AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Pukulan pertama



Lixe mengepakkan sayap barunya, Menahan tubuhnya yang hampir mendarat di atas ranjang mematikan di bawahnya. Lixe berputar, mengayunkan pedangnya ke depan. Cahaya muncul dari pedangnya menghancurkan tombak-tombak yang berjajar di bawahnya.


“Ugh.”


Gean mendarat di atas tubuhnya. Lixe jatuh semakin ke bawah. Gean mencengkram sayap Lixe. Lixe mengepakkan sayapnya. Tubuhnya berubah ke posisi vertikal lalu berputar ke belakang. Berharap Gean jatuh. Namun Gean justru menarik sayapnya. Lixe menggigit bibir.


Surai bayangan melilit kakinya, menariknya turun. Lixe menggeram, sakit di punggungnya mulai terasa begitu menyiksa. Sayapnya menghilang. Dia jatuh bersamaan dengan Gean. Lixe berputar, untuk sesaat dia melihat ekspresi pasrah di wajah lawannya. Dia meraih tangan Gean.


“Apa yang kau lakukan?” Gean menatap tidak percaya.


“Aku tidak akan membiarkanmu kenapa-napa,” jawab Lixe. Gean menyengir, lalu tertawa kecil. Dia menarik tangan Lixe yang menggenggamnya. Lalu membantingnya ke bawah.


Buak.


“Argh.” Punggungnya menghantam tanah. Bayangan di sekelilingnya perlahan menelan tubuhnya. Lixe seolah tersedot ke dalam tanah. Lixe meringis. Di atasnya, Gean mendarat dengan siku tertekuk di atas perutnya. Lixe


terbatuk darah segar keluar dari mulutnya. Gean mengangkat tangannya, tanpa ampun memukul wajahnya.


Dinding bayangan yang memisahkan keduanya dari luar terbuka. Lixe menoleh ke kanan. Matanya membulat. Aizla dan Zenith sudah sama-sama diringkus, kaki dan tangan mereka diikat dengan tali tebal yang elastis. Lixe menutup


mata, tidak sanggup melihatnya. Kemudian dia menoleh ke kiri.


Sedang di bangku penonton, Gueta menyandarkan tubuh pada Roy’ah. Tubuhnya panas mendadak. Lemas, bahkan tidak bisa membuka mulut. Roy’ah berusaha menyingkirkan Gueta darinya.


“Kakak, tolong aku,” gumam Gueta dengan mata sayu. Roy’ah terdiam.


***


“Jangan tinggalkan aku!” Roy’ah berteriak histeris di samping jasad kakaknya. Hanya dia, tidak ada yang lain. Para pelayan diliburkan, upacara dilakukan secara tertutup, tidak ada berita yang terdengar. Bahkan tidak ada yang berkabung.


Hanya ibunya yang mengurung diri di kamar.


Sedang yang lain menjalani kehidupan seolah tak terjadi apapun.


Seseorang berlari, dia berlutut di belakang Roy’ah. Roy’ah melirik. Tidak ingin diganggu.


“Nyonya Valeya mencari Anda. Beliau bilang, Anda harus mempersiapkan hari penobatan Anda sebagai Putra….”


Crash.


Roy’ah tidak membiarkan pengawal itu menyelesaikan ucapannya. Pedang di sampingnya melayang ke bahu kanan orang tersebut. Pengawal itu menelan ludah. Berdiri, lalu mundur meninggalkan Roy’ah.


***


Roy’ah memeluk kepala Gueta. Merasakan sakit yang mungkin dirasakan Gueta. Walau dia tidak mengenal ataupun tahu menahu tentang gadis


itu. Setidaknya akibat hal buruk yang perna ia lalui, Roy’ah pikir rasanya tidak jauh berbeda.


“Dimana Xiota?” gumam Lixe dalam keadaan sekarat. Gean duduk di atas tubuhnya. Lixe tersenyum.


“Cih.” Gean memalingkan wajah.


Seseorang menarik bahu Gean, membuatnya berdiri dan terhempas ke belakang. Dia menoleh kesal. Gusion berdiri di depannya. Gean melotot. Memperhatikan Gusion dari atas ke bawah. Dia menyengir.


“Jadi selama ini kau ada di sini?” Gean melirik Gueta. Dia terkekeh. Gueta yang masih setengah sadar mengatupkan rahang. Gean kembali menatap Gusion. Keduanya mendekat. Sama-sama tersenyum konyol.


“Aku harus apa?” tanya Gean. Gusion menggeleng. Gean meremas rambutnya. Memukul pelan dada Gusion. “Aku berharap tidak perna lagi bertemu


denganmu. Jadi kumohon jangan ikut campur ataupun kembali.”


Gusion menggeleng. Menyibak lengan Gean.


Gean menangkap tangan Gusion. Melayangkan tendangan ke dagu Gusion. Gusion menangkap kakinya. Keduanya menghilang. Muncul dengan jarak sepuluh meter diantara keduanya.


Gusion berjongkok. Menyentuh bayangan yang ada di bawahnya. Bayangan itu berubah menjadi asap. Lixe yang seolah tenggelam dalam tanah akhirnya terbebas.


Lixe hendak membantu. Andai dia bisa berdiri. Andai dia bisa melakukan sesuatu. Sayangnya bahkan untuk membuka mata pun berat. Lixe menghela napas. Memejamkan mata.


Sebuah cahaya muncul di lehernya. Kalung rantai yang telah bersamanya selama bertahun-tahun itu menampakkan dirinya. Lixe merasa dirinya di cekik.


