AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Cyborg yang Jenius



Sore harinya....


Mobil Zenith melaju pelan di jalanan yang ramai. Kali ini Lixe yang menyetir, walau dia yang paling amatir. Tapi mengingat dia yang kondisinya lebih baik daripada Zenith. Sementara Zenith tertidur di kursi penumpang. Bal sejak tadi hanya diam, bengong tidak jelas. Lixe dengan cekatan berusaha tidak menimbulkan getaran agar tidak mengganggu kedua penumpangnya.


Beberapa orang melambaikan tangan. Berseru berterimakasih begitu melihat mereka. Itu cukup membuat Lixe beberapa kali menoleh dan membalas salam. Dan beberapa kali Zenith menghentakkan kakinya, menyuruh Lixe fokus dengan apa yang ada di depannya.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Zack tiba-tiba pada Lixe. Orang itu selalu membuat jantungnya meloncat. Lixe membanting stir. Zenith berdecak sembari menghentakkan kakinya lebih keras dari sebelumnya. Bagus. Dia meninggalkan jejak kaki di mobilnya sendiri. Bal langsung sadar dari lamunannya. Dia meringis ngilu begitu melihat bagian mobil yang penyok diinjak Zenith.


"Begini, saya tahu Paman bisa bertelepati walau dalam jarak jauh. Tapi apa Paman bisa memilih waktu yang tepat. Apa Anda tahu, putri Anda hampir membunuh saya." Lixe menyampaikan keluh kesahnya. Kali ini Zenith benar-benar mendorong kepala Lixe. Astaga dia kira Zenith masih tidur.


"Kau yang selalu kaget. Bukan salahku juga. Jawab pertanyaanku, Nak!"


"Kami baik-baik saja. Zenith juga berhasil membawa pulang salinan data-data itu. Mungkin tidak dengan Paman Ague,"


"Iya, aku sudah menghubunginya tadi," sejenak suara Zack putus-sambung.


"Apa kau tahu orang yang bernama Gusion Wist?"


Lixe lagi-lagi membanting stir. Seorang gadis yang mobilnya hampir ditabrak Lixe menjerit.


"Oh. Maaf, Nona!" ucap Lixe seraya membenarkan arah mobilnya.


"Kau gila, Lix! Fokus ke depan! Aku bertaruh kau bahkan tak pernah mengendarai mobil sebelum ini bukan!" Zenith sekarang benar-benar bangun. Dia melipat tangan di depan dada. Siap mengomel lagi.


"Katakan pada ayahku untuk menghubungiku!" Zenith menyilangkan kaki.


Lixe mengangguk dengan senang hati dia akan melakukannya.


"Paman, menurut undang-undang berkendara. Seseorang tidak diperbolehkan untuk berkendara sembari melakukan panggilan tel....,"


"Kata siapa? Kau bahkan tidak pernah mendapat pelajaran berkendara bukan?" Zack memotong ucapan Lixe. Dia mendengus.


"Sampai jumpa." Panggilan itu terputus.


Lixe menghela napas lega. ujung bibirnya terangkat dengan menampilkan wajah penuh kebebasan. Perjalanan mereka kembali tenang.


"Kita tidak akan langsung pulang. Ikuti arahanku, Kak!" Bal terbangun dari mimpinya. Lixe menoleh. "Ada apa dengan anak itu?" batinnya. Bal hanya berdehem pelan. Baiklah. Walau ekspresi Bal yang sangat datar itu sedikit membuat Lixe cemas, dia tetap mengikuti segala arah yang dikatakannya.


Dua jam kemudian, mobil itu berhenti di sebuah rumah sederhana di tengah hutan. Lixe tahu rumah itu. Dia pernah tidur di sana satu malam, tanpa ia ketahui siapa dan bagaimana dia dibawa ke sana.


"Seingat ku, jarak rumah ini dengan Kerajaan Roila tidak sejauh ini. Kenapa rasanya lama sekali ya,?" Lixe bergumam heran.


"Apa kau lupa? Berapa kali kau hampir menabrak pepohonan yang tidak bersalah itu? Kau sungguh membuat hampir seluruh badan mobilku remuk. Aku akan meminta ganti rugi. Dasar amatir!" sahut Zenith menatap tajam pada Lixe. Sudah sejak tadi dia geram, hendak merebut stir kemudi. Sayang, kepalanya pusing.


"Makannya, kasih tutor! Jangan pelit-pelit jadi orang," Lixe tidak terima. Dia mengerem mobilnya kasar sambil menoleh pada Zenith. Gadis itu menghentakkan kedua kakinya, menahan tubuhnya yang hampir terjungkal ke depan.


"Cih. Aku akan mengajarimu. Dan kau harus bisa!" Aura Zenith benar-benar menakutkan. Dia matanya sinis menatap supir di depannya. Lixe langsung membuang muka ke depan.


"Bisakah kita turun sekarang?" tanya Bal berusaha mendinginkan atmosfer.


Zenith tidak mengubah auranya. Membiarkan hawa panas memancar dari tubuhnya. Dia mengangguk. Lalu berdiri dan melompati pintu mobil.


Lixe juga melompat. Wajahnya uring-uringan. Diikuti Bal, dia menepuk punggung Lixe. Tersenyum menyemangati. Dan itu senyumnya yang pertama kalinya di hari ini.


"Kakak Zenith tidak akan menyakiti Kakak seperti dia menyakiti mobil kesayangannya kok. Kakak kan sangat disayangi Kak Zenith," kata Bal sembarang.


