
"Jadi, kamu ini mau kencan sama siapa?" Lixe berdiri dengan melipat kedua tangan di dada. Ia menatap tajam Zenith yang berdiri di depannya sambil menengok ke arah lain. Tidak peduli dengan lawan bicaranya.
"Aku ini mau pergi ke pesta temanku. Apaan sih? Ayah aja gak sewot. Minggir!" Zenith melewati Lixe. Berjalan angkuh dan dan sedikit tergesa-gesa.
"Kau mau pergi? Setelah membuatku jatuh dari tangga. Tanggung jawabmu mana?" Lixe benar-benar tak akan membiarkannya pergi.
Zenith menoleh, lalu berkata, "Bal, tolong kamu antarkan kakak ini ke rumah sakit ya." Kemudian kembali berjalan. Tidak menghiraukan Lixe yang menganga tidak percaya dirinya dianggap angin malam yang tak berwujud.
"Hei! Apa kakimu tidak terkilir! Bagaimana kalau retak?! Patah?! Kau tidak takut?" tanya Lixe berseru sebal. Kali ini Zenith benar-benar menundukkan kepalanya. Ia menghentikan langkahnya. Sekejap auranya menjadi sangat suram. Begitu insting Lixe berkata.
"Tidak perlu mencemaskan tulangku akan retak atau patah. Karena aku bahkan pernah merasakan yang lebih dari itu. Saat aku kehilangan kaki dan tanganku. Bahkan tak satupun yang datang menjenguk. Mengirim surat. Bahkan mungkin tidak ada yang berdoa untukku. Sahabat sejati? Entahlah. Mungkin aku memang tidak punya." Zenith kembali berjalan saat ucapannya selesai. Menuju sebuah garasi yang langsung terbuka begitu mendapat sensor kehadirannya.
"Sepertinya, aku salah ucap," batin Lixe dengan raut sedih. Ia memutuskan mengejar Zenith. Memasuki garasi yang masih terbuka. Lalu menempelkan tangannya di kaca pintu sebuah mobil yang telah Zenith tunggangi.
"Aku ikut!" kata Lixe dengan napas tersendat-sendat. Dia mengetuk kaca mobil Zenith.
"Kau sudah gila?" tanyanya datar. "Aku tidak akan mengajakmu!" Zenith menyalakan mobilnya. Menarik tuas kemudi. Lalu pergi dengan kecepatan tinggi. "Orang gak jelas. Kau tidak akan bisa mengikutiku," gumamnya dengan penuh kemenangan.
"Yakin?" tanya seseorang dari belakang kursi Zenith. Membuatnya refleks menoleh. Gila. Lixe berhasil masuk ke mobilnya. "Kamu mau sampai dengan cepat kan? Mau pakai portalku?"
"Cih," Zenith membuang muka. Orang di belakangnya sungguh menyebalkan bagi Zenith.
"Kenapa kau selalu mengikutiku?!" tanya Zenith lalu menoleh. Ia menginjak rem mobilnya. Untung di depannya sedang lampu merah. Zenith menatap ke belakang. Netranya yang tajam bertemu dengan netra Lixe. Lixe menyengir. Siapa takut.
Zenith menghembuskan napas berat. Zenith menyerah. "Kalau kau mau ikut. Jadilah berguna! Jangan mengacau!" Zenith mengangguk setuju. Oke. Lixe tersenyum. Dia akan menjadi teman yang berguna.
"Portalnya!" Zenith memberi aba-aba. Ia melihat ke papan angka di samping lampu lalu lintas. Menyebalkan, masih terlalu lama untuk ditunggu. Lixe menganga.
"Di tengah jalan seperti ini?" tanyanya tidak percaya.
"Gak, di gua," balas Zenith.
Oke. Lixe menatap ke balik kaca depan mobil.
"Cahaya rembulan. Pintu bulan purnama."
Sebuah bola cahaya kecil muncul di depan mobil. Membesar, hingga saat cahaya itu muat bagi mobil mereka masuk, Zenith menancapkan gas. Mobil itu langsung memasuki cahaya. Terang. Zenith memejamkan mata, ini untuk menyilaukan bahkan bagi matanya yang istimewa. Beberapa detik kemudian, sebuah lubang cahaya di tempat lain muncul. Mereka sampai di tempat tujuan.
