Author And The Baby

Author And The Baby
Lelah



Bayi Farhan masih saja menangis.


"Iya, iya, ini Mami datang, Sayang." Marina masuk ke dalam kamar dan mendapati wajah bayi itu memerah saking kencangnya menangis. Wanita itu segera naik ke atas tempat tidur dan menggendong bayi laki-laki yang sudah kelaparan itu.


Ruangan kembali tenang ketika bayi itu mulai menyusu. "Aduh, anak Mami. Udah gak sabar deh!" Wanita itu tersenyum lebar.


Bayi Farhan menyusu dengan tergesa-gesa hingga nyaris tersedak.


"Aduh, Sayang. Tidak ada yang akan mengambil susumu. Ayo, minum pelan-pelan ya, Sayang ya?" Marina mengecup kening bayi itu gemas. "Anak Mami sudah lapar sekali ya, Sayang ya, sampai minum susu buru-buru begitu?"


Ia menatap kedua bola mata yang kecil itu. "Mmh, Mami jadi gemes lihat Farhan begitu. Mmh?" Marina kembali mengecup kening mungil itu. "Jadi anak Mami harus sabar, ya? Nanti Mami buatkan kok," bisik Marina pada bayi mungil itu.


Bayi itu berhenti menyusu dan memandangi wajah wanita itu. Marina dengan tersenyum mendiamkan saja mata bayi itu menyusuri wajahnya. Tak lama ia mulai menyusu lagi dari botol susu yang sudah dimasukkan ke dalam mulutnya tadi.


Marina sangat senang melihat bayi itu menyusu. Bayi itu selalu menghabiskan susu yang diberikan wanita itu hingga tak tersisa dan kini tubuhnya mulai berisi. "Pinter anak Mami, susunya pasti habis."


Marina menguap. Setelah bayi Farhan tertidur, ia meletakkan bayi itu di atas tempat tidurnya seperti biasa dan ia tidur di sampingnya.


Entah berapa lama ia tertidur, ia kembali dibangunkan oleh suara bayi menangis. Wanita itu terpaksa bangun dan melihat bayinya. Ia memeriksa jam di dinding dengan mata masih menyipit. Aduh, baru 2 jam dia sudah minta susu lagi ... Duh, mana aku masih ngantuk, lagi.


Marina memaksakan diri untuk bangun, karena bayi itu takkan berhenti menangis kecuali ia sudah mendapatkan susu botolnya. Dengan kepala sedikit pusing, ia membuatkan susu.


Wanita itu kemudian kembali tapi kini ia membawa si kecil itu berbaring di sampingnya. Ia meletakkan bayi itu di atas ketiak dan memberi bayi itu susu. "Maaf ya, Sayang. Mami kurang enak badan. Mami taruh kamu di sebelah saja menyusunya ya? Ngak papa 'kan?" ucapnya sambil memegangi botol susu itu. "Duh, maaf ya?"


Sambil menahan kantuk, Marina memegangi botol susu itu. Sempat ia tertidur hingga botol susu itu terlepas dari mulut sang bayi dan bayi itu menangis. Dengan sendirinya wanita itu terkejut dan bangun. "Duh, maaf, Sayang. Mami ketiduran." Ia memasukkan kembali dot dari botol susu itu ke mulut bayi Farhan.


Saat bayi Farhan menyelesaikan susunya, bayi itu mulai tertidur. Marina tertidur bersama bayi hingga pagi.


-------------+++------------


Kali ini, bunyi bellah yang membangunkan wanita itu. Marina melirik jam di dinding dan terkejut. Aduh, jam berapa ini? Ia melirik bayi yang masih tertidur.


Terdengar kembali bunyi bel yang membuat bayi itu sedikit terusik. Buru-buru wanita itu keluar kamar dengan memakai jilbab instannya untuk memeriksa siapa yang datang. "Anka?"


"Pasti baru bangun, iya 'kan?" tebak pemuda itu dengan senyum lebar.


"Kok tau sih?"


Pemuda itu tertawa ringan. "Ini aku bawa sarapan sama pakaian ganti buat Farhan."


"Ih, kamu kayak peramal, tau aja. Ayo, masuk!"


Anka masuk dengan bungkusan di kedua tangannya.


"Aku sholat Subuh dulu ya, sudah telat." Marina buru-buru ke kamar. Tak lama ia keluar. "Makasih ya Ka, kamu bantu Kakak terus."


