
Pandangan Lixe buram, digantikan ruang kosong yang sunyi dan gelap. Lixe berputar, mencari orang di sekitar sana. Saat dia berbalik, seorang wanita berdiri di sana. Rambut yang bergelombang hitam, dan mata merahnya yang menusuk tulang. Lixe melangkah mundur.
"Hai, Cu! Nenek pinjam tubuh dulu ya," kata Biete halus. Dia tersenyum ramah. Kepala Lixe berat, matanya berkunang-kunang. Hingga akhirnya tubuh itu ambruk di dalam ruangan tersebut.
"Aku akan menghentikan mu, Neo!" Biete meremas jemari.
Lixe berlari. Dia melayangkan tendangan. Bola asap darah hancur. Neo melepaskan Gusion, tubuhnya terpental dua meter ke samping. Dia menatap Lixe tidak percaya. Neo memasang kuda-kuda, mengingat Lixe kembali bergerak mendekatinya.
Neo menangkis pukulan Lixe. Lixe melompat mundur, menjatuhkan tubuhnya, lalu menyapu kaki Neo. Tapi Neo lebih dulu terbang.
Di samping kedua telinga Neo terbentuk sebuah bola darah kecil. Bola itu melesat ke arah Lixe.
Lixe mengangkat tangan, bola itu bersinar, lalu hancur.
"Uh. Kekuatan anak ini hebat sekali di bawah bulan purnama. Andai aku bisa mendapatkan tubuh ini," batin Biete yang bersemayam di tubuh Lixe untuk sementara.
Lixe melompat ke atas, tubuhnya seperti menjadi ringan. Telapak tangannya terbuka dan bercahaya. Dia mengacungkan telapak tangannya, menembus tameng asap darah. Lixe menarik tangan itu, lalu melayangkan tinju dengan tangan satunya. Telak mengenai Neo. Tapi Neo mengepakkan sayapnya, menjaga keseimbangan, juga membuat angin kencang menerpa Lixe.
Angin itu melewati tubuh Lixe. Tubuhnya diselimuti cahaya. Mengambang tiga meter di atas permukaan tanah. Dari bawah, Gusion melompat. Pasukan monster Neo memenuhi jalanan. Gusion sudah membawa tubuh teman-teman, juga Aizla dan Aren dalam perut naga bayangannya yang terbang tinggi dari kekacauan di bawah sana.
Gusion mengamati Tara. Pasukan itu sama sekali tidak menyerangnya. Tidak ada yang melihat Tara. Tara mendongak, matanya khusus mengamati Neo. Perasaan aneh muncul dalam pikiran anak itu.
Lixe menoleh pada Gusion. Lixe menyeringai. "Apa kau tahu dari mana kekuatan Abta berasal?" bisik Lixe.
Gusion melirik Lixe. Menyadari hal aneh yang terjadi pada temannya yang memang aneh.
"Katakan?" ucapnya.
" Portal dan monster-monster yang keluar dari sana, sama dengan monster ingatan bukan? Kami, Abta hanyalah kaum vampir yang tidak berdaya. Bangsawan Argio juga tidak bisa apa-apa tanpa rubik itu. Dan semua kekuatan ini, adalah berkat dari Suku Wist, penguasa kegelapan yang menyumbangkan darahnya pada kami. Juga memberikan jiwanya pada rubik memori." Lixe tertawa kecil. "Dan kamu kalah melawan budakmu, Tuan?"
Gusion mengeraskan rahang. Dia menatap portal bayangan yang terus mengeluarkan makhluk-makhluk menyebalkan itu.
"Hancurkan, Tuan! Tunjukkan kekuatan Raja Bayangan! Atau, Anda tidak bisa?"
Gusion menggertakkan gigi. Dia jelas tidak suka diremehkan. Tapi yang dikatakan Lixe memang apa adanya. "Sampai aku bisa melakukannya. Aku tidak akan berhenti mencoba," ikrar Gusion. Tubuhnya terbang mendekati istana putri yang setengahnya di kelilingi portal tersebut.
Lixe tersenyum. Biete tertawa bahagia di sana.
"Dan kamu...., Neo." Raut wajah Lixe berubah. Neo bisa melihat Biete ada di dalam tubuh itu. Tubuh Neo bergetar. Dia menunduk.
"Kamu tidak ingin bertarung dengan anak ini dalam mode paling hebatnya?" Lixe menyeringai. Neo tersenyum.
