AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Keegoisan



Lixe memeluk tubuh Xiota yang dingin dengan erat. Tubuh temannya itu semakin kaku. Lixe meneteskan air mata.


"Lepaskan dia!" pinta Gueta berjalan sempoyongan dan duduk di samping Lixe. Lixe tidak menghiraukannya. Gueta tiba-tiba mencekik lehernya. Lixe membuka mulutnya. Dia melirik Gueta.


“Kau ingin membunuhku, Putri? Kau bisa tewas bersamaku,” tanya First yang langsung mengambil alih kesadaran Lixe. Gueta menarik napas dalam-dalam. Kalimat itu bagai menusuk di telinganya, membuat hati bergetar. Gueta tetap mencekik pelan leher Lixe walau jantungnya berdetak lebih kencang. Hingga kalung yang melingkar di leher Lixe terlihat, Gueta baru melepaskan leher LIxe.


“Kita tidak akan tewas bersama. Juga tidak akan berbagi rasa sakit lebih lamah lagi.” Gueta melingkarkan kedua tangannya di leber Lixe, menggengam kalung perak dengan kedua tangannya. Crack. Kalung itu hancur.


“Dan temanmu yang sekarat itu, aku bisa membantumu menemukan seseorang yang ahli dan aku jamin dia akan selamat.”  Gueta berdiri. Dia menghela napas dalam-dalam. “Namun harganya mahal. Ikut aku kalau kau mau.”


“Apa yang kau inginkan?” Lixe menatap Gueta nanar. Sedikit harapan muncul di matanya. Dia berjanji apapun akan dia lakukan. Lixe melirik Ague. Ague paham, dia juga masih harus mengurus pasukannya, juga Zecda. Tidak mungkin baginya meninggalkan semua ini dan pergi mencari masalah baru. Ague mengangguk pasrah.


“Aku akan menjaganya.”


“Aku ikut!”


Semua pandangan tertuju pada Riyal yang membuka mulut dengan kalimat mengejutkan. Roy’ah menatapnya tidak percaya. Tidak, Roy’ah memegangi kening. Benar saja, yang bukan adik kandung adalah dirinya. “Bagaimana bisa aku melupakannya. Bodoh," batin Roy'ah


“Kenapa kau juga tidak ikut saja?” Zenith yang membaca pikiran Roy’ah tanpa ragu bertanya. Roy’ah balas menatapnya dingin. Zenith tidak peduli.


“Kau tidak akan ikut jugakan?” Cain yang berdiri di samping Roy’ah memastikan dengan perasaan cemas. “Sepertinya tugasku akan bertambah.”


“Urus semuanya untukku. Aku akan ikut pergi,” jawab Roy’ah. Cain menepuk jidat. Akhirnya, ssuatu yang tidak dia inginkan terjadi. Dia menatap tajam Zenith. Zenith berjalan mendekatinya walau Cain sudah mengeluarkan aura membunuh. Cain tidak akan melupakan kekesalannya pada sepupunya itu.


“Aku masih ingat dengan anak laki-laki yang bersujud selama dua puluh jam di depan kamar ayahnya sambil menangis demi kebebasan tantenya yang paling disayanginya. Kasihan sekali. Lalu saat tante tersebut bisa terbang


bebas, dia ingin mengengkangnya?” bisik Zenith di telinga Cain.


Cain mendengus seraya memalingkan wajah. “Aku pikir, kebebasan itu akan membuatnya bahagia dan selalu ada di sampingku.”


“Kau egois, Kak. Ibuku juga. Semua orang selalu egois, tapi begitulah mereka dapat berbahagia, bukan? Pikirkan baik-baik, kalau kau ingin dia bahagia, biarkan dia terbang!”


Cain terdiam. Dia melirik Zenith.


Plak.


“Ugh.”


Cain menampar pelan Zenith. Pikiran Zenith kembali ke masa kecil mereka. Cain sering menamparnya pelan. Saat disalahkan, selalu bilang ‘Ini pelajaran bagimu supaya kebal dengan tamparan. Juga tidak menampar orang sesuka hati.’


“Cih,” Zenith berdecih pelan. Dia berbalik, keli ini membelakangi Cain. Cain juga memalingkan wajah. Zenith sudah melupakan keberadaannya. Gadis itu memasuki portal bayangan milik Gueta bersama Lixe. Lixe meliriknya tidak percaya. Raut wajah Lixe yang seolah nyawanya tak utuh menunjukkan bahwa dia tidak memperhatikan sekitarnya.


“Kenapa?” tanya Zenith sembari mengangkat sebelah alis. Lixe yang masih belum sadar menatapnya kosong. “Kami tidak akan meninggalkanmu.”


“Kami?” Lixe menoleh ke samping. Benar saja, bukan hanya Zenith. Tapi Gusion, Riyal, bahkan Roy’ah. Apa yang dia pikirkan. Lixe mengerjapkan mata saat melihat Roy’ah di samping Riyal. Sepertinya dia salah lihat. Hingga Roy’ah meliriknya lalu memutar bola mata. Itu sungguhan. Lixe mengantupkan rahang. “Dia kesurupan apa?”


