AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Anak bangsawan yang kabur



Malam itu, sebuah hawa kutub berhembus di lantai paling tinggi Istana Raja Dielus. Zecda dan Zack duduk berhadapan. Sebuah meja sepanjang 4 meter menengahi keduanya. Zack diam, dia tahu isi pikiran lawan bicaranya.


Zecda mengayun-ayunkan kakinya. Lalu menaruhnya di atas meja. Zecda menyandarkan punggung, menatap langit indah dari atap kacanya yang transparan. Sudah lima menit sejak Zack datang. Tapi mereka belum mengatakan apapun. Zack memilih menyandarkan punggungnya, lalu tidur. Membiarkan angin malam yang masuk lewat jendela  menerpa wajahnya.


"Terlalu hampa bukan?" Zecda akhirnya bicara.


Zack yang sudah menduga Zecda akan mengatakannya mengangguk. Di benaknya, sebuah bayangan masa lalu melintas. Sebuah adegan dimana dirinya yang remaja, Zecda, Ague, Aden, juga dua  orang lain sedang tiduran di atas meja panjang itu. Mereka menatap langit, mengobrol, sesekali tertawa dan bergelut. Zack menutup matanya dengan tangan, menghalangi cahaya rembulan yang membuat mimpinya remang. Zack pun tahu, Zecda juga memikirkan hal itu.


"Apa kau tidak ingin mencari mereka?" suara Zack masuk di pikiran Zecda yang tengah mengingat hal yang sama dengan yang dipikirkan Zack. Zecda menoleh. Dia meringis kesal.


"Mereka sudah hilang, Zack," balas Zecda dalam diam.


Zack terdiam. Zecda yang membuka mata menatap Zack ragu. Antara sadar atau sudah tenggelam dalam mimpinya. Zecda kembali menutup matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam mimpi.


***


30 tahun yang lalu....


Zecda dan Ague berjalan di tengah kerumunan. Sinar matahari panas membuat orang-orang di bawahnya berkeringat. Terlebih bagi Zecda dan Ague mengenakan mantel cokelat, berusaha tidak menarik perhatian warga kerajaannya mengingat status yang mereka embat. Kedua remaja itu saling diam. Ague beberapa kali menyenggol orang yang berlalu lalang. Dia meminta maaf dengan gampang. Orang-orang memandangnya biasa saja. Tapi tidak dengan Zecda . Laki-laki itu berjalan tegak, wajahnya tertutupi tudung yang ia kenakan.


"Suatu hari, aku akan bilang pada Raja agar mengangkat mu menjadi raja," ucap Zecda berbisik saat adiknya menuntun seorang paru baya yang penglihatannya sudah buram.


"Aku tidak tertarik. Lagian yang pangeran pertama kan kamu," jawab Ague. Zecda memalingkan wajah.


Setelah menuntun seorang paru baya tadi. Mereka melanjutkan perjalanan. Zecda menoleh ke belakang. Beberapa dron beterbangan keluar dari jendela Istana Dielus.


Zecda menyikut Ague. Dia menyeringai. Kemudian menyambar tangan Ague dan berlari menembus kerumunan.


Ague sedikit panik, tapi dia tetap ikut berlari. "Kakak!" Panggil Ague.


Zecda tidak peduli, masih fokus ke depan dan berlari di jalan trotoar yang ramai. Tenaganya yang lebih kuat dari Ague berhasil menyeret Ague.


Zecda mengambil belokan kanan saat berada di perempatan. Dia menghindari sebuah dron yang tadi mengambang satu meter di atas kepalanya.


Zecda menyebarkan pandangan mencari tempat paling aman dari kejaran dron-dron itu.


"Kalau kalian ingin kabur dengan aman, naiklah ke atas truk peternakan yang....," sebuah suara tiba-tiba muncul di benak Zecda. Dia menoleh ke arah jalan raya. Sebuah truk peternakan berjalan di sisi kiri, sedangkan mereka berdua ada di sisi kanan. Zecda mendongak.