"Iya sih. Tadi aku bilang gua. Tapi ini apa-apaan?!" Zenith berseru di dalam mobilnya yang kedap suara. Untunglah, mungkin suaranya bisa meruntuhkan gua di luar sana. Lixe menutup rapat telinganya. Astaga, orang ini benar-benar tidak bisa selow.
"Sudahlah, instingku bilang ini tempat paling baik," jawab Lixe sembari membuka pintu mobil dan keluar. Tanpa Zenith sadari sebelumnya, Lixe membawa Bal ikut bersamanya. Bal turun dari mobil. Mengikuti kemanapun Lixe pergi.
"Demi apa pun. Oh. Aku membencimu Lix!" Zenith mengatur napasnya yang tidak karuan. Dia kira hanya akan menghadapi Lixe. Nyatanya Bal juga ikut. Zenith berusaha meredam emosinya. Ia memijat dahi. Berusaha sekuat tenaga tidak menghancurkan tatanan rambut karyanya selama dua jam setengah.
"Apa itu?" tanya Lixe sembari menunjuk ke suatu arah. Bal menoleh, ia juga membeku di tempat. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Nona Zenith, sebaiknya kau melihat ini." Bal mengetuk kaca pintu. Membuat Zenith menoleh. Baiklah, itu adalah panggilan dari sepupunya. Zenith bersedia keluar, dia melihat apa yang kedua orang itu lihat.
"Astaga," Zenith berseru tertahan. Dia menutup mulut dengan kedua tangan. Di hadapannya, sebuah tiang dengan banyak kabel besar terhubung di sana. Juga layar-layar hologram yang menampilkan tulisan tulisan rumit.
Zenith hampir berteriak histeris. "Aku mencintaimu Lix!" ucapnya memeluk sebentar Lixe yang tidak tahu apa-apa. Lalu berlari menghampiri tiang itu. Meninggalkan Lixe yang memasang ekspresi aneh di tempat.
"Bagaimana bisa aku bertemu gadis gila sepertinya?" batin Lixe seraya mengembuskan napas malas. Ia bersandar di mobil. Hanya melihat Zenith yang mengeluarkan komputernya, tidak tahu ngapain.
"Itu apa, Bal?" tanya Lixe menoleh pada Bal yang sekarang tiduran di tanah. Menikmati pemandangan langit-langit gua. Entah apanya yang indah, demikian batin Lixe.
"Apa lagi selanjutnya?" gumam Lixe. Dia kini melakukan sebuah panggilan dengan orang jauh di sana.
"Setelah selesai. Segeralah pergi dari sana! Kalian benar-benar harus hati-hati. Seperti yang kukatakan sebelumnya. Di luar sana banyak robot yang menunggu mangsanya." jawab Zack di seberang saluran telepon. "Dan jangan biarkan Zenith bertemu Arek Roila. Pangeran Pertama. Dia cukup mencurigai Suku Dey."
"Baiklah. Bisa tolong kirimkan fotonya?"
"Hati-hati, dia selalu tampil sederhana. Kau sungguh tak kan mengira dirinya seorang pangeran mahkota." Lixe langsung menerima foto seorang pria berahang keras. Tubuhnya kekar. Kulitnya sayo matang sedang rambutnya hitam pekat. Dalam foto itu ia terlihat cukup ramah dan..
"Apa ini sungguh orangnya?" tanya Lixe begitu melihat gayanya bahkan tidak bisa dibilang gaya seorang bangsawan. Ayolah, itu terlalu sederhana. Bahkan untuk seorang menengah ke atas.
"Jangan percaya dengan penampilan luarnya! Dia orang paling pandai di sana. Di seluru daratan ini, belum ada yang bisa menandingi kepintarannya. Dia arsitek yang membangun kerajaan megah politan itu." Oke. Zack mengoceh panjang lebar. Lixe mengangguk keras. Dia berkata singkat dengan malas, "Baik."
"Yang terakhir. Temui Raja Loya. Tenang, dia orang yang baik. Walau anak anaknya tidak jelas. Berikan pesan ini padanya." Sebuah layang hologram menampilkan dokumen tertutup rapi. Lixe mulai tidak paham dengan masalah ini. Dia menghela napas pelan.
