
Krak. Krak.
Balok es yang mengurung tubuh Lean hancur dalam dua dua kali tebasan. Zack menangkap tubuh Lean yang terkulai lemas tak berdaya.
“Lean!” panggil Zack seraya menepuk pelan pipinya. Lean meringis, dia mengerjapkan mata secara perlahan. Untungnya kesadarannya kembali dengan cepat. Zack melepaskan tubuhnya saat Lean mulai berusaha berdiri di atas kedua kakinya sendiri.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Lean seraya menoleh ke sekitar. Penjaga tidak bereaksi. “Bagaimana bisa?” batinnya. Kemudian dia menepuk dahi. Dia lupa Zack bisa membuat ilusi mata pada orang lain. Para
penjaga itu pasti sedang ada dalam ilusi mata yang dia buat. Tapi bagaimana dengan CCTV yang tertancap di dinding.
Lean melirik CCTV yang menyala. Tidak ada siren. Apa Zack juga melakukan ilusi mata untuk penjaga CCTV. Lean menelan ludah. Menatap Zack, berharap dia menjelaskan sesuatu.
“Petinggi Suku Van itu mendukungmu,” jawab Zack melalui telepati. Lean mengernyitkan dahi.
Kriiiiinggg!!
Siren berbunyi nyaring. Namun bukan di tempat mereka berdiri, melainkan di tempat lain yang jauh dari mereka.
Para penjaga terkejut. Mereka buru-buru menghampiri tempat dimana siren berbunyi. Zack melirik CCTV, lalu menyeringai.
“Terimakasih,” ucapnya bertelepati pada orang di ruang pengawasan.
“Cepat pergi kalau tidak ingin mati!” batin Lucky yang ada di sana dengan bersungut-sungut. Dia sedikit gugup.
Kembali menekan tombol siren di tempat sisi yang lebih jauh dari ketiganya. Lucky melirik sekitar, teman-temannya yang juga ditugaskan menjaga ruang pengawasan masih terlelap karena obat yang dia berikan. Tidak ada masalah.
“Aku tidak boleh gugup,” gumam Lucky menenangkan diri. Namun firasatnya cemas tidak karuan.
“Lakukan teleportasi! Bukakan juga untuk kami portal cahaya! Pangeranmu datang!” Zack memperingati. Lest
menelan ludah. Dia mengangguk. Walau tidak percaya, tidak ada salahnya menuruti aba-aba yang diberikannya.
"Dia bukan pangeran kami!" Lucky menggeleng keras.
Plop. Lucky melakukan teleportasi. Sebuah portal cahaya juga terbentuk di dekat Zack. Lean menatapnya terkejut. Tiba-tiba sebuah portal cahaya muncul. Jantungnya hampir keluar dari tenggorokan. Namun Zack menarik tangannya, memaksa Lean segera memasuki portal. Lean menolak, balas menarik lengannya.
“Masuk!!” Anita menendang pantat Lean, membuatnya tersungkur dan langsung memasuki portal. Portal itu tepat menghilang sebelum Gean melihat keberadaan tiga orang tersebut dari layar pemantau. Lucky bahkan lebih dulu berteleportasi. Gean menatap lamat-lamat video dari CCTV yang ditempatkan di tempat Lean disekap. Tidak ada siapapun di sana. Bahkan sirene berbunyi di tempat yang tidak bermasalah.
"Lucky Van," gumam Gean setelah menatap satu persatu anggota pengawas yang tergeletak di lantai. Gean hafal betul, hanya Lucky yang tidak terlihat. Gean menekan tombol di monitor CCTV, berusaha mencari keberadaan Lucky di seluruh istana. Tidak ada apapun. Sebelum meninggalkan tempat itu, Lucky sudah memanipulasi seluru rekaman yang menampilkan Zack dan Anita.
***
Napas Zenith mulai tidak beraturan. Lixe melompat ke depannya, menangkis pedang yang terayun ke pada Zenith. Gawat, Lixe melirik ke kanan. Seorang lawan melemparkan tombak ke arahnya. Lixe meringis ngilu.
Dor.
Sebuah peluru menghempaskan tombak tersebut. Membelanya menjadi dua dan terjatuh ke tanah. Lixe menoleh ke arah datangnya peluru. Dia terdiam seribu bahasa. Pandangannya teralihkan.
Dor. Dor.
Lean kembali menembak. Dua prajurit yang hendak menusuk Lixe saat dia lenga tertembak. Tidak fatal, tapi Zenith memukul keduanya mundur.
Aizla yang terbang dengan satu sayap terjatuh di dekatnya. Lixe menelan ludah. Hendak menangkap tubuhnya. Namun sabitan cahaya kembali melesat ke arahnya. Tubuhnya bergerak menunduk seolah terseret sesuatu. Dia melirik Roy'ah yang ngos-ngosan berusaha mengendalikan dirinya.
Naasnya, sabitan cahaya itu justru mengenai busur Riyal. Riyal mengumpat dalam hati. Busurnya patah.
Anita melemparkan sebuah senapan yang dia rebut dari salah seorang lawan pada Riyal. Riyal menatapnya kagum. Dia sempat mendengar kabar Anita yang pergi meninggalkan Kerajaan Argio. Tidak disangka dia akan bertemu di sini.
"Kita tidak akan menang! Mereka terlalu banyak!" Anita berseru saat melihat sekumpulan pegasus yang terbang ke arah mereka.
Lixe memicingkan mata. Mengamati orang yang mengemudikan pegasus di barisan paling depan. Benar, dia ingat dengan orang itu.