"Sial," gumamnya. Tiga dron terbang rendah ke arah mereka.


Zecda menggenggam telapak tangan Ague lebih erat. Dan dengan segala keberaniannya, Zecda menyebrang tidak di zebra cross. Dia melintas di depan dua mobil dan sebuah motor yang berlalu lalang.


"Kyaaahhhh," perempuan yang mengendarai motor itu berteriak histeris. Dia terlalu fokus untuk berteriak, hingga tidak sempat mengerem dan malah membanting stir. Motornya oleng, sedang pengemudinya jatuh ke jalanan aspal. Beberapa kendaraan yang melintas di sekelilingnya berhenti. Beberapa orang membantunya berdiri. Tapi Zecda justru meninggalkan gadis itu dengan perasaan bersalah sebesar biji semangka.


*Kakak!" Ague menghentikan langkahnya. Dia balik menarik tangan Zecda. Kaki Zecda terhenti. Dia menatap Ague datar.


Ague melepaskan genggaman kakaknya. Dia berlari ke arah gadis itu. Ague menundukkan kepala di hadapan gadis berambut coklat dan bermata ungu.


"Maafkan kami. Saya sangat menyesal. Siapakah nama Anda dan di mana saya bisa mengirim ganti rugi untuk semua ini?" ucap Ague lembut.


Zecda hanya menatapnya. Dia tidak ada niat ikut minta maaf. Bahkan saat gadis itu memandangnya, Zecda membuang muka. Dia tidak menyadari saat korban itu berjalan pincang sambil memegangi lututnya yang membentur aspal tanpa ampun ke arahnya.


"Kamu tidak minta maaf?! Tidak menyesal? Tidak ada niatan ganti rugi?" Gadis itu berteriak di depan wajah Zecda. Tapi yang diajak bicara masih memperhatikan truk peternakan yang berhenti terjebak lampu merah.


"Syukurlah," gumam Zecda lega.


"Apa kamu bilang?!" Gadis itu menampar Zecda. Ague menggigit bibir, berlari ke arah keributan di sana.


17 tahun, belum pernah ada yang menampar remaja laki-laki yang sedang nakal-nakalnya itu. Bahkan ibu dan ayahnya yang terlalu sibuk tidak peduli dengan segala keributan yang ia buat. "Apa yang Anda lakukan, Nona?" batin Ague dengan keringat basah bercampur keringat karena gerahnya hawa di bawah matahari tanpa awan sebagai penghalang.


"Saya akan memberi ganti rugi sepuluh kali lipat. Saya...," ucapan Ague tidak dihiraukan. Gadis itu melepaskan genggaman tangan Ague kasar. Dia kembali berbalik, mendongak sambil berjinjit, lalu mendekatkan wajahnya pada Zecda yang lebih tinggi darinya.


"Aku tidak butuh uang. Aku butuh permintaan maafmu," ucap gadis itu sinis. Ague mengacak rambutnya, membuat tudung kepala yang menempel di jaket yang ia kenakan, juga menutup separuh wajahnya jatuh kebelakang.


"Tuan Muda Ague!" seru seorang polisi yang tiba di sana setelah melihat kekacauan di dekat perempatan jalan. Orang-orang yang menyadari siapa itu, berlutut. Ague berseru tertahan. Ini kacau.


"Terimakasih atas segala kehormatan yang anda semua berikan." Ague menunduk. Yang lain lalu mengangkat kepala dengan heran. Apa yang dilakukan Pangeran Keempat yang meraka cintai. "Saya mohon, berdirilah."


Semuanya saling tatap. Lalu berdiri. Mereka berbisik satu sama lain. Sungguh baik hati Pangeran Keempat. Kemudian kembali pada kepentingan masing-masing. Sang Polisi meminggirkan motor yang hancur sebelah. Untung sedang lampu merah, jadi pekerjaannya tidak terlalu berat.


Setelah menyelesaikan masalah itu, Ague menoleh pada Zecda. Penjahat itu sama sekali tidak merespon tuntutan si korban.


