
Lixe tidur memandang atap kamarnya yang gelap. Entah apa yang dipikirkannya, Lixe membiarkan jendela kamarnya terbuka. Angin malam memenuhi ruangan. Pendingin ruangan ia matikan. Tidak ada alat elektronik apapun yang menyalah. Lixe harap, besok dia akan terbangun dengan lebih baik.
Malam itu, di ruang staff lantai dasar kafe terbesar di pusat kota, Qiana duduk bersama Kian di sofa empuk. Ini Qiana tersenyum pada Kian yang berwajah kusut. Kakaknya tidak pernah seperti ini sebelumnya, dan Qiana sudah tahu alasannya tanpa bertanya.
"Kakak tahu? Seumur hidupku, aku ingin menjadi seperti Kakak. Orang yang berani dan selalu mencintai orang lain dengan tulus. Tidak sepertiku. Aku hanya...,"
"Qiana," panggil Kian. Qiana diam, memberikan seratus persen perhatiannya pada Kian.
"Kamu terlahir sebagai anak spesial, Qia. Kamu mewarisi kekuatan yang tidak bisa digunakan ibu. Kamu bisa membaca pikiran orang dengan sangat baik, melihat dari jarak jauh, bahkan kau bisa bertelepati. Peluangmu besar untuk menjadi orang hebat." Kian menggenggam tangan Qiana.
"Lagipula, kau punya suara yang bisa membuat orang lain mencintaimu. Balas lah cinta itu dengan baik ya. Itu pesan dari Tuan First."
Rambut Kian perlahan memutih. Dari akar hingga ujung rambut. Kedua kuncirnya putus. Kian mengukir senyuman paling indah yang dapat dia lakukan di tengah rasa sakit yang ia derita. Mata kian berubah menjadi merah. Buru-buru dia menutup matanya, tidak ingin Qiana melihat mata itu.
"Kakak! Sedikit lagi! Sungguh, jangan. Ibu!" Qiana berseru panik. Dia melepaskan genggaman tangan Kian. Berdiri dan berlari mencari pertolongan.
Kian Tersenyum. Tubuhnya lemas, tapi dia masih duduk tegak dengan mata tertutup.
Sedang di alam bawah sadarnya...
"Terimakasih Tuan First."
"Apa kau mau meminjam kekuatanku untuk bertahan dari kutukan itu?"
Kian menggeleng. "Terimakasih. Ini sudah akhir hidup saya."
Kian tersenyum. First berempati pada gadis itu. Dia mengelus lembut rambut Kian yang sempurna putih. First membawa gadis itu dalam pelukannya. Kesedian yang tampak di wajah Kian, juga tampak di wajah First.
Bagaimanapun, First sudah bersemayam di tubuh Kian sejak anak itu berusia tujuh tahun. Ini sudah lebih dari sepuluh tahun. Dan inilah akhir kisahnya.
Tubuh Kian bercahaya. Pecah, lalu menghilang menjadi butiran debu yang terbang bebas di ruangan itu. Lautan yang ada di bawah kaki First menguap. Ruangan itu menghilang.
***
"Kian!!" Era berseru histeris. Dia berlari merangkul putrinya. Kian sudah tak bernyawa. Tubuhnya terkulai tak bertenaga. Jatuh di pelukan Era. Qiana ikut memeluk tubuh gadis itu.
Qiana dan Era dapat melihat sebuah not balok yang terbang keluar dari tubuh Kian. Benda itu terbang menembus dinding. Terbang tinggi di langit. Sebuah lagu terdengar di sepanjang jalan yang ia lewati. Tidak ada yang bisa melihatnya selain mata-mata tertentu. Tapi semua orang bisa mendengar nyanyian First dengan suara merdunya.
Not balok itu memasuki kamar Lixe. Udara dingin berembus. Kesejukan seketika menyelimuti kamar, nyanyian First memasuki telinga Lixe. Lixe mengerjapkan mata. Tapi dia enggan untuk bangun. Hingga not balok itu berubah menjadi bentuk aslinya. Jiwa First berdiri di samping tempat tidur Lixe.
"Hai. Apa kabar? Aku dengar kau akan menerimaku. Terimakasih." First menghilang. Kembali menjadi not balok yang melayang di tempat. Dia masuk ke dalam mimpi Lixe.
