AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Penyusupan oleh Sampah



Zenith berlari di jalan trotoar menuju parkiran umum tanpa menoleh ke belakang. Lima menit berlalu, dia memastikan Lixe sudah jauh dan tidak mengikutinya. Dia menoleh ke sekitar. Aneh, dia melihat seseorang yang aneh bersembunyi di balik sebuah mobil yang terparkir tiga mobil di samping mobilnya. Sebelum orang itu kembali mengawasi dirinya, Zenith mengemudikan mobilnya.


Panik, Cain yang merasa akan kehilangan jejak Zenith memasuki sembarang mobil. Sebagai seorang pengintai andalan kerajaan, dia punya izin ekslusif untuk beberapa hal. Dia mengemudikan mobil itu, mengejar mobil Zenith.


Di depan sana, Zenith menekan tombol di dekat stir kemudi. Mobil itu kini bermodifikasi, atap mobil muncul menutupi bagian atas. Membuat Cain sama sekali tidak bisa melihat apa yang ada di dalam sana. Mobil itu lalu dengan kasar berbelok tajam di tikungan. Mobil Cain masih setia mengikuti.


Jauh dari kekacauan itu, di dapur istana Argio yang terletak di gedung terpisah dengan istana utama, sebuah cahaya terang muncul. Beberapa pelayan dan koki yang ada di sana menutup matanya silau. Sebelum orang-orang itu membuka matanya, Zenith keluar dari portal dan langsung berlari keluar dari dapur.


Portal itu sempurna hilang saat Zenith berhasil keluar. Semua orang bertanya-tanya. Ketua koki di sana berteriak, dia langsung menelpon penjaga.


'"Merepotkan," batin Zenith saat melihat beberapa prajurit dari lapangan, berlari memasuki bangunan itu, mereka menuju dapur di lantai dua. Zenith langsung berlari menyusuri koridor, dia menuju tangga lantai tiga. Meninggalkan keributan terjadi di lantai dua.


Zenith mendekati sebuah jendela. Dia melihat ke luar dengan waspada. Di hadapannya, dia melihat seseorang yang juga melihatnya dari istana utama. Zenith langsung menunduk. Dia berharap orang itu tidak melihatnya. Seseorang yang tidak ia kenal sebelumnya. Dia pastikan orang itu tidak akan terlalu mengganggu.


Sebuah suara keluar dari earphone tanpa kabel yang ia kenakan di telinga kirinya.


"Apa Cain masih mengikuti mu?" tanya Zenith sembari melirik ke luar. Orang itu tidak lagi terlihat. Zenith menengok ke bawah, juga ke sekitar bangunan itu. Tidak ada orang Zenith bernapas lega.


"Dia masih mengikutiku. Tapi ada masalah yang lebih besar dari itu. Sial!" Di ujung sana, Lixe membanting stir. Mobil itu lagi-lagi melakukan belokan tajam. Beberapa pejalan kaki di trotoar menjerit. Sebuah mobil polisi mengejarnya. Orang-orang itu berteriak agar Lixe menghentikan mobilnya.


"Para petugas keamanan ini mendapati mobilmu tidak terdaftar di catatan mereka. Argh, intinya mereka mengejar ku dengan tuduhan penyusup." Lixe memutar stir panik. Di depannya, mobil petugas menghalangi jalannya.


"Mereka di depanku, gimana?"


"Tabrak saja! Hancurkan mobilnya!" Zenith memberi perintah. Lixe membuka mulutnya tidak percaya.


"Tapi mobilmu bisa hancur." Lixe menatap ngeri dua mobil polisi yang tinggal tiga meter. Lixe menurunkan kecepatan. Dia juga melihat mobil yang dikendarai Cain berhenti di sana. Pasti orang itu yang melaporkannya ke petugas ini.


"Lixe dengar! Tabrak mereka, injak tombol berwarna merah di samping rem. Kau lihat?! Begitu kau menginjaknya, mobil itu akan meledak. Saat itu berteleportasi lah kemari! Kau paham kan?!"


Lixe meremas rambutnya. Tidak menyangka Zenith akan menyuruhnya melakukan hal segila itu. Lixe menghirup napas dalam-dalam. Satu meter lagi. Lixe menaikkan kecepatan mobil. Beberapa polisi yang berjaga kocar-kacir. Mereka berlari menjauh. Lixe menginjak tombol itu segera.


Brak


Duar!


Dua mobil polisi terpental, mobil Zenith meledak terbakar. Percikan api yang keluar dari mobil Zenith meledakkan kedua mobil lainnya. Cain menatap ngeri kejadian itu dari dalam mobilnya. Dia buru-buru pergi dari tempat itu. "Apa Zenith segila itu? Apa dia selamat?" batinnya.


Cain dengan berat hati mempercayai bahwa Zenith mungkin tidak selamat. Dia memutar arah, dia harus melaporkan ini pada tantenya.


Sedangkan Zenith yang berada jauh dari tempat kejadian, berdiri. Dia mengeluarkan pistol dari penyimpanannya. Dia membidik ke sebuah jendela yang terbuka. Bertaruh tidak ada orang di dalamnya.


Pistol itu menembakkan sebuah peluruh dengan tali terikat di bagian belakangnya. Peluru itu menancap satu meter di atas jendela ruangan. Zenith menaikkan kakinya ke jendela. Lalu melompat, tubuhnya bergelantung dan di tarik ke arah bangunan satunya. Zenith berhasil memasuki ruangan itu. Di sampingnya sebuah cahaya muncul. Zenith tahu persis itu portal milik Lixe.


