
Biete merebut pedang dari tangan Lixe. Dia memeragakan gerakan yang begitu lincah dan lentik. Biete berputar, melenting ke sana-sini. Mengangkat kaki bak balerina sembari mengayunkan pedang di tangan. Sayangnya, Lixe tidak bisa melihatnya.
"Aku lupa." Biete menepuk dahi begitu menyadari Lixe menatap ngeri pedang yang bergerak sendiri.
Lixe menelan ludah. Dia membungkuk. Biete menatapnya heran. "Jadikan aku muridmu juga! Aku akan melakukan apapun!"
"Tidak mau."
"Aku mohon!"
"Aku monster berdarah kotor. Kau tahu kan? Bagaimana kau akan menunjukkan wajahmu pada Yang Suci Van?"
"Mana ada menuntut ilmu lihat kasta?!"
Biete menyeringai. Cukup menarik. Dia mengacungkan pedang pada Lixe. "Ayo!"
Lixe menghindari pedang yang sungguh hendak menebas kepalanya. Dia membungkuk. Melompat. Mundur tiga langkah. Melenting kanan-kiri. Inti pertandingn ini, dia melawan pedang.
Sudah kehabisan tenaga. Lixe menangkap pedangnya dengan tangan. Tangannya bercahaya. Telapaknya meneteskan darah segar.
"Aakh!" Lixe menarik pedangnya. Lalu menyikutnya dengan satu tangan lainnya, membuat pedang itu sempurna patah.
Biete terpaku saat menyaksikannya. Siapa orang gila ini? Biete melangkah maju setelah membuang pedang patah di tangannya. Biete meraih potongan pedang yang masih dalam genggaman Lixe. Mengusap darah di sana. Biete menatap darah di tangannya tidak percaya. "Ini?"
"Aku akan menjadikanmu muridku!"
Lixe tersenyum. Tidak berpikir panjang, dia berteriak sekencang-kencangnya. "Aku tunggu besok pagi!" Dia berlari kegirangan.
"Lalu akan kupersembahkan untuk dia. Maaf ."
Biete mengusap wajah. Sekarang dia sungguh merasa bukan seorang guru yang baik. Tubuhnya melayang. Lalu menghilang.
Di kamar Zenith. Zenith duduk di samping ranjang. Aizla berbaring lemas di sana. Tubuhnya mendadak panas. Keringat dingin membasahi telapak tangan dan kakinya. Zenith sungguh merasa kasihan padanya. Sudah satu jam Zenith menunggu. Aizla tak kunjung bangun.
"Apa yang dilakukan Bal padamu?" Zenith mengusap wajah Aizla. Wajah polos, lugu, anak ini sungguh bukan orang jahat. Bahkan sekarang Zenith merasa dirinya lebih jahat daripada Aizla.
Aizla mengerjakan mata. Dia menggenggam tangan Zenith di wajahnya. Aizla menatap Zenith. Matanya melebar. Aizla tidak percaya, dia bisa melihat. Aizla mengusap matanya. Langsung duduk.
"Aku bisa melihat?!" serunya tak tertahan. Aizla memeluk Zenith.
"Kamu mau jalan-jalan?" ajak Zenith. Gadis itu menarik tangan Aizla. Aizla turun dengan perasaan tidak enak. Wajah galak Zenith saat pertama kali bertemu masih terngiang di pikirannya.
Biete menatap Aizla tidak percaya. Gadis asuhannya yang buta itu tiba-tiba kembali bisa melihat. Ini tidak benar. Biete mendekati Aizla. Tapi Zenith lebih dulu menarik Aizla berlari. Dia tidak ingin temannya ini bertemu Biete.
"Mau kau bawa ke mana cucuku!!" Biete mengejar.
"Nenek tua, jangan berlari! Nanti pinggangmu bisa patah!"
"Anak kurang ajar!"
Zenith mengajak Aizla keluar dari istananya. Keduanya berjalan di trotoar yang ramai. Hawa panas membuat kulit tipis Aizla di balik pakaian lengan panjangnya memerah. Gadis itu menunduk. Dia tidak ingin ada di bawah sinar matahari.
"Kamu tidak tahan panas?"
Aizla mengangguk. Tenggorokannya kering. Kepalanya pusing tidak tertahankan. Langkahnya oleng. Zenith menggendongnya. Membawanya memasuki sebuah kafe besar yang ramai dengan para pengunjung kelas atas dan berada yang makan, juga berbincang banyak hal. Zenith tidak suka tempat ini. Ramai dan menyebalkan.