"Aku akan mengalahkanmu dalam sekali serang!" Neo melipat sayapnya dan membiarkan tubuhnya terjun bebas menghampiri Lixe. Biete menantang, tentu saja dengan senang hati akan dia lakukan. Kulit Neo berubah merah pekat yang hampir hitam. Sepasang tanduk muncul di atas kepalanya. Neo berada dalam mode bertarung paling hebatnya.
"Pangeran Neo Devil," gumam Lixe. Lixe menghembuskan napas. Cahaya yang menyelimuti Lixe semakin terang. Lixe memejamkan mata.
"Cu! Aku serahkan padamu," kata jiwa Biete yang ada dalam pikiran Lixe.
"Apa maksud Nenek?! Nenek sudah mengundang monster! Lalu Nenek mau pergi meninggalkanku?!" jiwa Lixe berteriak. Biete menepuk kedua pundak Lixe. Menenangkan Lixe.
"Suku Abta selalu menghindari cahaya bulan purnama. Tapi Anda adalah Suku Van, sang Raja Bulan Purnama." Biete berlutut. Lixe terpaku. "Anda bisa mengalahkan monster itu sendiri. Sampai jumpa, Tuan." Biete menghilang. Lixe membuka matanya lebar-lebar.
"Merepotkan, kenapa anak-anak muda ini sama sekali tidak menghargai kekuatan nenek-nenek mereka?" keluh Biete dalam hati.
Lixe menyadari tubuhnya sangat berbeda. Tubuhnya ringan, juga merasa energinya lebih mendominasi sekitarnya ketimbang energi dari tubuh Neo. Lixe menarik napas.
"Sinar bulan purnama abadi. Jebakan bulan."
Gerakan Neo terhenti. Sebuah bola cahaya mengurungnya. Menyiksa setiap selnya. Tubuhny lemas, tapi Neo terus meningkatkan kekuatannya. Sayang, semakin menyerupai Suku Abta, Neo semakin merasakan siksaan yang diderita Suku Abta. "Inikah, siksaan cahaya bulan purnama yang kalian derita?" gumamnya.
Neo terjatuh. Lixe ikut turun. Kedua kaki itu sama-sama menjerjak tanah.
"Aaah!" Keduanya beradu kekuatan. Lixe mendorong pedangnya yang di tahan langsung tangan kanan Neo. Begitu juga Neo, dia tidak membiarkan Lixe menang.
Lixe melewati Neo. Neo terduduk. Tangan kanannya sempurna putus. Lixe tersenyum. Matanya berkunang, dia jatuh pingsan. Cahaya di tubuhnya menghilang.
"Aku akan membunuhmu," gumam Neo. Dia berbalik. Tapi seseorang yang tidak bisa dia lihat menggenggam erat tangan kirinya. Neo menoleh. Dia merasakan ada yang menahan tangannya. Tubuh Neo oleng. Dia merasakan seluru sel dalam tubuhnya ingin meledak akibat pertarungannya tadi.
Tanduk dan sayapnya menghilang, tubuhnya kembali ke bentuk semula. Neo mulai tidak bisa bernapas. Dia menatap sekeliling. Para pasukannya tersedot ke arah portal.
"Putri?" Di akhir kesadarannya, Neo akhirnya bisa melihat Tara. Gadis itu hanya bengong. Matanya berkaca-kaca, tapi air mata seolah tidak ingin menetes dari sana. Neo tersenyum.
"Aku memenuhi janjiku, Fiyah." Neo jatuh di pelukan Tara.
Beberapa saat sebelumnya, di depan gerbang istana. Gusion berdiri di hadapan para zombie yang haus darah. Monster-monster itu menatapnya penasaran. Rasa takut muncul dalam diri para monster.
"Kita adalah setan. Mereka sendiri yang bilang, kenapa kau ambil pusing dengan berbuat baik. Pada akhirnya mereka memandang kita rendah." Gean memukul wajah Gusion kecil. "Sadarlah!"
Gusion kecil hanya diam. Dia menundukkan kepalanya. Bagaimanapun dia akan tetap menghormati orang yang lebih tua.
"Gusion," panggil Gean. Gean merangkul leher Gusion yang lebih pendek darinya. Gean tersenyum saat Gusion melihatnya.
"Suatu hari kita akan berada di atas. Di atas. Tidak ada yang mengangkat wajahnya seenaknya." Gusion melihat harapan di mata Gean. Dia juga tersenyum.
Gusion mengangkat wajahnya. Auranya menakutkan. Bahkan para monster itu merasa tubuhnya diremas.
