
Sorenya....
Sebuah portal cahaya muncul di ibu kota Kerajaan Argio. Gueta membuat seluru kerajaan Argio gempar dalam sekejap. Dia dan pasukan berkudanya menarik perhatian masyarakat, dalam sekejap menjadi trending topic selama beberapa hari ke depan.
Aizla dan Zenith merapat di samping jalan bersama orang-orang yang menyambut kedatangan rombongan itu.Aizla menutup mulut. Betapa takjubnya dia dengan parade ini. Sedangkan Zenith juga menutup mulutnya. Tapi bukan takjub, gadis era modern itu menahan tawa.
"Sudah kuduga akan seperti ini," bisik Zenith di telinga Aizla.
Mobil-mobil berhenti di jalanan. Bukan karena apa, tapi Aizla memadamkan listrik satu Kerajaan. Tidak ada mobil yang bisa berjalan. Lampu lalu lintas, drone, bahkan lampu saja tidak dapat menyala.
Seekor kuda meringkik. Mengangkat kakinya. Orang-orang menatapnya takjub, bahkan Aizla menjadi orang pertama yang bertepuk tangan. Suasana sore itu terlihat begitu klasik baginya.
"Aku belum pernah melihat kuda!" Aizla berseru kegirangan. Dia menatap Zenith dengan mata berbinar.
Zenith balas menatap nanar. Dia memegangi kepalanya yang tidak pusing. Tak habis pikir Aizla akan mengatakannya.
Zenith menggeleng pasrah.
Dia menarik lengan Aizla keluar dari kerumunan. Dia mengingatkan Aizla pada ketiga temannya yang tertangkap. Mereka berlari mengejar rombongan itu. Sayangnya akibat pemadaman listrik terjadi, orang-orang harus berjalan. Mereka memenuhi trotoar. Saling berdesak-desakan. Ini menghambat laju Aizla dan Zenith.
***
"Ada apa ini?Katanya, Kerajaan lain sudah memajukan teknologi mereka. Mana?!" Gueta berseru. Dia menoleh ke segala arah. Dia akui banyak benda-benda aneh di sini. Lampu yang dengan panel Surya di atasnya, Gedung-gedung pencakar langit dengan dinding-dinding kaca yang indah. Juga mobil-mobil mewah yang berhenti di jalanan.
"Apa mereka sedang menyambut diriku?" batin Gueta kege'eran. Dia tersenyum bangga. Lupakan! Suasana di kerajaannya lebih menyenangkan.
Hati Gueta mendadak sakit. Seolah sebagian jiwanya sedang tersiksa. Dia mencoba bernapas lebih baik. Tidak bisa. Pikiran Gueta kacau. Dia meremas tali kekang kudanya.
"Ada apa lagi denganmu? Apa kamu baik-baik saja, Malaikatku?"
***
Sesampainya di istana, mereka disambut hangat langsung oleh Arian. Gueta dan rombongannya serempak turun dari kudanya. Mereka memegangi tali kekang kudanya. Gueta mengelus lembut leher kudanya yang lalu menghilang. Juga kuda para rombongannya.
Mereka dipersilahkan masuk. Tapi perlakuan baik yang ia dapatkan tetap tidak bisa membuatnya tenang. Gueta sudah melangkahkan kakinya ke dalam istana, dan hatinya semakin tidak tenang.
"Apa Anda tidak apa-apa?"
Gueta menoleh. Riyal bertanya ramah. Walau wajah datar dan polos itu terlihat seperti mayat hidup yang berjalan, Riyal cukup perhatian pada seseorang. Gueta tersenyum ramah. Dia mengangguk.
Riyal tidak membalasnya lagi. Dia tetap melihat lurus ke depan. Kembali mengabaikan keadaan sekitarnya.
Mereka berhenti di depan pintu kaca ruang makan yang terbuka dengan sendirinya. Gueta mengatupkan rahang. Baiklah, dia menyaksikan kecanggihan itu.
Kursi-kursi keluar dari lantai. Berjajar rapi di sekeliling meja. Angin kencang menerpa wajah Gueta saat menginjakkan kaki ke dalam ruangan. Gueta mendongak. Setiap sudut ruangan persegi lima itu dipasang pendingin ruangan. Pengharum ruangan juga disemprotkan. Sambutan ini sungguh membuatnya terpesona.
