
Ruang itu dipenuhi oleh banyak pengunjung hingga panitia penyelenggara kelimpungan mengurus pengunjung yang terus berdatangan. Untung saja, tempat itu ada di dalam hotel sehingga pihak hotel juga membantu mengurus banyaknya pengunjung agar tidak bergerombol dan tertib.
Ada tiga meja yang diisi oleh 3 orang author novel online sehingga antrian pun terbagi tiga dengan sendirinya. Antrian inilah yang diatur agar bisa tertib.
Isy, babysitter Farrel duduk di belakang Marina sambil menggendong Farrel. Bocah itu karena sudah bisa berjalan, tidak betah digendong hingga kadang turun dan berjalan di tengah keramaian. Isy menggandeng bocah itu, agar terhindar dari terjebak kerumunan orang.
Marina membiarkan saja Isy melakukan tugasnya karena ia sibuk menyapa penggemarnya yang antri dan minta tanda tangan. Seorang pria bergabung di dalam antrian penggemar Marina dengan membawa seikat besar bunga mawar berwarna merah.
Pria itu memakai pakaian olahraga yang berpenutup kepala juga berwarna merah. Ia berpakaian tertutup hingga kepala dan menutup wajahnya dengan bunga mawar hingga sulit dikenali, tapi tindakannya itu malah membuat pria itu menjadi perhatian orang banyak. Bahkan Marina yang melihat pria itu dalam antrian.
Dua author lainnya terlihat iri melihat ada pria seperti itu dalam antrian penggemar Marina, sedang penggemar mereka rata-rata terlihat biasa-biasa saja. Padahal Marina sangat khawatir karena ia langsung tahu, pasti pria yang bernama akun Mentari dibalik awan itulah yang sedang ikut antrian dengan membawa bunga mawar sebanyak itu. Belum apa-apa wanita itu sudah salah tingkah.
Tak disangka, Farrel melihat pria itu dan malah mendekatinya. Bocah itu merasa kenal dengan pria itu. Baru saja Farrel hendak memanggil, pria itu langsung meletakkan telunjuk pada mulut agar bocah itu diam. Isy yang sedang mengikuti Farrel dari tadi, tak sengaja melihat pria itu dan terkejut.
Wanita itu mengerti lalu menggendong Farrel dan membawanya pergi karena pria itu mengusirnya. Setengah menahan tawa, ia menjauh.
Antrian pria itu semakin dekat. Orang-orang di sekitarnya juga melihat aneh padanya. Mereka merasa yakin pria itu pasti ingin menyatakan cinta pada author kesayangan mereka.
Di lain pihak, Marina gelisah. Apalagi tidak ada sang suami di sisinya, ia merasa telah menghianati suaminya. "Terima kasih ya, sudah membeli bukuku." Ia menandatangani buku novel yang telah dibeli penggemarnya.
"Semoga sukses selalu ya, Kak Author," ucap wanita itu dengan senyum lebar.
"Terima kasih juga doanya."
"Boleh gak foto bareng Kak Author," pinta wanita itu.
"Oh, boleh, boleh."
Dan keduanya berfoto berdampingan dengan handphone milik penggemar wanitanya itu.
"Terima kasih ya, Kak," kata wanita itu usai berfoto bersama.
"Sama-sama."
Kemudian giliran pria itu. Pria itu masih menutup wajahnya dengan seikat besar bunga mawar. "Ehem, aku ...."
"Aku tahu. Pasti kamu adalah Mentari di balik awan itu, iya 'kan?"
"Ehm, betul."
Marina sedikit aneh mendengar suara pria itu, seakan pria itu sengaja menyamarkan suaranya. "Aku sangat senang kamu menjadi penggemarku, tapi aku tak bisa lebih dari itu."
"Kenapa? Aku sudah jatuh cinta padamu. Bisakah kau menerima cintaku?"
Adegan di tengah keramaian ini sontak menjadi perhatian publik. Bahkan 2 author lainnya, tak ingin melewatkan adegan cinta yang jarang terjadi ini. Apalagi melihat Marina yang wajahnya bisa dibilang standar, bisa mendapatkan pengagum misterius seperti seperti pria ini, author mana yang tak ingin. Padahal mungkin saja, hari ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.
"Tolong." Marina melirik Isy yang datang menggendong Farrel. "Aku sudah punya anak dan ...."