"Kalau begitu, temani Anka sarapan dong!"


"Iya, iya maaf." Marina menghampiri meja makan dan membuka bungkusan yang ternyata berisi bubur ayam. Ia menarik kursinya. "Sepertinya enak."


"Pasti enaklah. 'Kan Anka yang beli."


Marina tersenyum dan mulai makan.


"Kak, kita jalan-jalan yuk, Kak ke Mall."


"Mmh, tapi susah bawa bayi begitu," keluh wanita itu.


"'Kan ada aku, Kak."


"Gitu ya? Apa nanti malam saja?"


"Gak tau deh. Kakak malam biasanya nulis."


"Kakak masa ngak keluar-keluar, Kak? Kakak ngak bosan?"


"Bosan sih .... tapi Kakak belum nulis lagi dari kemarin karena lagi coba full ngurus Farhan. Eh, nanti bantu Kakak lagi ya memandikan Farhan."


"Oh iya, itu sih beres." Pemuda itu tersenyum senang. "Oh ya, Kak ini baju Dodo waktu masih bayi, bisa buat ganti baju Farhan."


Marina membuka bungkusan plastik yang terlihat banyak isinya itu dan menemukan banyak baju bayi laki-laki di dalamnya. "Wah, ini agak besar. Bisa buat ganti baju Farhan yang kekecilan," ucapnya senang. "Makasih ya. Untung Kak Sila masih simpan baju anaknya waktu masih bayi. Bilang terima kasih ya, sama Kak Sila."


"Mmh." Anka mengangguk sambil tersenyum. Ia masih mengunyah. "Kak."


"Ya?"


"Mau gak nonton midnight sama aku?"


"Mmh?"


------------+++----------


Abigail masih mematung di depan cermin. Ia sedang merapikan kancing lengannya tapi pikirannya sedang tidak di sana.


Alena, ke mana bayi kita? Ke mana kau sembunyikan ia? Apa ini caramu menghukumku? Alena, jangankan bayi kita, kematianmu pun sudah cukup menghancurkan hidupku kini. Melihat tubuhmu terakhir yang ....


Abigail memejamkan mata tapi tetap saja setetes air mata jatuh tanpa diminta, membasahi pipinya yang mulai tirus belakangan ini. Ia tak bisa mengingat kapan waktunya untuk makan kecuali ia melihat seseorang sedang makan, sebab ia tak merasakan lapar.


Dengan cepat ia tersadar dan menghapus sisa air matanya. Ia merapikan bajunya kembali.


Setidaknya hari ini ia mencoba untuk bekerja. Semoga bisa.


Ia kemudian melangkah keluar apartemennya. Saat ia berbelok di persimpangan koridor ia melihat seorang pemuda keluar dari unit apartemen Marina.


"Nanti aku telepon ya, Kak."


"Oh iya," jawab Marina.


Pintu ditutup dan pemuda itu pun berlalu.


Kak? Adiknyakah?


Namun pemuda itu tak pergi jauh. Ia hanya melewati pintu apartemen Marina dan membuka pintu di sebelahnya.


Apa? I-itu tetangganya? Jadi Marina ... janda?


Sempat tercengang tapi ia kemudian sadar posisinya. Apa yang kupikirkan? Sudah gila apa? Istriku baru meninggal ... astaghfirullah alazim.


Buru-buru ia mendatangi lift. Walaupun matanya kembali menoleh ke arah apartemen wanita itu, tapi ia berusaha untuk tidak mau tahu apapun tentang wanita itu. Pintu lift terbuka.


Ternyata ia tetap tak bisa bekerja. Laporan yang diterima dari bawahan tak mampu ia periksa. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya.


Saat melewati kafe di lantai bawah, matanya tertuju pada kafe itu. Pada akhirnya, kesadarannya memilih untuk memasuki kafe itu. Ia memesan minuman dan duduk di kursi favoritnya. Kursi yang menghadap ke kursi langganan wanita itu duduk.


Siang itu, karena baru buka, tempat itu masih sepi. Hanya ada pegawai kafe yang sedang membersihkan kaca jendela dan meja kayu, tapi anehnya pria itu sama sekali tak terganggu dengan semua itu dan tetap duduk di kursi itu menikmati kopi hangat sambil memandang kursi kosong di depannya. Kursi yang sering diduduki Marina.