AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Anak baru yang menggemparkan



Aizla mempersilahkan Xiota, Gusion, dan Lixe memasuki kafe paling terkenal di pusat kota. Itu kafe milik Lean, sikap Lixe mendadak kaku. Xiota menarik tangan Lixe. Malam ini mereka bertiga akan ditraktir Aizla sesuai janji.


"Ku pikir kau yang akan mentraktir," sindir Gusion saat Aizla menyodorkan uangnya pada seorang pelayan yang telah mengantarkan makanan ke tempatnya. Xiota terkekeh. Dia menggeleng. Hari ini uangnya yang menipis selamat.


Lupakan, Xiota dan Gusion tidak akan sungkan di depan makanan. Keduanya melahap stik di piring masing-masing. Aizla tersenyum, menyembunyikan rasa sebalnya. "Nenek sialan," batinnya teringat janji Biete tadi pagi.


Lixe tampak tidak bersemangat. Dia berdiri. Izin pergi sebentar. Tapi tidak berkata apapun lagi. Sahabatnya mempersilahkan. Moodnya benar-benar tidak baik. Malam ini, Lixe berharap bertemu Lean. Setelah dipikir-pikir, dia harus mendapatkan potongan permata naga langit putih darinya.


Biete mengikutinya dari belakang. Biete memegang pundaknya. Lixe menoleh. Dia yakin itu Biete. Lixe kembali fokus menuruni tangga


.“Akh!”


Pyar.


“Maaf.” Tanpa disadari, Lixe menyenggol seorang pelayan kafe.


Nampan di tangan wanita itu jatuh. Lixe membantunya membereskan kekacauan.


Wanita itu tersenyum. Lalu menuruni tangga tanpa mengatakan apapun. Lixe


memandangnya hingga wanita itu sampai di lantai tiga, lalu berbelok menuju


tangga yang menghubungkan lantai tiga dengan lantai dua. Langkahnya cepat walau


dia tengah mengenakan hills 10 cm. Rambutnya yang dikuncir dua samping atas,


juga beberapa rambutnya yang putih terlihat mencolok di antara rambut hitamnya. Sepertinya


Lixe tidak akan melupakan orang itu.


 “Kenapa di tempat


seperti ini mereka tidak menggunakan jasa robot?” batin Lixe. Lixe memandang sekitarnya.


Kini dia berdiri di lantai tiga. Beberapa pelayan mengantarkan pesanan. Tidak


ada yang menunjukkan tanda-tanda keberadaan Lean. Lixe sempat mencurigai sebuah


ruangan staff di pojokan lantai tiga ini. Dia sudah berjalan cepat menuju


ruangan itu.


“Anda dilarang masuk. Hanya staff yang boleh masuk. Kita


sama-sama manusia, jadi saya mohon Anda menghormati privasi kami.”


Langkah Lixe terhenti. Dia menoleh. Qiana berjalan mendahului


LIxe memasuki tempat itu. Qiana mengeluarkan sebuah kartu keanggotaan.


Menempelkannya di pintu. Seketika pintu itu terbuka. Qiana melirik Lixe sebelum


memasuki ruangan.


Kata-kata Qiana sangat memengaruhi pikirannya. Lixe


mengurungkan niatnya. Lixe malah berdiri di depan dinding kaca yang menampilkan


jalanan malam yang dipenuhi lampu kendaraan dan drone yang berlalu lalang. Sebuah


mobil mewah berwarna hitam yang berkilau di dekat kerlap-kerlipnya cahaya


berhenti di pinggir jalan. Pintunya terbuka, seorang wanita keluar dari sana.


“Dokter Era!” Lixe berseru kaget. Dia memukul dinding kaca.


Lixe mundur dua langkah. Sebuah lingkaran cahaya terbentuk di dinding kaca itu.


Lixe melompat masuk, berhasil menembus dinding itu. Lixe jatuh dan mendarat sempurna


di hadapan Era.


Era tersenyum. “Hari ini aku tidak akan lari darimu. Jadi


apa yang kau inginkan?” Mobil di belakangnya kembali melaju meninggalkannya.


“Potongan permata naga langit putih. Dan Lean.”


 “Lean tidak ingin


bertemu denganmu.” Era mengulurkan sebuah permata putih. Dia melirik Biete. “Terlebih


kalau kamu bersama nenek itu.” Era menunjuk Biete.


Lixe menoleh kea rah yang ditunjuk Era. Dia tidak melihat


siapapun. Bagaimana Era bisa melihat Biete. Biete mendekat, mencoba mengamati


orang itu dari dekat. Era tersenyum risih. Biete merasa pernah melihat orang


ini.


Lixe menerima permata itu tanpa banyak tanya. “Tolong katakan


pada Tuan Lean, dimana aku bias bertemu First Lyde. Kalau dia tidak ingin


menerimanya, aku bersedia menampungnya.” Lixe pergi. Meninggalkan Era yang


masih diintrogasi Biete. Malam ini Lixe tidak tertarik mengikuti acara


traktiran Aizla. Dia berjalan menuju istana Dey.


