AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Orang Lemah



Mobil Zenith melaju dengan kecepatan normal memasuki gerbang. Lixe melihat ke langit-langit. Ratusan drone berpatroli, menyebar di langit. Alih-alih membuat orang orang takut, khusus malam ini mereka diatur sedemikian indahnya. Memancarkan cahaya kelap-kelip. Mengalahkan cahaya bintang di atas sana.


"Apa ini yang kalian sebut bintang buatan?" Tanya Lixe membuat Zenith langsung menoleh ke atas. Dia cukup menikmati pemandangan di atas sana.


"Apa yang menghiasi langit malam di Kerajaan Aenmal?" tanya Zenith diakhiri dengan cengiran. Dia menelan tombol di dekat stir kemudi. Atap mobil itu terbuka. Zenith membalas senyuman beberapa gadis seumurannya. Jalanan dipenuhi kendaraan kendaraan mewah. Baiklah, tidak ada yang menggunakan kereta kuda malam ini. Kecuali. Tatapannya jatuh pada seekor kuda? Tidak. Itu pegasus. "Siapa laki-laki itu?" batin begitu melihat seorang laki-laki dengan mantel hitam yang terlihat mengkilap di bawah cahaya terang menunggangi seekor hewan di antara mobil-mobil yang balapan di jalan.


"Tentunya berbagai rasi bintang yang menghiasi langit. Juga rembulan. Bahkan tiap tahunnya kami menyaksikan pertunjukan bintang jatuh hingga hari berganti. Aurora yang spektakuler. Ku jamin kau akan menikmatinya. Lebih dari sekedar langit palsu ini," jawab Lixe penuh percaya diri. Dia mulai membayangkan bagaimana jadinya, seorang gadis super modern menyaksikan keindahan alam tanpa teknologi.


"Sama sekali tidak ada dalam rencana hidupku," jawab Zenith yang melihat Lixe dari kaca mobilnya. Gadis itu menggeleng.


"Mungkin kau bisa menambahkan rencana itu dalam hidupmu," balas Lixe. Ia menyandarkan punggungnya, lalu memejamkan mata. Sama sekali tidak tertarik melihat tarian drone-drone itu lebih lamah. Pikirannya melayang pada masa dimana dia menikmati langit malam penuh bintang bersama... siapa? Dia lupa. Matanya langsung terbuka.


"Apa pemandangan itu juga ada di benakmu, Lix? Apa itu sama dengan yang kupikirkan juga?" batin Zenith. Ia melirik Lixe yang duduk di belakangnya. Gadis itu dapat dengan mudah membaca pikiran Lixe. Entahlah. Itu sedikit membuatnya merasa hebat.


"Suatu hari, mungkin aku akan menikmati kehidupan tanpa teknologi. Saat itu, entahlah," kata Zenith.


"Aku akan menunggunya." Zenith membalas ucapan Lixe barusan dengan tawa lepasnya. Ia menancap gas. Mobilnya meliuk ke kanan kiri, menyelip mobil mobil lain. Lixe akui, Zenith pengemudi kelas kakap. Mungkin ia juga pernah ikut balapan. "Aku bintangnya, Lix." Lixe menyengir.


Di depan istana.....


Zenith mencoba turun dengan anggun walau itu bukan gayanya. Disusul Lixe yang sungguh tak dapat diajak kompromi. Zenith mengendus kesal saat Lixe dan Bal melompat melewati pintu mobil tanpa atap itu. "Kenapa mereka tidak membuka pintunya? Merepotkan," batin Zenith.


Keduanya berjalan menuju pintu utama yang dijaga para pelayan. Lixe tidak menyakini mereka benar-benar manusia. Salah satu dari mereka menoleh pada ketiganya. Ia tersenyum manis. Oke, Lixe akui. Mereka memang robot yang sempurna.


Zenith menunjukkan sebuah undangan berbentuk hologram. Para pelayan itu dengan sigap menunduk. Mempersilahkan ketiganya masuk.


Belum sampai sedetik, seseorang datang menghampiri mereka. Gawat, Lixe memalingkan wajah begitu melihat siapa yang menghampiri mereka. "Kenapa orang itu ada di sini?" batinnya.


"Oh, Malam yang indah untuk Anda, Putri Dira," Zenith menyapanya duluan. Dia menerapkan etika yang sama sekali tak pernah ia gunakan sebelumnya. Menyapa orang yang lebih tinggi statusnya lebih dulu.


Berbeda dengan Lixe yang langsung berbalik. Dia tahu gadis itu. Yang Memakinya tadi siang. Yang tanpa sengaja ia tabrak. Aduh! Ini gawat. Sepertinya gadis itu juga orang yang pengingat. Lixe pusing memikirkannya. Ia memutuskan pergi selagi ada kesempatan. Bal yang seolah sudah menjadi ekornya ikut pergi.


