AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Kesepakantan



"Ini dimana?" tanya Lixe sembari menatap kagum sekelilingnya. Gedung-gedung megah. Walau tidak semegah sebelumnya. Kota itu ramai. Kendaraan melaju cepat di jalanan. Bahkan di langit pun beberapa kendaraan melintas.


Tidak ada yang balas menjawab pertanyaannya. Zenith bahkan tidak menganggapnya ada. Ague yang memilih menulikan pendengaran seketika saat melewati kerumunan orang yang berlalu lalang. mereka memasuki taman bunga. Dengan cepat melintas, dan memasuki paling bangunan megah yang pintunya otomatis terbuka.


"Siapa yang kau bawa? Aku harap bukan tawanan seperti yang sebelumnya lagi. Kau pikir Kerajaan ini tempat pengasingan apa?" seseorang berdiri menghentikan laju motor keduanya. Zenith langsung turun, motornya menghilang. Tanpa basa-basi, ia pergi meninggalkan orang yang menatapnya dingin.


"Apa kamu gagal, Zen?" tanyanya. Menghentikan langkah Zenith. Ia menoleh, melihatkan separuh wajahnya di balik poni miring yang panjang. "Sepertinya iya." Orang itu mengangguk. Memalingkan wajahnya.


Zenith mengeraskan rahangnya, membuang wajah. Dan pergi dengan langkah berat dan cepat. "Aku akan memberikan yang lebih esok. Katakan pada Tuan Zecda, aku akan membawakan seluruh rancangan peralatan canggih Kerajaan Roila besok. Dia harus memastikan penyerangan terhadap Kerajaan Argio segera." ucapnya sebelum memasuki lift.


"Kamu terlalu tergesa-gesa, Zen. Pasukan kita sudah hancur!" Ague menggeleng keras. Dia mengacak rambut. "Apa kau gila?! Kau bisa mati! Lupakan saja Anita!"


"Nyonya Anita Dey? Tidak. Nona Anita. Ibu payah." Zenith menyandarkan punggung ke dinding lift. Matanya berkaca-kaca. Mengingat wajah sesosok bidadari. Wajahnya yang cantik, rambut kuningnya yang senada dengan bola matanya yang lebar. Sialan. Zenith menatap kedua tangannya yang di tekuk di depan. Melihatkan kilatan listrik di sana.


"Siapa dia, Ague?" tanya pria itu sambil melihat Lixe dari atas ke bawah kembali ke atas. "Aku tidak pernah tahu yang ini. Tapi mungkin aku tahu suku ini." Dia melirik Ague. Menunggu jawaban.


"Aku Lixe Van," Lixe memperkenalkan dirinya tanpa diminta. Membuat Ague menyengir lebar. Orang yang bertanya menghela napas. Menatap tajam mata Lixe. Tunggu. Rambut hitam, kulit putih, matanya yang hitam pekat. Kini Lixe balik menatapnya dari atas ke bawah, kembali ke atas. Lixe memiringkan wajah. Instingnya bilang, dia ayahnya Zenith. "Hah?" Mulutnya tiba-tiba ternganga.


"Kamu benar." Orang itu mengangguk.


"Kok tahu?" Lixe bertanya dalam hati. Ia masih terpaku di tempat.


"Kenapa kau suka sekali berbicara dalam hati?" orang tersebut bergumam pelan. Lalu menatap Ague. "Apa aku harus menggantikan saudara-saudaraku dengan anak ini? Itu kan maumu? Begitu caramu menghiburku? Buruk sekali." Dia menggeleng.


"Zack, bagaimana menurutmu? Aku ini sedang membantumu." Zack menatapnya dingin beberapa saat. Lalu menyengir lebar. Dia memegangi kepala. "Aku ini sungguh payah," gumamnya pelan.


Zack menertawakan dirinya sendiri. "Ini semua salahku. Mereka yang tewas. Semua karena kesalahanku. Maafkan aku."


"Mungkin kau harus pergi ke hutan dan menjadi pria purba beberapa saat untuk menenangkan pikiranmu." Ague memutar motornya. Pergi meninggalkan Zack yang wajahnya masih menampakkan kesedihan.