Saat membuka mata, Lixe mendapati sebuah kumbang yang mengikutinya sejak kemarin lagi-lagi muncul entah dari mana asalnya. Kumbang itu berputar di atas kepalanya. Lixe kembali memejamkan mata, melihat kumbang itu membuatnya pusing.


Tanpa sepengetahuannya, kumbang itu masuk ke mulutnya. Melewati kerongkongan. Uhuk. Lixe terbatuk. Kumbang itu menggigit bagian dalam kerongkongannya. Menimbulkan rasa gatal di leher.


Bagaimana bisa? Sudahlah. Lixe mengabaikan alasannya. Dia berlari sambil mendongak. Menjulurkan tangan ke depan. Lalu meloncat menangkap tubuh Gusion yang dihempaskan Gean dari ketinggian sepuluh meter.


Gean terjun ke arah mereka dengan kerucut dari bayangan yang ujungnya mengarah pada keduanya.


Lixe menahan napas. Itu terlalu cepat.


Gusion turun dari gendongan Lixe. Dia menarik kerah baju Lixe ke depan. Lixe panik. Gusion tidak peduli. Dia melempar Lixe menjauh.


Ujung kerucut itu sekarang menjadikan Gusion sasaran tunggal.


Gusion mengangkat tangan ke depan. Bayangan dari kakinya timbul dan membentuk tameng di depannya. Gusion memundurkan kaki kanan. Berusaha menahan tubuhnya yang terus terdorong ke belakang.


"Kenapa kau tidak memanfaatkan orang itu?"


Gusion menggeleng. "Aku punya kekuatan untuk menahan mu. Tidak butuh pengorbanan orang lain." Dia tersenyum seolah mengejek Gean.


Gean memperkuat serangannya. Urat di lehernya tampak mengeras. Tubuhnya yang awalnya melayang kini mendarat. Gean melangkah maju, berusaha menembus tameng Gusion yang mulai terkikis.


Sebuah sabitan cahaya lewat di depan wajah Gean. Mengalihkan pandangannya untuk sejenak. Serangannya melemah, kerucut di depannya menghilang. Tameng milik Gusion pun menghilang.


Tangan Gusion terkepal. Mengenai Gean secara langsung. Kuda-kuda Gean oleng. Tapi keseimbangannya yang baik tidak membuatnya jatuh.


Tidak. Gean menoleh. Lixe sudah di sampingnya. Satu tendangan di wajah sebagai balasan dari semua serangannya. Gean terlempar lima meter ke belakang. Namun berhasil mendarat dengan berdiri di atas kedua kakinya.


"Sepuluh tahun lebih, aku menunggu serangan ini. Aku masih ingat, saat menantangmu di pasar yang sekarang sudah dihancurkan. Kau ingat?" Gean menunjuk Lixe. Lixe memiringkan kepala. Heran. Dia malah bertanya pada Gusion.


Gean menggeleng. Lixe sungguh menjengkelkan. "Aku akan memukulmu sampai kau ingat."


Lixe memasang kuda-kuda. Dia tidak takut dengan ancaman seperti itu. Tapi Gean tidak menyerang, hanya menatapnya sebal. Lixe menenangkan diri. Ah benar juga. Tantangan waktu itu. Sekarang dia ingat.


"Ternyata kau yang menunggu," celetuk Lixe seraya tertawa.


Gean ganti menatap Gusion. Hilang dan muncul di samping Gusion dengan asap hitam keluar dari belakangnya.


"Itu juga pukulan pertama darimu. Kita akan bertemu di lain waktu, Adik Sepupu." Gean berbisik. Dia menepuk pundak Gusion. Sebelum benar-benar menghilang dari sana.


Lupakan. Lixe menatap sekitarnya. Bagus sekarang mereka dikepung dari segala arah. Suku Harito dan yang lain membentuk lingkaran di sekeliling lapangan. Lixe mencari keberadaan keluarga kerajaan. Tidak ada. Bahkan Riyal pun tak tampak batang hidungnya.


"Xiota kau dimana lagi? Apa kau baik-baik saja?" Lixe menatap nanar Zenith dan Aizla yang tak jauh darinya.


Sebuah lingkaran bayangan muncul di bawah dua tubuh temannya. Lixe berseru tertahan. Masih teringat akan Gean. Gusion menggenggam tangannya. Tidak membiarkannya mendekat.


Dor.


Slash. Tiga pedang meluncur ke arah Zenith dan Aizla. Namun lingkaran bayangan lebih dulu memindahkan mereka.


Wuuuush.


Angin kencang menerpa. Lixe menyipitkan mata, menghalau debu yang terbang di sekitarnya. Tanpa ia sadari, lingkaran bayangan juga muncul di sekelilingnya.


Semua orang mendongak. Sebuah kapal induk terbang rendah di atas mereka. Mereka bertanya-tanya. Mengapa benda itu bisa ada di sana. Mereka pun lupa, akan misi menangkap pemberontak.


Cain, sopir andalan kapal perang kerajaan, menatapnya tak percaya. Dia berseru, "Seseorang mencuri kapal perang dari pangkalan. Hancurkan!"


Pandangan semua orang kembali ke tengah lapangan. Dua orang itu tidak ada.


Mereka berseru marah. Meriam, peluru, pedang, dan granit melayang ke arah kapal terbang di atas mereka.


"Riwayat kita akan tamat," gumam Xiota dengan santai. Dia yang duduk di kursi pengemudi menoleh ke belakang. Xiota tersenyum kecut.


"Kalian sudah siap mati?"


"Apa maksudmu?!" Lixe berseru tidak terima.


"Sekarang." Xiota menekan tombol darurat. Tombol yang digunakan untuk meledakkan kapal tempur.


Duar.


Benda itu meledak dan hancur dalam beberapa kedipan mata.