Lixe berbalik. Dia langsung menutup mulut Bal dengan tangan kanannya.


"Apa kalian hanya akan terus bicara di sana?!" seru Zenith melampiaskan segala kekesalannya. Dia memegangi kepalanya.


Bal menatap Zenith dengan tanda tanya.


"Astaga. Ada apa dengan anak ini. Kau sungguh tidak bisa membaca pikiranku?!" batin Zenith lebih bertanya-tanya. Beberapa saat Bal bertatapan dengan Zenith.


Lixe yang setidaknya memahami maksud Zenith langsung menarik tangan Bal. Keduanya lalu berjalan mendahului Zenith.


"Ada apa denganmu, Bal?" batin Zenith khawatir.


Tok tok, Bal mengetuk pintu kayu. Rumah itu terlihat sederhana dengan pintu kayunya. Tapi dindingnya sangat kokoh. Bal melirik sekitar. Ia berniat mengintip dari jendela.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Zenith mengagetkan yang lain.


"Aku hendak melihat ke dalam dari jendela. Maaf kalau aku tidak sopan. Apa Kakak mengizinkanku?" jawab Bal polos.


Mendengar jawaban itu Zenith seperti disambar petir. Bukan etika yang dia pertanyakan di sini. Bukankah Bal bisa menggunakan kekuatannya dan melihat ke dalam. Bal adalah anggota Suku Dey yang paling berbakat dan jenius di generasi ini. Zenith hanya dapat menatap heran Bal yang mengintip dari jendela.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seseorang dari dalam. Pintu terbuka, itu bukan Gusion seperti yang mereka inginkan.


"Dimana Gusion Wist," jawab Zenith.


"Oh. Kalian ini kawan atau lawan?" Pria itu menilai para tamunya dengan melihat dari bawah hingga atas satu-persatu. "Hai, Siluman Beruang! Apa ini teman-temanmu?" Dia tersenyum pada Lixe.


"Aku? Hah? Kau bilang apa?" Lixe menunjuk dirinya. Dia menoleh pada Bal. Biasanya anak itu akan memberitahukan sesuatu. Tapi kali ini, dia hanya diam.


"Oh. Waktu itu kau tidak sadarkan? Biar aku ceritakan di dalam. Kalian mau masuk?" Pria itu membuka pintunya lebih lebar. Dia masuk duluan. Meninggalkan Zenith dan Lixe yang saling tatap. Berbeda dengan Bal yang langsung masuk. Dia berjalan seperti mayat hidup.


"Aku khawatir pada Bal," gumam Zenith pelan. Dia memegangi tangan Lixe yang berdiri di sampingnya.


"Aku juga," Lixe mengangguk. "Ayo!" Lalu menarik tangan Zenith. Mengajaknya masuk.


Ketiga duduk di atas sofa empuk yang mengambang tiga senti dari lantai. Masih heran dengan orang yang menawarkan minuman dan makanan di meja depan mereka.


"Namaku Jian, sepupu orang yang kalian cari. Dan siapa kalian?" Jian menyilangkan kaki.


"Apa kita pernah bertemu?" Lixe mengangkat sebelah alis. Yang ditanya terkekeh. Dia mengangguk.


"Kapan?" Lixe menggaruk kepalanya.


"Kemarin, saat kamu pertama kali terbangun dari hibernasi panjangmu. Di dekat Jurang Kematian. Sudah ingat?"


Pikiran Lixe melesat. Menjelajahi ruang dan waktu. Dia mencoba memutar ulang kejadian yang terjadi. Pusing. Dia menoleh pada Bal. Ah lupakan. Anak itu benar-benar entah ada dimana. Lama berpikir. Akhirnya Lixe mengingat kejadian itu. Saat dia bertarung dengan Jian dan seorang kakek. Lixe menepuk jidat.


"Maaf untuk waktu itu," Lixe menundukkan kepala. Jian menggeleng dengan senyuman ramah.


"Bukan masalah. Tapi siapa yang memberimu kekuatan itu? Seorang gadis?" Jian memajukan wajahnya. Dia menatap intens Lixe di depannya. Lixe tampak berpikir keras. Orang ini benar-benar membuat Lixe mengingat hal-hal yang sulit diingat.


Lixe menepuk pahanya. Dia ingat dengan gadis itu. Lixe mengangguk. "Iya, dia gadis tujuh tahun yang aku temui sepuluh tahun lalu. Aku tidak ingat wajahnya. Juga tidak tahu namanya. Tapi dia memang orang yang sangat ceria."


"Begitu ya," Jian bergumam pelan. Dia tersenyum puas. "Syukurlah kalau Anda baik-baik saja," batinnya.


"Apa kamu mengenalnya?" kini Zenith yang bertanya. Gadis itu baru saja membaca pikiran orang di depannya itu. Tidak banyak yang bisa dia dapatkan. Hanya kalimat syukur atas keselamatan gadis itu.


"Sepertinya nona ini bisa membaca pikiran. Aku akan lebih berhati-hati," jawab Jian dengan tersenyum licik. Zenith menatap sinis. Andai dirinya Bal, pasti dia akan tahu seluruh rahasia orang itu. Namun, bahkan Bal pun seperti tak ada di sana.


"Ada apa denganmu, Cyborg? Jangan bilang kau rusak." tanya Zenith dalam hati. Saat itulah, Bal menoleh pada Zenith. Anak itu tersenyum, mengisyaratkan dirinya baik-baik saja.


"Kau tidak perlu khawatir, Kak. Aku Cyborg yang genius."