
Malam harinya, Bal tidur di kamar nomer 4 bersama empat anak lainnya. Mereka mengobrol sebelum tidur. Bal bersyukur dia diajak bicara walau lebih suka mendengar. Apa yang bisa Bal ceritakan? Meninggal? Lalu hidup lagi sebagai robot. Lucu sekali.
Pukul 10 malam, akhirnya anak-anak itu tidur setelah diteriaki Bella. Umurnya tidak jauh beda dari mereka, tapi keberaniannya sungguh ditakuti di sini.
Setelah memastikan semua yang ada di luar tidur, Bal bangun. Dia membuka jendela di kamar itu. Lalu melompat keluar. Dengan bantuan teknologi yang tertanam di kaki robotnya, Bal mengambang dan terbang secepat kilat, juga membuat dirinya tak terlihat. Tujuannya, laboratorium Suku Abta.
Sebelumnya, dia sudah membaca pikiran Yase soal lab itu. Suku itu memiliki prajurit bayaran sendiri. Mereka membuat alat-alat canggih, dan memanfaatkan manusia sebagai bahan percobaan. Dan korban yang paling banyak berjasa di sana, Aizla Abta. Pewaris Gelar Kepala Keluarga Suku Abta.
Akhirnya Bal sampai di depan gerbang laboratorium. Gerbang itu tidak terlalu tinggi. Tapi Bal tahu, sebuah listrik memancar dari dasar gerbang hingga 10 meter di atas ujung gerbang.
Bal menghela napas. Dia memejamkan mata. Sebuah bayangan sidik jari yang tertempel di gerbang putih itu tampak. Pandangannya menembus hingga ke dalam. Orang-orang yang tidur di ranjang-ranjang besi dengan alat yang melilit leher, juga yang mengenakan alat di kepala. Juga ilmuwan-ilmuwan yang mondar-mandir.
Bal berusaha menemukan Aizla. "Dimana anak malang ini?" batinnya.
Bal menyusuri semua lantai gedung 3 tingkat ditambah basemen menjadi 4 lantai tanpa tersisa. Tapi dia tidak menemukan Aizla. Bal membuka mata. Sepertinya dia harus masuk jika ingin menemui Aizla.
3 meter tinggi gerbang itu, ditambah 10 meter. Bal yakin bisa melewatinya. Tubuhnya terbang, pegas di telapak kakinya semakin kuat. 10 detik, Bal sudah setengah badannya sudah keluar dari zona 13 meter. Dia mengayunkan tubuh ke depan. Bersalto di udara dan berhasil memasuki zona aman yang mendebarkan.
Bal langsung memasuki salah satu jendela di lantai ke tiga yang terbuka. Para kesatria sedang tertidur dengan alat yang menempel di tubuh mereka.
Sebuah teriakan terdengar. Seorang kesatria menjerit kesakitan, sesuatu terjadi di alam bawah sadarnya. Bal menatapnya miris saat seorang ilmuan menyetrum tubuh orang itu dengan sengatan listrik dari benda sekecil pulpen. Membuat orang itu tak sadarkan diri. Tubuhnya jatuh dari ranjang, Beberapa kabel yang tertancap di tubuhnya putus. Laki-laki itu kejang.
Bal berusaha tidak peduli. "Aku robot. Bersikaplah seperti robot, Bal." Bal menguatkan diri. Dia menuruni tangga.
Menurut pikiran Yase, Aizla mendapat paksaan untuk menjadi yang paling hebat. Ibunya yang terobsesi dengan kekuatan, mengorbankan anaknya menjadi sebuah bahan percobaan hingga putrinya kehilangan penglihatannya.
Di lantai dua juga tidak ada. Bal tidak menyerah, dia turun ke lantai dasar. Berkeliling di ruang yang sempit. Langkahnya terhenti di depan ruang berkaca.
"Kak Aizla. Kau bisa mendengarku?" tanya Bal berusaha melakukan telepati, mengingat dari tadi dia bisa membaca jeritan, tangisan, dan segala penderitaan yang orang-orang itu terima.
"Oh, siapa ini?" Aizla membalas. Tapi Bal yakin itu bukan suara Aizla.
