
***
Xen'ah membuka matanya. Ruangan dengan pencahayaan dari lilin-lilin kecil di sebuah meja. Tubuhnya duduk tegap di sebuah kursi kayu. Xen'ah berusaha menoleh ke sekitar. Tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Bahkan jemarinya sekalipun.
"Aku dimana?" tanyanya dalam hati.
Seseorang muncul dari kegelapan. Berdiri di belakangnya. Arian mengelus lembut rambut Xen'ah.
"Anda Yang Mulia?" gumamnya melirik ke belakang. Orang di belakangnya mengangguk. Aura dingin itu cukup membuat Xen'ah diam. Dia tidak ingin banyak bicara.
"Katanya, ucapan itu seperti tali yang diberikan kepada lawan bicara. Kalau orangnya baik, maka tali yang panjang akan semakin mempererat hubungan di antara keduanya."
Arian mendekatkan wajahnya ke telinga Xen'ah. "Dan apabila lawan bicaranya jahat, tali itu bisa digunakan untuk mencekik lehermu."
"Uhuk."
Sesuatu melilit lehernya. Yang Xen'ah tahu, itu adalah sebuah kalung besi yang berat. Arian menjambak rambut Xen'ah. Anak itu berusaha tidak berseru. Sebuah batu berbentuk kubus mengambang di depannya. Kini tubuhnya diselimuti bayangan hitam. Bayangan itu menyerap energinya, lalu memasukkannya ke dalam batu yang mengambang di depannya.
***
Paginya...
Xen'ah memasang wajah tanpa ekspresi. Dirinya dilatih untuk menangani masalahnya sendiri. Juga hidup dalam realita apapun yang terjadi. Percuma berteriak. Tempat ini terlalu sepi. Di sini tidak akan ada yang membantunya. Bisa jadi musuh yang datang. Itu terlalu beresiko.
Xen'ah duduk tegap seraya mendongak dengan mata membulat. Arian yang memperhatikannya tersenyum senang.
"Aku akan menjadikanmu harapanku. Orang itu sudah membesarkan mu dengan baik, ya."
Keesokan paginya, Xiota mengajak Lixe pergi ke Istana dengan keraguan. Xiota tidak pernah ke sana. Dia juga tidak tahu menahu apa yang akan mereka temui di sana. Sembari menguatkan tekat, dua anak itu berdiri di pinggir jalan.
Sebuah mobil berhenti. Itu mobil autonomous yang bisa berjalan sendiri. Kaca mobil terbuka. Zenith tersenyum. Lixe melirik Xiota. Lixe menarik pintu Zenith. Pintu itu terbuka. Lixe mendorong Xiota masuk. Lalu ikut masuk.
"Kau bisa mengantar kami ke istana?" tanya Lixe to the poin.
Zenith mengangguk. Dia tidak tahu menahu. Tapi baiklah. Mobil itu berjalan menuju istana.
***
Ciiit.
Mobil berisi tiga anak kecil berhenti di depan parkiran dalam istana. Seorang penjaga berseru sebal saat tahu mobil itu diparkir begitu saja. Dia berjalan menghampiri mobil. Sayangnya tidak ada siapapun begitu dia mengintip ke dalam.
"Siapa tadi? Hantu?"
Penjaga itu menoleh ke sekitarnya yang sepi. Hari ini hanya beberapa orang yang masih bekerja. Raja memberikan mereka cuti selama sehari. Hanya orang-orang yang banyak hutang yang masih bekerja di hari libur nasional.
Criiing.
Sebuah portal cahaya muncul. Tiga anak kecil itu muncul di dalam istana yang sepi.
"Siapa kalian?!" seorang anak laki-laki yang di kenali Lixe muncul. Lixe berdiri mematung. Dia menatap Riyal tidak percaya.
Riyal berlari dan memeluknya. Keduanya sama-sama bahagia bisa bertemu kembali.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Riyal setelah mengendurkan pelukannya. Dia seperti mengenal Zenith. Tapi Xiota. Dia tidak ingat bertemu dengan anak itu. Tapi Xiota menatapnya seolah dia mengenal dirinya.
"Apa Anda melihat Xen'ah? Anak kecil seumuran Anda...., dengan wajah yang sangat mirip dengan Anda." tanya Xiota ragu. Tapi memang itulah kenyataannya. Xiota tak sanggup lagi menatapnya. Orang yang memakai kemeja putih bersih dan celana biru yang mengkilap, tidak mungkin kakaknya.
Riyal diam. Tidak menjawab. Tapi firasatnya buruk soal ini. Riyal menggeleng. Lupakan sejenak. Riyal menawarkan makan pada mereka. Tapi Xiota menggeleng keras. Dia berlari menyusuri istana. Yang lain mengejar. Tapi Riyal hanya diam terpaku di tempat.
"Aku berharap bisa menjadi anak normal seperti kalian. Sayangnya, tubuh ini bahkan tidak sanggup berlari sejauh lima meter. Maaf. Semoga kau gagal." Riyal melambaikan tangan.
Xiota berhenti setelah berlarian di istana lebih dari tiga jam. Zenith dan Lixe pun mulai lelah. Xiota duduk dengan mata berkaca-kaca. Tidak boleh. Dia diajarkan untuk tidak menangis. Untuk bersikap dingin menghadapi masalah.