Di alam bawah sadarnya. Lixe membuka matanya. Mendapati dirinya berdiri di tengah samudra. Sejauh mata memandang hanya air. Lixe mengucek mata. Berharap dunia akan kembali baik-baik saja. Tapi tak ada yang berubah.
Lixe memandang bayangannya. Menunduk dalam-dalam. Sesuatu muncul ke permukaan dari dalam laut. First berlutut di hadapan Lixe. Lixe melompat mundur.
"Apa yang kau lakukan?"
First diam. Kemarahan yang ditunjukkan Lixe di akhir pertemuan mereka sebelumnya masih menggoreskan luka di hati First.
"Aku mohon, terima aku. Akan ku lakukan segalanya untukmu. Sungguh, aku tidak akan memanfaatkan dirimu. Itu janjiku," kata First penuh perasaan. Lixe berjongkok. Dia mencoba melihat wajah First. Sangat menyedihkan.
"Huh. Apa yang salah dengan Kakek? Diusir Tuan Lean?" First menyeringai. Dia menggeleng.
Lixe memegangi kepalanya yang mendadak pusing. Lixe berdiri. Melangkah mundur. Matanya berkunang-kunang untuk beberapa saat. Hingga kesadarannya sempurna hilang. Dia tertidur di atas permukaan laut.
***
First tertawa. Dia memainkan gitarnya sepanjang perjalanan. Semua orang memberi perhatian mereka pada First. Dia adalah idola paling top di pulau itu.
Sebuah pulau yang tandus. Matahari tidak pernah terlihat di atas langit. Pulau itu di tutupi asap. Tempat semua makhluk mengerikan tumbuh pada zaman kuno. Tanahnya yang tidak subur. Hanya beberapa tumbuhan yang menjadi sumber makanan.
Tidak ada manusia yang pernah berkunjung ke sana. Raja mereka, Wistiam, leluhur suku Wist, menjadi orang pertama yang meninggalkan pulau itu bersama keluarga besarnya.
Sekarang sudah kelima bulannya pulau ini ditinggal pimpinannya. Para monster mulai merasa resah. Mereka pikir, sesuatu berbahaya akan terjadi.
"Apa sih? Kenapa kalian berpikir yang tidak-tidak?" First menggeleng. Hanya dia yang bersikap santai. First menyangkal segala pikiran buruk. Tetap menjalani hidupnya sebagaimana mestinya.
Satu bulan lagi berlalu. Tidak ada hal yang perlu di khawatirkan. Tapi saat itu akhirnya tiba. First memandang langit dengan takjub. Sebuah matahari terlihat. Langit hitam berubah menjadi gelap.
Seeokor naga berwarna putih turun dari langit. Mendarat di pulau itu dengan damai. Dua hari berlalu, naga itu ramah dan menceritakan hal-hal indah dari tempatnya berasal sehingga membuat semua penduduk menjadikannya idola nomer satu.
Tidak ada yang peduli dengan First. Bukan begitu, dia hanya menjadi nomer dua. Tapi itu cukup membuatnya sebal. First mulai mempengaruhi orang-orang di sekitarnya.
Dengan keistimewaan dari suaranya yang dapat membuat semua orang jatuh hati, tidak sulit membuat para penduduk merasa was-was terhadap Naga Langit Putih.
Keesokan harinya. para penduduk bersiap mengusir Naga Langit Putih. Semua niat mereka urung saat melihat naga tersebut. Auranya selalu bisa membuat seseorang menjadi tenang. Bahkan First merasakan kemuliaan hati pendatang itu. First membuang kebenciannya.
Tapi beberapa penduduk mulai membandingkan dirinya dan Naga Langit Putih. Sikap First yang selalu bebas, sedikit melenceng dengan prinsip yang lain. Mereka memandang First rendah.
Dengan disulut kebencian. Saat keluarga Wistiam datang, First merayu mereka. Membuat keluarga terkuat di pulau itu tunduk padanya. Setelah mendapat dukungan itu, First menciptakan pertempuran besar.
Wistiam berada di bawah kendalinya. Dengan mudah Naga Langit Putih ditaklukkan. Bahkan para penduduk dibantai Wistiam dalam satu malam. Jiwa mereka yang abadi di satukan ke dalam sebuah permata jelmaan mayat Naga Langit Putih.