Dira tersenyum. Dia balas melambaikan tangan. "Apa kabar, Teman? Lama tidak berjumpa, Zenith. Aku harap kamu baik-baik saja," ucap Dira hangat. Gadis itu memeluk Zenith. Walau agak kaku, Zenith berusaha tampil seperti orang-orang pada umumnya. Dia berharap suatu hari ia kan menjadi orang dengan sosial tinggi.


"Tentunya saya baik-baik saja. Terimakasih, pada Anda dan Tuan Arek yang bersedia membantu saya dulu," balas Zenith. Dia melirik Lixe yang sudah pergi menjauh. Dia tersenyum lebar. Setidaknya tidak ada yang berkomentar dengan perubahan sikapnya.


"Itu permintaan Ayah, Zenith. Juga, Kakakku yang membantumu. Untuk ucapan terimakasih, mungkin itu bukan hakku." Dira menggeleng. Wajahnya sedikit muram. Tidak lama. Dia kembali memasang wajah ceriahnya. "Maaf aku tidak bisa menjengukmu dulu."


Zenith tersenyum pahit. "Tidak apa, aku tahu hubungan ini memang berdasarkan kesepakatan kerjasama. Mengenaskan sekali, hubungan palsu yang indah," batinnya. Dia menatap Dira lamat-lamat, membaca pikirannya.


"Aku rasa, kami tidak sungguh berteman. Apa aku bisa mengajaknya berteman sekarang?" tanya Dira dalam hati. Cukup membuat Zenith tersentak. Entah apa yang dirasakannya. Kalau ada yang memanfaatkan hubungan ini. Dia, Zenith pelakunya. Maaf Tuan Putri. Mungkin tidak sekarang. Suatu saat nanti. Saat aku benar-benar menjadi manusia lagi.


"Dimana aku bisa bertemu Raja Roila?" tanya Lixe pada Bal yang berjalan di sampingnya. Dari tadi dia hanya berkeliling tanpa tahu arah. Melihat orang orang yang berbincang tanpa tahu topik apa yang mereka bahas. Ini sedikit membuat Lixe tenang karena tidak diperhatikan. Tapi setidaknya ini cukup mengkhawatirkan.


"Kamu Lixe, bukan?" tanya seorang lelaki yang tampaknya lebih tua darinya dia tahun. Menghentikan langkah Lixe yang tidak karuan. Lixe menoleh terkejut. Ada orang yang mengenalnya di sini? Siapa?


"Siapa kamu?" orang itu justru bertanya demikian. Lixe menganga tidak percaya. Membuat orang di depannya memasang wajah aneh.


"Kamu gak kenal aku, tapi tahu namaku. Begitu?" tanya Lixe memastikan pertanyaan orang barusan.


"Aku pernah melihatmu tidur di rumahku dua hari yang lalu. Apa kau ingat pernah tertidur di sebuah rumah di tengah hutan?" Orang itu menatapnya menyelidik. Keduanya sama sama menajamkan pendengaran. Lixe melangkah mendekati lelaki di depannya.


"Aku ingat pernah tidur di, entah rumah siapa di sebuah hutan. Jadi itu rumahmu?" Lixe mengangguk. "Tapi bagaimana aku bisa di sana?"


Lixe bisa menebak bahwa orang itu bukan tipe yang sabaran. Lawan bicaranya menggeleng. Dia enggan menceritakannya. "Kau sungguh lemah."


Padahal ini kali pertama dia bertemu laki-laki itu. "Sok tahu."


"Bukankah itu memang benar?" ucapnya dengan tatapan percaya diri. Entah dari mana asalnya, Lixe menatapnya dari atas ke bawah. Dengan mantel hitamnya yang mewah, juga celana dan sepatu yang membuatnya serba hitam. Lixe mengamati wajahnya, dia berjanji tidak akan melupakan wajah itu.


"Aku pernah mengalahkan anak-anak dari suku Van. Orang-orang suci yang sombong itu tidak mungkin menerima orang lemah sepertimu."


"Berhenti menyebutku orang lemah! Aku akan memukul wajahmu!"


"Jangan menantang orang yang akan menghajar Raja Palsu Aenmal. Sampai jumpa," ucapnya seraya berbalik. Dia melambaikan tangan. Lixe jelas tidak akan membiarkannya pergi.


"Siapa kau?!" tanya Lixe berseru tertahan. Dia mengejar lelaki itu. Tapi langkahnya kalah cepat. Lelaki itu menghilang dalam kerumunan orang.


"Dia satu-satunya orang yang tadi menunggangi pegasus, kan?" Tanya Bal. Bal menatap ke arahnya menghilang dengan lamat lamat. Matanya bercahaya. Lalu ia berkata lagi, "Namanya Gusion Wist. Selanjutnya, aku tidak tahu. Pikirannya tidak dapat ku baca."


"Apa maksudnya Raja Palsu Aenmal?" tanya Lixe seraya menoleh pada Bal. Bal terdiam beberapa saat.


