AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Bertemu kembali



Tubuh Zack dan Bal muncul di kota perbatasan. Es yang membekukan mereka meleleh. Zack berseru tertahan, menahan kekesalan. Bal menerawang, mencoba melihat keadaan di tempat tadi. Nihil, Bal tidak melihat apa-apa.


"Mereka sudah membawanya pergi," ucap Zack dengan segala rasa bersalah di hatinya.


"Sepertinya memang sudah jalannya begini. Ayo pulang, Paman! Tidak ada yang bisa kita lakukan."


Bal melihat ke sekeliling, mencari tumpangan. Motor mereka tertinggal di tempat kejadian. Bal menghembuskan nafas perlahan.


"Ayo Paman!" pinta Bal sebelum berubah menjadi roket kecil yang cukup di naiki Zack seorang. Zack naik. Mereka melesat cepat ke ibu kota.


"Apa yang akan kukatakan pada Qiana?"


"Kalau saranku, tidak perlu mengatakan apapun. Lagian dia tidak ingin bertemu kita,"


"Dia hanya tidak ingin menemui mu, Bal. Sayangnya dia sadah jadi kesayangan Zenith."


***


Malam harinya, Lixe berdiri di samping jendela kamarnya yang terbuka. Dia menatap cahaya bulan yang tampak lebih terang dibanding hari-hari sebelumnya. Dia melihat sebuah cahaya terang muncul di kejauhan. Entah apa itu? Lixe mengabaikannya. Berpikir itu hanya hal biasa yang wajar-wajar saja.


Lixe menutup jendelanya. Lalu terlelap dalam mimpinya.


"Apa kau tidak merasa risih tinggal di sini, Nak?" ucap seorang Pria berpakaian serba putih dan memakai tudung yang menutupi separuh wajahnya. Orang itu muncul di tengah jalan trotoar. Beberapa orang berseru kaget. Tapi pria itu hanya mengabaikannya dan melanjutkan perjalanannya yang tidak jelas.


Pria itu hanya berjalan tanpa arah di ibu kota. Dia datang hanya untuk jalan-jalan, tidak berharap akan bertemu siapapun.


"Pelayan Geor Wist yang setia. Ada apa Anda ke sin, Tuan Lest Van?" seorang memanggilnya. Lest menoleh. Keringat dingin bercucuran di keningnya. Dia tidak menyangka akan bertemu orang itu di sini.


"Anda? Kenapa Anda di sini?"


"Berani mengabaikan pertanyaanku dan balas bertanya?"


"Maafkan saya. Saya setia pada garis keturunan utama. Selamanya hormat pada Anda." Lest sedikit gugup mengatakannya. "Saya datang hanya untuk berkunjung."


"Aku tinggal di sini." Orang itu melewati Lest. "Saat kembali, ucapkan salamku pada Gueta. Beritahu dia tempatku berada. Ingat, hanya Gueta."


"Baik." Portal cahaya muncul, Lest menghilang dari sana.


Keesokan harinya..


Lixe bangun dari tidurnya lebih awal. Seseorang mengetuk pintu kamarnya brutal. Sepertinya dia tahu siapa pengacau tidurnya. Benar saja, Zenith sudah berdiri di depan pintu kamarnya sambil berkacak pinggang. Perban di dagunya masih terpasang. Setidaknya hari ini dia tidak akan mengoceh banyak hal hari ini.


Zenith meraih tangan Lixe, menariknya keluar dari kamar. Tanpa mengatakan apapun, Zenith menyeret Lixe keluar dari istananya. Dia berhenti di depan seseorang yang sebelumnya belum pernah Lixe temui. Laki-laki yang tampak di atasnya tiga tahunan itu seperti tidak asing.


Lixe berpikir keras, tapi dia sama sekali tidak mengingatnya. Orang itu mengulurkan sebuah hardisk. Zenith menerimanya.


"Aku mendapat kabar Kerajaan Aenmal akan menjalin hubungan kerjasama dengan Kerajaan Argio. Tapi semua ini belum pasti terjadi. Tuan Geor Wist tidak akan dengan muda diperbudak, jadi kalau kalian tidak bergerak segera. Jangan berharap bisa mengalahkan Aenmal. Toh Kalian tidak punya dukungan siapapun."


"Kami bisa mengalahkan siapapun," sahut Zenith dengan suara berat.


"Aku tidak yakin. Ya kan, Tuan Muda Van?" Orang itu tersenyum pada Lixe. Siapa ya? Lixe menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ingatannya tentang orang ini hilang.


