AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Pertemuan Tanpa Tahu



"Haa... ha..," Lixe mengatur napasnya. Keringat membasahi leher dan pipinya. Dua naga bayangan terbang di depannya.


"Apa ini? Lyde yang licik, ada apa dengan keturunannya? Lemah sekali?" salah satu dari mereka tertawa mengejek. Yang lain ikut tertawa.


Dua naga itu terbang ke arah Lixe dengan mulut terbuka. Hembusan angin keluar dari sana.


"Dia akan jadi makanan peliharaan kita, Kak!"


Lixe menghembuskan nafas.


"Cahaya bulan purnama. Lingkaran gravitasi tinggi."


Dua naga itu jatuh. Tidak dapat bergerak. Lingkaran itu cukup untuk menampung dua ekor naga. Tapi tidak untuk para Wist yang berseru sebal.


"Kekuatan apa itu?"


"Lyde itu kegelapan, tidak punya kekuatan suci seperti itu?" Mereka saling tatap.


"Darah campuran? Pasti," sahut yang lain.


"Wah wah, siapa yang mau merendahkan diri sendiri dengan menikahi darah terkut..,,"


Lingkaran gravitasi tiba-tiba muncul di bawah orang-orang yang sibuk dengan obrolannya. Mereka langsung terduduk. Di depannya, kedua naga bayangan itu hilang.


"Ini cahaya lemah!" Mereka memberontak, mencoba berdiri. Beberapa mengunakan kekuatan bayangan untuk menghancurkan lingkaran yang memancarkan cahaya lemah itu.


Alih-alih hancur, puing-puing dibawah mereka hancur, dan cahaya lingkaran itu semakin terang.


"Cukup! Jangan hancurkan!" yang lain berseru. Dia sadar. Lingkaran cahaya itu muncul di bawah puing-puing.


Terlambat.


Puing-puing di bawah mereka sudah menjadi abu karena ulahnya sendiri. Mereka jatuh ke dasar lantai kayu. Mereka mendongak. Lingkaran itu juga menarik puing-puing di sekitar mereka yang masih tinggi. Membuatnya sedikit demi sedikit berjatuhan ke arah mereka.


"Katakan maaf pada makhluk ingatan di sana, Nak!" seseorang berteriak pada Lixe.


"Bebaskan mereka!" yang lain menimpali.


"Rebut rubik ingatan dari orang jahat itu!"


Lixe berlari mendekati lubang saat mendengar seruan-seruan itu. Lixe menengok ke bawah.


"Semoga kamu berhasil, Tuan Lyde," kata seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 7 tahunan. Dia membenarkan posisi duduknya. Berlutut dan menunduk. Diikuti yang lain.


"Terimakasih." Lixe tersenyum tipis. Lalu melompat menjauh dari sekitar lubang. Di sana, puing-puing itu sempurna menutupi lubang.


Slash.


Lixe berbalik. Sebuah panah ditembakkan ke arahnya. Panah yang diselimuti aliran listrik itu mendarat di depan Lixe. Dia mendongak, menatap siapa yang menyerangnya tiba-tiba.


Lixe menelan ludah. Zenith dan Gusion berlari ke arahnya, mensejajarkan diri.


Dia adalah orang yang tadi berpapasan dengannya. Pemilik kamar tempatnya membuka portal.


"Kak... Riyal?" gumam Lixe.


Gerakan tangan laki-laki itu terhenti. Dia memiringkan kepala dengan ekspresi datar.


"Siapa? Yang memanggilku? Kau?"


Lixe membulatkan mata. Dia benar Riyal. Tapi suaranya lebih mirip robot daripada Bal yang seorang cyborg. Riyal menatap ketiga orang di bawah sana.


"Kalian sudah membuat kekacauan. Raja memerintahkan untuk membunuh kalian. Kapanpun, dimanapun." Riyal berdiri di lantai istana, yang lebih tinggi ketimbang puing-puing yang bertumpuk di atas lantai kayu.


Riyal mengangkat busurnya menghadap langit-langit. Menarik tali busurnya, tiga anak panah muncul. Dia melepas tali busurnya, menembakkan ketiganya langit-langit dengan berputar. Dan sebelum menyentuh atap, tiganya meledak, menciptakan sebuah portal yang menghisap orang-orang di bawahnya.


Tubuh Zenith terangkat. Dia lalu bergeser, menjadikan pundak Lixe tumpuan. Zenith melompat, mempercepat gerakannya menuju portal.


Sedangkan Lixe hampir tersungkur. Kakinya juga terangkat, Dia hampir mencium puing-puing. Tapi Gusion menangkap kaki kirinya. Gusion berputar sambil memegangi kaki kiri Lixe. Lalu melemparnya menuju portal.


"Kalian gila!" seru Lixe saat tubuhnya dilempar ke portal. Zenith yang setengah badannya sudah memasuki portal, menarik tangan Lixe. Mengajaknya cepat masuk.


Gusion yang masih di bawah, menatap Riyal. Dia menyeringai.