"Siapa kau?"
"Hahaha! Kau peka ya? Namaku Biete Abta, jiwa lain yang tertanam di dalam tubuh Nona muda Aizla." Biete tertawa keras. Membuat sakit kepala Bal yang menerima langsung aura mengerikannya.
"Siapa kau, Nak?" tanya Biete.
"Bal Van. Ingin bicara dengan Nona Muda Aizla, boleh?"
Biete terdiam. Auranya melemah. "Silahkan. Dia akan senang punya teman baru."
Sejak saat itu, Bal mulai mencoba bicara pada Aizla. Aizla yang tidak punya teman seumur hidupnya menerima dengan senang hati Bal. Walau dia tidak terlalu terbuka, setidaknya itu awal yang baik bagi Bal. Karena sejak awal, Bal memang tidak tertarik menjalin pertemanan. "Maaf."
"Tugasku hanya merebut potongan permata naga langit putih dari ibu Anda."
Sayangnya Biete mengetahui rencana Bal. Tapi dia tidak peduli. Justru memberi tawaran.
"Aku akan membukakan jalan menuju potongan permata kerajaanmu kalau kau memberiku ingatan seorang bangsawan Argio." Biete tersenyum jahat.
"Jangan berpikir aku sok tahu. Karena akulah yang mencurinya dari Raja Zecda dulu. Hahaha."
"Deal." Bal mengangguk mantap. Biete tertawa riang.
"Dasar arwah gentayangan yang dipenuhi ambisi balas dendam," batin Bal.
"Kau juga, bukan?"
Bal mengangguk. Aku hanya robot, tak punya perasaan.
***
Dan hari ini, Bal memenuhi janjinya.
Sore hari dengan perpaduan warna kuning, jingga, dan merah di langit Dielus. Lixe berjalan sendirian tanpa arah. Dia hanya ingin menenangkan pikiran.
Langkahnya terhenti, puluhan prajurit berlari dari lapangan. Mereka lalu berhenti dan berpencar, saling memberi salam.
Lixe melihat Gusion yang berdiri di tengah lapangan, tengah basah kuyup oleh keringat. Lixe menghampirinya. Gusion yang melihatnya mengukir senyum tipis.
Lixe menundukkan kepala saat jarak mereka tinggal 1 meter. Gusion tidak bisa membaca pikirannya. Dia hanya bisa diam.
"Saat itu, bagaimana kau bisa menemukan kami?"
"Kapan?"
"Saat di Kerajaan Argio."
"Kau jadi pergi?"
Lixe menggeleng. Perjalanan itu dilalui dengan akward. Namun sejak pertarungan di kerajaan Argio, setidaknya perang dingin di antara keduanya menghilang.
***
Keesokannya, Bal membangunkan Lixe. Anak itu minta maaf karena telah mengganggu Lixe. Tapi dia selalu membalas dengan senyuman. Bal duduk di sebuah kursi. Lixe turun dari ranjangnya dan ikut duduk di samping Bal.
"Ada apa?" tanya Lixe dengan setengah kesadarannya.
"Tuan Zecda menyuruh Kak Lixe menemukan potongan permata Naga langit putih bukan?" Lixe mengangguk keras. Matanya seratus persen terbuka.
"Ayo! Aku akan mengantar Kakak." Bal berdiri."Menuju Panti Asuhan Lily."
Lixe menelan ludah. Baiklah, apapun itu. Lixe bersiap dengan cepat. Lalu membuat portal cahaya.
Sesuai yang dikatakan Bal, mereka tiba di sebuah panti asuhan. Lixe menoleh ke belakang, seseorang berjalan mendekati mereka.
"Selamat pagi. Kuharap perjalanan kalian menyenangkan, iya kan?" sapanya.
Lixe menatapnya lamat-lamat. Wajah itu asing, tapi aura ini.
"Biete?" tebaknya.
"Aku penggila popularitas, jadi aku sangat senang sekali kau mengenaliku."
Biete mengikat jiwa yang lain, merasuki tubuhnya. "Orang ini benar-benar kejam," batin Lixe.
Biete yang tidak mendengarnya tertawa. Dia berbalik, memberi kode agar dua orang itu mengikutinya.
