AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Rantai yang Tak Kan Putus



Di tengah malam yang sejuk. Udara dingin menusuk hingga tulang. Tapi Lixe hanya mengenakan kemeja coklat tipis, membiarkan angin masuk ke tubuhnya. Lelaki itu berjalan di trotoar jalan yang agak sepi. Pukul 23.36, beberapa kendaraan yang melintas tinggal hanya hitungan jari.


"Hai, Gusion. Sedang merenungi nasib?" tanya Lixe saat melihat orang itu duduk di kursi pinggir jalan seraya menatap ke langit. Cahaya lampu di sekitar mulai mati satu-persatu. Membiarkan bulan dan bintang-bintang menampakkan dirinya yang indah.


"Hati-hati saat kau keluar malam-malam," ucap Gusion tanpa menoleh sedikitpun.


"Kau pikir aku anak kecil?" Lixe mengepalkan tinju.


"Kau lemah. Ingat?"


Lixe berdecak sebal. Dia melayangkan tinju pada Gusion.


Gusion menoleh. Tanpa bangkit dari tempat duduknya, ia menangkap tinju itu dan dengan enteng membanting Lixe di jalan trotoar yang sepi.


"Riiiiing!!" alarm keamanan mendeteksi perkelahian.


Gusion mengacungkan jari telunjuknya ke atas.


Sebuah bayangan muncul dari ujung jarinya. Terbang dan menghancurkan alarm tersebut.


Lixe berdiri. Kemudian duduk di samping Gusion.


Gusion membiarkannya duduk di sana. Lalu mendongak.


Lixe ikut mendongak. Dia tahu betul apa yang dicari Gusion di langit sana.


"Kau mencari pemandangan langit Aenmal?" tebak Lixe.


Gusion menyengir. "Tidak ada yang setara dengan itu di benua ini."


"Kau berasal dari sana?" Lixe menoleh.


Gusion mengangguk.


Ini pertama kalinya dia bisa bicara santai dengan orang di sampingnya itu. Tidak pernah terpikirkan dia bisa melakukannya.


Keduanya sama-sama menikmati hembusan angin. Udara malam yang tanpa polusi terasa sejuk di wajah.


Gusion menoleh, menyadari Lixe tengah mengamatinya.


Netra keduanya bertemu. "Apa kau punya darah lain selain Van?"


"Hah? Maksudmu keturunan? Ibuku... Dia.....," Lixe memalingkan wajah.


Gusion masih menunggu kelanjutannya, ujung alisnya terangkat. "Kenapa kau menanyakannya?"


Gusion menyengir seraya menggeleng pelan. "Kurasa nama Van yang hebat terlalu bagus untuk kemampuan seseorang sepertimu."


"Apa kau berharap aku akan bilang orang sepertimu terlalu baik untuk sebuah nama Wist?"


"Wist adalah suku yang paling hina. Paling rendah. Bahkan di bawah suku Lyde." Gusion terdiam. Dia menyadari perubahan raut wajah Lixe.


P"Jadi aku memang berharap kau mengatakannya."


"Lalu mengapa kau menggunakan nama itu sebagai nama belakangmu?"


"Karena itu yang diberikan tuhan padaku. Sampai mati. Meski beberapa berkhianat. Keluarga adalah rantai yang tak kan putus."


"Andai Paman Lest juga berpikir begitu," batin Lixe.


"Aku baru tahu soal Suku Wist dan Lyde," balas Lixe datar. Tidak lagi tertarik dengan hal itu. Mendengar suku Lyde disebut, sedikit membuatnya merasa sebal.


"Apa yang kau ketahui soal Lyde?" Ibunya tidak pernah bercerita tentang itu.


"Dulu, kerajaan itu dihuni dua suku besar. Suku Aenmal dan Van. Keduanya pernah bertarung merebutkan kekuasaan. Tapi Van kalah, mereka berdamai." Lixe masih setia mendengarkan, walau dia mulai ngantuk.


