AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Lepaskan!



Lixe menutup mata Gusion dengan tangannya. Hati Gusion yang sesak sejenak menjadi lebih tenang. Bayangan yang menyelimutinya menghilang.


"Aku tidak akan memusnahkanmu."


Lixe tersenyum lebar.


***


“Kriiiiingg!” Siren berbunyi nyaring di seuru penjuru Kerajaan Dielus. Suasana kerajaan sudah legang, sebelumnya


Dira sudah memerintahkan semuanya bersembunyi. Dira dan Aizla berdiri di atap sebuah gedung pencakar langit, menatap ke arah barat. Pemandangan sunset yang indah berubah menjadi sebuah alarm berbahaya.


“Kau tidak  bisa berdiri di bawah cahaya matahari?” Dira melirik Aizla. Yang ditanya menggeleng.


“Jadi kalian tahan terhadap cahaya matahari?”


Aizla mnggeleng. Ekspresinya datar. Firasatnya buruk, sejak tadi hatinya tidak tenang. Dira mendengus kesal. Aizla


yang tersadar menoleh.


“Pada dasarnya kami tidak bisa tahan dengan cahaya matahari. Terlalu mahal. Hanya orang-orang yang berani menjadi kelinci percobaan laboratorium yang akan disuntik formula yang telah ditemukan para ilmuan kami. Anggap saja itu hadiah bagi mereka.”


“Kalau mereka kehilangan nyawa, apakah formula itu akan diberikan pada keluarga mereka?”


“Tidak. Tidak ada pengganti. Mati berarti gagal, formula tidak akan diberikan.”


“Kejam sekali. Orang yang membuat aturan seperti itu sungguh tidak berperasaan.” Dira menggeleng dengan wajah


ibah. Aizla tersenyum kecut.


“Dia sangat kejam, tapi dia ibuku. Orang yang melakukan hal-hal gila karena menyimpan dendam atas kematian suaminya yang disebabkan oleh kalian. Mana yang harus kupilih?”


“Grooo!”


Aizla membulatkan mata. Dira mengangkat kedua tangannya, merenggangkan tubuh. “Aku punya dendam padamu. Tapi ayahku menyayangi ayahmu, mungkin lebih daripada terhadapku. Haha.” Dira menepuk punggung Aizla.


Aizla menoleh.


“Ayahku bilang, maaf.” Dira tersenyum. Sepatu yang ia kenakan mengapung, lalu membawanya terbang ke arah


sumber suara. Aizla terpaku di tempat. Sedang dari kejauhan, diiringi dengan sorot matahari yang mulai menghilang, pasukan vampire mulai bedatangan.


Dira menelan ludah. Musuh di depannya terlihat begitu menyeramkan, bulu kuduknya bediri. Dira berhenti di


tempat, membiarkan robot-robot tempur terbang mengawali pertempuran. Saat Dira masih berusaha melawan ketakutannya, seorang vampire bertubuh besar melesat ke arahnya dengan kuku-kuku tajam terarah tepat ke lehernya.


Cras! Buk


Aizla lebih dulu menebas lengan sang vampire dan balas menendang dagunya hingga terpental jauh. Aizla terbang di samping Dira. Keduanya saling tatap beberapa detik.


“Ayahku bilang, maaf.” Aizla memecahkan kelegangan. Dira menggeleng, bodoh amat.


Aizla dan Dira kini terbang beriringan. Rasa takut yang sebelumnya menyelimuti Dira menghilang. Mengingat adanya seorang kawan di sampingnya, cukup membuat hatinya lega. “Aku benci Ayah yang tidak pernah menemani


kami setelah kepergian Ibu dengan segala alasanmu. Juga benci kakak yang mulai menjadi seperti Ayah. Sekarang aku juga akan membenci diriku yang mulai berteman dengan putri dari dia.”


***


“Kau tidak merindukanku, Aizla? Atau kau bahkan sudah melupakaku?”


Aizla yang barusaja melemparkan bola darah berukuran besar, berhasil menyapu bersih para musuh di arah jam satu. Tenaganya yang terkuras cukup banyak ditambah sebuah kekuatan yang tiba-tiba mencengkeram tubuhnya, membuatnya sesak napas. Aizla menoleh ke kiri. Aira tersenyum mengerikan. Aizla tertawa kecil.