"Yang dikatakannya nyonya Anita memang benar. Kau dengar Putriku? Pergi dari sini! Jangan ikut campur kalau kau tidak ingin mati," Aira tersenyum sinis pada Aizla yang berusaha berdiri sembari memegangi pundaknya yang terluka.
"Kenapa Ibu peduli aku mati atau tidak? Bukankah Anda ingin aku mati?" tanya Aizla.
Aira tidak menghiraukannya. Dia mengamati pemimpin pasukan pegasus yang baru saja tiba. "Panglima Agung Dirata?" gumam Aira.
Dirata merespon dengan baik. Dia menoleh ke kanan. Mengangkat kaki kanannya dan menendang Lixe.
Sepasang sayap putih muncul di punggungnya. Sepasang sayap itu menahan tubuhnya tetap seimbang di langit. Tatapan Lixe penuh dengan amarah. Dia memandang Dirata sebagai penyebab terbunuhnya ibunya.
"Kau Lixe?" tanya Dirata linglung.
Lixe mengangguk. Tak buang waktu lagi, lima sabitan bulan muncul di sekelilingnya. Kelimanya langsung terbang pada Ditata. Seorang bawahan Dirata hendak menghentikan serangan itu. Sedang beberapa yang lain menembak Lixe.
"Dia akan mati," ujar Aira yang menontonnya dari bawah.
"Akh!"
Aizla memukul pipi Aira dengan tangan kanannya. Hatinya sakit. Aizla dan Aira meringis bersamaan.
"Dia tidak akan mati. Dan aku, juga kami semua tidak akan mati."
"Cih." Aira balas melayangkan pukulan. Aizla menangkisnya. Keduanya mulai saling serang dengan serius. Aizla menahan rasa sakit dimana hatinya tersayat setiap kali Aira terkena serangannya sendiri.
Duar!
Ledakan terjadi di langit. Butiran cahaya berjatuhan. Bal mengamati butiran cahaya tersebut.
"Awas!!" Bal melakukan telepati pada semua sekutunya. Dia tidak sudi memberitahu lawan tentang seberapa bahayanya butiran cahaya di atas sana.
"Percuma, kita tidak bisa menghindar." Riyal menggeleng keras.
Zack menoleh ke sekitar. Hatinya bilang, seseorang akan menyelamatkan mereka. Benar saja, Zenith tersenyum. Sebuah bayangan membentuk sebuah kubu kecil yang menutupi masing-masing dari mereka. Gusion mendadak muncul di tengah-tengah keributan.
Bukan hanya teman-temannya, Gusion pun menyelimuti para pasukan yang menyerang teman-temannya dengan Kuba. Melindungi mereka semua dari butiran cahaya yang diciptakan Lixe. Namun dia membiarkan dirinya menerima butiran cahaya.
Gusion berdiri dengan mendongak. Dia mengatupkan rahang, menahan rasa sakit saat cahaya itu menembus pakaiannya dan jatuh di kulitnya. Seolah jarum es menusuk kulitnya, Gusion mulai gemetar kedinginan.
"Apa dia, Pangeran Gusion?" tanya Dirata menunuduk. Dia mengamati wajah yang begitu familiar. Tidak akan pernah dia lupakan.
Para bawahannya pun termenung. Mereka juga familiar dengan wajah itu. Bahkan bayangan Raja sebelumnya muncul di benak masing-masing. Begitupun musuh yang dinaungi di dalam kubu buatannya.
Lixe kehilangan kendali atas dirinya. Sebuah pedang cahaya muncul di kedua tangannya. Lixe mengayunkannya ke arah Dirata tanpa ampun. Dirata melompat dari pegasus-nya. Dia mengangkat tangan kanan, memberi isyarat agar para pasukannya tidak ikut campur.
"Kenapa kau membunuh ibuku! Apa salahnya padamu?! Kau kejam! Aku akan membunuhmu!" Lixe menyilangkan pedangnya di depan dada, lalu mengayunkannya ke bawah. Sabitan cahaya berbentuk silang melesat cepat. Dirata menatap kosong.
Dor. Meski dalam keadaan terpuruk, Dirata menembak sabitan cahaya yang akan membunuhnya. Dirata menarik napas.
"Kau tanya apa salahnya? Dia sudah membunuh..," jawab Dirata setelah menguatkan hati. Lixe menggigit bibir. Kali ini mengayunkan pedangnya ke arah leher Dirata.
Pegasusnya meringkik, terbang turun menangkap tubuh Dirata yang jatuh. Dirata dengan sigap menaiki pegasusnya. Pergi menghindari serangan Lixe.
Lixe berbalik. Memutar pedang di tangan kanannya. Lalu melemparnya.
"Nggiiiiiik!" Pedang itu tepat menancap di kaki belakang sebelah kiri sang pegasus. Dirata menoleh ke belakang. Dia menembakkan tiga peluru beruntun pada Lixe. Lixe menangkisnya dengan pedang di tangan kiri.
Saat Dirata hendak menembakkan peluru keempat, sebuah suara membuat gerakannya terhenti.
"Paman! Tante Lia tidak membunuh siapapun!" Gueta yang menunggangi seekor elang berseru panik.
"Paman Geor membohongimu! Dialah yang sudah membunuh Ibu!" Gueta menarik napas. Membiarkan Dirata mencerna ucapannya baik-baik.
"Paman! Lixe berhenti!" Gueta berseru panik. Para pasukannya menembakkan peluru pada Lixe.
Terlambat, tidak ada yang dapat menghentikan Lixe. Saat Dirata menoleh pada Gueta, Lixe memberikan sayatan panjang di punggung Dirata.
Dirata terjatuh dari pegasusnya yang juga kehilangan keseimbangan.
Duar!
Ledakan hebat terjadi. Peluru yang ditembakkan mengenai tubuh Lixe.