Sejak hari itu, First ikut bersama keluarga Wistiam mengarungi samudra. Melihat dunia yang indah. Mereka membangun kehidupan sebagai pelaut. Berlabuh di sebuah pulau, First menikah dengan manusia biasa. Membentuk keluarga di pulau itu. Kembali berlayar. Hingga ribuan tahun berlalu. Dua suku terbentuk. Lyde sebagai atasan, Wist sebagai pelayan.
First Lyde yang hidup abadi melihat gerak-gerik Suku Wist yang seolah ingin memberontak, ingin mendapatkan kebebasan. First tidak keberatan dengan itu. Tapi dia takut. Dia tidak ingin dibenci. Suku Wist mulai menyimpan dendam padanya. Demi menghapus dendam itu, First menikam Wistiam. Wistiam menerimanya tanpa perlawanan.
"Kau tahu, wahai anak kekasih gelap ayahku."
Gerakan First terhenti.
"Aku menuruti segala yang kau inginkan. Ayah bilang, sebagai kakak aku harus menjagamu. Walaupun kita berasal dari rahim yang berbeda. Aku menyayangimu. Aku pikir, suatu hari kau juga akan begitu. Karena itu, aku menahan Suku Wist membencimu. Membuat mereka mencintai Lyde. Nyatanya hanya aku yang mengharapkannya. Sampai jumpa. Aku kecewa. Jadi jangan menyusul ku ke alam sana." Tubuh Wistiam menjadi kepulan bayangan.
Beberapa Suku Wist menyaksikannya. Mereka berseru marah. First merasa ini akhir dari kisahnya. Tidak juga. Bayangan perwujudan Wistiam justru menyerang Suku Wist yang marah. Melilit tubuh mereka, dan merubah mereka menjadi bayangan juga. Bayangan itu terbang mendekati First. Berubah menjadi sebuah batu kubus.
Hanya butuh seminggu hingga First keluar dari keterpurukan. Dia menjual batu kubus itu pada Kerajaan Argio. Kemudian mendapatkan cinta Suku Wist yang abadi.
First yang haus cinta dari orang-orang yang dia temui menargetkan Kerajaan Aenmal. Kerajaan yang asri dan menampung banyak spesies hewan dan tumbuhan langkah. Dia ingin mendapat cinta mereka. Bahkan demi itu dia melakukan kekerasan.
Bodoh, kegilaannya justru membawa petaka bagi sukunya. Suku Lyde terbunuh tanpa ampun di lembah kematian. Beberapa orang yang selamat melarikan diri. Mereka meninggalkan Suku Wist yang lebih dulu kabur.
First dikhianati Suku Wist. Menjadi buronan Kerajaan Aenmal. Lebih parah lagi, sukunya sendiri berencana menghancurkan tubuhnya. First ditikam sebagaimana dia menikam Wistiam. Tubuhnya hancur, tapi seseorang yang paling setia padanya menyelamatkan jiwanya. Seorang yang terlahir dari gabungan suku Lyde dan Abta itu mengikat jiwanya, membiarkan First bersemayam di tubuh keturunannya.
Garis keturunan itu membawanya pada Lean. Anak malang yang selalu menjadi korban bully. Anak itu selalu menyalahkan First. First tidak bisa menerima kebencian itu. Dia memberikan kekuatan pada Lean, mengubahnya menjadi monster tak terkalahkan. Tidak ada lagi yang berani merundungnya.
First harap Lean akan mencintainya. Tidak. Kekuatan itu justru membuat Lean dan adiknya diusir.
***
"Pada akhirnya, tidak ada yang mencintai ku."
"Keluarlah dari pikiranku, Kek. Kau sudah merusak mimpiku dengan kisah hidupmu itu!"
First menyengir. Dia menurut. Berubah menjadi not balok dan keluar dari alam bawah sadar Lixe. Lixe merenggangkan tubuh. Dia beranjak duduk dengan malas.
"Kenapa kau ke sini?" Lixe bisa melihat not balok yang melayang di sampingnya. Dia hendak berseru kaget. Tapi berhasil ditahan demi menjaga imej.
"Aku mohon. Jangan membenci ku. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Yang lalu tidak akan terulang kembali. Beri aku kesempatan."
Lixe tersenyum polos. Dia mengangguk. Hanya dengan melihatnya, cukup membuat First bahagia.