Zenith menebar pandangan. Matanya yang lebih
hebat dari dua anak lainnya tidak menemukan keberadaan Riyal.
"Sepertinya Riyal sungguh tidak ada di sini," ucap Zenith yakin.
"Kau mencari anak laki-laki berpakaian kusut dan berwajah melas?" tanya seorang anak yang berdiri sambil bersandar di dinding tidak jauh dari mereka.
Roy'ah menatap rendah. Lixe tidak menyukai tatapan itu. Begitu juga Zenith. Tapi dua-duanya sadar bahwa kekuatan anak di depannya ini sepertinya jauh di atas mereka.
"Dia tidak ada di istana. Dia dibawa ke Laboratorium Suku Abta."
Xiota tanpa basa-basi berlari. Zenith dan Lixe mengejarnya. Mereka keluar dari istana dan tanpa ragu sedikitpun berlari menyebrang jalan yang ramai. Tidak peduli lampu sedang hijau atau merah.
***
"Kenapa kau membocorkan rahasia pada mereka?" tanya Riyal sedikit membentak Roy'ah.
"Aku hanya tidak ingin ada seseorang yang menggantikan Kakak! Kamu kakak kandungku. Saudaraku satu-satunya. Tidak ada yang lain. Tidak ada yang bisa menggantikanmu! Aku tidak akan membiarkannya!" Roy'ah menjawab dengan sepenuh hati.
Riyal tidak percaya adikny bisa memmnyayanginya yang hanya aib keluarga. Riyal menggeleng. "Aku pantas digantikan."
"Tubuhku lemah! Kau tahu sendiri, kan! Semua orang memandangku rendah! Aku benci sebuah kehidupan!"
Riy'ah diam. Air mata mengalir keluar tanpa dia sadari. Roy'ah memiringkan kepala. Kakaknya itu juga menangis rupanya. Riyal mengusap air matanya.
"Jadilah orang yang kuat. Agar kau tidak tergantikan oleh sistem rimbah ini." Riyal berjalan meninggalkan Roy'ah.
Roy'ah mengangguk paham. Ucapan itu akan dia ingat sampai ajalnya tiba. Dia tidak akan lagi menghalangi orang yang akan menggantikan kakaknya. "Sesuai keinginan Kakak."
***
Xiota tidak berhenti hingga sampai di depan laboratorium tempat mereka bisa bermain bersama.
Di depan pintu masuk gerbang saja sudah cukup banyak pengawal. Kata Aizla sebagai anak pemilik laboratorium ini, akan ada sebuah eksperimen di mana mereka akan menggunakan seorang manusia sebagai bahan percobaannya.
"Kakak!!"
Xiota yang teringat hal itu berpikir Xen'ah akan dijadikan bahan percobaan. Tidak akan dia biarkan. Xiota tidak berpikir panjang. Berlari menuju para body guard. Dia mendorong orang bertubuh kekar dengan tangan kecilnya.
"Auh."
Xiota jelas terpental. Salah satu dari bodyguard itu menendangnya. Lixe berlari menangkap kepala Xiota yang hampir menghantam paving trotoar. Lixe duduk memangku Xiota.
"Kaaaaak!!!" Xiota berseru sekencang-kencangnya.
Para bodyguard menggigit bibir sebal. Salah satu dari mereka mendekat.
Buak.
Zenith lebih dulu melompat, berputar di udara, dan menendang kepala orang dewasa yang jauh lebih tinggi darinya. Tapi perbedaan ukuran tubuh tidak membuatnya lemah. Orang itu terduduk. Temannya marah.
Lixe menarik tangan Zenith. Tubuhnya bercahaya. Cahaya itu mengalir menyelimuti Zenith dan Xiota.
Dor.
Peluru di tembakkan pada mereka dari jendela lantai dua laboratorium. Ketiganya mendongak. Tembakan itu meleset.
Dari jendela yang terbuka itu, tampak Gusion tengah melayangkan tinju pada seseorang yang telah berusaha menembak temannya. Orang itu pingsan dalam sekali pukulan.
Gusion menatap teman-temannya nanar. Mengabaikannya, lalu menutup jendela itu.
"Apa yang terjadi di dalam?" tanya Zenith. Dia sudah melihat keadaan di dalam dengan matanya. Setiap belokan, tangga, sudut, semuanya dijaga ketat.
"Ayo kedalam!"
Ketiganya menghilang. Alarm keamanan berbunyi.
"Maafkan aku." Gusion menundukkan kepala pada Xen'ah yang sudah berbaring di atas ranjang besi dengan selang-selang tipis tertancap di lengan dan kakinya. Anak itu kini memakai kaus tipis lengan pendek dan celana pendek serba putih. Bahkan kulitnya yang pucat membuatnya terlihat seperti mayat.
Gusion menepis pikirannya. Tidak baik mengatai seseorang yang masih hidup sebagai mayat.
Xen'ah tersenyum. "Lakukan tugasmu. Tapi jangan bunuh mereka ya."
Perintah itu seakan menyayat hatinya. Gusion Wist, seorang prajurit kecil yang bekerja di bawah pimpinan Arian. Tidak ada yang tahu namanya selain Arian dan teman-temannya. Dia kebanggaan Arian saat ini. Orang yang diperintahkan menangkap hidup-hidup orang-orang yang berhubungan dengan Xen'ah.
"Aku siap menjalankan perintah."