Author And The Baby

Author And The Baby
Makan Malam



Setelah sampai di apartemen, Abigail beristirahat di ruang tengah sambil menonton TV. Ia duduk santai sambil mencari siaran TV yang menarik.


Marina duduk di kursi meja makan sambil bermain dengan Farrel yang masih berada di kereta bayinya. Ia mengeluarkan mainan baru yang telah dibersihkan dan diberikan langsung pada bayi itu. Farrel antusias mengambil dan menggigitnya. Warnanya yang mencolok membuat bayi itu mengamati dengan mata yang membulat sempurna.


"Mmh, segala masuk mulut, segala masuk mulut. Untung ada mainan khusus untuk itu, kalau enggak, pusing Tante lihat segala yang dipegang masuk mulut." Wanita itu menyentuh hidung bayi itu.


Bayi itu tak peduli dengan ocehan Marina dan terus menggigit mainannya. Ia penasaran dengan mainan yang baru diberikan.


"Marina!"


"Iya, Kak." Marina menghampiri pria itu dengan membawa kereta bayi.


"Kamu masih ada buah apa di lemari es?"


"Melon."


"Ah, boleh. Tolong potongkan aku semangkuk ya, dan segelas air putih dingin, bisa?"


"Oh, bisa tapi Kakak lihatin Farrel ya?"


"Mmh." Pria itu bergerak ke depan mengambil Farrel. Ia mendudukkan bayi itu dalam pangkuan sambil menonton TV. Tak lama wanita itu datang sambil membawa semangkuk buah potong dan segelas air putih.


"Marina," ucap pria itu dengan suara rendah. Terlihat sekali ia sedang ingin membujuk. "Mmh, ada yang bisa dimasak gak di lemari es, aku bosan beli makan terus diluar buat makan malam."


"Ada sih, Kak. Ayam goreng kemasan dan bahan buat bikin gado-gado."


"Gado-gado seperti salad ya?"


Marina tercengang. "Memang Kakak belum pernah makan?"


"Belum. Ibuku dulu sering masak makanan Eropa atau China sedang Alena tidak bisa masak. Aku lihat kau bisa masak, makanya aku minta tolong. Aku sebenarnya tidak suka makan di luar kecuali terpaksa. Aku banyak tahu kok, masakan Indonesia tapi tidak pernah mencobanya saja. Baru kemarin itu aku coba makan gulai dan ternyata enak. Cocok dengan seleraku."


"Mmh, kalau begitu aku siapkan makan malam dulu ya, dari sekarang."


"Soal Farrel, biar sama aku saja. Aku bisa mengurusnya selama kamu masak." Pria itu memperhatikan Farrel yang masih menggigit mainannya.


"Ya sudah, aku masak dulu, Kak." Marina kembali ke dapur.


Abigail begitu senang. Bukan saja, wanita itu memasak untuknya, tapi ia kini kembali bisa makan makanan rumahan. Ia sebenarnya tipe anak rumahan yang memang tidak suka pergi keluar bertemu dengan teman-teman kecuali yang berurusan dengan pekerjaan.


Pria itu lebih suka berada di rumah dan membaca buku, nonton TV atau bermain game online. Hal yang terakhir itu ia lakukan saat ia bosan karena ia anak tunggal. Tidak ada teman untuk ia ajak bicara.


Abigail nonton TV ditemani Farrel sambil makan potongan melon. Sesekali ia memeriksa bayi itu apakah masih sibuk dengan mainannya.


Setelah mulai bosan menonton TV, ia membawa Farrel ke kamar, tapi itu tak lama. Tiba-tiba pria itu keluar dan membawa Farrel ke dapur. "Marina," panggilnya sambil menjepit hidung. "Farrel pup(buang air besar) kayaknya."


Marina melihat ke arah bayi dalam gendongan pria itu. Wajah Farrel memerah karena masih seperti menekan sesuatu. Segera wanita itu mematikan api di kompor. "Belum selesai itu." Namun ia segera mengambil bayi itu dan membawanya ke kamar.


Lima menit kemudian, ia keluar dengan menggendong Farrel. "Sudah." Ia memberikannya pada Abigail.


"Kenapa wanita kuat ya, mencium bau itu?"


Marina terkekeh. "Ya, enggak, Kak. Cuma naluri aja, jadi terbiasa."


"Terbiasa?"


"Iya. Lama-lama juga bisa."