"Jadi kau punya teman sungguhan ya, Bal? Kukira, orang selicik dirimu tidak punya teman," batin Biete. Dia melirik Bal di belakangnya.
Bal menundukkan kepala. Dia benar, Lixe yang berjalan di sebelahnya memegang pundak Bal. Dalam hati Lixe berkata, "Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Apa yang dia katakan tentangmu. Tapi tetaplah percaya padaku. Aku ada di sisimu, Bal."
"Kakak sudah terlalu baik padaku. Aku tidak berharap banyak pada Kakak."
"Aku juga."
Bal menelan ludah. Tidak menyangka seorang Lyde akan mengatakannya.
Sepanjang perjalanan. Biete menyapa orang-orang yang berlalu lalang dengan ramah. Beberapa balas melambaikan tangan. Beberapa justru menatap aneh. Biete sangat menikmati suasana pagi ini. Ini pertama kali baginya jalan-jalan dengan luas seperti ini.
"Nenek ramah sekali," celetuk Lixe saat Biete menangkap dan menggendong seekor kucing yang kabur dari pemiliknya.
Pemilik menghampiri, dia berterimakasih. Biete dengan senang hati menyerahkan kucing itu pada pemiliknya. Biete sungguh terlihat sangat ceria. Lixe bertaruh dulunya dia adalah gadis yang sangat baik hati.
"Semua pada dasarnya baik, Cu. Bahkan mereka yang kalian anggap jahat. Aku ini sudah hidup 17 abad. Aku lebih tahu daripada kalian." Biete tertawa. Dia tidak peduli apakah ada yang mendengar ucapannya atau tidak. "Karena kau panggil aku nenek, aku akan panggil kau cucu. Impas kan?"
Lixe menelan perkataan Biete. Mungkin dia benar. Seandainya ada kesempatan, Lixe akan menanyakan banyak hal. Segalanya, tentang dunia yang gelap dan terang. Seterang Suku Van yang suci. Dan segelap Suku Lyde yang terkutuk. Dia seolah berada di atas jembatan rapuh yang menghubungkan dua pulau. Jembatan itu, bisa runtuh kapan saja.
Ketiganya berhenti di depan gerbang istana. Tidak. Biete mengajak mereka bersembunyi di balik tumpukan kota. Kota-kota itu terlihat mewah dan mahal.
"Luarnya saja sudah begini. Bagaimana dengan isinya ya?" gumam Biete. Tidak ada yang menyahut. Siapa peduli.
"Hari ini Tuan Putri ulang tahun." Bal menyampaikan informasi yang dia dapat dari anak-anak panti kemarin. Biete mengangguk. Dia menepuk tangan. Membuat dua orang yang serius mengawasi sekitarnya melompat kaget.
"Ayo jadi pelayan? Dekor? Atau apapun." usul Biete.
Lixe mengangguk keras. Dia setuju sekali. Soal menyamar, Lixe pernah belajar tentang itu dari ahlinya.
"Suku Lyde harus pandai menyamar, Lix," ucap ibunya. Terimakasih, Bu.
Bal ikut mengangguk. Kalau ini tidak merugikan dan menguntungkan untuk Lixe. Sebisa mungkin, Bal ingin membalas kebaikan Lixe.
"Baiklah Generasi Z! Ayo kita menyamar!" Biete berseru dengan suara kecil.
***
Di dalam istana Tuan Putri Tara duduk manis di atas sofa empuknya yang menghadap jendela.
"Mulai hari ini, umurku sudah 12 tahun. Demi 12 kali revolusi bumi, hari ini aku akan keluar dengan bebas." Tara membuka jendela dengan tangan gemetar. Bukan karena takut ketinggian, walau memang dia ada di lantai 3. Tapi karena seumur hidupnya, dia tidak pernah terjun ke bawah cahaya langsung. Membiarkan angin menerpa wajahnya. Menerbangkan rambunya yang lurus dan tergerai.
Tara merasa dirinya ada diambang kebebasan dan bayang-bayang yang selama ini mengikat hidupnya. Sayangnya, pintu itu begitu rapuh.
"Malaikat, kapan kamu datang?"