"Anu, ini dimana?" tanya Lixe yang masih mematung di tempatnya.


"Selamat datang di Istana Bangsawan Dey. Kami menyambutmu dengan sangat di sini. Apa yang kau inginkan akan kami sediakan seperti janji Ague. Sebagai gantinya, bekerjalah untuk kami." Entah sejak kapan, tapi aura Zack menjadi sedikit lebih hangat. Lixe menyadari pria itu bisa membaca pikirannya. Dia memilih diam saat hendak bertanya apa yang sudah terjadi. Siapa yang tewas. Kalau Zack tidak menjawab. Berarti memang bukan urusannya.


"Tempat ini sepi. Kami kehilangan banyak anggota pada pertarungan melawan Kerajaan Argio. Seperti yang sudah kau dengar. Aku tidak banyak permintaan. Satu yang ku inginkan. Awasi Zenith."


"Aku akan menceritakan segalanya. Suatu saat, nanti." Zack berkata dengan senyuman pahit di akhir kalimatnya. Lixe mengangguk. Sebuah anak kecil berjalan ke arahnya. Menarik tangannya, mengajaknya ke suatu tempat. "Dia akan mengajakmu jalan-jalan, memenuhi kebutuhanmu. Dan lainnya." Lixe sudah berjalan mengikuti langkah anak kecil itu saat Zack menjelaskan.


"Kau mau mengajakku kemana?" tanya Lixe setelah memasuki lift. Pintu itu terbuka, menampakkan taman indah di lantai atas. Anak kecil itu keluar, diikuti Lixe. Robot itu mengajaknya mendekati sebuah air mancur.


"Waw. Kita bertemu lagi. Bagaimana kabarmu?" tanya Lixe begitu melihat Zenith duduk di kursi panjang. Bersandar menatap kosong ke depan. Zenith tidak merespon. Lixe pun memutuskan duduk di kursi yang sama. Namun dengan jarak sejauh jauhnya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Bal, apa kau tidak punya tempat lain untuk mengajaknya jalan jalan?" tanya Zenith dingin. Lalu menoleh pada robot berwujud anak kecil laki-laki itu. Membuat robot itu memiringkan kepalanya. Di matanya tampak emoji tanda tanya.


"Seperti di kandang singa? Jalur balapan? Atau lapangan tanding kerajaan?" Zenith tersenyum pahit pada Bal. Bal menggeleng keras dengan mata terpejam.


"Kamu ingin aku mati?" tanya Lixe tiba-tiba. Zenith meliriknya, lalu memalingkan wajah. Untuk beberapa saat kemudian keduanya terdiam. Bal juga duduk di antara Zenith dan Lixe.


"Rasanya aku deja vu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Lixe dalam keheningan. Ia menatap air yang ada di kolam Lamat Lamat. menatap ke dalam. Mencoba menelusuri memorinya. Tidak ada. Dia tak mengingat pernah terjadi scan seperti ini dalam hidupnya.


"Jangan mengada-ada. Aku tidak mungkin berteman dengan Tarzan sepertimu." Zenith menyengir. Ia menggeleng. Walau dalam hatinya tidak ada dapat ia pungkiri. Mungkin di suatu hari dalam hidupnya dulu, pernah ada scan seperti ini.


"Memangnya ada yang mau berteman denganmu?" tanya Lixe sebal. Ia menoleh pada Zenith. Menatap dengan tatapan mengejek.


"Ada," kata Lixe. Zenith menoleh tidak percaya. Lixe hanya mengangkat ujung bibirnya. Mengukir senyum kemenangan yang indah. "Kamu mau jadi salah satunya?"


"Ogah." Zenith menggeleng keras.


"Terserah," Lixe mengendus pelan.


Lagi-lagi terdiam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya Bal yang berlari mengejar kupu-kupu.


"Aku tahu kau bisa membaca pikiranku. Tapi aku tidak. Walau begitu, setidaknya aku tahu. Kamu berencana pergi ke Kerajaan Roila lagi kan?" tanya Lixe memecahkan suasana. Zenith menoleh gugup. Tatapan matanya jelas menjawab iya. Dia bangkit dari tempatnya.