"Hah ... wanita memang hebat." Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya tidak, Kak. Itu karena rasa sayang pada anak-anak."


Marina tersipu. "Udah ah, Kak, aku mau masak." Pipinya memerah malu.


"Ya, ehem. Sudah." Pria itu mengusap pucuk kepalanya sambil membawa bayi itu keluar dari dapur.


Marina tersenyum lebar.


-----------+++-----------


Ternyata Abigail menikmati makan gado-gado bersama kerupuk buatan Marina. "Aku pikir gak nyambung makan nasi dengan kerupuk itu, tapi ternyata enak juga. Aku suka makan gado-gado ini, Marina."


"Terima kasih, Kak," sahut wanita itu kembali tersipu. Ia menyuap makanannya.


"Tapi sedikit pedas." Abigail sepertinya tidak terbiasa makan makanan pedas.


"Oh, itu karena bumbunya sudah jadi. Kalau aku bikin sendiri, bisa sih, ngak pedas."


"Kamu bisa bikin bumbunya?"


"Bisa."


"Kamu biasa masak ya, Marina."


"Enggak juga tapi informasi itu 'kan bisa didapat dari internet sekarang, Kak. Asal punya dasar-dasar bisa masak, semuanya bisa dicari di internet."


"Mmh." Pria itu mengangguk-angguk. Ia melirik wanita itu yang tengah menyendok nasinya. "Mmh, kalau kita bagaimana?" tanyanya hati-hati.


Marina melirik pria itu. "Apanya?"


"Mmh, kita mmh ... pacaran?" Abigail ternyata ingin mengetahui statusnya.


"Tidak usah pacaran. 'Kan tidak ada istilah pacaran dalam islam."


"Jadi apa dong? Kamu dilamar belum mau ...." Pria itu merengut kesal.


Marina menatap pria bule itu. Tentu saja ia ingin menikah dengan pria itu tapi bagaimana dengan hutang keluarganya? Apalagi adiknya, Alan yang mata duitan itu hanya akan membebani pria itu, bahkan mungkin pria itu akan pergi darinya setelah tahu ia punya banyak masalah yang melibatkan uang. Dia bukan wanita yang cantik yang kemudian akan berusaha pria itu pertahankan.


Ini hanya karena aku dekat dengan Farrel dan dia sudah tak mau lagi mencari ibu baru buat anaknya itu, padahal di luar sana banyak wanita sempurna yang bisa memenuhi kriterianya, bukan aku wanita gendut, miskin dan banyak masalah yang harus dia pertahanan. "Kak, apa Kakak tidak ingin pacaran dengan orang lain?"


Ditanya begitu, Abigail kaget. "Lho, katanya gak boleh pacaran, kenapa sekarang kamu malah suruh aku pacaran dengan orang lain?"


"Aku ...." Marina mengangkat bahunya. "Tidak sempurna."


"Apanya?" Abigail tersenyum lebar. "Kamu punya mata, punya hidung, punya mulut. Kamu sempurna."


"Aku 'kan tidak cantik." Wanita itu menundukkan pandangan.


Abigail meletakkan sendok garpunya di piring. Ia melipat tangannya di atas meja. "Kamu cantik."


"Kakak bohong 'kan?"


"Tidak, aku tidak bohong. Kau cantik, di mata orang yang tepat. Aku mencintaimu. Karena itu bagiku kamu cantik. Apa kamu tidak percaya kata-kataku? Lalu untuk apa aku melamarmu? Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Marina, apa kau masih meragukan cintaku?"


Marina terkejut, pria itu memaparkan rasa cintanya. Padahal sebelumnya dia hanya menyebut 'sayang'. Pria itu makin lama makin berani menyatakan perasaannya, kini. "Eh, mmh. Beri aku waktu untuk berpikir ya? Mendadak begini, aku bingung."


Abigail melihat Marina sedikit tidak nyaman dengan pernyataan ia tadi. "Eh, tidak apa-apa, Marina. Aku tidak ingin mendesakmu. Hanya ...." Ia menatap wanita itu lekat. "Aku sebenarnya takut kehilanganmu."


Wanita itu terpana. Begitu besar rasa cinta pria itu hingga ia bingung menjawabnya. Ia takut Abigail kecewa sedang ia juga mulai mencintai pria itu.


Pria itu cepat-cepat menyuap kembali makanannya. Ia tidak ingin wanita itu tertekan. Ia hanya ingin, wanita itu tahu perasaannya saja saat ini.