"Kau sudah selesai, Ag?" tanya Zecda saat Ague berhenti di sampingnya tanpa menoleh. Sajak tadi, Zecda hanya membalas tatapan tajam korbannya dengan wajah datar.


Ague gugup, dia mengangguk ragu. "Sepertinya, dron itu melihatku."


Zecda melihat arah yang ditunjuk Ague. Sebuah dron menyalahkan lampu merah. Itu sinyal darurat, artinya dia sudah mendeteksi keberadaan buronan yang kabur dari istana di hari ulang tahunnya.


"Ayo cepat! Sebentar lagi lampunya menjadi hijau. Sopir truk sudah siap menginjak gas," suara itu lagi berbisik di kepala Zecda. Dia menoleh, bisa melihat sendiri papan angka yang menunjukkan angka sepuluh berwarna merah. Juga truk yang diincarnya sudah berbunyi dengan knalpot mengeluarkan asap tipis.


"Ayo pergi!" ucap Zecda berlari menuju truk terbuka itu. Ague menelan ludah. Dia mengejar panutannya yang tidak pernah ia tiru sifatnya. Zecda melompat, meraih ujung box truk itu. Juga Ague.


"Mau kemana kamu?!" Korban itu tidak terima. Dia berjalan cepat walau menyeret kakinya. Dengan melupakan rasa sakitnya, Dia memanjat besi-besi panjang yang membentang untuk menahan box besar itu.


Ague lebih dulu melompat ke dalam box. Sedang Zecda masih sempat mengukir senyum kemenangan saat truk itu melaju pada dron yang ikut mengejarnya. Satu tangannya berpegangan pada ujung box, sedang satunya teracung dan menunjuk dron yang ngejarnya.


"Tusukan jarum angin." Sebuah angin berbentuk jarum transparan keluar dari jarinya, diikuti hembusan angin di sekitarnya. Jarum itu melesat ke arah dron tersebut. Membuat dron itu terpental dan jatuh.


"Aaah!" Gadis itu terkena hembusan angin. Pegangan tangannya lepas. Zecda spontan meraih lengannya. Menyelamatkannya. Zecda menarik tubuh gadis yang bergemetaran. Gadis itu melompat, memeluk Zecda dengan tenaga terakhirnya. Wajahnya pucat pasih.


"Kupikir, yang berani menantangku adalah prajurit level S. Ternyata hanya perempuan penakut...," gumam Zecda.


"Aku bukan penakut!"


Zecda akhirnya melompat memasuki box sambil memeluk gadis itu dengan satu tangan. Keduanya masuk, dan disambut banyak kotak besar ayam kecil yang di dalamnya berisi beberapa ayam.


"Halo, Calon pewaris tahta. Juga Pangeran Paling Mulia!" sapa seorang remaja sebayanya yang sudah duduk bersandar di salah satu tumpukan kotak-kotak.


Ague menatapnya tidak percaya. Bagaimana laki-laki itu bisa bertahan di sana dengan bau tidak enak ini.


"Aku harus melakukannya, Pangeran," ucap laki-laki itu membuat mulut Ague yang tertutup rapat terbuka lebar.


"Kamu mata-mata?" Zecda melepaskan tubuh gadis tidak dikenalnya. Laki-laki itu dengan damai mengangguk.


"Terimakasih," bisik gadis itu persis di telinga Zecda sebelum melepaskan pelukannya.


Zecda tidak tanya apapun lagi, dia duduk. Juga Ague dan gadis itu.


"Namaku, Miya," gadis itu memecah keheningan. Ague tersenyum. Hanya dia yang balas memperkenalkan diri.


"Truk ini menuju ke mana?" tanya Zecda pada mata-mata pemula itu.


"Menuju Kerajaan lumayan jauh. Sepertinya, Putri Miya Berlin lebih tahu jalannya," jawabnya.


Miya mengangkat kepalanya tidak percaya. Dia menutup mulut dan matanya terbuka lebar.


"Kau?!" Ague memandang Miya takjub. Berbeda dengan Zecda yang justru memalingkan pandangan tidak peduli