Author And The Baby

Author And The Baby
Peganggu



Anka dan Marina terkejut ketika Abigail masuk ke dapur.


"Apa kabar, Anka?" Abigail coba menyapa pemuda itu.


Anka segera bangun dari duduknya. "Baik, Kak."


"Ada angin apa kamu ke sini? 'Kan cukup jauh jarak antara apartemen sampai ke sini." Ya, Abigail memang mencari rumah yang sedikit jauh dari apartemen, agar Anka tidak sering-sering main ke rumahnya, tapi baru sehari pindah pemuda itu sudah mencari Marina. Pemuda itu terlihat benar-benar gigih mengikuti wanita itu ke mana saja.


"Oh, Kak Sila menitipkan makanan untuk kalian, sekaligus ucapan selamat pindahan. Oya, kampusku dekat dari sini, Kak. Jadi, habis main di sini, bisa langsung kuliah."


"Apa?" Ingin rasanya pria itu menghantam kepalanya sendiri karena begitu bodoh, tidak mengecek, Anka kuliah di mana. Kenapa ia tidak berpikir sampai ke situ? "Oh, begitu."


Pemuda itu tersenyum. "Jadi bisa numpang main di sini 'kan, Kak ya? Istirahat sebentar sebelum ke kampus."


Abigail menoleh ke arah Marina, ia tidak bisa memarahi adik tetangga wanita itu karena Marina sepertinya dekat dengan Sila. Ia terpaksa menerimanya. "Eh, ya. Tidak apa-apa."


"Kak Sila kirim banyak makanan lho, Kak. Aku jadi gak enak," sahut Marina.


Pasti makannya banyak lagi, nih. Alamat gemuk lagi, Marina. "Nanti kita balas saja, kirimi lagi," terang Abigail, menenangkan.


"Iya, Kak. Ngak enak, ini."


Karena para pembantu baru masih menunggunya di ruang tengah, pria itu terpaksa pamit. "Eh, aku urus pembantu dulu ya?"


"Iya, Kak."


Abigail sempat melihat senyum pemuda itu, saat bisa kembali berdua dengan wanita itu dan itu membuat ia kesal. Berarti, kalau aku pergi, Anka masih bisa tetap mondar-mandir ke sini menemui Marina. Sia-sia saja aku membeli rumah ini. Pria itu mengepalkan tangannya, geram. Tidak, tidak boleh. Tidak boleh sia-sia. Aku harus cari akal.


Sementara itu, Anka asyik bercanda dengan Farrel. "Ih, gemesin. Sebentar lagi udah bisa ngomong ini, Kak." Ia memperhatikan bayi itu yang sesekali mengoceh tak jelas dan ia tertawa. "Adek ... mau ngomong apa sih?" tanyanya pada bayi Farrel.


Bayi itu, karena sudah mengenal wajah Anka, begitu senang bertemu lagi dengannya.


Marina memperhatikan bayi itu.


"Tebakan Kakak waktu itu, benar ya."


"Yang mana?"


"Yang katanya ini mungkin anak orang bule."


"Oh itu."


"Iya."


"Iya, waktu itu aku bilang gitu karena kulitnya putih tapi gak seperti putihnya orang asia walaupun rambutnya hitam."


"He uh."


"Eh, kamu mau minum apa, aku sampai lupa tanya." Wanita itu beranjak berdiri. Ia membuka pintu lemari es. "Ada jus kemasan, seperti biasa."


"Iya, gak papa, Kak."


Marina menuangkan pada gelas, dan meletakkannya di atas meja di hadapan Anka.


Anka baru saja meminumnya, ketika Abigail kembali datang ke dapur bersama 2 pembantu barunya.


"Nah, ini dapur ya? Rumah masih baru jadi kalau ada yang kurang tolong beri tahu." Pria itu menerangkan pada pembantu barunya. "Oh iya, perkenalkan, ini babysitter dan ini anak saya." Ia memperkenalkan Marina dan anaknya, Farrel.


Keduanya bersalaman dengan Marina.


"Marina ini teman saya ya?" terang pria itu lagi, agar kedua pembantu itu tidak mengganggunya.


Kedua pembantu itu mengangguk. "Iya, Pak." Seorang yang masih muda, seorang lagi berusia sekitar tiga puluhan dan keduanya wanita.


"O ya, Marina." Abigail kini beralih pada wanita itu. "Karena sudah ada pembantu, sebaiknya kamu bawa tamu ke ruang tengah saja agar tidak terganggu dengan kegiatan mereka di sini."


"Oh, begitu," sahut Marina.


"Ya sudah. Kamu pindah dulu, biar aku bicara dengan mereka."


Terpaksa Marina dan Anka pindah dengan membawa kereta bayi ke ruang tengah. Wanita itu coba menghidupkan TV dan menonton berdua Anka.