"Siapa?" tanya salah satu dari mereka dengan gugup. Suara aneh yang menakutkan kini tidak lebih menakutkan daripada Gusion.
"Gusion Wist," jawabnya dingin. Dia menoleh.
Para monster di sana meraung. Memecahkan suasana sunyi yang legang. Memberi sinyal pada yang lain. Monster di sana berhenti. Para warga semakin resah. Entah apa lagi yang akan terjadi.
Mereka berbondong-bondong mengerumuni Gusion. Monster itu berubah menjadi bayangan yang berputar bagai asap di sekeliling Gusion.
"Kalau kau bisa mengalahkan kami, kami akan tunduk pada Anda."
Suara itu terdengar nyaring di telinga Gusion. Dia mengangkat tangan. Naga bayangan muncul di atas kepalanya. Kedua raksasa bayangan bertarung di langit. Tubuh Gusion terangkat. Naganya hilang.
"Bagus, Cu!" Biete berbisik. Arwa itu terbang di samping Gusion. Biete tersenyum. Dia punggung Gusion. Biete mendorongnya dari bawah. "Aku akan membayar kebaikan nenekmu!"
"Lingkaran darah. Ikatan jiwa," bisik Biete di telinga Gusion. Gusion mengikuti kalimat itu.
"Aaahh!" Bayangan yang mendorong Gusion dari atas, meresap ke dalam tubuhnya. Biete yang mendorong tubuhnya agar tidak jatuh tertawa puas. Hingga seluruh bayangan itu habis terserap. Portal-portal di sana hancur. Biete pergi meninggalkan tubuh Gusion yang jatuh perlahan ke tanah. Naga bayangan yang menyembunyikan tubuh-tubuh temannya mendarat, mengeluarkan semua tubuh di dalam perutnya. Lalu berputar di langit. Naga itu hilang.
"Putri!" seru Fiyah berlari sembari mendekati Tara saat semua kekacauan selesai. Tara masih memeluk tubuh Neo. Fiyah menatapnya tidak percaya.
"Ibu tahu siapa ini?" tanya Tara saat melihat ekspresi ibunya yang berubah. Fiyah menganggukkan.
"Aku mengenalnya. Lebih daripada siapapun selain Nona Biete, di dunia ini."
Tara menatapnya dingin. "Apa Raja ayahku?"
Fiyah tersenyum kecut. Dia menggeleng.
***
Tiga belas tahun yang lalu. Di desa asal Fiyah...
"Kenapa kau tidak pulang?" tanya Neo. Fiyah berbaring di tepi danau.
Fiyah menggeleng. "Aku diusir."
"Mau aku balaskan dendammu?"
Fiyah tidak membalas. Dia sudah muak dengan kalimat itu. Fiyah tidur. Tidak peduli besok akan sakit atau tidak, mengingat bajunya yang basah kuyup.
"Kalau begitu temani aku di sini." Neo mendekat. Dia berbaring di samping Fiyah. Pria itu memeluk Fiyah hingga sinar matahari menerpa wajah keduanya di pagi hari.
Fiyah bangun. Dia berusaha melepaskan tangan Neo yang mengunci pinggangnya. Tidak bisa, tubuhnya terlalu lemas. Fiyah berbalik, menghadap Neo. Fiyah menyentil kening Neo.
Neo mengerjapkan mata. Dia melepaskan Fiyah. Lalu melakukan perenggangan. Fiyah bangun. Tapi Neo menarik tangannya.
"Kau mau kemana?" tanya Neo.
"Tentu saja aku ingin bekerja! Aku sudah membolos kemarin. Kalau aku membolos lagi, aku akan dipecat!" Fiyah berseru. Dia menarik tangannya. Meski dia tahu itu sia-sia.
"Apa pekerjaanmu?"
"Mengambil air dari danau?"
"Kenapa? Bukankah kalian bisa memakai alat... apa namanya?" Neo memukul kepala, dia tidak ingat nama benda aneh itu.
"Bosku bilang, danau ini berisi air suci. Dan ini diberikan Pangeran Neo Devil pada keluarganya karena dia adalah kepala desa di sini."
"Dan kau percaya?"
"Semua orang percaya!"
"Bodoh!" Neo berdiri. Dia menarik tubuh Fiyah. Wanita itu meringis kesakitan. Lalu dengan perlahan berdiri. Fiyah memegangi perutnya yang sakit. Neo mengajaknya menemui bosnya.
