
Sebelum terjadinya kekacauan, seluru pelayan di istana sibuk membersihkan, merapikan, dan menghias istana demi perayaan ulang tahun putra mahkota, Zecda. Namun Zecda yang bosan dengan suasana istana, nekat kabur. Dia mengajak Ague melompat dari jendela lantai lima, mendarat di atap rumah warga, dari mulai berlari dan melompat di atas sana.
Di usianya yang kelima belas, ayahnya mengumumkan dirinya menjadi putra mahkota. Itu sudah cukup memuakkan. Semua orang jadi sok kenal. Bahkan Zecda yang lahir dari istri pertama raja yang memiliki tiga istri dan empat anak laki-laki juga tiga putri, sejak awal tak memiliki berhubungan baik dengan saudara-saudaranya. Dan perseteruan diantara saudara-saudara laki-lakinya semakin tidak karuan. Terkecuali Ague yang hari itu ikut menemaninya kabur.
Di dalam truk ayam, Zecda jatuh dalam tidurnya. Tidak peduli ada tiga orang yang melihatnya dengan sebal. Tetap merasa nyaman walau yang lain tersiksa dengan bau tidak sedap yang memenuhi box.
Truk itu akhirnya. berhenti. Miya menghela napas lega, berpikir dia akan segera keluar dari penderitaan di dalam box itu. Saat truk itu berhenti, Miya spontan berdiri. Tapi tidak dengan yang lain. Dia menoleh ke arah Zecda yang masih tidur. Lalu memandang yang lain.
"Kalian takut membangunkannya?" tanya Miya pada Ague.
Ague menelan ludah, lalu mengangguk. Mata-mata itu berdiri. Tanpa bilang apa-apa, dia melompati ujung box dan keluar. Dia jelas tidak terikat siapapun.
"Kamu ingin memata-matai kerajaanku? Aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan hasil," batin Miya.
"Bukankah kamu pangeran? Kamu akan menunggu sampai dia bangun?" Miya menunjuk Zecda dengan entengnya. Ague lagi-lagi mengangguk. "Tapi kan kamu pange..,"
"Dia putra mahkota, Putri," sahut Ague.
Miya menutup mulutnya. Orang paling menyebalkan, yang menjadi alasan dia pergi ke Kerajaan Dielus, demi menghadiri pesta ulang tahunnya. Astaga. Miya berjalan mendekati Zecda.
"Pangeran, bangun!" Miya menepuk pipi Zecda pelan. Orang itu mengerjakan mata.
"Mati aku!" batin Ague. Di dalam hatinya kilatan-kilatan petir menyambar deras.
"Siapa yang kau panggil 'pangeran'?" Zecda yang baru bangun langsung menatap buas Miya.
"Oh. Kamu tidak suka ya?"
Zecda tidak menjawab. Miya mengulurkan tangan. "Namaku Miya. Kamu?"
"Zecda."
"Sampai aku mati, aku tidak akan memanggilmu pangeran ataupun raja. Kamu puaskan?"
"Janji?"
Miya mengangguk mantap. Sebuah rasa puas muncul di hati Zecda. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada orang yang mau memandangnya bukan dari status dirinya.
"Kamu tidak mau pulang?"
Ague menatap Zecda penuh harapan. Semoga kakaknya bisa berubah pikiran. Tapi Zecda justru menyeringai jahat. Lalu menggeleng keras. Membuat wajah Ague semakin aut-autan.
Zecda menggendong Miya bridge style. Miya yang terkejut diam seribu bahasa. Melompat keluar dari box truk itu. Ague yang loyo ikut melompat keluar.
"Pestamu nanti malam, Kak. Kapan....?" Ague berusaha membujuk.
"Kalau begitu kita pulang pukul sepuluh malam," jawab Zecda cepat.
Semangat hidup Ague serasa hilang. Bagaimanapun tidak akan ada yang memarahi Zecda. Pasti yang disalahkan adalah anak terakhir. Pangeran keempat, Ague Dielus. "Aku ingin bunuh diri sekalian saja," batinnya.
Zecda menurunkan Miya. Gadis sopan itu berterimakasih.
Mereka tiba di sebuah pabrik pemotongan ayam. Dengan segenap kemurahan hatinya, Miya mengajak orang-orang itu pergi dari sana.
"Nona kenapa mau ke kerajaan Dielus sendirian?" tanya Ague di perjalanan. Miya tertawa.