"Kau tidak perlu tahu itu," katanya sebelum meninggalkan Lixe.


"Aku bisa membukakan portal untukmu! Kalau kamu mau," Lixe menawarkan. Dia berdiri. Hendak mengejar Zenith, tapi urung. Dia tahu, Zenith tidak ingin dikejar. Zenith sudah memasuki lift. Bodoh amat. Terserah, kalau dia tidak mau juga tidak papa.


"Kakak Lixe. Mau jalan-jalan ke luar istana?" tanya Bal tiba-tiba di depan Lixe. Lixe melompat ke atas kursi kaget. Dia melotot pada Bal. Tapi yang dipelototi malah tersenyum polos.


"Ayo!" Lixe mengangguk. Bal berubah menjadi sebuah motor. Lixe ragu-ragu menaikinya. Pria itu agak bersimpati padanya. Tapi apa pun itu. Ayo pergi. Bal melesat, melewati jendela yang lalu terbuka. Lixe menahan napas. Ini artinya dia harus terjun bebas lagi.


Malamnya.....


Di kamarnya, Zenith sudah berdandan. Rambutnya di tata rapi dan beraroma vanila, favoritnya. Ia mengenakan gaun merah dengan sweater putih. Malam ini, dia akan pergi ke Pesta Ulang Tahun Sahabatnya, Putri Dira Roila.


"Malam ini, aku akan masuk baik-baik. Dan keluar dengan terhormat," ucap Zenith seraya memasangkan separuh hak tinggi kaca berwarna putihnya. Dia keluar dari kamarnya. Lalu berjalan menuruni tangga.


Sedang di bawah sana....


"Bal. Istana ini berapa tingkat?" tanya Lixe mendongak. Memandang kagum bangunan pencakar langit di depannya ini.


Bal ikut mendongak. Tubuhnya yang sepinggang Lixe berdiri di sampingnya. Dia diam beberapa saat. Lalu berkata, "Istana ini sebelumnya didiami dua puluh orang bangsawan utama suku Dey. Tuan Zack memang tidak suka keramaian dan mandiri. Tapi baginya hidup dengan keluarga adalah pilihan terbaik."


"Robot ini kok malah jadi cerita," batin Lixe.


"Sayangnya, sembilan tahun yang lalu dua kerajaan bermasalah. Nyonya Anita, Ibu Nona Zenith pergi membela tanah airnya. Dia pulang, setelah menghabisi 4 anggota bangsawan lainnya di depan mata Nona Zenith."


"Dalam pertempuran itu, ia berdiri di barisan paling depan melawan suku Dey. Nona Zenith 8 tahun, merengek ikut perang. Dia merindukan ibunya. Pergi ke medan perang diam diam. Dan kehilangan kedua tangan dan kakinya." Bal berhenti bercerita saat Lixe berseru padanya.


"Apa kau bilang?! Jangan bercanda, aku bisa melihat kedua tangannya masih menempel di tubuhnya." Lixe menoleh dengan wajah aneh pada Bal. Anak itu tersenyum.


"Dia bukan orang primitif, Kak." balas Bal. Sepertinya itu sudah jadi ucapan orang orang di tempat ini.


"Kakak mau naik tangga hingga ke puncak?" tawar Bal. Lixe merasa ini akan seru. Ia mengangguk. Bal mengajaknya menuju tangga darurat. Keduanya berlari menaiki tangga yang tanpa tahu ujungnya.


"Bagaimana kau tahu tentang cerita itu, Bal?" tanya Lixe dengan terbata-bata.


"Tentu aku tahu. Aku salah satu yang dibunuh Nyonya Anita." jawab Lixe tetap fokus berlari hingga dihitungan kedua. Lixe melompat ke depan. Menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Bal yang tadi di belakangnya.


"Hantu!" seru Lixe dengan tangan menunjuk ke depan. Dia menatap Bal tak percaya.


"Aku robot, Kak. Tenanglah." Bal tertawa.


"Minggir!" seseorang dari belakang. Menabrak Lixe. Lixe menoleh, dia segera menahan tubuh Zenith yang jatuh ke arahnya. Tapi kuda-kuda roboh. Lixe jatuh di tangga bersama Zenith.