
Zenith terbaring di atas ranjang di sebuah kamar dalam rumah sakit. Zenith membuka matanya perlahan. Dia menoleh. Mendapati lima penjaga yang berjaga di pintu. Sial. Zenith kembali memejamkan mata.
"Aku harus keluar sekarang juga."
"Zenith! Sadarlah!" Suara ayahnya mengganggu pikirannya yang sedang merencanakan cara kabur. Keningnya berkerut sejenak. Salah seorang penjaga hampir melihat gerakan otot di wajah Zenith. Zenith buru-buru melemaskan otot-ototnya.
"Apa yang Ayah inginkan? Menyuruhku kembali? Melupakan Ibu? Jangan bercanda! Aku pernah mendengar Ayah memanggil namanya saat tidur."
Tidak ada jawaban. Zenith jadi sedikit merasa bersalah karena terus berprasangka buruk pada Ayahnya. Demi wanita yang meninggalkan dirinya. Bodoh. Zenith mulai memaki dirinya.
"Ayah!"
"Selamatkan ibumu!"
"Hah?"
"Dia ada di kantor kepolisian pusat di sana. Kau ingin membawanya pulang, kan? Selamatkan dia."
Lupakan cara keluar. Zenith melompat turun dari kasurnya. Kelima penjaga spontan menoleh. Mereka maju menyerang Zenith.
"Tinggal tendang dan pukul, apa susahnya?" ucapnya seraya memukul salah satu penjaga di hidungnya. Tendangan telak di wajah untuk korban kedua. Tiga, empat, lima. Zenith menghajar kelimanya secara brutal.
Pintunya terkunci. Zenith mencoba mendorongnya. Tidak bisa. Pintu itu dari besi. Zenith melirik kelima penjaga yang bergelimpangan. Mereka tertawa. Membuat emosi Zenith bertambah.
Buaak.
Pintu tersebut terbuka. Zenith meninjunya hingga terlepas dari bingkainya. Zenith langsung berlari keluar. CCTV di sepanjang lorong rumah sakit menangkap dirinya. Laser ditembakkan ke arahnya. Lantai di bawahnya berubah menjadi kaca yang licin.
Syut.
Zenith hampir tersungkur. Zenith menahan tubuhnya dengan tangan. Melakukan handstand. Dia menoleh. Berseru tertahan.
Ctak.
Kakinya terkena serangan laser. Tidak mempan. Logam mulia yang menempel di tubuhnya tidak bereaksi terhadap laser tersebut. Zenith menurunkan kakinya. Dengan posisi awalan lari. Pangkal jemarinya mendorongnya lari secepat kilat. Zenith mengangkat tangan kanannya. Membuat lubang besar di dinding yang menghalanginya dari keadaan luar.
Buuum.
Zenith melompat keluar. Sebuah portal bayangan muncul di depannya. Zenith memasrahkan diri. Membiarkan tubuhnya memasuki portal tersebut. Lalu muncul di lobi kantor polisi pusat. Gusion sudah berdiri di sampingnya.
Zenith menatapnya. Hendak menjelaskan apa tujuannya sekarang.
"Aku sudah dapat perintah dari Tuan Zack." Gusion menunjuk ke sebuah lift di dekatnya. Seorang pria berpakaian serba hitam menaiki lift sambil berlari.
"Ayah?" gumam Zenith tidak percaya. Zenith langsung berlari menghampiri Zack yang memampang wajahnya terang-terangan. Zack tidak peduli, sama sekali tidak menoleh ke arah Zenith walau gadis itu selalu membuntutinya.
***
Di ruang interogasi yang pengap dan tertutup. Anita duduk di depan Heto, inspektur sekaligus kakaknya yang akan menghukumnya tanpa pandang bulu.
Anita menundukkan kepala. Membiarkan kakaknya menatap tajam seolah mereka tak pernah bertemu sebelumnya. Setiap pertanyaan yang diberikan, Anita menjawabnya dengan jujur dan patuh.
"Apa kau sudah lupa ajaran keluarga kita?"
Anita menggeleng. "Apa di ruangan ini masih ada hubungan darah di antara kita?"
Heto terdiam. Dia yang berdiri dengan dahi berkerut menghela napas. Kembali duduk. Dia melipat kedua tangan di depan dada.
"Saya sudah merelakan keluarga saya demi keluarga yang Anda maksud. Saya ingat ajaran itu. Tidak ada satu kata pun yang terlupa." Anita menelan ludah. Dia mengangkat kapala.
"Saya adalah pemberontak. Saya sudah mencemarkan nama keluarga Anda. Dan saya sudah memberi ancaman bagi Kerajaan ini. Jadi.. Usir aku, Kak! Biarkan aku pergi."
Anita berdiri. Mengangkat kaki kanannya, menghancurkan rantai borgol yang mengikat tangannya. Heto ikut berdiri dengan pistol terangkat. Anita menyambarnya dengan tangan kiri.
Dor!
Brak.
Cain yang berjaga di luar ruangan membuka pintu besi. Dia tersentak satu langkah mundur. Anita menembak bahu kirinya. Tangan kirinya lemas. Pistol itu jatuh ke atas meja. Rasa sakit menjalar dari bahu ke jantung. Anita mulai sulit bernapas. Tubuhnya membungkuk, pipinya menempel di atas meja.
