekatnya. Tangannya mulai mencoba menggapai dasbor.
Pria itu kini sadar kepalanya tengah dipenuhi oleh Marina sampai kebutuhan anaknya sendiri saja ia tidak tahu. Ia merasa malu dengan wanita itu. "Eh, kesibukanku ...." Ia tak bisa meneruskan kata-katanya karena itu hanya sebuah alasan. "Ya, kau benar. Aku tidak memperhatikannya, tapi bukan berarti aku ...."
"Sekarang kita ke sana saja dan membelinya." Marina sengaja memotong ucapan pria itu karena iba dengan rasa bersalahnya. Abigail memang sibuk, karena itu ini tugasnya mengingatkan.
Mobil meluncur ke mal. Setelah makan siang mereka pergi ke toko peralatan bayi. Di sana, mereka melihat-lihat mainan yang ada sementara Farrel berada di dalam kereta bayi. Mereka tidak menyadari Farrel mulai bisa menaikkan tubuhnya karena genggaman tangannya yang kuat.
"Eh, Bu, anaknya!" seorang pembeli memperingatkan.
Marina yang mendengar itu segera menoleh. Ia segera mengejar kereta bayi Farrel. "Aduh, Farrel. Tante jadi takut, ini ...." Wanita itu menggendongnya.
Bayi itu malah tertawa. Abigail yang melihat kejadian itu akhirnya lega. Ia menghampiri keduanya. "Aduh, Farrel." Ia mengusap kepala bayi itu pelan.
Mereka kemudian melihat beberapa alternatif mainan. Marina asyik dengan mainan boneka yang berukuran besar membuat pria itu heran. "Marina, Farrel 'kan belum bisa main dengan boneka? Dia belum bisa jalan!"
"Eh, aku cuma lihat-lihat saja kok." Wanita itu berdiri menjauh dari area boneka-boneka itu.
Abigail yang tengah membungkuk, menegakkan punggungnya lalu mendekati Marina. "Jangan-jangan kamu suka boneka juga ya?"
"Mmh, enggak kok." Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengelak.
"Bohong." Pria itu dengan senyum lebarnya.
"Iya." Namun netra wanita itu mengarah ke tempat lain.
Abigail kembali melihat boneka itu yang berbentuk kurus dengan tangan dan kakinya yang panjang. Boneka itu adalah boneka macan dengan tanpa garis hitam di tubuhnya. "Mmh, kamu suka yang ini ya?" gumam pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya menyentuh boneka itu.
"Aku akan beli ...." Ia menoleh pada wanita itu. "Tapi untuk Farrel. Iya 'kan?"
"Eh ... oh iya, iya." Marina segera menyetujui daripada pria itu curiga.
"Wanita seperti kamu sudah tidak boleh peluk-peluk boneka. Peluk mahkluk hidup aja ... seperti aku, misalnya."
Marina menahan tawa dengan tersenyum. Baru kali ini pria itu mencoba melucu membuat ia geli melihatnya.
Tak lama mereka akhirnya membeli beberapa mainan untuk Farrel. Tak lupa dengan boneka macan itu.
Karena besar, boneka itu terpaksa harus di tenteng. Marina membawanya dengan memeluk boneka itu hingga sampai ke apartemen. Pria itu hanya tersenyum. Bahkan wanita itu berfoto-foto dengan boneka karakter Pink Panther ini di dalam lift.
__________________________________________
Hai, reader. masih semangat membaca 'kan?Jangan lupa vitamin author, like, vote, komen atau hadiah. Ini visual Abigail dan Marina. "Jangan foto dengan boneka, Marina dengan aku aja, gratis pelukan." Salam, ingflora💋