"Suatu hari Lyde, suku bajak laut mendarat di kerajaan itu. Mereka membawa pelayannya, suku Wist. Mencoba menghancurkan segalanya. Menguasai semuanya. Dan menjadi penguasa tertinggi di sana. Pertempuran meledak. Puluhan, aku tidak tahu pastinya, dibantai di dekat jurang yang lalu diberi nama Jurang Kematian. Yang masih hidup kabarnya meninggalkan kerajaan, mereka kembali berlayar. Meninggalkan suku Wist yang lalu terhinakan, menjadi budak dan selalu dipandang rendah."


Lixe menatap tanpa berkedip. Dia takjub dengan apa yang diceritakan. Seorang budak bisa sekuat ini? Lixe menggeleng. Menjauhkan kata budak dari pikirannya.


"Itu artinya Suku Lyde masih ada?"


Gusion mengangguk. "Mungkin. Kalau ombak besar tidak menghantam kapal mereka."


Lixe tidak tahu harus bagaimana. Suku yang dia benci bertahun-tahun karena membuat hidupnya berantakan walau hanya menyandang dengan menyandang nama itu dan tak pernah membantunya. Yang dia kira sudah hancur. Mereka masih hidup. Apa dia tertarik untuk mencarinya?


"Sudah puas dengan ceritanya?" Gusion berdiri. Dia berjalan memasuki sebuah apartemen. Laki-laki itu menolak tinggal di istana. Membiarkan Lixe duduk sendiri di luar dengan pikiran tidak karuan.


"Apa aku akan mencari keluarga ibu?" batin Lixe.


"Mereka yang membuat hidupku...Ah sudahlah."


"Keluarga adalah rantai yang tak kan putus," entah kenapa kata-kata Gusion itu melayang di pikirannya. Dia meremas rambutnya. Mungkin suatu hari, dia akan mencari Suku Lyde yang hilang.


Beberapa saat kemudian. Menara jam besar menunjukkan pukul 00.00. Lixe berdiri. Dia berjalan menuju kediaman Suku Dey.


Baru memasuki pintu gerbang. Lixe dikejutkan oleh Zenith yang berjalan cepat menuju garasi mobil.


"Mau kemana lagi anak perempuan itu?"


Lixe berlari menuju istana. Sebisa mungkin tidak diketahui Zenith.


Tak lama, mobil Zenith keluar dari garasi. Lixe mengamatinya dari kejauhan.


Cukup jauh dari istananya. Zenith bernapas lega. Namun seseorang hadir sesaat setelah kemunculan cahaya di kursi penumpang depan. Zenith langsung menginjak rem. Lixe yang baru muncul menghantam kursi sopir.


"Woi! Hati-hati dong!" Lixe berseru sembari menahan sakit di dadanya.


"Kenapa kau mengikuti ku?!" Zenith berseru sekencang-kencangnya di jalanan yang sepi.


"Kau bisa menimbulkan gangguan pada orang-orang yang tidur, Kawan." Lixe menggeleng dia membenarkan posisi. Memakai sabuk pengaman. Lixe menatap Zenith dengan wajah tanpa dosa.


"Keluar dari sini!" Zenith tidak kunjung menginjak gas. Mobil itu berhenti di tengah jalan. Di mata Zenith terlihat kobaran api yang membara.


"Mau kencan! Pulang sana!"


"Kencan sama setan?! Jelas-jelas kau sendirian. Atau laki-laki itu meminta jemputan? Astaga. Putuskan saja!" Lixe menggeleng. Tertawa mengejek. Dia tahu, Zenith tidak mungkin memikirkan urusan percintaan. Tidak ada laki-laki yang berani padanya.


"Diamlah! Kenapa kau selalu mengikutiku!"


"Gak boleh?"


"Beri aku alasan untuk mengizinkanmu ikut," Zenith melipat kedua tangannya di dada dengan hembusan napas seberat gajah afrika.


"Aku teman kencanmu malam ini, ayo jalan!"


