AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Bukan Seekor Tikus



Portal bayangan itu mengantarkan Lixe dan Roy’ah keluar dari istana. Mereka muncul di kediaman keluarga utama suku Harito. Lixe keluar setelah mendorong tubuh Roy’ah keluar. Roy’ah berdiri satu meter di depan Lixe.


Ada yang salah. Lixe menatap sekitar, sepertinya tempat ini berbahaya. Lantai satu yang luas tanpa sekatan. Dua tangga yang kokoh meliuk ke atas di tengah ruangan. Dinding dengan perpaduan warna emas dan perak membuat tempat itu lebih menawan ketimbang Istana Argio. Sayangnya Lixe tidak bisa menikmatinya lebih lama.


Ctar.


Sebuah sambaran arus listrik mengenai tubuhnya. Lixe menoleh ke samping. Anita melemparkan pecut perak yang langsung melilit kakinya. Pecut tersebut terhubung dengan stop kontak di yang menempel dinding. Perak panjang itu tergeletak begitu saja di lantai. Lixe menatapnya nanar. Dia lupa.


“Siapa ya?” Lixe mengerutkan kening, berusaha mengingat.


Tapi Roy’ah tidak memberikannya kesempatan untuk berpikir apapun. Roy’ah kembali mengendalikan tubuh Lixe. Pecut di kakinya bergerak ke atas, mulai melilit seluru bagian tubuhnya. Lixe hendak mengangkat tangannya. Namun pecut itu langsung menangkap tangannya. Hanya dalam hitungan detik, arus listrik menyengat tubuhnya.


“AAAAAkhhh!”


Di depan wajahnya, Roy’ah berjongkok. “Segala yang ada di wilayahku adalah milikku. Ingatlah, kau hanya tikus gorong-gorong.”


Mata Lixe yang berair melototi Roy’ah. “Kau curang!”


Roy’ah kembali berdiri. Tidak lagi peduli pada Lixe yang menurutnya akan mati dalam beberapa detik kemudian. Roy’ah meninggalkannya bersama Anita. Roy’ah menggenggam jam tangan di pergelangan tangan kirinya.


Sebuah portal persegi panjang muncul. Roy’ah memasukinya, portal itu menghilang.


“Portal buatan? Dan kau pikir dirimu lebih hebat daripada aku? Walau memang bentuknya lebih bagus dan beraturan daripada punyaku, setidaknya punyaku gak buatan orang lain,” gerutu Lixe dalam hati. Dia beranjak duduk. Pakaiannya robek di beberapa tempat, angus terbakar. Dia mulai merasa kulitnya juga akan mengalami hal serupa.


“Bulan biru. Turunkan temperatur.”


Suhu dingin menyelimuti dirinya. Lixe memilih membekukan tubuhnya. Matanya terpejam. Otaknya sungguh tidak terpikir cara lain. Anita menatapnya tidak paham. Tubuh Lixe membeku bersama tali perak yang melilit dirinya. Tali itu pun membeku hingga stop kontaknya juga. Anita berseru tertahan. Dinding rumahnya juga akan membeku kalau dibiarkan.


Crack.


Anita menginjak tali perak yang kaku. Tali itu patah. Anita tidak akan membiarkan seseorang menghancurkan rumahnya. Tidak ada lagi sengatan listrik. Masalahnya sekarang adalah bagaimana Lixe bisa keluar dari jurusnya


sendiri. Anita menepuk kening.


“Bocah ini sungguh tidak waras,” batinnya sambil menggeleng.


Di samping tubuh Lixe, bulan-bulan sabit kecil muncul. Lebih tipis, tapi juga lebih padat dari sebelumnya. Anita menahan napas. Bulan-bulan itu melukai Lixe. Meninggalkan sayatan-sayatan kecil di kulitnya. Tidak terjadi perubahan. Anita menghela napas berat. Tapi dia langsung kembali menahan napas.


“Apa yang kau pikirkan sih?!” Anita mulai berpikir Lixe kehilangan akal.


Di depannya, puluhan jarum cahaya muncul. Menghujani Lixe. Anita syok, dia memegangi kepalanya. Jarum-jarum tersebut menembus pakaiannya, memasuki pori-pori. Membuat keretakan pada lapisan es yang membekukan tubuhnya.Lixe mengerjapkan mata. Jarinya bergerak. Setelah seluruh jarum menusuk tubuhnya, Lixe menggerakkan kaki. Melompat berdiri. Dia berhasil keluar.