"Papa!" teriak Farrel pada pria itu.
Wanita itu terkejut. Ia melihat pria itu menurunkan bunga mawar yang menutupi wajah. "Bang!"
"Sayang, apa kamu tidak mengenali suamimu?" Pria itu tertawa dan langsung memeluk istrinya.
Wanita itu merengut, tapi menikmati pelukan sang suami. Tepukan tangan orang-orang di sekitarnya tak ia pedulikan. Betapa hangat dan teduhnya pelukan itu dan kedatangan sang suami membuatnya bangga, sang suami telah mendukung dirinya menuju sukses sebagai seorang penulis. "Aku pikir Abang gak datang."
Pria itu melepas pelukan dan melihat mata istrinya yang berkaca-kaca. Ia mengecup kening wanitanya lembut. "Maaf ya, bikin kamu khawatir."
Marina menggeleng.
Wanita itu menerima bunga itu dengan tersipu-sipu. Pria itu kemudian menemani istrinya bertemu penggemarnya.
"Wah, aku gak tau author punya suami bule. Cerita-cerita dong bagaimana kisahnya. Bagaimana kalau ini jadi cerita di novel berikutnya?" tanya seorang penggemar.
Marina dan Abigail saling pandang dan tersenyum. Wanita itu kemudian menatap penggemarnya. "Kalau itu, biar jadi rahasia kami berdua saja."
Mereka sempat berfoto-foto sampai acara selesai.
"Sudah 'kan, boleh pulang?" tanya pria bule itu karena melihat antrian yang sudah tidak ada. Hanya author lain yang mejanya masih penuh dengan antrian.
"Rasanya sudah boleh pulang. Eh, tapi tunggu, kenapa akunmu Mentari di balik awan? Berarti kamu sudah lama baca novelku ya, Bang?"
Abigail tertawa membuat istrinya kesal. Wanita itu mencubit pipi sang suami karena gemas. Pria itu makin terkekeh.
"Berarti Abang sudah lama membohongiku. Abang pura-pura jadi penggemar ...."
"Eit, eit, kalau itu salah. Aku memang penggemarmu, selalu membaca novelmu, tergila-gila senyummu, selalu merindukanmu, dan kadang memelukmu kala kau tidur. Apa kau tak merasa aku ini penggemar fanatikmu?"
Marina yang tadinya hendak marah, jadi terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap.
"Sudah, terima saja cintaku, kau sudah terlanjur jadi istriku," ledek pria itu.
Marina gemas, dan memukul bahu pria itu dengan manja. "Ihh ...."
Terlihat Farrel berlari ke arah keduanya. Bocah ini juga jadi perhatian orang sekitar karena kulit bulenya dan wajahnya yang lucu. Bahkan beberapa pengunjung acara itu banyak yang berusaha menyentuh pipi tembamnya. "Mami, mamam."
"Tuh, sudah ada yang kelaparan," sindir Marina dengan senyum di kulum.
Ya, ok. Kita makan siang duluan. Yuk, sini. Gendong sama Papa." Pria itu meraih Farrel dan menggendongnya.
------------+++-----------
"Marina, sudah siap semuanya?" tanya Abigail saat ke dapur.
"Sudah, tinggal disajikan."
"Kalau begitu kamu keluar saja, karena sebentar lagi ibumu datang bersama Alan."
"Iya, ok."
Keduanya keluar dari dapur. Ternyata orang tua Abigail datang lebih dulu.
"Mama, Papa." Marina menyambut ibu Abigail dengan memeluknya.
"Kami yang paling duluan datang ya?" tanya Mama.
"Ibu sebentar lagi datang kok," sahut Marina dan mempersilakan mereka duduk.
"Oiya, Papa ada janji dengan Pak Ridho, jadi sekalian saja Papa ajak dia ke sini. Boleh 'kan? Papa sudah bilang kalau hari ini ulang tahun cucuku Farrel," terang Papa pada Abigail.
Oh, gak papa kok, Pa. Ini ulang tahun Farrel yang pertama dan kecil-kecilan kok. Siapa saja diundang tidak masalah."
Tak lama, mobil Abigail datang. Pria itu menyuruh supirnya menjemput ibu Marina dan Alan di rumahnya. Alan sudah bisa turun sendiri karena sudah memakai tongkat.
___________________________________________