"Hu..kuman, hah." Anita mengirup udara tipis ruangan. "Saya.., sudah menerima hukuman." Anita berusaha menegakkan tubuh dengan bantuan tangan kanan yang menopang rangkah bagian atasnya. Sedang tangan kirinya lumpu total.
"Biarkan saya pergi. Saya mohon."
"Tante ingin pergi ke mana?!" Cain berseru seraya berlari mendekat. Dia memegangi pundak Anita.
"Ugh!"
Zenith yang baru tiba langsung memukul Cain. Membuatnya menjauh dari Anita. Zenith memeluk Anita langsung menyandarkan kepalanya di pundak Zenith. Itu untuk pertama kalinya sejak sekian lama bagi Zenith. Dia memeluk erat tubuh ibunya.
"Hai."
Anita menoleh ke ambang pintu dan tersenyum. Zack berdiri di sana. Cain dan Heto sama-sama terkejut. Keduanya tidak menyadari keberadaannya. Bahkan sekarang pun, sulit dipercaya Zack bisa sampai di sini.
"Biarkan mereka, Cain!"
Cain menoleh. "Kenapa?"
"Kenapa kau ingin menahan pengkhianat? Kau sudah lihat apa akibatnya jika memelihara seseorang terluka hatinya apabila kita pelihara?"
Kedua tatapan tajam itu bertemu. Cain menggeleng. Membuat Heto semakin mengerutkan wajah kesal. Dia berdecak.
Zenith menuntun Anita berjalan menuju Zack. Zack mengambil sebuah bola hitam berdiameter empat senti di balik jaket hitam yang ia kenakan. Lalu menjatuhkan bola tersebut.
Wiish.
Heto menatap Zack. Dia menyeringai"Zack. Bawa dia pergi sejauh-jauhnya dari sini. Juga dari Kerajaan Dielus yang akan ada di bawah kekuasaannya."
Zack menyengir lebar. "Lucu sekali. Sampai jumpa, Kakak Ipar." Zack bertelepati.
Bola itu menghilang begitu menyentuh lantai. Gusion memberikan bola itu padanya sebelum dia berlari ke ruangan ini. Lingkaran hitam berdiameter satu setengah meter muncul di bawahnya.
Zenith menuntun Anita memasuki area itu. Saat Zack ganti memapahnya, Zenith melepaskan ibunya. Dia keluar dari area tersebut.
"Aku punya tujuanku sendiri. Yang masih harus ku selesaikan. Sampai jumpa." Zenith membungkuk.
Zack dan Anita tampak memudar. Keduanya menghilang bersama lingkaran bayangan.
"Kau sudah besar, Zen."
Zenith berbalik. Cain menggenggam sebuah granat. Benda itu dilempar ke arahnya. Zenith berlari keluar dari ruangan.
Duar.
Granat itu jatuh di belakang Zenith. Zenith melompat. Lantai yang dia pihak hancur. Zenith berhasil mendarat dengan selamat. Sayangnya, puing-puing retakan menimpa dirinya.
***
Sedang di atas menara pengawasan, menara seratus lantai dan menjadi menara paling tinggi di Kerajaan Dielus, Aizla berdiri bersampingan dengan Dira.
Kesiur angin menerpa Aizla. Gadis itu menatap pemandangan sore dengan damai. Dia bahkan melupakan masalah yang terus menggentayangi pikirannya. Rasa bersalah yang mendalam.
Aizla menyibak rambut yang menutupi wajahnya. Tak sadar bahwa Dira sejak tadi memperhatikannya.
"Siapa nama ayahmu?" tanya Dira.
Aizla menoleh dan tersenyum tipis. Wajah polosnya itu menunjukkan ketidak pahaman. "Kenapa?"
Dira hanya diam menanti jawaban.
"Qien Abta."
Dira tertawa. "Jadi ini gadis lugu yang bodoh dan pemberani itu?"
Aizla tidak mengerti. Dia melirik Biete. Sekejap menangkap wajah sedih dan haru. Sebelum sempat bertanya, Biete lebih dulu memalingkan wajah.
Di tengah kedamaian tersebut, raungan para vampir terdengar. Aizla menatap ke arah datangnya suara.
"Saya berjanji akan selalu berpihak pada Anda. Meski harus melawan ibu..."
"Kenapa?"
"Saya telah menghancurkan malam ulang tahun Anda untuk mendapatkan kasih sayangnya. Bukankah itu salah?"
"Panggil aku Dira, Kak Aizla."
Aizla mengangguk. Aizla mengepakkan sayap. Alarm darurat berbunyi. Para musuh telah tiba.
***
Lixe menoleh ke belakang. Dia merasakan aura jahat dan kental dari Kerajaan Dielus. Keringat dingin membasahi dahinya.
"Vampir?"
"Kau takut? Kenapa kau ikut kami, Bocah?" Ague tertawa pelan. Berdiri di samping Lixe.
Lixe menggeleng.
"Aku tidak takut. Selama ada mereka yang dapat ku percaya, apapun yang pernah terjadi." Lixe mengangkat bahu. Seolah tak ada beban di sana. "Aku untuk mereka. Dan mereka untukku."
Ague mengangguk. Wajah teman lamanya muncul di benaknya. "Aero, Wien, Lean, Zack. Akhir kisah ini akan lebih indah daripada kita. Ya kan, Kak Zecda."
Ague mendengus. Dia lupa bahwa Zecda yang berdiri di depannya sangat tidak peka. Menyebalkan.