"Putri!"
Gueta menoleh.
"Saya hendak meninggalkan Anda. Semoga menikmati jamuan kami." Riyal menunduk. Memberi salam lalu berbalik pergi. Meninggalkan Gueta beserta rombongannya bersama Roy'ah dan Arian.
Arian ganti menyambut hangat tamunya.
”Kemana dia akan pergi?” batin Roy’ah saat melihat gelagat Riyal yang agak mencurigakan. Dia hendak mengejar Riyal. Namun Arian menghentikan langkahnya. Menyuruhnya tetap diam menyambut tamunya. Sebagai gantinya, Arian memberi kode pada salah satu prajuritnya untuk mengikuti Riyal.
“Ada masalah yang sedang mereka sembunyikan,” batin Gueta melirik sekitarnya. Dia tersenyum sembari mengepalkan tangan. Gueta membuka kepalan tangannya. Sebuah kumbang kecil keluar dari sana. Terbang tanpa disadari siapapun mengikuti langkah prajurit tersebut.
“Mari putri,” Arian yang sudah masuk terlebih dahulu mempersilahkan Gueta masuk.
***
Riyal mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku kemejanya. Dia mengelurkan mata pisaunya. Terus menuruni tangga ke penjara bawah tanah yang memang tanpa penjaga. Riyal memanfaatkan situasi dimana CCTV di lorong mati. Teknologi menuju ke bawah belum pulih. Setidaknya itu menguntungkan.
Crack.
Lixe yang masih terpaku diseret Xiota dengan langkah semposongan keluar. Namun Xiota hendak memukul Riyal. Lixe menahannya.
“Hei! Cepat keluar, sebelum penjara ini kembali pulih,” ucap Riyal setengah berseru dengan tampang kakunya. Gusion terpaku di tempat. Merasakan sesuatu yang familiar. Dia memandang penasaran apa yang ada di belakang Riyal sembari berjalan keluar. Tepat setelah dia melangkahkan kakinya keluar, potongan-potongan jeruji besi itu kembali menyatu dan saling merekat. Kembali ke bentu awal, seolah tidak pernah ada yang menghancurkannya.
Seorang prajurit yang mengikutinya sejak tadi menggengam belati, hendak menikamnya dari belakang. Riyal menoleh. Tapi prajurit itu sudah tidak bernyawa. Sebuah racun masuk ke dalam tubuhnya. Membuat wajahnya pucat pasih dan bibirnya mengeluarkan darah biru. Namun tubuhnya yang kaku membuatnya berdiri tegak.
Seekor kumbang terbang dari belakang tengkuk prajurit tersebut. Kemudin mendarat di bahu Lixe. Lixe melompat kaget. Dia menduga kumbang tersebut akan meracubninya juga. Tapi kumbang itu sungguh tidak berbuat apapun. Gusion melirik kumbang tersebut. Dia tersenyum saat kumbang itu balas menatapnya.
“Ayo pergi!” ajak Riyal.
Tidak ada yang bergerak. Meraka sama-sama menatap tidak percaya pada orang yang menjerumuskan mereka ke dalam penjara ini. Xiota menjadi orang pertama yang menggeleng keras. Dia menarik lengan Riyal. Tatapan keduanya bertemu, seolah sebuah petir menyambar dari kedua pasang mata.
“Aku tidak percaya padamu.”
“Kau tidak perlu percaya apapun. Kalau kau ingin mati silahkan. Aku hanya menolong Lixe.”
Seluruh pandangan tertuju pada Lixe. Yang dipandang menganga sambil menunjuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa demi dirinya. Riyal menatapnya sayu, tatapannya memang selalu kosong. Tapi yang satu ini sepertinya memiliki arti tersendiri.
“Kenapa?”
Riyal mengangkat bahu. Mengabaikan pertanyaan tersebut. Dia mulai bejalan. Gusion menyeret lengan Xiota untuk mengikuti orang tersebut. Lixe sudah berlari lebih dulu menyaingi langkah Riyal. Keduanya berjalan beriringan. Bukannya menuju tangga ke atas. Riyal justru mengajak mereka menyusuri lorong terang yang panjang. Xiota mulai curiga, bahkan Lixe pun merasakan aura berbahaya.
