
Di bawah sinar bulan purnama, Aizla berjalan menuju tempat pertempuran hebat terjadi. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, malakukan perenggangan. Aizla menatap bulan purnama dengan matanya yang buta.
"Akhirnya aku bisa menakhlukkanmu!" ucapnya dengan penuh kebahagiaan. Sebuah sayap hitam keluar dari punggungnya. Gigi taringnya meruncing, juga kukunya yang panjang semakin kuat.
"Pengorbananku pasti ada artinya."
Neo berhadapan dengan para tentara Kerajaan Neland. Orang-orang itu merasa aman, mereka percaya bisa mengalahkan Neo dengan banyaknya jumlah. Neo memiringkan kepala dan menyeringai.
"Panggilan jiwa kutukan. Aku mengeluarkan kalian." Neo tertawa lepas. Di sampingnya, juga belakang, muncul portal-portal yang dari dalamnya keluar sebuah makhluk yang lebih sering disebut Zombie. Lebih kuat dan lebih kejam daripada yang Lixe temui di Kerajaan Roila.
Lixe menelan ludah. Apakah dia mampu mengalahkannya sekarang. Lixe menatap para tentara yang dicekik, juga dicakar tanpa ampun oleh para monster. Kesombongan di wajah pasukan kerajaan hilang dalam sekejap.
Aren berhadapan langsung dengan Neo. Keduanya saling tatap beberapa saat. Lalu sama-sama menghilang, bergerak secepat kilat. Slash Neo muncul di belakang Aren. Aren berbalik. Mengayunkan pedangnya dengan segenap kekuatannya. Tapi Neo lebih dulu menghilang.
Kali ini Neo melayangkan tinju ke wajah Aren. Aren mengayunkan tubuh ke belakang, bersalto dan melompat ke belakang.
"Rantai pengikat abadi." Formasi sihir berbentuk persegi terbentuk dengan Neo sebagai pusatnya. Empat rantai emas keluar dari tanah dari keempat sisinya. Masing-masing melilit kaki kanan, kiri, juga tangan kedua tangannya yang rapat dengan pinggang dan dada.
Neo tertawa semakin kencang. Rantai itu bergetar. Neo memberontak, rantai itu dengan cepat retak dan hancur. Aren melangka mundur. Aura yang dikeluarkan dari tubuh Neo menusuk hingga ke tulang. Aren mengayunkan pedangnya. Pedang itu berubah menjadi sebuah rantai emas yang kuat dan besar.
Ctar. Rantai itu mengenai tanah kosong. Neo lebih dulu melompat. Aren menggeram, tanah di depan sana retak. Neo bernapas lega. Dua sayap yang kuat muncul di punggungnya. Sayap itu mengepak, angin kencang menerpa Aren dari atas. Aren menyilangkan tangannya di depan wajah. Tanpa sengaja, matanya tertutup saat debu masuk ke sana.
"Apa yang kau lakukan, Cucuku?" Neo muncul di hadapan Aren. Dia memukul lengan Aren. Telak, hingga Aren terpental dan tubuhnya menghantam tanah. Dia menahan sakit. Langsung berdiri.
Neo mengayunkan tangan. Asap hitam terbang ke arah Aren.
Sebuah tameng tercipta mengelilingi Aren. Neo dengan cepat muncul satu meter di atas kepala Aren. Hanya cela itu yang bisa dia dapatkan. Neo meluncur dengan kuku runcingnya teracung ke depan. "Matilah kau!" Neo tertawa kencang.
Lixe mengirimkan 12 sabitan cahaya pedangnya. Neo bersalto di udara, menghindari kedua belas serangan. Neo menoleh ke arah Lixe. Dia tidak melihat apa-apa, Bal masih menggunakan ilusi agar dirinya tidak terlihat.
Neo tidak bergerak. Dia mencoba mencari dimana keberadaan orang yang menyerangnya. Hingga tanpa sadar, rantai emas Aren berhasil menangkap kakinya. Neo terlempar puluhan meter dari depan gerbang istana putri.
"Aaaahhh!!" Neo berteriak. Rantai itu hancur, energi kuat keluar dari tubuhnya. Beberapa bangunan di bawahnya retak. Aren terbang tinggi. Tampak seperti bayangan hitam yang menghalangi cahaya indah bulan purnama. Tidak itu bukan Neo.