"Sampai jumpa!" Gusion melompat. Dengan dorongan kekuatan bayangannya, dia sampai ke portal itu dengan sangat cepat.


"Sampai jumpa," jawab Riyal sesaat sebelum Gusion memasuki portal. Gusion dapat melihat raut datar Riyal yang sedikit berubah.


"Apa maksud tatapanmu?" batinnya. Sekejap, tubuhnya menghilang di telan portal yang juga menghilang.


"Pergilah, Lixe, Gusion, Zenith." Riyal tersenyum, membuat matanya menyipit.


"Semoga pertemuan di berikutnya kita bisa bertemu, juga Aizla dan Xaota." Dia berbalik. Matanya membulat.


"Sepertinya, aku berbuat kesalahan. Aku lupa menghapus ingatanmu tentang masa kecil itu," kalimat bernada sinis itu keluar dari mulut Arian yang tanpa Riyal sadari, sang raja sudah berdiri di belakangnya.


"Yang mulia." Riyal berjalan mendekati Arian sambil menunduk, lalu berlutut.


Arian menyentuh kepala Riyal dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya masih menggenggam rubik ingatan.


"Pengendali pikiran. Perampasan kepingan memori."


Riyal menjerit histeris. Arian melepaskan rubiknya, membiarkan rubik itu mengambang sambil mengacak. Kepingan gambar, seperti sebuah film melayang keluar dari kepala Riyal, memasuki rubik memori dan hilang.


Satu menit kemudian, Arian melepaskan kepala Riyal. Membiarkan dia pingsan. Lalu meninggalkannya di tempat.


"Apa yang sudah kulakukan? Siapa?" tanya Riyal dengan sedikit kesadarannya. Matanya berkedip tiga kali, pandangannya buram. Sedetik kemudian, kesadarannya hilang.


Di tempat lain, portal yang dibuka Riyal membawa ketiga muncul di jalan trotoar. Lixe menoleh ke sekitar, dia ingat. Itu adalah tempat saat dia bertemu dengan orang baik yang menawarinya tempat menginap.


"Hai! Kau sudah menemukan Mak Lampirnya?" tanya seseorang tiba-tiba. Lixe menoleh. Itu dia.


"Sudah!" Lixe mengacungkan jempol dengan tangan yang lain menunjuk Zenith.


"Kurang ajar!" Zenith menepis tangan Lixe. Dia mengangkat kaki, hendak menendang Lixe. Tapi gerakannya tertahan.


"Lixe!" panggil Zenith. Dia menjejakkan kakinya. Bola matanya bercahaya.


"Ayo pergi!" Gusion memberi aba-aba. Lixe mengangguk.


"Ada apa? Kalian....?" remaja seusia Lixe yang tidak tahu apa-apa bengong.


"Tunjukkan rumahmu, Kawan!" Lixe menarik tangan laki-laki yang tidak bersalah itu. Menyadarkannya dari lamunan yang tak berujung.


Dia dengan gugup menuntun jalan. Memasuki gang sempit di pinggir jalan. Berjalan di jalan selebar 1 meter.


"Di sini beneran ada rumah?" tanya Zenith berbisik. Dia menatap kanan kiri, hanya dinding. Kecuali, sebuah pintu kayu kecil dari sebuah rumah? Menurut Zenith itu bukan rumah, hanya gubuk dari kayu diantara dua rumah besar.


Laki-laki itu membuka pintu tersebut. Sedang Zenith membuka mulut tidak percaya.


Laki-laki itu mempersilahkan ketiganya masuk. Gusion masuk tanpa tanda tanya. Lixe menggandeng tangan Zenith, dia menarik perempuan itu masuk. "Cewek alay," batinnya.


Zenith menjitak kepala Lixe. "Aku bisa membaca pikiranmu!" dia berseru tertahan.


Lixe hanya manggut-manggut sambil mengusap kepala belakangnya.


Zenith duduk. Di samping Gusion yang sudah duduk. "Kenapa aku tidak bisa membaca pikiran orang ini? Isi pikirannya hitam pekat, sama sekali tidak bisa aku baca," batin Zenith.


Laki-laki itu duduk. Dia hendak bicara, tapi Zenith lebih dulu mengacungkan tangan.


"Maaf, ini beneran rumahmu?" tanya Zenith sembarang. Pemilik rumah mengangkat ujung alisnya.


Lixe melotot saat Zenith menanyakan hal itu.


"Eh. Maksudku, kamu serius tinggal di sini?" Zenith membetulkan pertanyaannya dengan gugup dan buru-buru. Walau lawan bicaranya tidak berpikir yang aneh-aneh, tapi justru yang tidak punya rumah yang berpikir buruk. Zenith melirik Lixe di samping laki-laki itu.


Lixe tersenyum, mengejek ekspresi Zenith yang gugup. Gadis itu benar-benar salah tingkah.


"Iya, aku tinggal di sini." Laki-laki itu mengangguk.


"Sendiri?!" Zenith langsung merespon.


"Dulu aku tinggal sama kakakku. Tapi kau lihat sekarang," jawabnya sembari mengangkat bahu.