"Hai. Apa kau merasa hebat?" tanya Zenith dengan tertawa mengejek.


Lixe keluar dari portalnya, dia menghempaskan tubuhnya pada Zenith. Wanita itu menahan tubuh Lixe yang akan menjatuhinya. Wajah pria itu pucat. Dia baru membuat sebuah tindak kriminal paling gila sepanjang hidupnya.


"Tenanglah. Aku bertaruh, suatu saat nanti akan lebih banyak hal-hal gila yang akan kau lakukan," kata Zenith masih tertawa mengejek. Astaga, dia tidak habis pikir Lixe akan se-shock itu.


Lixe mencoba berdiri di atas kakinya, dia memegangi kepalanya yang pening. "Dan saat itu tiba, kamu yang akan shock berat."


"Oya? Kita lihat saja."


"Hah, benar-benar gila. Kau menyemprotkan parfum sebotol parfum padaku."


"Itu parfum favoritku, jadi berterimakasih lah. Karena aku tidak suka bagi-bagi hal yang kusukai dengan orang lain."


"Katakan apa yang harus kukatakan pada Paman Zack soal ini!"


"Kau gila." Lixe mendengus. Dia memalingkan wajah.


Zenith mengangkat bahu. Dia menoleh, mulai melupakan masalah Lixe dan memperhatikan satu-persatu barang di sana.


Barang-barang itu tertata rapi, warna biru muda menghiasi seluruh dinding. Selain tiga lemari, kasur, komputer di atas meja kerja, televisi, pengatur suhu ruangan, beberapa lampu, kursi dan meja. Zenith rasa, tidak ada hal-hal istimewa di dalam sebuah kamar tidur seluas 7x7. Rasanya begitu hampa, mengingat lahan sebesar itu hanya diisi sedikit sekali barang. Dia penasaran, siapa pria yang menghuni kamar ini, yang melihatnya tadi.


"Siapapun dia, kurasa hidupnya pasti sangat hampa. Sehampa kamar ini," batin Zenith.


"Kau belum memberitahuku siapa orang tadi?" Lixe mengingatkan Zenith pada Cain.


"Dia sepupuku, anak kakak ibuku."


"Kelihatannya dia sangat berkuasa." Lixe berjalan mengelilingi ruangan itu. Sama penasarannya.


"Dia mata-mata terbaik di Kerajaan Argio. Bahkan Arian pun akan percaya pada kebohongannya."


"Bisa-bisanya kau menyebut nama itu sembarangan." Lixe tertawa pelan. Juga Zenith.


"Tapi Zen. Apa itu artinya Suku Harito adalah suku mata-mata?"


Zenith mengangguk.


"Juga Tante Anita?"


Kali ini Zenith melangkah mendekati Lixe. Tidak lagi tertarik dengan ruangan yang tidak ada ke-estetikan-nya sama sekali itu. Dia menatap Lixe. "Ibuku semasa mudanya adalah seorang kesatria, juga mata-mata hebat. Cantik, kuat, pandai, berbakat. Arian menyukainya. ibuku? Bodoh, dia justru jatuh cinta pada rivalnya. Tuan Zack Van, satu-satunya orang yang dapat mengenalinya meskipun dalam penyamaran terhebatnya."


Zenith menarik napas dalam-dalam. Nada kesedian mulai terdengar dari bibirnya.


"Putri dua mata-mata hebat. Apa yang dipikirkan dunia tentangku? Seseorang yang bisa melacak orang dari kejauhan? Bertelepati dengan jarak yang sangat jauh? Penglihatan super jauh? Atau seperti Ibu? Penciuman super, dapat bernapas di air, dan seluruh teknik lainnya? Hebat bukan kalau aku bisa melakukan semua itu?"


Zenith berhenti tepat satu langkah di depan Lixe. "Tapi apa? Aku justru tidak bisa melakukan semua itu. Bahkan Arian dengan kejamnya menghancurkan kedua tangan dan kakiku. Bahkan aku tidak akan bisa sampai di sini tanpa bantuan mu." Zenith menelan ludah. Dia mengangkat ujung-ujung bibirnya.


"Terimakasih. Kau bukan pengintai amatir."


"Kau hebat Zenith. Kau juga bukan pengintai amatir. Aku pernah berpikir diriku sampah. Tapi seseorang bilang bahwa diriku bintang. Lucu sekali." Lixe membalas senyum itu.


Zenith memalingkan wajah. Dia lalu berjalan menuju pintu.


"Riyal Argio, itu siapa?" tanya Lixe bergumam pelan, dia membaca sebuah nama di atas buku tulis yang tergeletak di atas meja bersama tumpukan kertas yang berserakan.


"Sepertinya, aku.....," gumam Lixe. Dia memejamkan mata.


Mata Zenith lalu membulat. Dia menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha tidak berteriak dan tetap tenang. "Apa dia pemilik kamar ini? Apa orang tadi Pangeran Riyal?" Zenith memegangi kepalanya yang tiba-tiba berat.


"Lixe, ayo pergi dari sini!" Zenith menoleh pada Lixe.


Lixe hanya diam, masih larut dengan pikirannya. Dia menerawang ke belakang. Hal-hal yang pernah terjadi.


"Kak Riyal? Kak Miya?" Dia ingat. Dia tahu dimana dia pernah mendengar nama itu.


"Lixe!" Zenith berseru


Panggilan itu menyadarkan dirinya dari lamunan. Lixe mengangkat wajah. Bukan hanya itu, dia juga merasakan seseorang berjalan menuju kamar itu.


"Zenith, sembunyi!" Lixe berbisik.