"Kami sekeluarga mendapatkan undangan pesta ulang tahun Pangeran Pertama Kerajaan Dielus," jawabnya sambil melirik Zecda. Tidak tertarik, itulah ekspresi yang ditunjukkan Zecda.
"Jujur aku bosan dengan pesta. Seminggu terakhir, malam indahku habis dengan acara pesta bangsawan yang tidak ada seru-serunya. Jadi aku bilang pada keluargaku kalau aku akan pergi bersama temanku. Lalu rencananya, aku akan menghadiri acara kalau sudah sampai di akhir acara. Memberi ucapan selamat, lalu pulang." Miya menjelaskan rencana yang sudah dia rancang matang-matang dengan semangat.
"Tapi sekarang Anda akan pulang," balas Ague.
"Siapa yang mau pulang?" tanya Miya. Dia tersenyum aneh. "Aku tidak akan membawa kalian pulang. Aku tidak mau pulang, tidak mau menghadiri pesta yang membosankan!"
"Lagi pula, pemeran utamanya tidak datang kan? Kalau begitu aku tidak usah repot-repot datang!" Miya tertawa puas.
Pabrik itu dekat ada di pedesaan, Miya senang mengetahuinya. Pedesaan adalah tempat yang jauh dari istana raja. Artinya, tidak akan ada yang menemukannya dan melaporkan pada keluarganya. Miya mengajak tamu-tamunya berkeliling pedesaan. Melihat para petani yang membajak sawah. Dia bahkan menantang Zecda dan Ague memancing di sungai.
"Sepertinya ikan-ikan takut pada Kak Zecda," gumam Ague sebal. Sudah lima belas menit dia duduk di tepi sungai. Tidak ada tanda-tanda keberadaan ikan ataupun umpannya dimakan ikan. "Apa ikan itu lebih suka kue?" Dia mendengus sebal.
Sedangkan Miya yang duduk di sampingnya dengan wajah bahagia mengangkat tongkat pancingnya untuk ke sekian kali. Timba besar yang mengapung lima senti dari batuan tepi pantai di belakangnya sudah hampir penuh.
Ague menoleh ke kiri, Zecda pun sudah mengangkat tongkat pancingnya tiga kali. Ini untuk ke empat kalinya umpannya dimakan ikan. Ague bersungut-sungut. Akhirnya dia berdiri.
"Kalian curang! Kalian menaruh ku diantara kalian! Jadi ikannya memakan umpan kalian lebih dulu!" Dia pindah ke samping kanan Miya. Miya tertawa. Ague berjalan dengan langkah berat.
Bruk
Ague terpeleset, dia terjatuh dan kakinya patah? Tidak, itu hanya kaki robot yang ia kenakan supaya terlihat tinggi. Miya yang hendak menolongnya berseru tertahan. Dia menatap gerakannya.
Ague mengusap kepala belakangnya.
"Hentikan aktingmu, Bocah!" ucap Zecda tanpa menoleh. Ague mendengus. Angin kencang berputar menyelimuti tubuh Ague. Saat itu, tangannya yang panjang patah, itu hanya tangan robot. Kaki robotnya juga menghilang. ****** beliung kecil tersebut hilang. Ague berubah menjadi anak laki-laki seumuran tujuh tahun.
"Oh. Ini wujud aslimu?" Miya mengangguk takjub. Lalu menoleh pada Zecda. Mungkin, yang satu ini punya wujud asli yang lebih tidak terduga.
Ague mengangguk. Dia mengangkat bahu. "Kak Zecda mengajakku kabur. Aku bukan orang yang akan bebas dari hukuman. Jadi aku harus menyamar seutuhnya.
Miya mengangguk. Mungkin suatu hari dia bisa mencobanya saat ingin kabur dari istana juga.
Tidak butuh waktu lama, anak itu tertawa puas. Seekor ikan memakan umpannya. Dia benar-benar merasa itu adalah tempat kejayaannya. Hingga lupa dengan keadaan sekitar.
Tubuh Miya terseret ke depan. Seekor ikan sangat besar memakan umpannya. Dia berdiri, menjerjakkan kaki. Tapi bebatuan licin itu sama sekali tidak mendukung. Untungnya, sebuah senar pancing terbang lalu membelit tubuh ikan itu. Zecda menarik tongkat pancingnya. Sebuah ikan sepanjang satu meter keluar dari sungai.