“Kau sungguh menghebohkan!” keluh Anita.


Lixe tersenyum. Dia menundukkan kepalanya seraya berjalan mendekati Anita. Dia berhasil membuat Anita merinding. Bau wangi yang aneh menusuk hidung Anita. Dia merasa yang di depannya bukan anak yang dia tangkap sebelumnya. Anita mengambil langkah mundur.


Lixe menangkap tangannya. Menariknya mendekat. “Apa nona cantik ini punya masalah dengan saya?” satu tangannya menggenggam tangan kanan Anita. Sedang dengan jari telunjuk kirinya, Lixe  mengusap lembut bibir Anita.


Anita melotot, buru-buru menarik tangannya. Merinding tak karuan. Dia hendak menampar, namun sesuatu membuatnya takut. “Siapa kau?”


“Jangan mencampuri urusan orang, Nona. Banyak yang tidak suka dengan perempuan macam kalian. Ingat ya,” Lixe berkata lembut. Lalu berbalik, meninggalkan Anita yang menatapnya kagum. Tidak tahu mengapa, tapi ucapan itu tepat sasaran. Hatinya luluh dalam satu kedipan mata. “Suara itu indah,” batinnya. Anita masih setia mematung dan memperhatikan punggung Lixe hingga hilang dalam cahaya.


“Kau harus belajar dariku seni bicara, Lix.”


Di alam bawah sadarnya, Lixe memegangi kepalanya yang pusing sekaligus ilfil. Apalagi dengan tatapan Anita barusan. Lixe sangat menyesal pada keputusannya untuk menerima tawaran First tadi. “Harusnya tidak aku biarkan dia mengambil alih tubuhku. Apa katanya? Seni bicara? Menggoda perempuan? Apa dia lupa berapa umurnya?” keluhnya.


“Biarkan aku yang mengendalikan tubuhmu lebih lama, Lix. Aku akan membawamu ke suatu tempat.” Kali ini sepertinya First tidak sedang main-main, itulah yang dipikirkan Lixe. Dia mengangguk setuju. Mengingat dirinya yang jadi buronan dan tak tahu jalan, tawaran itu bisa jadi satu-satunya jalan keluar.


Van tidak mengakuinya. Dia pikir, nama itu tidak ada buruk-buruknya. Hanya menimbulkan kebencian beberapa orang. Bukan masalah. Kenapa dia harus peduli pada pandangan orang yang sok suci.


***


Beberapa saat sebelum acara jamuan berakhir. Gueta merasakan tubuhnya sakit. Dadanya tiba-tiba sesak. Dia harus berusaha sangat keras untuk memegang cangkir air putih sebagai tanda berakhirnya perjamuan sore itu.


“Tubuhku rasanya remuk,” batin Gueta. Dia buru-buru meneguk air putih itu. Langsung menaruh kasar cangkir di meja hingga mengeluarkan suara agak mengagetkan beberapa orang. Gueta tidak suka jadi pusat perhatian di acara formal. Bagaimanapun juga, dia harus bersabar saat seluruh pandangan tertuju ke arahnya.


Tidak perlu ditanyakan. Arian menangkap sesuatu yang tidak beres terjadi pada tamunya. Dengan senyumnya, Arian menyembunyikan segala kecurigaan dalam benaknya. Dia memanggil pelayan wanita di sampingnya. Pelayan itu membungkuk. Arian berbisik.


Setelah acara resmi selesai, Gueta semakin merasa dirinya benar-benar kesakitan. Pelayan yang berdiri di samping Arian sejak awal berjalan menghampirinya. Pelayan itu menjulurkan tangan seraya menunduk. “Ikutlah, Putri. Saya akan mengantar Anda.”


Sepanjang jalan, Gueta tidak memperhatikan sekitar. Hanya fokus pada pelayan yang berjalan di sampingnya. Rasa sakit di tubuhnya perlahan menghilang, sayangnya sakit ini sudah membuatnya sulit berjalan hingga harus


dituntun pelayan. Gueta tidak suka ini. Dia gadis energik yang selalu ceria. Sekarang giliran bertamu di tempat jauh dia malah terlihat lemas. Imejnya bisa hancur.