"Aku pernah dengar, Geor bukanlah keturan Bangsawan Aenmal. Suatu hari adiknya menikahi Ratu Nail, pewaris tahta tunggal. Sayangnya sebuah tragedi terjadi. Entah apa. Intinya adik dan adik iparnya meninggal. Lalu dia menjadi raja. Sekian yang aku tahu." Lixe menahan napas. itu cukup mengherankan baginya. Membuat rasa ingin tahunya semakin besar.


Lixe mengedarkan pandangan. Perasaannya menggebu ingin bertemu dengan orang tadi. Ada di pihak siapa dia? Lixe berjalan tanpa melihat ke sekitar, tanpa dia sadari seorang menyenggolnya. Dia spontan menoleh.


"Maafkan aku, Tuan Ague," begitu kata yang terucap dari mulut Lixe. Tidak perlu melihat orang itu, dari auranya sudah cukup membuatnya tahu itu adalah Ague. Tapi Lixe mengangkat ujung alisnya begitu melihat wajah pria yang menabraknya itu. Bukan Ague. Itu Raja Roila. Dia menggeleng. Ini pemalsuan.


"Apa kamu ingin bertemu denganku, Nak?" tanya Raja dengan hangat. Lixe menatapnya tajam. "Ada apa denganmu?"


"Paman Ague, Apa yang kau lakukan? Raja Palsu Roila?" tanya Lixe dengan berbisik tajam. Ia menatap dingin lawan bicaranya yang memiliki status di puncak kehormatan. Dia dengar. Orang-orang di sekitarnya mulai mencibirnya.


"Kau pandai, Bocah. Tapi ini bukan saatnya," Ague menghela napas. Ini akan merepotkan jika kedoknya terbongkar di sini. Dia melirik sekitar. "Mengapa kau ke sini?" tanyanya lagi.


"Aku ada pesan untukmu. Dari Tuan Zack," jawab Lixe pada intinya. Ayolah, dia sudah pusing memikirkan Raja Palsu Aenmal. Sekarang, raja palsu lagi. Ayolah dunia ini sungguh penuh kepalsuan. Lixe mengirim file yang diberikan Zack pada Raja Roila, Ague?


"Apa aku bisa meminta penjelasan?" tanya Lixe dengan tangan terlipat di dada.


"Kau penasaran? Dia juga," balas Ague seraya menunjuk ke suatu arah. Lixe menoleh. Mengikuti arah jari telunjuk Ague. Seorang pria kekar berdiri dengan wajah tampan. Pakaiannya sederhana. Baiklah, Lixe mengetahuinya. Putra Mahkota Arek Roila.


Arek menoleh ke arah Ague, seolah dirinya sadar tengah dibicarakan. Dia melangkah mendekati Ague dan Lixe. Sedikit membuat Lixe gugup dengan tatapannya yang tajam tapi auranya begitu hangat.


Lixe menelan ludah, "Apa yang harus kulakukan, Paman?" tanya Lixe.


"Temui dia. Kurasa kalian akan cocok." Ague berbalik, meninggalkan Lixe. Dia menggandeng Bal. Lalu menemui tamu-tamu lain.


"Paman?!" Paman menyebalkan.


"Aku terlalu pengecut untuk menemuinya."


Lixe menarik napas. Dengan berusaha bersikap normal dia berjalan menghampiri Arek.


"Maaf, Anda Pangeran Arek?" tanya Lixe memastikan. Berusaha tampak tidak tahu. Dia sempat berpikir ini akan mengundang masalah. Tapi Arek justru tertawa.


"Apa kau sungguh percaya pada kekuatan teknologi?" tanya balik. Membuat Lixe bengong beberapa saat.


"Sulit untuk tidak mempercayainya. Sepertinya orang-orang sudah menjadi budak mereka bukan?," jawab Lixe dengan hati lega. Sebelumnya dia sudah khawatir tidak akan bisa menjawab pertanyaannya diajukan. Ternyata tidak.


"Mengapa orang sehebat Anda menggunakan hal sederhana seperti ini?" Lixe menatap Arek dari bawah ke atas.


"Aku tidak terlalu tertarik dengan hal mewah. Memuakkan melihat segala hal canggih dunia." Arek menghela napas.


"Mau aku ceritakan pemandangan Aurora asli yang spektakuler? Bukan langit dengan hiasan palsu," tawar Lixe yang dibalas senyuman Arek.


"Aku suka itu." Arek tersenyum lebar. Tidak dia sangkah. Pesta yang membuatnya sedikit tertekan ini akan mempertemukannya dengan orang yang sejalur dengannya.


Selagi berbicara dengan Arek, Lixe beberapa kali melirik Gusion. Dalam hatinya, Lixe memaki Gusion. Menyakinkan bahwa dirinya lebih segala-galanya dibanding orang itu. Namun Lixe juga kagum pada seorang pemilik teknologi paling canggih, dan dia tidak tertarik dengan alat-alat buatannya? Lucu sekali.