"Semuanya beres, Tuan," jawab Lixe.
Sambungan itu diputus Zack. Lixe kembali mengawasi Zenith yang mungkin hampir selesai. Dia sudah membereskan laptopnya. Lalu menoleh dengan wajah berseri.
"Kukira wajahnya selalu menyebalkan," batin Lixe sambil menyengir lebar.
Beberapa setelah Zenith meninggalkan istananya..
Lixe mengejar mobil itu. Dia menyerah, begitu mobil itu keluar dari gerbang istana. Tiba-tiba, Zack yang melihat mobil putrinya pergi, akhirnya menghampiri Lixe yang berdiri di samping gerbang yang terbuka.
"Kamu tahu dia mau ke mana, kan?" tanya Zack pada Lixe tiba-tiba. Membuat Lixe melompat kaget. Lixe mengangguk keras. "Susul anak itu!"
"Apa aku harus membawanya pulang?" tanya Lixe dengan berat hati. Memaksa Zenith mengikuti perintahnya adalah hal yang tak sanggup ia lakukan. Apalagi membujuk Zenith, ayolah. Jangan bercanda.
"Tidak. Kau tidak perlu membuatnya pulang. Bawa dia ke suatu tempat di Kerajaan Roila," jawab Zack datar. Lixe langsung menoleh. Dia menelan ludahnya. Itu lebih dari sekedar candaan.
"Apa? Suatu tempat di Kerajaan Roila?" Lixe mengulangi apa yang ia dengar. Memastikan pendengarannya baik-baik saja sebelum menjalankan perintah dan masuk ke jurang kematian. Walau dia benar-benar tidak takut dengan jurang itu.
"Di bawah istana Roila. Terdapat sebuah gua. Aku tidak tahu pastinya. Tapi tempat itu dijaga dengan tak sewajarnya. Bukankah aneh, sebuah kerajaan megah politan seperti itu punya gua gaya prasejarah di bawah tanah. Kecuali memang ada yang disembunyikan." Zack menjelaskan. Ujung bibirnya terangkat. Setidaknya, kali ini akan ada orang yang bisa memuaskan rasa penasarannya.
"Masuklah ke sana. Sebagai pengintai, Lix." Begitulah perintah yang diberikan. Kedengarannya menarik. Lixe mengangguk mantap. "Awasi juga Zenith. Anak itu sering terbawa emosi. Juga mengacau tanpa mau disalahkan."
Lixe mengangguk setuju. Dia pun pergi. Bal yang berdiri di sampingnya menatap ke arahnya. Berharap agar diajak. Lixe tersenyum. Keduanya berteleportasi. Menyusul Zenith.
"Bagaimana?" tanya Lixe pada Zenith yang sudah berdiri di depannya dengan senyuman selebar lebarnya. Dia tersenyum lebih lebar. Memperlihatkan gigi depannya yang putih mengkilap itu.
"Sempurna. Dan aku mendengar seluru percakapan ayahku denganmu barusan," jawabnya. Lixe menyengir. Agak kecewa. Baiklah, sulit menyembunyikan rahasia dari Zenith.
Tak butuh waktu lama. Zenith masuk ke dalam mobil. Lixe dengan terpaksa membangunkan Bal yang sedang asyik-asyiknya. Bal yang disenggol sedikit, langsung berdiri. Lixe meringis ngilu begitu anak itu terbangun tanpa rasa pusing atau linglung. Lalu keduanya masuk ke dalam mobil.
Lixe membukakan portal kedua. Mobil itu menghilang ditelan cahaya.
"Pastikan kita sampai di dekat Gerbang Kerajaan Roila. Malam ini aku ingin masuk dengan baik-baik, dan pulang dengan terhormat," kata Zenith dalam kebahagiaannya. Lixe tertawa kecil. Itu terdengar lebih menyenangkan.
"Aku mengerti. Ini hari pertamaku bekerja," balas Lixe dengan anggukan.
"Selamat datang, Pengintai Amatir," Zenith tertawa kecil. Ah, apa-apaan itu.
"Aku berjanji akan jadi lebih hebat darimu," balas Lixe tidak terima dibilang amatir. Sedang Zenith menyengir di tempatnya. Dalam hatinya ia berkata, "Akan aku nantikan hari itu."