“Daya tanggapnya rendah sekali. Kurang ajar,” gumam Roy’ah bersungut-sungut. Dia mendengar makian Lixe yang diucapkannya dalam hati. Lixe mendengar makin itu. Tapi tidak merasa sedang dimaki, hanya mengabaikannya. “Mungkin aku salah dengar.” Lixe mengangkat bahu.


***


“Putri Dira!” Bal melakukan telepati dengan Dira. Menyadarkan Dira dari bayangan buruk yang menghantuinya. Dira mengerjapkan mata, lalu mengangguk. Dia berusaha tersadar dari mimpi buruk yang terus menghantuinya. Detak jantungnya kembali normal. Seseorang memeluknya.


Dira mendapati dirinya ada di tengah lautan zombie, dimana warganya tergeletak tak berdaya di sekelilingnya. Dira mengedipkan mata. Zombie itu menghilang. Dia menoleh ke sekeliling. Seorang vampir terbang turun dari atas. Dia medengak. Gadis berkacamata dengan tampang lugu itu memeluknya.


“Sadarlah, Dira!” bisik Aizla lembut. Dira menarik napas. Balas memeluk Aizla.


***


Portal  bayangan yang membawa Lixe dan teman-temannya sampai di taman kota Kerajaan Aenmal. Berdiri di tempat ini sungguh membuat Lixe tersiksa. Segala ingatannya tentang akhir hayat ibunya muncul satu persatu. Sementara yang lain mengamati sekitarnya, Gueta meraih tangan Gusion.


“Apa yang akan kau laukan?!” Zenith berseru. Dia menangkap siasat buruk yang melintas di benak Gueta. Roy’ah yang juga menyadarinya hendak menyambar tangan Gusion. Namun Gueta lebih dulu melakukan teleportasi, membawa Gusion pergi dari sana.


Tepat saat keduanya menghilang, dinding cahaya muncul melingkari mereka. Lixe menelan ludah. Itu portal cahaya. Dua detik kemudian, cahaya itu menghilang digantikan pemandangan puluhan tentara  yang siap menghabisi mereka.


“Dia menjebak kita!” Zenith berseru sebal sambil meremas rambut. Lixe menggeleng, sejak awal dia tahu ini adalah jebakan. Paman-pamannya pasti sudah menunggu, kan. Lixe menatap sekelilingnya. Di barisan pertama, para petarung dari Suku Van berdiri dengan tatapan tertuju padanya.


Lixe mengangkat kepalanya. Dia tidak akan menunduk, bukan anak kecil yang akan lari seperti dulu. Ini hari yang telah dinantikannya selama beberapa tahun, tidak mungkin dia sia-siakan dengan kabur ataupun


Ctak.  Roy’ah menjentikkan jari. Tanah yang mereka pijak bergetar. Menciptakan retakan yang memisakan mereka dengan para musuh. Riyal mengangkat tangan kiri. Sebuah busur muncul di sana. Dengan tangan kanan, dia menarik tali  busurnya. Menurunkan tangan kiri ke depan.


“Apa yang kau tungguh Lixe? Mereka akan menghabisimu terlebih dahulu!” Sebuah pedang muncul di tangan Zenith. Zenith sempat takjub dengan pedang itu selama setengah detik. Pedang bertuliskan nama Cain itu tampak kokoh dan tajam. Zenith tersenyum tipis, rupanya kali ini sepupunya itu mengirimkan paket yang bagus dan berguna.


Zenith ingat saat ia kecil, Cain selalu mengirimkan barang-barang aneh yang sama sekali tidak dapat ia gunakan. “Aku akan menggunkannya sebaik mungkin!” Zenith berseru bahagia. Sepatu yang dikenakannya mengangkat tubuhnya. Membuatnya terbang ke arah lawan. Beberapa sabitan cahaya melesat ke arahnya.


Wush. Riyal menembakkan anak panahnya. Menebas semua serangan yang menuju ke arah Zenith. Beberapa dari musuh menggeram pelan. Tanpa mereka sadari, sabitan cahaya yang diciptakan Lixe meluncur dan menghancurkan formasi mereka. Empat orang itu mulai mempora-porandakan seluruh pasukan yang ditugaskan menghalau mereka.


***


“Dia datang membawa sekutu. Ada apa ini?” Geor yang mengawasi pertarungan di taman kota dari layar hologram menatapnya tidak percaya. Aira berdiri dengan kepala tertunduk di belakangnya. Geor meliriknya.


“Pergi! Aku melihat jiwa First dalam tubuhnya!”


Aira mengangguk. “Anda akan menepati janji, kan?”


“Ck.”


Sebuah portal bayangan muncul di sampingnya. Aira memasuki portal itu. Tekadnya sudah bulat. Jadi pasti akan dia lakukan, apapun resikonya.