“Tikus kecil sudah masuk perangkap ular,” ujar Aira. Aizla melirik sekitarnya. Benar saja, para vampir sudah


mengepungnya dari segala arah. Aira sengaja mengumpulkan dan menempatkan vampir-vampir barusan untuk mengalihkan perhatiannya. Juga agar dia menguras cukup banyak tenaga.


“Tidakkah Pimpinan Suku merasa kasihan terhadap mereka sukunya?”


“Kau yang membunuh mereka, sekarang kau menyalahkanku? Apa kau sudah lupa diri?”


Aizla menggigit bibir. Yang dikatakan Aira memang benar. Emosinya yang campur aduk diungkapkannya dengan


meneteskan air mata. Biete menghela napas. Dia memeluk Aizla. Arwah itu merasuki tubuhnya, mengambil kendali tubuh Aizla. Jiwanya yang terguncang itu sangat lemah dan rapu sekarang.


Aizla mengangkat tangan kirinya. Asap darah berputar di sekelilingnya. Lalu meledak, menghempaskan semua vampir yang  mengepungnya. Membuat vampir-vampir itu terjun bebas ke bawah. Aira sendiri menyilangkan kedua tangannya di depan wajah, menahan tubuhnya agar tak ikut terhempas. Tanpa dia sadari, Aizla melemparkan sebuah bola darah ke arahnya. Tepat mengenai kedua tangannya.


“Shhh,” Aira meringis pelan. Dia meremas jemari. Dengan kecepatan tak terlihat, Aira tiba-tiba menghilang dan muncul di samping kanan Aizla. Aira mengayunkan tangannya, menyabit pangkal sayap kanan Aizla dengan kukunya yang tajam. Asap darah milik Aira menutupi luka di punggung Aizla.


“Kali ini, sayapmu tidak akan tumbuh lagi! Yang melupakan asalnya, harus diusir.”


membakar lukanya, juga telapak tangannya. Membuat luka itu semakin dalam dan menghambat penyembuhannya. Aizla menyeringai. Balas mengayunkan tangan. Namun Aira lebih dulu terbang mundur. Kuku Aizla hampir menyayat wajahnya.


“Aku bukan anak kecil yang cengeng lagi! Bawah kembali pasukan Ibu! Aku tidak akan menyerah!” Jiwa Aizla mengambil alih seluru tubuh bagian kanannya tepat saat jiwa Biete kesakitan. Membuat satu tubuh itu dikendalikan dua jiwa bersamaan.


Biete yang mengedalikan tangan kiri Aizla, meski Aizla menolak, tapi Biete tetap memaksakan tangan agar menutup luka di punggungnya. Aizla meringis, telapak tangan kirinya yang diselimuti darahnya akibat terbakar asap darah Aira kembali terbakar, juga balas membakar asap darah Aira dengan asap darahnya sendiri.


Aira hanya menatapnya kosong, memberi waktu hingga asap darah miliknya habis terbakar. Tampangnya ang licik dan kejam berubah menjadi datar. Aira melirik ke samping. Saat inilah, Aizla tiba-tiba meluncur dan menusuk perutnya. Tidak bisa, Aizla berhentik tepat saat ujung kukunya menyentuh kulit Aira. Meninggalkan goresan merah di sana.


“Ibu, aku ingin bebas dari dendam. Juga ingin kau lepas darinya,” bisik Aizla.


Aira menggeleng. Dia mencengkram lengan Aizla. Aizla mengangkat wajahnya, menatap mata Aira yang mengamati ke bawah dengan tatapan kemenangan.


“Apa?” gumam Aizla. Dia tersadar. Aizla menoleh ke sekitar. Wilayah pinggir Kerajaan Dielus tenggelam dalam lautan darah. Aizla menarik lengannya, membuat Aira melepaskannya. Aizla mengantupkan rahang. Dia mencri keberadaan Dira.


Dira sedang tidak baik-baik saja. Tubuhnya kaku, dia membayangkan kerajaannya yang juga pernah hancur seperti itu. Bayangan itu membuatnya ngeri. “Aku tidak bisa melanjutkan pertarungan ini,” gumamnya dengan


keringat dingin membasahi kening.


