AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Rubik Memori



"Cantik, Bu." Zenith tiga tahun bertepuk tangan begitu melihat sebuah tayangan hologram yang menampilkan video 3 dimensi dengan begitu indah dan nyata. Di situ terlihat Anita kecil tengah bermain kejar-kejaran dengan beberapa temannya.


"Ibu dapat darimana? Aku juga mau," ucap Zenith menatap ibunya penuh harapan. Matanya berbinar, menambah kesan imut di wajah.


"Haha. Itu hadiah ulang tahun ibu, Zen." Anita tertawa pelan, dia mengelus lembut rambut putrinya. Anita menggeleng. "Maaf, Zen. Ibu tidak bisa memberikan benda seperti itu," lanjutnya.


Anita menunjukkan sebuah rubik kecil yang tersusun baik. Zenith menyambarnya. Dia mulai mengamati, memutar-mutarkan rubik itu.


"Ibu, ini kok gak mau gerak?" Zenith berusaha mengacak rubik itu. Sayangnya rubik itu seolah dilem kuat-kuat. Lantai-lantai rubik itu bahkan tidak mau berputar sedikit pun.


"Kalau kau mengacaknya. Gambarnya bisa rusak," jawab Anita masih membiarkan putri mencoba mengutak-atik rubik itu dan nihil.


"Wah. Pasti yang memberikan ini orangnya sayang banget sama Ibu ya?" Zenith menyerah. Dia menyerahkan benda itu pada Anita.


Anita menerimanya. Lalu tenggelam dengan pikirannya yang tanpa pernah ia sadari, Zenith membacanya. Zenith tahu isi hati ibunya.


Dulu, saat Anita dua belas tahun...


"Kakak!" Anita berseru memanggil Heto, kakaknya, dari kejauhan.


Heto yang dikelilingi teman-temannya tidak menoleh. Dia justru pergi bersama mereka, meninggalkan Anita yang terdiam di tempat.


"Ih, dasar Kak Heto! Mentang-mentang udah dua puluh tahun! Adiknya terlupakan! Dasar kakak tua!" Anita mengoceh sebal.


"Hai, kamu gak papa?" suara berat yang terdengar lembut itu menyapa Anita. Gadis itu menoleh, dia tersenyum lebar padanya, pangeran ke dua, Arian Argio, enam belas tahun.


Itu kali pertama Zenith melihat laki-laki itu. Baik sekali, itu kesan pertama yang Zenith dapatkan.


Suatu hari yang lain, di kantin sekolah Anita. Arian datang. Duduk di samping Anita yang makan sendirian.


"Hidup Kakak santai banget ya," celetuk Anita saat Arian menepuk bahunya dari belakang.


"Nggak kaget?" tanya Arian.


"Baumu kecium dari jarak sepuluh meter, Kak!" Anita mencibir.


"Oya? Kau bisa tahu aku ada di mana? setiap saat?"


"Kapanpun. Apapun pakaian Kakak. Aku ingat dengan baik bau Kakak." Anita mengangguk yakin. "Tidak akan tertukar." Lalu menggeleng.


Arian tertawa. "Janji, kau tidak akan pernah melupakannya?" Arian mengacungkan cari kelingkingnya.


"Hmm?" Anita memajukan wajahnya.


"Semua hal tentangku," jawab Arian. Dia mengedipkan sebelah mata.


"Janji, sampai mati." Anita mengaitkan kelingkingnya. 'Hari itu, tak pernah terbayangkan olehku. Kisahnya akan berakhir seperti ini.'


Saat Anita berulang tahun yang ke-17 tahun. Hari itu, Anita sudah mencak-mencak. Heto pergi menyelesaikan misi. Ayah dan ibunya? Astaga mereka malah sibuk dengan perjodohan putranya. Seluruh pelayan? Sibuk melayani nyonya mereka yang minta ini itu untuk pernikahan putranya.