"Dia meninggal?"


Lixe menepuk jidat. "Astaga. Apa dia tidak bisa memfilter ucapannya?" batinnya.


"Eh, maaf." Zenith akhirnya mengatakannya sambil menggeleng. "Aku..., eh. Itu"


"Mungkin begitu." Zenith melotot. Dia menutup mulutnya yang mau menanyakan hal lain.


"Dulu, kami keluarga yang tinggal di rumah samping." Dia menunjuk ke kanan dan kiri.


"Dua rumah besar itu?" Zenith ikut menunjuk kanan dan kiri. Lawan bicaranya mengangguk.


"Saat kecil, ini adalah rumah-rumahan yang aku membuat. Tidak ku sangka ini akan sangat bermanfaat saat aku besar." Dia tertawa kecil.


Zenith menatapnya tak habis pikir.


"Apa yang kau pikirkan? Mau tanya apa lagi?" sindir Gusion sambil berbisik. Zenith menggeleng.


"Bagus, diam dan dengarkan!" Lanjut Gusion. Zenith menelan ludah. Kehabisan kata-kata.


Laki-laki itu tersenyum. Dia melanjutkan cerita, sadar bahwa ada gadis kepo yang menanti kisahnya.


"Ayahku komandan pasukan divisi kedua di kerajaan ini. Namun saat aku empat tahun, dia meninggal. Kami tidak berasal dari suku terpandang. Ayah dan Ibu hanya warga dengan status biasa. Setelah meninggalnya ayah, Ibu yang tidak bekerja memutuskan menjadi pelayan di istana. Dia jarang pulang. Aku dirawat kakakku, dia orang yang sungguh sabar." Dia menghela napas dalam-dalam.


"Suatu hari, tiga orang prajurit menjemput Kakak. Mereka bilang, Ibuku dalam masalah. Tapi setelah itu, ibu kembali tanpa memberi penjelasan dimana kakak. Yang lebih aneh, ibu menjual semua harta yang kami punya. Dan saat semua terjual. Ibu justru memberikannya padaku. Lalu dia lompat dari lantai lima."


"Beliau tewas?" Zenith menebak. Gusion menepuk punggungnya keras. Zenith yang menahan tubuhnya agar tidak bersujud menoleh dengan wajah galak pada pelaku.


"Dia hanya orang biasa. Tentu," jawabnya sembari santai mengangkat bahu.


"Kau tidak mau mencari kakakmu ke istana? Menjemputnya?" tanya Zenith sinis. Yang ditanya menggeleng.


Zenith mendengus, tangannya terlipat di depan dada. "Xiota? Benar namamu kan?"


Laki-laki itu membuka matanya lebih lebar. Dia tersentak. Lalu mengangguk ragu. "Dari mana kamu tahu?"


"Tadi aku bertemu dirimu, versi kecilnya, di istana."


"Apa?"


"Kamu pernah ke istana, tapi ingatanmu dihapus woi!" Zenith menunjuk Xiota.


"Nama kakakmu Xen'a, kan? Anak itu mirip denganmu. Hanya saja, rambutnya pirang. Gak kayak kamu yang coklat. Geleng kalau aku salah!"


Xiota mengangguk keras. Dia tidak percaya pada apa yang dikatakan Zenith.


"Apa yang telah kalian lakukan?" tanya Xiota menoleh pada ketiga orang itu.


"Diincar pasukan kerajaan? Melihat sosok kecilku di istana." Xiota menepuk jidat. Dia menggeleng sambil menunjukkan seringai. "Ah. Sepertinya aku bisa menebak. Kalian sudah macam-macam dengan rubik memori bukan?"


"Memang!" Zenith menjawab ketus. Sedang kedua temannya saling tatap.


"Apa dia tidak akan melaporkan kita istana?" tanya Lixe dalam hati. Dia menatap Zenith cemas.


"Jadi kau mau ikut aku?" Zenith mengabaikan kekhawatiran Lixe.


"Kemana?"


"Merebut rubik memori, dan...," Zenith mengangkat ujung alisnya.


"Mendapatkan ingatanku dan kakakku. Kalau dia ingat, dia akan pulang, bukan?" sahut Xiota.


"Aku sarankan kamu Lix. Kamu lihat anak kecil yang membuat lingkaran gravitasi itu...," Zenith menatap Lixe yang memikirkan dirinya yang dia lihat tadi.


Lixe mengangguk. Dilihat dari kekuatan dirinya waktu kecil yang begitu hebat, dia memerlukannya jika ingin mendapat kehormatan dari mereka yang memandangnya rendah.


Lixe menatap Gusion.


"Aku butuh kekuatan sempurna Suku Van. Ayo," Gusion mengangguk.


"Satu lagi, Aizla. Aku melihat anak itu menjadi monster ingatan. Dia harus ikut misi ini. Tapi bagaimana?" Zenith tenggelam dalam pikirannya. "Apapun caranya. Ayo lakukan!" Ucap Zenith dibalas anggukan ketiga teman barunya.


"Demi ingatan Paman Arian," lanjutnya dalam hati.