AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Dalam genggaman lawan



Xiota mengepalkan tangan. Tubuh Roy’ah kaku. Dia menggeram, berusaha menggerakkan tangannya. Tubuhnya turun perlahan. Roy’ah menarik napas. Jemari tangannya bergerak. Kretek. Dia memiringkan leher.


Xiota menguatkan kepalan tangannya yang perlahan membuka dengan sendirinya. Dalam posisinya yang masih dalam kendali Roy’ah, Xiota tidak dapat menggerakkan kekuatannya secara maksimal.


Roy’ah mengambil alih tubuh Xiota setelah berhasil menggerakkan semua bagian tubuhnya. Xiota merasa lehernya dicekik. Napasnya tidak beraturan. Rasa takut mulai muncul di dalam dirinya. Lixe berusaha bangkit dari posisi berlutut.


“Cahaya Bulan Purnama. Tiga belas sabitan kematian.”


Lixe mengangkat kepalanya. Tiga belas bulan bulan sabit muncul di sampingnya. Seperti sebuah boomerang yang dilempar. Bulan-bulan sabit itu berputar dan terbang ke arah Roy’ah. Dia hendak menyingkir dari tempatnya. Namun bayangan dirinya sendiri melilit kakinya.


Roy’ah berkonsentrasi. Melepaskan tubuh keempat lawannya. Tiga belas bulan sabit yang terbang ke arahnya berhenti satu meter di depannya. Lalu berubah menjadi cahaya yang begitu menyilaukan.


Roy’ah tidak  bisa melihat apapun. Bukan masalah. Dia tidak perlu mengandalkan matanya untuk terus melawan. Bahkan saat Lixe muncul dari cahaya itu dengan sebuah tongkat cahaya terayun, Roy’ah dengan mudah mengayunkan tubuh ke belakang. Balas menendang Lixe yang membuatnya terpental satu meter.


Cahaya itu akhirnya menghilang. Tubuh Roy’ah kembali mengambang di udara. “Dalam ruangan kosong itu jelas tidak akan yang dapat dia


kendalikan untuk melawan. Di tempat seperti ini, baik aku ataupun dia tidak akan ada apa-apanya,” batin Xiota.


Roy’ah merentangkan tangan. “Jangan samakan aku dan kamu. Nyatanya kita berbeda sangat jauh.”


Xiota membulatkan mata. Dia menoleh. Dinding kaca itu mengelupas. Kini mereka dihujani pecahan-pecahan kaca.


Riyal mengangkat busurnya. Sebuah anak panah muncul, saat dia menarik tali busur. Riyal membidik sembarang arah di depan wajahnya.


Dor.


Anak panah itu meledak, menghancurkan kepingan-kepingan kaca yang melebar.


Kepulan asap berganti memenuhi ruangan. Sekali lagi, lalu lagi. Riyal terus menembakkan anak panahnya yang terus meledak dan membuat kepulan asap di ruangan itu tebal. Bau menyengat juga menyakiti hidung.


“Aku bukan orang-orang yang menggunakan indra penglihatan dan penciuman. Jadi ini tidak akan berpengaruh padaku. Asal kau tahu, Ka…,”


Xiota mengendalikan asap yang ada. Dia menekan asap itu menjauh dari sekelilingnya. Sayangnya, lantai di bawah kakinya turun. Keseimbangannya hilang.Xiota mengendalikan dirinya. Dia tidak akan bisa melakukan semuanya sendirian.


Xiota melihat sekitarnya. Setidaknya cahaya dari tubuh Lixe yang berusaha menyerang kepulan asap tebal di depannya itu tampak samar-samar. Xiota bisa mendeteksi keberadaannya.


Asap yang menyulitkan semua indra Lixe melaksanakan tugasnya, akhirnya menyingkir. Menciptakan ruang satu meter persegi dikali tinggi badannya. Sempit, batinnya. Tapi setidaknya itu cukup baginya untuk kembali  berkonsentrasi. Lixe menunjuk ke depan.


‘’Cahaya bulan. Lautan cahaya.”


Cahaya membentuk garis lurus di depannya. Tidak tahu akan menuju ke mana. Tapi cahaya itu menyingkirkan asap-asap di jalur yang ia lewati. Melihat adanya cahaya di balik kepulan asap, Gusion dan Riyal percaya itu adalah Lixe. Keduanya berlari merapat. Juga Xiota yang memang tak jauh dari Lixe.


Tapi saat keempatnya berada dalam satu lingkaran cahaya yang dibuat Lixe, Kepulan asap bak tersedot ke satu titik. Membentuk sebuah manusia besar dari asap. Benda kitu berdiri di samping kiri Roy’ah. Sedang di kanannya,


satu lagi manusia raksasa terbuat dari pecahan kaca dinding.


Lixe bisa melihat sekitarnya yang berantakan. Dinding kaca berubah menjadi dinding batu. “Mungkin setelah ini akan ada golem dari batu-batu di dinding,” batin Lixe. Lalu melirik Xiota. Wajahnya aneh. Entah apa yang terjadi padanya sekarang.


“Kau lihat? Aku berada langit. Sedang kau hanya tikus gorong-gorong yang malang. Masih tak tahu diri?” Kalimat itu ditujukan langsung untuk Xiota. Lixe bisa merasakan betapa sakitnya penghinaan yang dirasakan Xiota. Lixe masih terus memperhatikan Xiota yang matanya mulai berair.


Tapi Xiota mengukir senyum.


“Saya merasa salah karena telah menyamakan diri dengan Anda. Mohon maafkan kesalahan saya, Pangeran.” Xiota mengangkat kepalanya. Lixe merasa lega saat temannya itu berhasil bangkit.