Biete memandang Era sehingga jarak andara kedua wajah itu


hanya lima senti. Era memalingkan wajah. “Menjauhlah dariku!” Era berjalan


memasuki kafe. Tapi Biete masih terus membuntutinya. Era mempercepat langkah.


“Lyde juga?” tebak Biete. Era mengangkat bahu. “Tapi bola


matamu terlalu indah untuk….,”


Era mendengus. Dia meremas jemari. Sepertinya tidak suka


dipuji tentang bola matanya. Biete mengangkat alis.


“Tidak baik Anda mengikuti seseorang seperti itu, bukan?” Qiana


berdiri di depan Era. Anak itu menatap Biete tajam. Yang ini, cukup dilihat


sekali saja Biete sudah bisa menebak dia seorang Dey. Biete berkacak pinggang.


Hanya beberapa saat saja, Biete yakin dia hanya melamun beberapa saat. Tapi


begitu tersadar, Era dan Qiana sudah menghilang. Biete menyebar pandangan seperti


orang linglung. Dia memijat keningnya. Apa yang terjadi pada dirinya.


Setelah memasuki gerbang istana Dey. Lixe melihat Bal


berdiri dengan matanya yang bercahaya terbuka lebar. Lixe melompat kaget. Bal


benar-benar terlihat seperti sebuah patung. Hanya rambut lima sentinya yang


berkibar diterpa angina malam. Bal melirik Lixe. Tidak ada yang ingin ia


tanyakan, Bal sudah mendapat semua jawabannya.


“Apa yang kau lakukan malam-malam begini?”


“Mengintai seseorang,” jawabnya singkat. Lixe mendekat. “Kakak


tidak perlu membantu, terimakasih. Lebih baik Kakak mengantarkan apa yang telah


Kakak dapatkan pada Tuan Zecda.”


Lixe teringat akan hal itu. Dia berlari menuju istana raja.


Lixe tidak pernah tertarik menaiki kendaraan, kecuali ada yan mengajaknya.


Membuat deru napasnya terdengar memburu. Sejujurnya Bal ingin menawarkan motor


Zenith yang terparkir selama sehari tidak beroperasi. Sayangnya, ini bukan waktu senggang bagi Bal. Bal kembali fokus dengan targetnya.


“Ada yang bisa ku bantu? Mau pesan minuman?” Sebuah suara


terdengar di kepala Bal. Bal meremas jemari, dia ketahuan. Qiana melakukan


telepati. Dia melihat Bal mengawasinya sejak tadi dari kejauhan. Bal diam,


mencoba membiarkan Qiana bicara sekali lagi. Lama menunggu, tidak ada ucapan


apapun. Di sebelah sana, Qiana mengantarkan pesanan. “Aku mau bekerja. Sampai


jumpa.”


“Akh!” Bal tersentak duduk.


Bal berseru tertahan. Begitu Qiana melakukan telepati yang


kedua kalinya, Bal berhasil memasuki pikiran Qiana tanpa Qiana sadari. Bal


tampak jelas. Ruangan berwarna putih yang luas. Bal menunduk, not balok


berjajar rapi memenuhi lantai. Bal mengedipkan mata, ruangan itu berubah menjadi


halaman luas di depan istana Dey, tempat tubuh aslinya berdiri.


Pagi itu, sekelompok Suku Dey yang berasal dari keluarga bawah


berkumpul di depan Kepala keluarga sebelumnya. Zwesta Dey, ayah Zack, orang


paling licik satu kerajaan. Orang-orang itu berlutut. Zwesta mengangkat


kepalanya angkuh. Mengamati satu-persatu keluarga jauhnya itu. Tapi bagi orang


ini, mereka tidak lebih dari sekadar bidak catur untuk mencapai kejayaan.


Dalam adegan itu Zwesta menolak permintaan tolong mereka.


Mereka hanyalah pewaris darah dey yang tidak bisa bertarung. Paling baik hanya


bisa membaca pikiran. Zwesta yang tidak menerima mereka dengan baik justru mengusir


mereka dengan kalimat angkuhnya. Orang-orang itu memohon, tapi hati Zwesta sama


sekali tidak tergerak.


Bal tidak peduli. Fokusnya adalah mencari Qiana. Bal ingat


itu adalah masa lalu. Dimana Zack bahkan seumuran dengan Qiana. Tidak


mungkin  Qiana ada di Antara orang-orang


itu. Seorang memperlihatkan adegan ini pada gadis itu. Membuatnya membenci


sukunya sendiri sampai darahnya mendidih. Bal berharap bisa menemukan hal lebih


menarik. Bal yang kecil dipangkuan Zwesta, menjadi cucu kesayangannya melebihi


Zenith, tidak merasa apa yang dilakukan Zwesta salah.