Gueta meremas jemari. “Apa kau tidak memikirkan ku sebelum bertindak? Kau jahat, Lix,” umpatnya dalam hati. Gueta tahu apa yang terjadi pada Lixe. Kumbangnya masih bersembunyi di kera baju Lixe tanpa dia sadari.


Gueta langsung menghempaskan tubuhnya di Kasur begitu sampai di sebuah kamar yang luas. Tidak peduli apapun. “Sudahlah, Lixe gak peka. Otaknya bermasalah. Gak jelas. Argh,” gumamnya pelan. Rasa sebal pada Lixe masih membara di dalam pikirannya. Saat dia mulai memejamkan mata, sesuatu menarik tangannya. Memaksanya berdiri.


“Lepaskan aku! Jangan macam-macam denganku!”


Roy’ah menyeret Gueta menuju pintu. Roy,ah menarik  daun pintu, kemudian melempar Gueta keluar. Dia menatap Gueta dengan kemarahan. Dia berdiri mematung di ambang pintu kamar tersebut. Berusaha mengontrol diri yang ingin membunuh Gueta yang berani masuk ke kamarnya. Hari ini sungguh hari yang berat baginya. Menahan kemarahan, sungguh bukan dirinya.


Brak. Roy’ah memukul bingkai pintu. Gueta yang tersungkur langsung berbalik. Dia masih dalam keadaan duduk. Kaki kanannya yang di bawah tubuhnya terkilir. Saat dilihat, pergelangan kaki kanannya biru. Gueta menghela napas panjang. Teringat pada seorang desainer sekaligus penata rias yang menganjurkan nya memakai sepatu hak dengan ketinggian sepuluh cm. Sungguh bukan minatnya.


“Orang-orang sialan,” batinnya. Gueta tidak ambil pusing. Dia melepas kedua sepatu hills-nya. Lalu berdiri sembari menenteng sepatunya dengan tangan kiri. Dia bersyukur tubuhnya lekas pulih. Gueta berjalan, berusaha senormal mungkin.


Plak. Tamparan itu telak mengenai pipi Roy’ah. Dia langsung menangkap lengan Gueta dengan tatapan membunuh.


“Ingin bertarung?”


“Kalau Anda tidak punya malu.” Gueta mengangkat kepalanya. Berani menatap mata Roy’ah. “Sekalian kita pamerkan tamparan saya yang telak mengenai pipi Anda.” Gueta tersenyum manis.


Duar.


Lantai yang mereka pijak bergetar hebat. Gueta kehilangan keseimbangan. Dia melemparkan sepatunya ke sembarang arah, ganti mencengkeram pundak Roy’ah. Pikiran Roy’ah sudah melayang ke ruangan bawah tanah. Tak peduli bahkan saat Gueta memeluknya.


“Riyal!” Roy’ah menggeram.


Di bawah tanah, keributan terjadi dalam ruangan luas yang dikepung banyak tentara. Riyal membidik langit-langit ruangan. Setelah Gusion berhasil melenyapkan bom sebelumnya, Riyal membuat ledakan hebat dengan anak


panahnya.


Para tentara menembakkan pelurunya. Menghujani mereka dengan peluru yang bahkan tidak bisa dikendalikan Xiota. Dia berseru, meminta agar Gusion membuka portal bayangan.


Gusion merespon. Dia mendongak. Debu muncul bersama retakan di atas sana. Dia melirik Riyal. Riyal mengangguk. Tak lama kemudian, dia membuka portal bayangan. Ketiganya langsung  masuk bersamaan, membiarkan para tentara berteriak saat langit-langit di ruangan itu mulai runtuh.


Sesaat kemudian gempa berhenti. Roy’ah merasakan kehadiran penyusup lain di kamarnya. Dia menoleh, benar saja. Lixe sudah duduk di sofa hitam dalam kamarnya. Lixe tersenyum, memarkan rubik memori yang sudah dalam


genggamannya.


“Tikus gorong-gorong sepertimu, berani juga ya.” Roy’ah sungguh tidak akan menahan dirinya lagi. Tangannya terkepal, darahnya sudah menguap sekarang.


Lixe menyengir lebar mendengar ucapan Roy’ah.