Roy’ah tidak bergeming. Bodoh amat dengan masalah Xiota.


Plok plok.


Roy’ah bertepuk tangan. Keduanya golem-nya berlari dengan kaki besar mereka yang menggetarkan seluruh ruangan. Roy’ah melayang ke belakang. Golem dari asap membuka mulut, mengeluarkan asap tepat di depan Xiota.


Riyal menarik tali busurnya. Saat tali itu dilepas, sebuah gelombang merambat dan membelokkan arah kepulan asap. Xiota menoleh, kenapa kau


“Lupakan,” ucap Riyal setengah berbisik.


Fokus Xiota kembali. Dia menangkap asap yang berbelok dengan kekuatannya. Asap itu terbang ke arah Roy’ah. Menghalangi pandangan lawannya.


Belum sampai menyentuh Roy'ah. Asap itu buyar. Kembali tersedot ke dalam tubuh sang Golem asap. Dua tampak marah. Wajahnya ratanya-tidak punya mata, hidung- terbuka lebar, seolah semuanya hanya mulut yang berasap.


Riyal menembakkan anak panah ke dalam mulut golem tersebut. Roy'ah menyeringai saat mengira itu adalah sebuah peledak. Tapi sesuatu luput dari matanya. Anak panah itu berubah menjadi lubang hitam saat mencapai tenggorokan sang Golem asap.


Kepala Golem itu tersedot. Roy'ah memasang ekspresi marah. Dia terlambat menyadari bahwa anak panah itu adalah sihir bayangan. Tidak ada teknologi seperti itu. Siapa dalangnya? Xiota menatapi musuhnya satu-persatu. Golom asap itu sempurna menghilang.


"Aku tidak akan membiarkan kalian. Tentaraku akan segera kemari."


Saat pandangannya jatuh pada Lixe, Lixe menghilang. Roy'ah spontan menguatkan indranya. Menurut taktik yang dia pelajari, Roy'ah menduga Lixe akan muncul di belakangnya.


Plop


Roy'ah reflek berbalik. Dia menyengir. Sebuah portal cahaya muncul di belakangnya. Tapi bukan di sana. Sebuah portal lain sekarang muncul di belakangnya. Dari dalam portal bayangan itu, Lixe keluar. Dia menendang Roy'ah masuk ke dalam portal cahaya. Kemudian ikut melompat masuk ke dalamnya.


Kedua portal tersebut menghilang bersama Golem kaca yang langsung pecah. Digantikan dua puluh portal lain yang berbentuk persegi panjang menyerupai pintu di dinding. Lima portal di setiap sisi. Para tentara keluar dari sana.


Riyal dan Xiota merapat, saling memunggungi satu sama lain. Keduanya berdiri di belakang Gusion.


"Ayo pergi!" ajak Xiota. Berharap Gusion akan membukakan portal untuk mereka juga.


Riyal menggeleng keras. "Jangan dulu!"


"Apa kau ingin menjebak kami?" Xiota membantah. Wajah polosnya sungguh tidak menggambarkan pikirannya. Xiota cukup mampu memikirkan rencana-rencana licik. Dia berharap panglima di sampingnya itu paham.


Tapi Gusion sepemikiran dengan Riyal. Dia tetap mematung meski Xiota terus berteriak. Gusion menarik napas. Sekarang dia justru duduk bersila.


"Kau ingin bertapa?" celetuk Xiota. Darahnya sudah mendidih. Para musuh jelas sudah berjajar di keliling mereka. Mengepung dari segala arah. Mereka terlihat kuat dan tak terhitung jumlahnya.


"Apa yang dipikirkan dua orang ini?" batin Xiota sangat sebal. Dia meremas rambutnya.


"Aku merasakannya." Gusion menunjuk di lantai arah jam lima darinya. Hanya setengah metelpr darinya. Riyal yang berdiri di kirinya, segera berbalik dan menggeser Xiota. Riyal menarik tali busurnya. Sebuah anak panah dengan pangkal terlilit tali yang menghubungkannya dengan busur muncul. Akurat menancap di tempat yang ditunjuk Gusion.


***


"Percuma, Rubik Memori tidak ada di sana." Arian meneguk air putih di cangkir kecil sebagai tanda berakhirnya pejamuan senja itu.


***


Gusion tiba-tiba berdiri. Dia memutuskan tali penghubung anak panah dengan busur Riyal. Riyal melangkahkan kakinya mundur. Tiga orang itu kini menatap waspada.


Sebuah kubus keluar dari lantai. Anak panah itu berubah menjadi tali yang melilit rubik tersebut. Beberapa detik kemudian. Rubik itu menyalah merah.


Duaar!


Takanan udara yang dahsyat dirasakan ketiganya. Orang-orang yang siap menghabisi mereka tentu tidak buang-buang kesempatan. Mereka bersamaan menembakkan peluru ke dalam kepulan asap yang tercipta.


***


"Yang ada dalam istanaku. Ada dalam genggamanku."


Roy'ah menatap rendah Lixe yang terkulai tak berdaya di lantah. Tubuhnya terlilit rantai besi yang terhubung dengan stop kontak di dinding.


Ctak. Roy'ah menjentikkan jari. Arus listrik mengalir perlahan di rantai tersebut. Lixe bisa merasakan betapa panasnya rantai itu sekarang. Lixe menggeliat, berusaha melepaskan diri. Sakit. Matanya membulat. Semakin dia bergerak, semakin rantai itu mengikatnya lebih erat.