Sesuatu menarik tubuhnya. Bal pasrah. Dia tahu, itu hanya lubang


yang akan membawanya berpindah tempat. Bal menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Tidak! Ku mohon jangan!”


Seorang pelanggan perempuan lima tahun lebih tua dari Qiana melemparkan


kentang ke wajah Qiana. Qiana memalingkan wajah. Gadis itu hanya diam tanpa


melakukan perlawanan. Yang lain berdiri di samping Qiana, menuangkan segelas jus


di atas kepala Qiana. Kaki Qiana cukup kuat untuk berdiri walau hatinya terisi


hebat. Dia berharap bisa membalas, tapi gadis itu sama sekali tidak berdaya.


Hanya dia menerima olokan dari dua anak perempuan itu.


Qiana pikir dia hanya takut pada orang yang lebih tua. Tidak


juga. Gadis lain datang, yang satu ini terlihat lebih muda darinya satu tahun. Gadis


itu dengan berani melontarkan ucapan kasar. Qiana menyadari betapa lemahnya


mentalnya.


Saat kedua orang yang lebih tua darinya itu hendak


menendang nya bersamaan, penyelamat menjambak rambut kedua orang jahat di kafe


yang sepi itu tanpa ampun. Seorang perempuan berambut kuncir dua menyulut amarah


kedua perundung itu. Penyelamat tersenyum.


Qiana menatapnya tanpa berkedip. Kian, kakaknya yang berani.


Dia tidak takut dan dengan berani melempar dua orang yang mengganggu adiknya ke


lantai. Kian memanggil penjaga. Membuat tiga pembuat rusuh itu diusir tanpa


kehormatan.


“Terimakasih, Kak.” Qiana memeluk Kian.


Tunggu. Bal melihat sesuatu yang aneh dari anak itu. Sebuah


aura gelap keluar dari tubuh Kian. Aura itu menyerap energinya. Beberapa helai


rambutnya memutih, pigmennya hancur sebelum waktunya. Kian menoleh ke arah Bal


berdiri, walau gadis itu tidak bisa melihat Bal. Begitu kedua pasang bola mata


bertemu, Bal melihat sesosok pria di dalam tubuhnya.


Napas Bal sesak. Kesadarannya kembali ke dalam tubuhnya. Bal


mengatur napas. Dia seperti habis melihat hantu. “Siapa orang itu?”


“Tuan Lean, kau dapat pesan dari keponakanmu lho. Mau dengar?”


Era melakukan panggilan lewat layar digital mengambang di depannya. Era


tertawa. Di seberang, Lean yang duduk bersandar di kursi mobil memutar bola


mata malas.


“Kau sudah memberikan permata itu padanya, kan?”


“Iya. Dan dia menginginkan yang lain lagi.”


"Hmmm.”


“Dia bilang, dia bersedia menerima Tuan First Lyde!” Kian


yang berdiri di samping Era terbelalak, tidak percaya. Juga Lean yang sama kagetnya.


Panggilan itu diakhiri Lean. Lupakan. Era memeluk Kian bahagia. Tapi Kian


tidak.


“Ibu, bagaimana kalau dia yang mati? Hari ini aku bertemu


dengannya. Dia tidak jauh berbeda dariku.”


Era mengelus kepala Kian lembut. Era menyuruh putri sulungnya


itu melupakan pertanyaannya tadi. Tapi gadis itu memang tidak licik. Dia yang


mengajukan diri Biarlah menampung First dalam tubuhnya. Tidak ingin orang lain


berkorban. “Biarlah aku yang mati karena


Beliau.”


Di depan gerbang istana utama, Lixe melihat Zecda bersandar


memandang jalan dan langit yang bagi Lixe masih kalah indah dengan pemandangan kampong


halamannya. Zecda menyadari kehadiran sesuatu. Bukan Lixe, tapi permata naga


langit putih.


Zecda melirik. Tangannya terulur. “Bersediakah kau


memberikannya padaku?” pintanya lembut.


Lixe cukup kaget. Orang dengan tampang dan status seperti


itu bisa selembut ini? Lixe mengeluarkan apa yang diminta Zecda dari saku


celana. Memberikannya. Zecda pikir, Lixe akan bertanya banyak hal seperti


sebelumnya. Ternyata tidak. Zecda wajib tenang karenanya.


“Apa Tuan benar-benar akan menghancurkan Kerajaan Argio?


Bukankah tidak seluruh penduduk yang membuat masalah dengan Tuan? ....” Lixe hendak


bertanya lagi. Zecda sudah menggeleng pusing.


“Kau terpengaruh ucapan gadis di stadion tadi? Aku melihat orang-orang jadi aneh


setelah mendengarkan perkataannya. Apa kau tidak penasaran siapa dia?” Zecda


menyela pertanyaan Lixe. Pertanyaan itu berhasil menyumpal mulut Lixe.


“Siapa anak itu?” Satu


pertanyaan yang sama muncul di kepala Lixe dan Bal.