"Apa kau bilang?!" Zenith hendak berdiri. Tapi sabuk pengaman yang menahan tubuhnya mencegahnya berdiri. Dia meremas jemari.


"Bukankah kau bilang akan mengajariku mengendarai mobil?"


Oke. Alasan ini lebih dapat diterima. Zenith mengalihkan pandangan, membuang muka. Dengan cepat Zenith menginjak gas. Mobil itu melaju dengan kecepatan paling tinggi. Rambut panjangnya yang terurai terbang diterpa angin.


"Tumben gak kunciran?" tanya Lixe dengan polosnya. Dia melihat Zenith beberapa kali menyingkirkan rambutnya yang menghalangi pandangannya.


"Sialan!" Zenith berseru sebal. Lixe langsung terdiam seribu bahasa. Dia menatap ke depan. Menunggu akan sampai dimana mereka nanti. Tidak peduli lagi, matanya berat. Lixe pun tertidur.


"Mau tidur sampai kapan? Ini sudah pukul 2.30." Zenith menepuk pipi Lixe. Lixe mengerjakan matanya. Dengan susah payah dia membuka matanya yang amat berat. Lixe mengucek matanya sebelum akhirnya membuka sabut pengaman dengan separuh kesadarannya.


"Dimana ini?" Dia menoleh pada Zenith yang sudah turun dari mobil dan berdiri di sampingnya.


Gadis itu tersenyum.


"Kau bilang akan mengikuti ke manapun aku pergi. Bagaimana kau bisa tertidur begini?" Senyuman itu ejekan. Zenith berjalan meninggalkan mobilnya yang terparkir di bersama mobil-mobil lain.


"Tunggu!" Lixe melompat turun. Mengejar Zenith yang belum jauh. Gadis itu berbelok di tikungan jalan. Dimana dia? Setelah tikungan itu, Lixe mendapati pertigaan jalan. Dia tidak tahu, Zenith berbelok ke mana. Kanan? Tidak Kiri


"Aaah!" Lixe menggaruk kepala yang tidak gatal. Bahkan kini dia kehilangan arah, tidak tahu tempat apa ini. Tidak tahu musuh atau teman yang akan dia temui.


"Harusnya tadi aku membawa Bal." Lixe menepuk jidat, dia ingat. Sesuatu terjadi pada Bal.


"Apa yang kamu cari pagi-pagi buta seperti ini?" Seseorang menepuk pundak Lixe dari belakang. Lixe langsung melompat kaget.


"Cewek rambut hitam panjang, tinggi, kurus tapi berisi, tatapannya menyeramkan, jalannya cepat." Lixe menyebutkan segala kesannya terhadap Zenith. Membuat yang ditanya terbengong.


"Kapan kau terakhir melihatnya?"


"Saat aku bangun tidur. Lalu dia pergi dan saat aku mengedipkan mata dia hilang."


"Apa kau yakin dia manusia?"


Lixe terkekeh pelan. Dia menggeleng. "Mungkin kau benar kawan." Lixe meninju dada kanan laki-laki seumurannya pelan. Dia lalu pergi. Oke, dia menemukan Zenith.


"Walau kau tidak tampak sepertiku, maksudku kau berada, tidak miskin. Tapi jika kau tempat menginap, kau bisa datang ke rumahku." Lixe berhenti, lantas menoleh.


"Masuk gang itu, rumah nomer 6. Kalau kau tidak keberatan. Dan saat itu percayalah, itu rumah. Aku tinggal di sana," katanya. Orang itu memasuki gang kecil di sampingnya. Hilang dari pandangan Lixe.


Lixe melanjutkan perjalanannya. Berbelok ke kanan, sesuai instruksi instingnya. Dia tiba di sebuah taman yang indah. Seorang wanita empat puluhan berdiri menatap ke timur. Tapi dimana Zenith.