***


“Apa ini yang Ibu ajarkan padamu?” tanya Gusion pada adiknya yang hanya menundukkan kepala. “Kau membawa Lixe kemari sebagai tumbal? Pengalih perhatian?”


Gueta terdiam seribu Bahasa. Dia hanya dapat mengangguk. Tidak berani mengatakan sepata kata pun. Dia sampingnya, Lest hendak membelanya. Namun Gueta menggeleng, menyuruhnya diam di tempat. Lest menelan


ludah saat Gusion menatapnya dengan kemarahan.


“Saya sudah mengirim semua pasukan ke taman kota. Tidak akan ada yang menghalangi Anda melawan Geor Wist,” ujar Lest memberi pembelaan.


“Egois! Lalu apa yang akan terjadi pada keponakanmu? Kau melupaknnya? Atau memang ingin membunuhnya?”


Lest tersenyum tipis. “Bala bantuan akan datang menyelamatkannya. Seseorang yang lebih dia percaya, yang lebih baik daripada paman tidak berguna sepertiku.”


***


“Apa kau gila? Kau bisa mati!” Neo berseru mewakili Biete setelah mendengar permintaan Aizla agar dibukakan portal menuju Kerajaan Aenmal.


“Lixe dan yang lainnya di sana! Ibuku akan membunuhnya! Kau tidak dengar apa yang dikatan Bal?” Aizla balas membentak. Dia menunjuk Bal di depannya. Neo meremas rambut. Dia sadar menghalangi gadis ini akan sangat sulit dan tidak mungkin sekarang. Dia menatap Dira. Sial, yang hendak dimintai tolong untuk meyakinkan Aizla menggeleng sebelum dia mengatakan apapun.


“Kalau kalian mati, jangan salahkan aku!”


Neo pasrah. Dia membukakan portal bayangan yang tidak sempurna untuk ketiga orang keras kepala di depannya. Aizla, Dira, dan Bal bersama-sama memasuki portal bayangan yang diciptakan Neo tanpa mendengarkan ancaman barusan.


“Aku datang dengan dua perempuan keras kepala, Paman Zack,” Bal melakukan telepati dengan Zack. Zack mendengus. Tidak peduli. Zack yang menyelinap di istana Aenmal sedang berkonsentrasi membaut dirinya dan Anita di sampingnya tidak terlihat para pelayan yang berlalu lalang.


“Aku menemukan Lean!” Anita di sampingnya berseru tertahan. Dia menunjuk ke depan. Anita berlari menuntun jalan. Istana yang diselimuti bayangan trasparan itu memang menghalangi pandangan Zack, tapi tidak dengan penciuman Anita. Di saat seperti ini, Zack hanya bisa pasrah. Berjalan tanpa tahu arah, hanya mengandalkan Anita sebagai penunjuk jalan.


“Bal! Tolong, bantu Lixe! Aku akan menyusul setelah membebaskan Lean.” Zack balas melakukan telepati.


Di seberang sana, Bal dan dua orang lainnya muncul di antara Lixe para musuh. Dira menggigit bibir. Dia belum siap menerima serangan saat sebuah pedang melayang ke arahnya. Aizla menangkap pedang tersebut. Darah bercucuran dari telapak tangannya, menetes ke tanah. Darah itu menciptakan api yang lalu menjalar ke arah lawan.


“Kalian kenapa…?” Lixe menatap ketiganya heran dengan wajah tanpa dosa. Dira meremas jemari, bisa-bisanya orang itu tanya kenapa. Lupakan. Tidak ada waktu lagi. Mereka sama-sama disibukkan dengan para musuh yang


semakin berdatangan. Ditambah lagi, dengan kemunculan Aira diantara pasukan musuh. Aizla sudah menyiapkan diri untuk ini.


Saat Lixe hendak melawannya, Aizla menghalanginya. “Biarkan aku yang melawannya,” pinta Aizla dengan senyuman tipis. Lixe menatapnya ragu. Sebelum mendapatkan penjelasan Aizla, Roy’ah meraih lengannya, lalu melemparnya ke arah musuh.


“Kau ingin membunuhku!” Lixe berseru panik. Rpy’ah tidak peduli. Roy’ah mengayunkan tangan, mengendalikan tubuh Lixe. Membuat Lixe melemparkan lima boomerang cahaya ke arah lawan.


“Aku yakin akan melawannya.” Aizla berdiri di hadapan Aira.


“Kau pasti bi…!” Lixe berseru menyemangati. Namun Roy’ah tidak membiarkannya bicara. Dia membuat Lixe tidak bisa bicara dan kembali fokus dengan apa yang ada di depannya. Lixe menggerutu dalam hati, walau sejujurnya dia merasa lebih hebat saat tubuhnya dikendalikan Roy’ah. Setiap serangan yang dia keluarkan akurat, setiap serangan lawan pun dapat ia hindari dengan muda.


“Terimakasih,” batin Lixe. Roy’ah yang mengetahuinya mendengus. Dia membuat gerakan Lixe semakin cepat. Bahkan Lixe pun tidak tahu apa yang dia lakukan.