
Alan memperhatikan bayi itu. "Kalau aku punya anak, lucu kali ya?"
Ibu langsung menjewernya. "Kamu jangan macam-macam." Pekerjaan gak ada. Mau dikasih makan apa anak orang?"
"Aduh, Ibuuu. Sakit kupingku, Bu. Jangan kalau lagi marah, sebentar-sebentar dijewer, sebentar-sebentar dijewer. Bisa panjang sebelah kuping Alan, Bu." Pria itu mengusap-usap telinganya yang mulai memerah sedang Abigail dan Marina tertawa melihat pertengkaran keduanya.
"Makanya cepat sembuh, Alan, dan kuliah lagi." Marina menasehati.
"Tuh, dengar kata Kakakmu," sahut ibu.
"Iyaaa, ah!"
Marina dan Abigail kembali tertawa.
----------+++---------
Sepasang suami istri itu, akhirnya sampai di rumah. Marina tak sabar ingin mencoba kursi beroda bayi milik Farrel. Setelah dipasang, bayi itu segera dimasukkan ke dalam kursi itu.
Farrel terlihat bingung. Di kursi itu, ia bisa menjejakkan kakinya di lantai. Di hadapannya ada mainan yang bisa ia mainkan. Ia tertarik warnanya.
"Farrel!" Marina menjauh dan memanggil namanya.
Bayi itu melongo. Abigail juga berjongkok di samping istrinya dan memanggil Farrel. "Farrel! Sini, Sayang."
Bayi itu masih bimbang dan mencoba melangkah. Ternyata ia bisa. Dengan tertatih-tatih ia berjalan menuju ke kedua orang tuanya.
Abigail tersenyum lebar karena buah hatinya mulai bisa berjalan dan kini menuju ke arahnya. "Ayo, sini, Sayang. Sedikit lagi." Ia melebarkan kedua tangan.
Farrel terus melangkah hingga akhirnya sampai pada ayahnya. Abigail memeluknya dengan hangat. "Anak Papa udah bisa jalan ya, Papa senang."
"Pa ... pa ...," untuk pertama kalinya Farrel memanggil Abigail dengan sebutan itu membuat pria bule itu makin terharu. Ia melepas pelukan dan mengecup dahi bayi itu dengan lembut.
"Anak Papa."
----------+++--------
Abigail terkejut melihat sarapan pagi Marina. "Buah?"
Wanita itu tertawa pelan. "Aku cari di internet cara berdiet sehat. Mulai sekarang aku akan diet, biar aku bisa pakai baju yang modis-modis."
Pria itu tersenyum lebar. "Okkk ...," ucapnya pelan penuh sangsi.
"Bener, Bang. Aku mau diet!" Marina meyakinkan.
"'Kan aku bilang ok?"
"Berikut wajahnya dong. Wajahnya, tak mendukung." Marina merengut dan melipat tangannya di dada.
"Jangan gitu, dong, Sayang. Aku 'kan sayang padamu." Pria itu merangkul sang istri dari samping.
"Tapi ngak percaya." Wanita itu melirik ke samping, memandang wajah tampan suaminya sambil merengut.
"'Kan yang sudah-sudah tidak berhasil," ucap pria itu berterus terang.
"Tapi kali ini lain," terang wanita itu.
"Iya, iya."
"Tuh, kan, gak percaya," ujar Marina kesal.
Pria itu tersenyum lebar. "Jangan menyerah dong. Buat suamimu ini percaya."
Wanita itu masih merengut tapi setengah berpikir. "Ya, sudah. Aku akan kurus. Lihat ya! Kamu pasti akan mengejar-ngejar aku!"ucapnya penuh semangat.
Abigail tertawa. "Ngapain dikejar-kejar? Kamu 'kan sudah jadi istriku. Kamu sudah masuk perangkapku, Sayang," katanya sambil meraih tubuh sang istri erat dan ia tertawa sendiri mendengar kata-kata yang berasal dari mulut sendiri.
"Ih, nanti lihat deh! Aku akan jual mahal."
Abigail tergelak.
"Aku akan bikin kamu kelimpungan punya istri aku."
"Iya, iya. Buat aku makin tak bisa melepasmu." Pria itu mencubit lembut pipi wanita itu lalu mengecupnya.
Keduanya kemudian sarapan dengan wajah sang suami yang masih tersenyum ke arah sang istri. Marina makan sarapan buahnya dengan bersemangat.
---------+++----------
"Gak ah, masa pengantin baru ke kantor?"
"Lah, 'kan Abang sendiri yang mau begitu."
Pria itu tersenyum simpul. Ia sebenarnya hanya ingin tahu apa Marina akan marah bila ia tidak bisa mengajak berbulan madu dengan alasan kesibukan. Padahal sebenarnya kalaupun wanita itu mencintainya karena harta, ia tetap akan berikan, karena ia sangat mencintai Marina.