Dalam hatinya rasa gelisah muncul. Lixe menoleh pada Xiota di belakangnya. Kawannya itu sudah mebggeleng tidak ingin ikut sedari awal. Dia terus berbisik pada Gusion agar melepaskannya. Sayangnya Gusion benar-benar tidak mendengarkannya. Kali ini Lixe yang angkat bicara.
“Kau mau mengajak kami kemana?” Lixe menghentikan langkah.
Riyal sama sekali tidak peduli. Dia terus berjalan, masih setia menyusuri lorong yang tidak terlihat ujungnya. Lixe mengamati lorong di depannya. Tidak ada apapun. Kumbang di pundaknya terbang mendahului Riyal. Kumbang tersebut menghilang dari pandangan mata. Lixe berseru tertahan. Sementara Gusion lengah, Xiota melepas genggaman yang mengunki tangannya.
“Mau kau apakan kami?” Xiota mencekik leher Riyal dari belakang.
“Pangeran bilang, suatu hari saat aku bertemu Lixe,” Riyal melirik Lixe. “Aku harus mengembalikan ingatannya. Kemudian meminta maaf karena saat itu dia tidak kuasa menolong kalian.”
Lixe menelan ludah. Tidak ada yang memahami ucapan Riyal. Tiganya bertukar pandang. Xiota melepaskan leher Riyal. Membuat kakinya yang terhenti kembali berjalan. Kali ini tidak ada prasangkah buruk yang melintasi pikiran mereka. Digantikan rasa penasaran.
Mereka menghilang tepat sedetik setelah CCTV di lorong kembali menyalah. CCTV itu sempat memberi sinyal bahaya. Riyal melirik CCTV tersebut.
“Kalau aku mati sekarang pun tak apa. Tugasku sudah selesai.”
Lixe mengantupkan rahang. Mereka tiba diruangan tempat rubik memori disimpan. Ruangan yang mereka hancurkan beberapa hari yang lalu sekarang berubah total. Tidaka ada lagi lantai kayu, digantikan lantai marmer mengkilap yang memantulkan bayangan. Seluru ruangan dipenuhi cat putih yang mengkilap bagai Kristal. Di setiap mereka memandang, mereka dapat selalu melihat bayangan masing-masing.
***
“Ayah?” bisik Roy’ah yang duduk di samnping Arian. Gelang merci hitam yang melingkar di tangan kirinya berubah menjadi putih. Roy’ah menghentikan gerakan tangannya yang hendak memotong daging.
“Pergilah. Urus mereka.”
Roy’ah berdiri. Tanpa pamit meninggalkan ruang makan.
“Tidak sopan,” batin Gueta sembari terus mengunya pelan daging yang empuk di mulutnya. Arian menatapnya, pria itu seperti bisa menebak isi pikiran Gueta. Gadis itu cukup peka dengan tatapan itu. Gueta tersenyum ramah. Berusaha melupakan hal tersebut.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Gueta berseru bahagia. “Kita bertemu kembali, Sebagian jiwaku.”
***
Kumbang tadi kembali hinggap di pundak Lixe. Entah bagaimana, tapi rasanya Lixe merasa dirinya sedang diamati melalui kumbang tersebut. Tapi sebuah ketenangan tersendiri muncul. Lixe merasa sesuatu berbisik padanya agar tidak membiarkan kumbang itu pergi.
“Selamat datang tamu kehormatan. Beri hormat.”
Sebuah lubang besar muncul di langit-langit. Roy’ah keluar dari dalamnya. Tubuhnya mengambang tidak jauh dari mereka. Dia menatap rendah orang-orang di depannya. Riyal berlutut dan menundukkan kepala hormat. Begitu juga Xiota dan Lixe. Tidak dengan Gusion. Bayangannya yang terpantul dari lantai marmer di bawah kakinya muncul ke permukaan dan menahan kakinya yang juga hendak berlutut.
Roy’ah mendengus sebal. Dia tidak suka sesuatu yang bertentangan dengan kehendaknya.
"Aku menantangmu." Roy'ah menunjuk Gusion.