Sayangnya seseorang yang berlari di atas permukaan sungai memutus tali pancing Zecda dan Miya. Ikan itu lepas, dan jatuh di tangannya.
"Ikan ini milikku! Namaku Lie Lyde! Pencuri paling handal di lima samudra!" Laki-laki lima belas tahun itu tertawa layaknya bajak laut yang berhasil menangkap buruannya.
"Apa-apaan kau! Zack Van? Siapa kau?!" Anak itu berusaha melepaskan kedua tangannya yang terjebak borgol di belakang punggungnya. "Aku harus pulang! Adikku menunggu!"
"Kembalikan permata naga langit putih yang kau curi dari Raja Dielus!" Zack membentak tepat di wajah Lie. Lie membuang wajah.
"Iya, iya! Lepaskan tanganku!"
"Ikut aku ke Kerajaan Dielus!"
"Bukan aku yang mencurinya! Pangeran kedua yang memberikannya padaku!"
"Kalian tidak ingin makan dulu? Sebentar lagi matahari akan terbenam. Kalian tidak ingin memandang sunset?" Miya menyela pertikaian itu.
Melihat sunset? Dari keempat laki-laki di sana, tidak ada yang tertarik. Tapi mereka tetap duduk. Ajakan makan, apalagi dimasakkan. Tidak buruk.
"Dasar laki-laki," keluh Miya dalam hati. Dia mengeluarkan sebuah alat panggang. Mulai memanggang ikan-ikan hasil pancingannya dan kedua orang lainnya.
Mereka menikmati ikan panggang hingga pukul delapan malam. Tapi Zecda masih tidak ingin pulang, dia berencana pulang pukul sembilan tiga puluh. Berharap pestanya selesai terlebih dahulu. Semua setuju, walau yang sungguh setujuh hanya Miya yang memang menghindari pesta itu. Juga Lie yang ingin mengulur waktu. Tiga lawan dua, Ague dan Zack jelas kalah suara.
Zecda dan Ague akhirnya pulang pukul sembilan tiga puluh sesuai kesepakatan tiga sepihak. Menaiki mobil pribadi Miya yang datang otomatis saat di panggil.
Zack yang tidak sabar pulang dengan hasil tangkapannya, mengajukan diri menjadi sopir. Tidak ada yang keberatan. Walau Miya ragu dengan laki-laki itu.
"Apa kamu tahu jalannya?" tanya Miya yang duduk di kursi penumpang belakang sebelum Zack menyalakan mesin.
Zack mengangguk yakin. Dengan kemampuan mata supernya, Zack membawa mobil itu melewati jalan-jalan kelinci. Bahkan Miya tidak tahu rute yang dilewati mereka. Zack punya rutenya sendiri.
Lie yang duduk di kursi penumpang depan, Zack tidak akan membiarkan orang itu hilang dari pandangannya, beberapa kali berteriak saat mobil hendak menabrak apapun yang ada di depannya.
Dua puluh menit melewati rute yang berbahaya dengan kecepatan ugal-ugalan, akhirnya jantung para penumpang bisa berdetak santai. Mobil itu tiba di depan istana utama yang kosong.
"Ada apa ini?" gumam Miya dengan perasaan tidak enak. Dia akhirnya mengaktifkan ponsel. Sebuah pesan dari ibundanya, tampak jelas di laman notifikasi.
"Nak! Pulanglah! Ratu Dielus membatalkan undangan pesta ulang tahun putranya. Beliau bilang, 'sesuatu yang buruk sedang terjadi di sana'!" Tangan Miya bergetar setelah membacanya dalam hati. Ague menoleh, ikut membaca dengan suara pelan.
Zack yang sudah melihat ke dalam dari tempatnya menelan ludah. Beberapa pelayan dan prajurit tergeletak entak bernyawa atau tidak. Bercak darah berada di mana-mana.
"Miya, pulanglah!" Zecda memegangi tubuh Miya. Tubuhnya mendadak loyo. Miya menggeleng.
"Bagaimana dengan kalian?"
Zecda membuka pintu mobilnya. Dia mendudukkan Miya di kursi sopir. Memasangkan sabuk pengaman.
"Sampai jumpa." Zecda menekan tombol mode sopir elektronik. Mobil itu berjalan sesuai ai yang telah diaktifkan. Wajah Miya pucat pasih.
"Jaga dirimu baik-baik!" serunya sebelum mobil itu keluar dari gerbang istana.