"Eh, ada film bagus nih." Anka menyukai acara TV yang dilihatnya.


Selagi keduanya asyik menonton, Abigail kembali datang mencari Marina.


"Marina, itu nanti pembantu kamu yang urus ya?" titah pria itu.


"Oh, karena sesama perempuan, mungkin lebih mudah. Dan lagi, kamu yang lebih banyak di rumah bisa memantaunya."


"Tapi pekerjaanku jadi makin banyak dong, Kak," keluh wanita itu.


"Lho, justru adanya mereka untuk mempermudah kamu di rumah. Kalau kamu lagi sibuk dengan novelmu, kamu 'kan bisa minta tolong mereka membuatkan susu Farrel, misalnya. Mereka juga memasak jadi kamu gak usah pusing cari makanan keluar. Aku akan memberikanmu uang untuk mengatur belanja mereka."


"Oh, begitu."


"Bukankah jadi lebih ringan pekerjaanmu?"


"Iya sih, Kak."


"Rencananya aku akan membawa lagi satu mobilku yang kutitipkan di rumah Mama, agar bisa dipakai untuk keperluan mendadak di rumah ini. Aku sedang menunggu sopir yang akan datang ke sini hari ini."


"Mmh."


Abigail memang sengaja mengganggu Anka agar tak selalu bersama Marina.


"Oh iya, Anka. Kamu kuliah di mana?" tanya Abigail tiba-tiba pada pemuda itu.


"Bina Bangsa."


Sudah kuduga. "Oh, yang itu. Itu lumayan kampus bagus itu. Udah semester berapa?"


"Empat, Kak."


"Mmh." Abigail mengangguk-angguk. "Oh iya, sebentar lagi makan siang. Kamu makan siang di sini ya?"


"Oh, terima kasih, Kak."


Anak ini ... bahkan ia tak menolak diajak makan siang di sini. "Mmh." Abigail berusaha tersenyum walau ia sedang sebal.


Jadilah Anka makan siang di sana. Selagi makan, Marina sibuk menggendong bayi Farrel sambil menunggui bayi itu menyelesaikan susu botolnya.


Abigail masih sering berdiskusi dengan Marina soal bagaimana mengurus rumah hingga Anka tidak punya kesempatan bicara dengan wanita itu dan ia sepertinya sabar menunggu.


Dia gak sadar-sadar apa, kalau aku dan Marina dekat? Ck, Marina. Kenapa kau biarkan aku tanpa status seperti ini? Aku 'kan jadi tidak bisa mengusirnya, batin Abigail kesal.


Barulah setelah makan siang, Anka pamit untuk pergi ke kampus. Marina mengantar pemuda itu hingga ke pintu. Setelah itu, ia juga mengantar Farrel yang telah tertidur, ke kamarnya. Saat itu, Abigail mengikutinya.


"Mmh? Kakak mau apa?" tanya wanita itu ketika memasang pagar tempat tidur Farrel, melihat pria itu hanya diam dan tidak bicara. "Sekarang kita malah harus lebih hati-hati lagi berdua karena banyak orang yang melihat, Kak. Nanti timbul fitnah."


"Kenapa kau boleh berduaan dengan Anka tapi denganku tidak?" Abigail terlihat cemberut.


Ini untuk pertama kalinya pria itu terlihat ngambek, membuat Marina bingung menghadapinya.


"Kakak mau bicara apa? Ayo kita keluar, yuk!"


Baru saja wanita itu bergerak ke pintu, pria itu meraih tangan wanita itu.


"Marina, sebenarnya kamu suka padaku atau tidak? Jangan permainkan hatiku seperti ini," rengek pria itu.


"Apa?"


"Beri aku kepastian."


"Aku 'kan sudah bilang, suka padamu juga," ucap wanita itu dengan pipi merah merona seketika.


"Kalau begitu, beri aku status. Aku bingung kalau kau dekat-dekat dengan pria lain."


"Pria? Maksudmu, Anka?" Marina tersenyum lebar tak percaya. "Kak, dia 'kan serasa adik bagiku."


"Tapi belum tentu dia merasa demikian."


"Kak ...."


"Aku lihat seperti itu. Apa aku berlebihan? Atau kamu yang tak merasa? Marina, aku ingin saat kita keluar aku bisa memberitahu orang-orang bahwa kamu pacarku, tapi kau bilang kau tidak mau pacaran. Aku ingin melamarmu, tapi kau bilang kau ingin pikir-pikir dulu. Aku bukan memaksamu tapi perlu kau tahu bahwa aku selalu was-was setiap kali kamu dekat dengan seorang pria, sebab kita tidak punya ikatan apa-apa. Kau bisa setiap saat meninggalkanku, 'kan?"


__________________________________________


Ayo intip novel yang satu ini.