“Awas!!!” Aizla berseru kencang. Empat vampire hendak menyerangnya dari keempat arah mata angin. Namun Dira sama sekali tak menghiraukan apapun. Aizla hendak menyelamatkannya.


“Kalau dia tiada, aku bisa melupakan dendam ini,” ujar Aira. Aizla menoleh. Dia menggigit bibir. Sungguh tidak berperasaan. Aizla ingin menyelamatkannya, namun hatinya menolak.


“Tidak ini salah!” Aizla berseru, berusaha melawan kehendak hatinya.


“Rooooaaar!”


Satu monster lagi muncul, kali ini menghancurkan separuh pasukan vampir, juga menyelamatkan Dira dari keempat vampir yang mengingnkan nyawanya. Neo keluar dari sebuah portal bayangan. Menggunkan portal itu membuat


tubuhnya terluka, dimana darah mengalir di beberapa bagian tubuhnya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Aira tajam. Tatapan kemenangannya berubah.


“Lupakan dendammu!” ujar Neo yang terbang di samping Aizla.


Mendengarnya membuat Aira mengerutkan kening, lalu tertawa geli. “Apa kau sadar apa yang kau ucapkan?” Aira memegangi kening dan menggeleng. Neo sendiri tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Orang yang dalam dendam ribuan tahun, menyuruhnya melupakan balas dendam. “Hahahaha!”


“Jangan ikut campur!”


“Aku juga tidak ingin ikut campur. Kalau bukan Tara yang meminta, kalau bukan karena anak yang bernama Lixe itu, aku juga tidak akan datang.” Neo mendengus kesal.


“Cucu First Lyde itu menjadi malaikat? Apa yang sudah terjadi pada anak generasi sekarang?” Aira tersenyum kecut. Asap darah mulai menyelimuti tubuhnya. Begitupun Neo. Keduanya melesat saling menyerang. Dua bola darah bertabrakan. Menciptakan ledakan yang menghempaskan Aizla dari tempatnya.


"Uhuk!" Aira memuntahkan darah dari mulutnya. Napasnya tersengal. Dadanya sesak. Dia sadar, melawan Neo sama dengan cari mati. Aira menggeram sebal. Sementara Neo mengabisi pasukannya dengan tetesan-tetesan hujan darah yang membakar setiam vampir di bawah sana.


"Neo...," panggil Aizla.


"Tugasku selesai, Guru." Neo menoleh dengan senyuman. Sedang Aira mengacak rambutnya sebal.


Swooor.


"Dia datang?" gumam Biete dalam hati cemas.


Sebuah bayangan membentuk bola bayangan yang menghalanginya dari keadaan luar. Aira sedikit panik. Dia menoleh ke sekeliling. Aira menelan ludah, lalu berlutut.


"Selamanya, saya mengabdikan diri pada Suku Wist yang telah memberikan suku kami kekuatan."


"Aku senang kau ingat dengan jasa itu. hari ini aku mau kau menangkap Lixe." sebuah suara berat nan seram terdengar.


Aira membulatkan mata. "Lixe adalah musuh Tuan Wisteriam, jika saya menyerahkannya pada Anda...,"


"Aku akan membantumu menghancurkan mereka."


"Dengan senang hati."


Bola bayangan itu menghilang bersama Aira di dalamnya.


Aizla menebar pandangan. Menatap ngilu para vampir yang tewas. Hatinya seolah tersayat. "Aku penghianat." Neo menggeleng.


"Mereka bukan keluargamu yang sesungguhnya. Lihatlah baik-baik!"


Aizla memicingkan mata. Mengamati mayat-mayat vampir di bawah sana lebih saksama. Mayat-mayat itu berubah menjadi asap darah. Terbang lalu menghilang. Aizla menoleh pada Neo dengan tatapan penuh tanda tanya. Mereka hanya makhluk-makhluk buatan?


"Sepertinya wanita itu tidak setidak berperasaan itu hingga tega mengorbankan para sukunya. Kau sudah salah paham, Nak."


"Sungguh?"