Andai Zenith tidak dalam kondisi rahang seperti sekarang, dia sudah mengoceh panjang. Tapi apalah dayanya. Zenith terpaksa menerima hinaan itu sekarang. Dia mendengus sebal.


"Namamu siapa?" tanya Lixe menyerah mengingat nama orang di depannya. Orang itu menepuk kening. Bisa-bisanya dia mengingat nama orang yang tidak mengingatnya.


"Jian Aenmal. Lupa?" jawab orng itu tanpa ekspresi. Lixe tersenyum kecut mengangguk cepat. Walau dia benar-benar lupa pernah bertemu dengan orang ini.


"Kenapa Gueta bisa mempercayai orang sepertimu. Iya, diakan sama gilanya sepertimu," gumam Jian sambil manggut-manggut. Lixe semakin tidak paham.


Lupakan.


"Panggilan binatang. Pelikan Dalmia."


Seekor burung muncul dan mendarat di depannya. Burung bersayap lebar dan berparuh panjang itu menunduk memberi hormat. Jian menaikinya. Burung itu terbang lalu menghilang.


"Tiing Tong."


Bel ruang apartemen Gusion dan Xiota berbunyi. Tidak ada jawaban. Zenith sudah bersungut-sungut menanti kehadiran kedua orang tersebut. Zenith kembali menekan tombol. Bukan Xiota dan Gusion yang keluar, melainkan Aizla yang tinggal di ruangan sampingnya.


Aizla membuka pintu kamar. Dia memeluk Zenith. Zenith sedikit melupakan kekesalannya pada dua orang yang tidak kunjung membuka pintu itu.


"Sabarlah. Semalam mereka habis begadang. Gusion baru datang pukul sepuluh setelah menjalan pelatihan bersama para kesatria kerajaan." Aizla tersenyum manis.


"Kok tahu?"


"Kan kami tetangga."


"Kamu belum tidur?" Aizla menggeleng.


"Terus kamu ngapain?"


"Main game sama Xiota."


Sedetik kemudian, pintu ruangan itu akhirnya terbuka. Gusion menarik lengan Xiota yang masih setengah sadar. Dua orang ini tampak tak bersemangat.


"Kau tidak rindu rumahmu, Xio?" Zenith bertanya dengan suara berat. Rahangnya sudah lumyan membaik. "Aku dengar Putri Gueta Aenmal mengajukan kerjasama dengan Tuan Arian. Kalian tidak mau melihatnya?"


Gusion melepaskan Xiota, orang itu hampir menghantam bingkai pintu. Tapi keduanya sama-sama tampak bersemangat.


"Aku ikut." Aizla yang sepertinya mengerti arah pembicaraan angkat bicara. Semua sepakat pergi. Semuanya menoleh pada Lixe. Dia menatap Gusion.


"Bukankah...,"


"Kami ingin yang terang-terang. Tidak mau yang gelap-gelap," sahut Gusion sebelum Lixe menyampaikan keluhnya.


"Istana Argio." Zenith memberi arahan.


Lixe Pasrah. Itu sama saja dengan bunuh diri. Tapi baiklah. Mau bagaimana lagi. Dia membuka portal cahaya menuju Istana Argio. Muncul di kamar Riyal. Entah kenapa dia selalu terpikir Riyal saat mendengar nama Kerajaan tersebut.


Aizla menjadi orang terakhir yang memasuki portal. Gadis itu menunggu Biete yang baru saja memasuki tubuhnya.


"Berhati-hatilah, aku tidak ingin kejadian yang dulu pernah terjadi padamu terulang kembali," bisik Biete ke telinga Aizla.


"Kejadian apa?"


"Kau lupa, aku juga."


Aizla memasuki portal. Peringatan Biete membuatnya berpikir keras. Saat tubuhnya muncul di kamar Riyal. Dadanya sesak. Riyal berdiri di depan mereka. Busur di tangannya sudah siap melepaskan anak panah.


"Siapapun kalian, aku harap kalian segera pergi."


"Apa kau lupa pada Kak Mita?" Lixe berseru. Riyal hanya menarik sebelah alis. Dia melepaskan tali busurnya.


"Lixe!" panggil Biete. Lixe mengangguk.


"Cahaya bulan sabit. Tameng setengah lingkaran."


Anak panah itu pecah menabrak sebuah tameng cahaya satu meter di depan Lixe. Riyal kembali menembak. Lima anak panah, tameng Lixe hancur bersamaan dengan kelima anak panah.


Biete menatap baik-baik lawan mereka. "Mungkinkah, ada yang salah di sini? Rasanya aku pernah terjebak di situasi ini."