"Halo, Tan, Ku rasa matahari terbit masih lama. Apa Tante tidak sebaiknya pulang terlebih dahulu?" Lixe asal bicara. Dia menghampiri wanita dengan sweater rajut putih dan celana kulot hitam itu. Dia yakin instingnya benar. Aura yang dia rasakan adalah aura Zenith. Tidak tahu yang ketemu malah ibu-ibu empat puluh tahunan. Lixe menggaruk kepala belakangnya.


"Apa kamu anak baru? Kamu tidak mengenal saya, Nak?" wanita itu menoleh.


"Oh, maaf. Sepertinya saya salah cari gara-gara ya, Tan. Maksud saya, Nyonya." Lixe menatap kekesalan yang tersirat kan di mata wanita itu. "Nona?" Lixe membenarkan ucapannya.


Wanita itu mendengus. "Kamu benar-benar menyebalkan, Nak," kata orang itu dengan nada yang jelas Lixe tahu.


"Zenith?" gumam Lixe asal. Mulutnya terbuka lebar. Tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. Itu jelas nada khas Zenith.


Wanita itu menundukkan kepala. Dia tertawa. Lalu kembali melihat ke arah Lixe. Dia memiringkan kepalanya. Dia berjalan menghampiri Lixe. Sedikit membuat Lixe nervous, dia menelan ludah.


"Kamu mengenalnya?" tanya wanita itu dengan nada sinis begitu jarak keduanya tinggal satu meter. Lixe melangkah mundur. Tapi wanita itu lebih dulu mengayunkan belati yang tersembunyi di balik sweater-nya.


Lixe menangkis tangan wanita itu. Namun sebuah tendangan melayang ke arahnya. Lixe membungkuk, harus dia akui wanita itu cukup lincah.


Tendangannya berubah arah, kaki wanita itu terayun ke bawah. Mengenai punggung Lixe yang lalu mencium blok paving.


"Nona siapa?" tanya Lixe dengan wajah tertole, membiarkan pipi kirinya bersentuhan dengan paving yang keras.


Wanita itu menatapnya dari atas. "Katakan padanya, jangan mencari ku!"


"Apa? Aku ini sedang mencarinya." Lixe mengangkat tubuhnya. Lalu berdiri dan membersihkan debu di pakaiannya.


"Begitu ya." Dia mengendus kecewa. "Kalau kamu bertemu, suruh dia pulang!" Wanita itu berbalik.


"Zenith tidak pernah mendengarkan siapa pun. Kalau dia bertanya dari siapa perintah itu datang, apa yang harus saya katakan?"


Langkah wanita itu terhenti. Dia menoleh. "Bilang, Anita mengusirnya dari Kerajaan Argio. Kalau dia datang, Anita sendiri yang akan menghabisinya. Lalu mengirimnya kembali pada Tuan Dey."


"Kalau begitu lawan aku!" Zenith berteriak dari jarak lima meter. Dia berjalan cepat menghampiri Anita. Matanya berkaca-kaca, tangannya terangkat.


"Zenith," gumam Anita. Dia tertunduk, menyembunyikan apapun ekspresinya.


"Apa kau tidak menganggap ku anak?! Bukankah dulu kau bilang kita bagai rantai yang tak kan terputus?!" Zenith berseru. Di benaknya, serpihan masa lalu muncul. Saat Anita mengelus rambut putrinya lembut di tengah taman bunga.


"Bahkan Nona Anita masih berdiri di tengah taman. Diantara kumpulan bunga. Apa Anda sudah lupa dengan alergi bunga yang Anda miliki?"


Zenith melayangkan tinju ke arah Anita begitu jarak mereka kurang dari satu meter.


"Maaf, Sayang," batin Anita. Dia mengangkat wajah. Tinju Zenith terhenti. Gadis itu tidak sanggup meninju ibunya.


"Harusnya kau memukulku!" Anita menangkis tangan Zenith di depan wajahnya. Lalu menendang wajah Zenith hingga dia melenting ke samping.


"Apakah rantai itu sudah putus?" batin Zenith.