Neo mendobrak pintu dari rumah paling besar di sana. Tempat dia pernah mengantar setimba air danau di malam hari. Tuan rumah memandang Leo tidak suka. Tentu saja, Leo hampir merusak pintunya.
Tuan rumah melirik Fiyah. Dia menyeringai. "Jadi ini pacar yang kau bawa untuk menghajarku?" Fiyah menggeleng keras.
"Kau aku pecat. Dan bawa dia pergi! Atau aku akan mengusir kalian berdua dari sini!" Kepala desa membanting pintu di depan wajah Neo. Pria itu hendak membunuhnya. Tapi Fiyah lebih dulu menyeretnya pergi.
"Daripada kau mengganggur dan terus bilang ingin membunuh orang. Ayo ikut aku cari pekerjaan!"
Mencari pekerjaan? Itu terdengar menarik di telinganya. Neo setuju. Dia mengikuti Fiyah kemanapun Fiyah pergi. Keduanya lalu diterima bekerja di ladang seorang paruh baya yang hanya punya sawah itu dan rumah kecil.
Satu bulan terlewati. Neo bahagia. Di kehidupannya dulu, kaki cacatnya tidak bisa melakukan apapun. Tapi membajak sawah? Dia merasa setiap hal yang tidak pernah dapat ia lakukan sebelumnya, kali ini ia lakukan. Termasuk untuk mencintai seseorang.
"Kakek ini mencintaimu, Fiyah." Dan dalam tiga bulan, hubungan itu sudah masuk ke tahap selanjutnya.
Malam yang cerah, Fiyah berseru girang. Semua hasil pertaniannya habis terjual di desa sebelah. Dia tersenyum sepanjang jalan. Tapi Neo berusaha tersenyum walau kegelisahan muncul di hatinya.
"Apa kau sudah lupa tentang hutangmu, Fiyah?" Sin dan Kepala Desa menghalangi jalan Fiyah dan Neo. Di belakang Sin beberapa tukang pukul mengikutinya. Mereka menatap dua orang yang baru datang berdagang dari desa sebelah dengan tatapan benci.
Fiyah mendekatkan diri pada Neo. Ketakutan menyelimuti hatinya. Neo merangkul Fiyah. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu," bisik Neo di telinga Fiyah.
"Ya ampun. Anak ini sudah lupa membayar pajak tanah ya?" Sin tersenyum. "Daripada di bayar dengan uang, aku meminta permata yang dibawa kekasihmu." Sin menunjuk dada Neo. Sesuatu bercahaya di sana.
"Aku tidak tinggal bersamamu." Fiyah menggeleng.
"Mau aku bakar sawah dan nenek ini?" Di belakang Sin, salah satu tukang mencengkeram lengan Nenek yang tinggal bersama keduanya. Neo menoleh pada Fiyah. Kalau Neo, pasti tidak akan peduli. Tapi Fiyah. Wanita itu menangis.
Ini malam bulan purnama, tanpa permata itu dia akan membunuh banyak orang. Tapi apa salahnya? Neo sudah memendam keinginan itu sejak lama. Neo memasukkan tangannya lewat kerah bajunya. Dia mengambil permata yang melekat di sana. Mengulurkannya pada Fiyah. "Maaf Fiyah. Kali ini aku akan membunuh mereka."
Fiyah menoleh. Neo bukan lagi manusia. Di punggungnya muncul sepasang sayap dan tanduk di kepalanya. Kepala Desa itu mundur. Dia tahu sosok itu.
"Pangeran Neo Devil!" Tubuhnya bergetar. Dia bersujud. Neo sudah sampai di depannya. Menunduk.
"Halo, Nak. Kau punya masalah dengan istriku? Mau buat perhitungan? Laki-laki, harus melawan laki-laki bukan?" Neo menyeringai. Dia menebas tubuh orang di depannya dalam sekejap. Asap darah yang menyelimutinya, terbang menebas para tukang pukul yang dibawa tuannya yang sudah tidak bernyawa. Teriakan mengerikan terdengar hingga seluru penjuru desa.
Sin mengeluarkan keringat dingin. Tatapannya bertemu langsung dengan Sang Monster. Seluru warga datang menghampiri. Mereka menyaksikan Neo dengan wujud mengerikannya.
Para warga berlutut. Sin bersujud di depan kaki Neo. "Aku minta maaf. Sungguh!" Sin berteriak dengan suara terbata akibat tangisnya yang tak tertahan.
"Jangan!" Fiyah berseru. Lalu pingsan. Neo menoleh, panik.
"Kau ditangkap Pangeran." Aren datang dengan pasukannya.