Seolah takdir menyelamatkan dirinya. Malam itu Zecda datang dengan disambut dua saudara laki-lakinya yang lahir dari rahim ibu keduanya. Dua saudara perempuannya, kakak dan adik kandung Ague yang lahir dari rahim istri ketiga raja sudah tak bernyawa. Juga ibu kandungnya dan ibu kandung Ague. Bahkan Sang Raja, sudah tak bernyawa.
"Sekarang, giliran kalian berdua!" Kedua saudara tirinya tertawa. Juga para prajurit yang menjadi pengikut mereka.
"Saat dunia bertanya, siapa pelaku semua ini." Salah satu dari mereka menatap Lie. Bulu kuduk Lie berdiri. Firasatnya buruk.
"Saat itu, kita akan bilang pada seluru dunia. Pelakunya adalah Lie Lyde yang kuat!" timpal yang lain.
"Kau suka bukan?"
"Aku... Akan menghajar kalian!" Lie Lyde berteriak tidak terima.
"Aku Penjahat asli. Jangan memalsukan diriku!"
Malam itu, perang saudara terjadi di Kerajaan Dielus. Zecda dan Ague, dibantu Lie dan Zack yang sama-sama tertipu menghabisi pangeran kedua dan ketiga beserta seluru pengikutnya.
"Kurang ajar! Kalian sudah membunuh kedua putraku! Aku Putri Kerajaan Argio, Valeya Argio menyatakan perang!" ratu kedua mengucapkan ikrarnya. Di balik segala sifat buruknya, Zecda tidak sanggup membunuh ibu tirinya. Apapun yang telah mereka lakukan. Zecda membiarkan wanita itu melarikan diri dengan portalnya menuju tempat asalnya.
Sejak hari itu, hubungan dua kerajaan menjadi buruk. Setelah Zecda menjadi raja, dia sama sekali tidak menghiraukan Kerajaan Argio. Dia tidak menyimpan dendam pada mereka. Tapi merekalah yang keberatan dengan kejayaannya.
Hingga, beberapa tahun kemudian....
"Ayah! Mita pulang!" Anak perempuan berusia sembilan tahun itu berlari mendekati Zecda. Putrinya satu-satunya. Zecda sama sekali tidak berpikir memiliki banyak istri. Cukup hidupnya yang dipenuhi drama, tidak anaknya.
"Siapa laki-laki yang selalu membawamu kabur dari istana ini?" tanyanya seraya menangkap dan mengangkat tubuh putrinya.
"Ayah ingin tahu." Mita tersenyum memperlihatkan sederetan giginya yang putih nan rapi. "Pangeran Riyal Argio! Ayah percaya kan?!"
Sungguh, Zecda tidak menyimpan dendam pada Kerajaan Argio. Dia mengangguk dengan senyum tipisnya.
Malam harinya, Miya menatap Zecda yang duduk di sampingnya penuh kekhawatiran. Bayangan kelam masa lalu masih bergentayangan di benaknya.
"Zec! Dia berteman dengan Pangeran Argio! Apa kamu sungguh akan membiarkannya begitu saja?!" Miya meremas rambutnya.
"Bukankah dulu kamu bilang 'Itu hanya masa lalu? Sesuatu yang harus diperbaiki, dan tidak dibawa-bawa sampai abad kemudian.'"
Miya mendengus kasar. "Ya, aku memang mengatakannya untuk membelamu. Saat kamu melamar ku. Dan seluru keluargaku yang cerewet itu menghalangi dengan alasan 'Kamu sungguh akan menikahi Tuan Zecda yang membunuh semua keluarganya sendiri.' Ayolah mereka tidak tahu apa-apa."
"Terimakasih kasih." Zecda memeluk satu-satunya orang yang pernah menamparnya. Miya tersenyum. Setidaknya itu membuatnya tenang.
"Aku sudah susah payah membelamu. Jadi jangan mengecewakan ya." Miya mengelus kepala Zecda. "Tidak ada orang yang pantas mati karena kejahatan orang lain. Jangan membunuh siapapun yang baik Zec."
"Aku janji."
Dan itu adalah malam terakhirnya bersama Miya dan Mita. Karena keesokan harinya, segalanya hancur. Semuanya karena tukang manipulasi, Arian Argio.
"Perang akan terjadi!" ucapan itu keluar langsung dari mulut Zecda untuk pertama kalinya.