"Ayolah! Siapa yang peduli denganku?!" Anita berseru kesal di dalam kamarnya. Bahkan teman-temannya bingung menyiapkan gaun yang akan mereka kenakan di acara penobatan putra mahkota lusa.


Anita menghempaskan tubuhnya di kasur. Sekejap, bau aneh tercium. Dia buru-buru membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Sesuatu yang amat besar masuk terbang ke arahnya. Anita menunduk, membiarkan benda itu masuk ke dalam kamarnya.


"Kak Arian! Ngapain Kakak ke sini?!" tanya Anita setengah terkejut saat Arian masuk dengan motor terbangnya.


"Selamat ulang tahun!" Arian mengeluarkan sebuah hadia kecil dari saku celananya.


Anita membuka mulutnya tidak percaya. "Kakak nggak siap-siap buat acara pertunangan dan pengangkatan putra mahkota yang akan diadakan lusa?"


"Ngapain? Itu kan acara kakakku, bukan aku? Siapa peduli?" Arian dengan santai duduk di ranjang Anita. Gadis itu masih bengong tidak percaya.


"Terus ini bau apa?" Anita mencium bau angus dari Arian. Laki-laki itu menoleh.


"Biar kamu nggak tahu," jawabnya singkat. Anita mendengus.


Anita membuka kotak kecil itu. Sebuah rubik kecil yang tersusun. "Aku tidak bisa main rubik, Kak."


"Itu rubik memori, Nit. Kau tidak perlu mengacaknya. Tidak ada yang bisa mengacaknya." Arian berdiri. Berjalan mendekati Anita.


"Di sana, aku menyimpan semua kenangan kita. Semua yang pernah kita lakukan bersama. Setiap waktu." Arian menelan ludah. Kemudian mempertemukan netranya dengan milik Anita.


"Anita. Aku menyukaimu."


"Aku juga, Kak Arian."


'Pernyataan itu akhirnya keluar. Bodoh. Sungguh bodoh. Kenapa hari itu datang? Harusnya aku tidak perlu membukakan jendela untuknya. Atau bilang aku tidak mencintainya.'


Satu bulan kemudian, Arian menikahi supupuh jauhnya, calon istri kakaknya. Anita memutuskan pergi. Gadis itu memulai karirnya sebagai mata-mata hebat. Melupakan segala yang pernah mereka lalui. Yang lalu tidak pernah bisa dia lupakan hingga hari ini.


...****************...


Zenith menyeringai. Dia ingat, dulu dia pernah datang ke tempat ini. Mencoba mencari rubik itu, hanya sekedar memuaskan rasa penasaran. Dan hari ini pun begitu. Mungkin dengan tujuan yang sama.


"Tuan Arian." Zenith membuka mulutnya. Tatapan Arian yang menyeramkan langsung tertuju padanya.


"Bisakah, kau buatkan untukku rubik memori antara diriku dan ibuku?" Zenith mengungkapkan tujuan sebenarnya dia mencari rubik itu sekarang.


"Antara dirimu? Dan ibumu?" Arian memiringkan kepala. Dia mengangkat ujung alisnya.


"Zenith dan Anita?" Kemudian tertawa, memenuhi seisi ruangan


"Buku mana yang kau baca? Darimana sebenarnya kau tahu tentang rubik memori?"


"Bukankah, Anda yang memberikannya untuk Ibu? Hadiah ulang tahun ke-17. Kenangan terindah, juga terakhir yang Anda berikan untuknya. Iya, kan?" Zenith menyengir. Dia tidak lagi peduli apakah Arian akan membunuhnya atau tidak.


Arian diam. Lixe mencoba berdiri tegak. Aura menyeramkan itu surut, kali ini Lixe bisa bernapas lega. Dia juga membantu Zenith berdiri.