Namun di luar dugaan, wanita itu tidak marah. Padahal biasanya, pasangan yang hidupnya biasa-biasa saja sekalipun, istrinya akan marah karena tidak diajak pergi berbulan madu saat baru menikah.
"Marina, coba kamu duduk di sini sebentar." Pria itu segera duduk di atas ranjang dan menepuk-nepuk kasur di sampingnya.
Wanita itu menurut. Abigail mengeluarkan kartu hitam dan memberikannya pada sang istri. "Ini kartu belanjamu. Kamu bisa beli apa saja yang kau mau."
Marina sangat senang. "Wah, aku bisa beli bakso dong, ya, di tempat berenang dengan ini."
Abigail tertawa terbahak-bahak. "Marina ...."
Wanita itu turun dari ranjang dan melonjak-lonjak kegirangan. Ia meraih lengan suaminya. "Ayo kita berenang, Bang. Aku sudah gak sabar belanja dengan kartu ini."
Pria bule itu sampai sakit perut tertawa melihat tingkah istrinya. "Katanya mau kurus."
"Ya udah, sekaliii ... aja beli bakso pakai ini." Marina membungkuk ke arah tempat tidur dan menunjukkan jari telunjuknya di depan wajah sang suami.
"Marina, kartu ini dipakai untuk belanja yang limitnya besar, biasanya."
"Mmh ... bayar bakso untuk sebulan, kalau jadi member di sana?"
Abigail kembali tergelak. Ia mengecup bibir istrinya karena saking gemasnya. "Kenapa sih kamu makin hari makin menggemaskan?"
Mata wanita itu berputar jenaka karena sedang berpikir. "Karena aku istrinya Abigail Morgan."
Abigail kembali tertawa. "Kau benar, dan aku sangat mencintaimu."
Wajah wanita itu tersipu-sipu tapi itu hanya sebentar. "Jadi, sekarang kita berenang?"
Abigail terpaksa tertawa lagi. Setelah tawa itu reda, ia mengajak sang istri duduk kembali di sampingnya. Wanita itu mengikuti permintaan Abigail dengan duduk di sana. "Mmh, bagaimana kalau kita pergi berbulan madu."
"Lho, katanya gak bisa. Banyak pekerjaan."
"Tapi aku pikir-pikir, bulan madu itu hanya sekali seumur hidup. Jadi kita harus melakukannya. Soal pekerjaan, sebaiknya ditunda saja. Pekerjaan itu selalu ada, jadi tidak usah terlalu dipikirkan kalau sudah ingin berlibur. Liburan itu penting untuk menghargai diri sendiri yang sudah berusaha keras bekerja. Nah, sekarang kamu mau liburan ke mana?"
"Aku gak tau, Bang. Ke mana saja aku ikut. Kita 'kan bawa Farrel 'kan?"
"Nah, karena itu aku minta kamu punya babysitter. Jadi bisa bantu kamu bawa Farrel selagi berpergian seperti ini."
"Mmh, ya sudah."
"Bagaimana kalau kita ke Inggris? Sekarang musim gugur. Udara sejuk di sana."
"Boleh. Aku ingin tahu, Inggris itu tempat yang bagaimana."
Pria itu mengusap pucuk kepala istrinya yang berjilbab lalu merengkuh bahunya dari samping. "Ok, aku urus tiketnya ke sana. Apa kamu bisa mengurus untuk mencari babysitter-nya?"
"Ok," sahut wanita itu sambil mengangguk. "Tapi habis itu berenang ya?"
Abigail kembali tergelak.
----------+++---------
Pria itu memperhatikan tingkah Farrel yang begitu ingin tahu dan menatap ke jendela di samping. Marina yang memangku bayi itu hanya tersenyum melihat bayi itu yang kemudian berdiri dengan bantuan tangan wanita itu, sambil masih melihat ke arah jendela.
Bayi itu berpegangan pada sandaran kursi di depannya. Ia memandang aneh ke jendela karena yang terlihat hanya awan berarak.
"Sabar ya, Sayang. Kita mungkin akan lama di sini," kata pria itu pada Farrel.
Bayi itu mendatangi Abigail sambil dibantu Marina dan duduk di pangkuan ayahnya. "Kamu tuh, gak bisa diam." Pria itu mencubit lembut pipi bayi yang mulai tinggi itu.
Pesawat akhirnya mendarat saat hari mulai malam. Seorang babysitter membantu Marina mendorong troli berisi koper bersama Abigail, sedang wanita itu sendiri menggendong Farrel. Mereka kemudian naik taksi ke hotel.
___________________________________________
Ini novel baru author yang lain yang sedang ongoing. Yuk, kepoin!