Neo berbalik. Sebuah naga bayangan muncul dengan mulut besarnya yang terbuka lebar. Naga itu menelan Neo. Aren berlari secepat kilat ke tempat ke jadian. Dia menengok ke atas. Rantainya terbang, hendak menjerat naga itu.
Tepat sebelum rantainya melilit sang bayangan. Naga itu hancur, digantikan Neo yang tubuhnya akhirnya tertangkap. Rantai itu bercahaya. Neo merangsek lepas. Dia berteriak kesakitan.
Tidak lama, rantai itu hancur menjadi debu. Tapi seorang yang memiliki sayap yang sama, langsung menyeruduk dengan tanduk kecil di kepalanya.
"Saya akan memberi Anda hukuman! Saya Aizla Abta. Dengan segala pengorbanan yang saya lakukan, mewakili suku Abta yang Anda ambil kekuatannya dan Anda membunuh pemiliknya. Ini hari pembalasan!" Setelah selesai dengan openingnya, dua buah belati dengan mata pisau putih mengambang di samping kedua telinganya.
Belati itu melesat ke arah Neo yang terjun bebas. Neo menangkisnya. Belati itu berbalik ke arah Aizla.
Dari bawah, Zenith dengan berani melompat. Dia meraih kaki Neo. Zenith melempar tubuh pria itu dengan tangan logamnya. Pria itu menghantam dinding gedung yang terbuat dari besi. Membuat dinding itu penyok.
Xiota yang berdiri di atas genting rumah dua lantai, mengangkat kedua tangannya. Puing-puing bangunan yang rusak akibat pertempuran antara para prajurit dan para monster yang jelas dimenangkan oleh para monster yang tak kunjung berhenti bermunculan, terangkat. Puing-puing itu terbang ke arah Neo. Xiota mengeluarkan teknik kinetik kebanggaan Kerajaan Argio.
"Warga Argio? Kau? Hahaha!!"
Asap darah membentuk bola, melindungi Neo di dalamnya. Puing-puing yang menyentuh asap itu menjadi asap. Neo tertawa, semakin kehilangan kontrol dirinya. Jiwa orang-orang Argio yang ada di tubuhnya seolah berteriak. Neo menggila. Kekuatannya semakin besar.
Xiota bergetar. Dia merasakan setiap sel dalam tubuhnya akan pecah. Bahkan darah seakan berhenti mengalir dalam tubuhnya. Xiota berteriak kesakitan.
"Warga Argio, aku akan membunuhmu!" Neo berseru. Dia terbang menghampiri Xiota. Telapak tangannya terbuka, asap merah pekat menyelimuti telapak tangan itu.
"Cahaya bulan purnama. Lingkaran gravitasi."
Neo menoleh. Dia menatap Lixe. "Kau yang dari tadi menggangguku?" tanyanya.
Lixe sedikit tersentak. Dia menoleh pada Bal yang berdiri di samping memegangi dada kirinya. Mata Bal terbuka lebar. Lixe tahu anak itu tidak baik-baik saja. Dan mereka jadi jauh tidak baik-baik saja karena sihir ilusi Bal sudah tidak berfungsi.
Lixe melangkah mundur. Dia merendahkan tubuh, merangkul Bal. Lixe dan Bal menghilang dari sana. Tepat saat itulah genting rumah itu hancur. Lingkaran cahaya Lixe pecah. Xiota pun terjatuh. Dan Neo kembali terbang ke arah anak itu. Kali ini ingin mencekiknya.
"Roar!" Sebuah naga bayangan menangkap tubuh Xiota dengan mulutnya. Moncong besarnya menabrak Neo. Membuat orang itu terangkat lima puluh meter ke atas. Naga itu menghilang. Neo meluncur ke bawah. Sekarang rantai- rantai besar hendak menangkap tubuhnya.
"Aku muak dengan Argio! Cucu adikku. Dan orang-orang pengganggu seperti kalian!"
Neo mengayunkan tangannya. Rantai-rantai itu lenyap. Tubuh Aren tidak bisa bergerak. Darah dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir. Neo mencekik leher Xiota. Lalu berputar. Dia melempar tubuh Xiota. Xiota menghantam Aren yang tidak bisa bergerak.
Neo meremas jemari. Dua mangsanya sekarang berada dalam satu tempat yang sama. Dia menyeringai. Neo mengangkat kedua tangannya, membuat sebuah bola sihir dari asap darah hingga menutupi bulan purnama. Bola itu lalu dilempar ke arah Aren dan Xiota. Tanpa ampun, telak mengenai keduanya. Dua orang itu kini terkulai tidak berdaya dengan darah mengalir sangat pelan.