"Apa yang kau katakan, Zenith? Kapan itu pernah terjadi? Aku bahkan tidak pernah berteman dengan ibumu. Kau mencoba menipuku?" Aura itu kembali. Semakin kental dan mengerikan.


"Ibumu adalah penghianat. Dia berani mengusik keluarga kerajaan. Bahkan melakukan pembunuhan,"


"Kalian berdua, akan aku lenyapkan!" Sebuah pedang muncul di tangannya. Tajam dan runcing.


"Kau yakin, Tuan?" sebuah portal bayangan muncul satu meter di depan Arian. Seseorang dengan pakaian serba hitam keluar dari sana. Gusion mengacungkan pedang ke arah Arian.


"Portal bayangan? Suku Wist yang rendahan?" Arian tersenyum mengejek.


"Tetap ada alasan mengapa Suku Lyde memanfaatkan kami. Dan Anda tidak bisa meremehkan kami, Tuan."


"Sombong sekali. Bocah rendahan, yang leluhurnya mencium kaki penjahat." Arian balas mengacungkan pedangnya.


"Apa ayahmu tidak pernah menceritakan, bagaimana Suku Argio mencuci otak para Wist?"


Gusion menggigit bibir. Dia memegang pedangnya kuat-kuat. Hingga tangannya bergetar.


"Kau membuatku faham dengan jalan pikir pamanku. Terimakasih."


Gusion mengayunkan pedangnya lebih dulu, memulai duel. Arian menyambutnya. kedua pedang itu bertemu bunyi memilukan terdengar. Gusion dengan cepat menarik pedangnya, berputar dan menyambar perut Arian. Tapi gerakannya berhenti. Tubuhnya kaku.


"Dulu leluhurmu juga pembangkang. Setelah diperbudak selama hampir tiga abad, para Wist memerangi Suku Lyde, menuntut kebebasan. Mereka lupa, seberapa liciknya bandit-bandit itu." Arian mencengkeram wajah Gusion.


"Bandit-bandit itu datang ke tanah ini. Membawa sebuah batu istimewa dari pulau yang jauh. Mereka memberikannya pada leluhurku, dengan syarat leluhurku harus memanipulasi pikiran para Wist untuk tunduk pada mereka. Mereka menukarkan batu istimewa itu demi ketaatan kalian. Tentu, aku tidak akan meremehkan kekuatanmu."


Arian melepaskan cengkramannya. Gusion berdiri tegak setengah meter di depan Arian. Tubuhnya tidak bisa bergerak sesuai keinginannya.


"Kau mau lihat batu itu?" Arian mendekatkan rubik di tangannya ke wajah Gusion. "Bagus bukan?"


Di sebelah sana, Lixe menelan ludah. Tidak habis pikir, benda seperti itu berasal dari leluhurnya.


"Apakah Lyde sekejam itu?" batinnya. Tangannya terkepal. Hatinya terluka.


"Tataplah terus. Aku akui pemberian bandit-bandit itu memang menakjubkan. Tapi aku lebih tertarik dengan kekuatan Wist yang diinginkan Lyde." Arian menyentuh kening Gusion.


"Jadilah budakku, Wist."


"Zenith, kau masih tertarik dengan Rubik Memori itu?" tanya Lixe pelan. Zenith mengangguk.


"Ayo kita rebut."


Zenith menoleh tidak percaya.


"Kenapa kau sekarang menginginkannya?"


Lixe tersenyum tipis.


"Kupikir, kesalahan orangtua harus diperbaiki anaknya, bukan?" Lixe berlari mendekati Arian.


Zenith tidak mengerti.


"Batu itu, salah satu dosa Lyde," batinnya. Lixe melayangkan tinju telak mengenai wajah Arian. Hingga dia mundur tiga langkah, lalu melepaskan Gusion yang langsung terduduk dan sadar.


Cahaya menyelimuti tubuhnya. Matanya menatap netra Arian. Sesuatu terlihat samar di mata orang itu.