"Ayah!!" Tara menjerit. Dia berdiri dua meter dari ayahnya, Neo menoleh ke arahnya. Lagi-lagi tidak terlihat apapun. Neo mendekati asal suara. Tangan kirinya mengeras, terlihat urat-urat otot ungunya.
Tara bersiap melangkah mundur. Tapi dia tidak takut. Tara mengatur napas. Lalu melangkah maju.
"Apa kau juga menghilangkan diri? Tunjukkan dirimu!" Tara dan Neo saling mendekati.
Lixe yang tidak bisa membiarkannya, setelah membawa Bal yang tampak tidak baik pergi cukup jauh, Lixe langsung kembali memasuki Medan pertempuran.
Tapi gerakannya kalah cepat. Aizla lebih dulu mendarat di depan Neo. Dia hendak mencekik Neo. Tapi Neo menepis tangannya, lalu balas mencekiknya. Tatapan dua orang itu beradu. Walau Aizla tidak bisa melihatnya, setidaknya dia merasakan betapa tajamnya tatapan Neo.
"Itu adalah kekuatan Suku Abta. Anda tidak bisa menggunakannya untuk membunuh saya," kata Aizla terbata-bata. Napasnya sesak. Kedua tangannya mencengkeram tangan super kuat itu.
"Aku tidak akan membunuhmu. Hanya mengambil jiwamu. Aku pastikan, kau dapat tempat istimewa bersama Suku Abta yang lain." Neo mengangkat Aizla. Membiarkan tubuh itu terkena cahaya bulan purnama. Aizla berteriak tertahan. Tubuhnya serasa disayat ribuan belati.
"Bagaimana bisa? Kenapa aku bisa dikalahkan? Bukankah aku sudah cukup berkorban untuk membuat tubuhku kuat terhadap sinar bulan purnama. Bukankah, segala penderitaan sudah kulalui? Apa ini hasilnya? Apa belum cukup? Tidak adil" Perlahan Aizla kehilangan kesadarannya.
Neo meletakkan tubuh Aizla perlahan. Dia berbelas kasih padanya.
Walau segala kesadarannya hilang, Neo ingat akan janji-janjinya yang pernah dia ucapkan sepenuh hati. Janji pada gurunya, tidak akan membunuh Suku Abta lagi. Neo bersimpati pada Aizla. Lalu meninggalkannya.
"Dimana kau?" Neo mencari orang yang tadi berteriak padanya. Lixe kembali bergerak. Dia berhenti di depan Neo. Neo menggaruk kepalanya.
"Siapa yang kalian sembunyikan. Aku akan membunuhmu!" Neo membuat sebuah bola dari asap darah yang besar dan padat. Dia melemparkannya pada Lixe.
Zenith muncul di depan Lixe. Langsung menendang wajah Lixe. hingga membuatnya terpelanting Bola itu mengenai punggungnya, Zenith tersenyum kecut. Darah segar keluar dari ujung bibirnya. "Maaf, Amatir." Zenith pun tumbang.
Gusion tiba di belakang Neo. Neo berbalik. Telapak tangannya hendak mendorong dada Gusion. Tapi Gusion berhasil menepisnya, lalu balas memukul. Neo menghindar. Neo terbang. Lalu meluncur ke arahnya dengan kuku-kuku tajamnya yang teracung.
Gusion melompat mundur, Neo mengenai tanah. Gusion menangkap kedua lengan Neo. Dia membanting Neo. Sayangnya Neo balas menjepit leher Gusion dengan kakinya. Gerakan Gusion terhenti.
Neo menyeringai. Saat kedua pasang bola mata itu bertemu, Gusion merasakan tubuhnya mulai hancur. Darahnya seolah mendidih di dalam sana. Gusion mendengus. Dia mengalihkan pandangan, berusaha menghindari tatapan Neo yang mematikan.
Bola asap darah transparan kembali muncul. Memisahkan Gusion dan Neo dari keadaan di luar.
"Kamu sungguh hebat. Mampu bertahan sampai seperti ini? Aku akan membuatmu tunduk."
Gusion balas menyeringai.
Bola itu semakin kental. Aura yang keluar dari tubuh Neo semakin meremas seluru tubuh Gusion. Gusion mampu bertahan.
Namun di luar sana, Lixe melihat kaki Gusion yang mulai bergetar. "Apakah aku sungguh tidak pantas untuk Van?"