Zenith memilih tempat duduk di sudut ruangan. Meja dengan dua kursi itu terlihat menyenangkan. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya dia ke tempat ini. Orang-orang memandangnya diam-diam.
"Bukankah itu Nona Dey yang kejam?"
"Dia tidak pernah menunjukkan dirinya ke depan umum."
"Bukankah Suku Dey sudah hancur sekarang?"
Beberapa orang mulai menggosip tentangnya. Zenith punya mental yang kuat untuk mendengar semua itu. Jadi keluarkan semua. Siapa yang akan tumbang duluan.
"Dia penghianat! Egois! Tidak tahu diri!" seru seorang anak. Zenith melotot, dia menoleh pada anak itu. Seorang anak dari Suku Dey? Dia pelayan kafe ini. Sekecil itu, menunjuk Zenith dengan berani dari tempatnya.
Seorang pelayan lain yang lebih tua dan berpakaian lebih rapi menampar anak kecil itu. Dia berseru tertahan. Orang itu menarik tangan anak tersebut dengan wajah merah padam.
"Kau ingin pulang?" tanya Aizla lemas. Menyadarkan Zenith dari lamunannya. Zenith menggeleng, dia penasaran siapa anak tadi. Wajahnya yang bercadar, membuatnya sulit dikenali. Tapi matanya, Zenith percaya dia adalah keluarganya.
Dua orang itu duduk berhadapan. Sebuah cahaya muncul tiba-tiba di atas meja bundar itu. Lixe keluar dari sana. Zenith menggeram sebal. Laki-laki ini benar-benar pembuat masalah besar.
Lixe berdiri di atas meja itu. Dia memandang sekitar. Lalu melompat begitu saja, seola tidak melihat dua orang yang sudah dibuat kaget olehnya.
Lixe berlari menaiki tangga. Mendorong beberapa orang yang menghalangi jalannya. Dia menelan ludah beberapa kali. Lixe tiba di lantai dua. Dia menoleh ke segala arah. Mencoba mencari seseorang. Tidak ada. Dia kembali menaiki tangga.
"Harusnya dia di sini. Dimana orang itu?" batinnya kebingungan. Saat tiba di lantai tiga pun, Lixe berkeliling. Memeriksa setiap penjuru. Tapi orang yang ia cari sama sekali tidak ia temukan.
Lixe mengusap rambut. Di dalam pikirannya, Biete menghela napas berat. Tubuh Lixe kembali dikendalikannya. Lixe memasuki Lift setelah menyingkirkan semua orang di dalamnya dan yang hendak menggunakannya. Orang-orang berseru marah. Tapi Biete selaku pengendali tubuh ini tidak peduli.
Pintu Lift terbuka di lantai ke tujuh. Lixe keluar. Saat pintu lift sempurna tertutup, seseorang yang berdiri di depannya mengenakan topi Koboy melepas topinya. Lixe meremas jemari.
"Kau harus bertanggung jawab bersamaku!" seru Lixe menarik perhatian semua orang.
"Leluhurku sudah dipenuhi dosa. Kalau aku harus meminta maaf untuk semua orang yang ada sangkut pautnya denganku hidupku tidak akan tenang." Pria itu berbalik. "Urus saja urusanmu, Nek."
Lixe mengejar orang yang lebih dulu berlari menaiki tangga. Keduanya berkejaran di tangga. Melompati dan mendorong setiap orang yang menghalangi. Biete sungguh tidak akan membiarkan laki-laki itu pergi.
Sesampainya di lantai tiga belas, lantai paling ujung. Pria itu mendekati dinding dari kaca yang transparan. Dia berbalik, jalannya sudah tidak ada. Lixe ikut berhenti. Keduanya saling tatap. Lixe mendekat dengan langkah pelan.
Pria itu mudur. Dia memukul dinding kaca di belakangnya. Dinding itu pecah. Sejak orang di sana berteriak.
"Sampai jumpa." Ora itu melompat keluar. Lixe mendengus sebal. Orang itu menggunakan alat teleportasi. Dia sudah menghilang entah kemana.
"Lixe! Apa yang kau lakukan di sini?!"
Lixe berbalik. Biete akhirnya keluar dari tubuh Lixe. Zenith dan Aizla berdiri di depannya. Lixe Ling-lung. Dia menoleh ke sekitar. Tidak bisa mengingat apapun. Lixe menggeleng.
"Aku tidak tahu."
Zenith menggertakkan gigi. Di antara ketiga orang itu, hanya Zenith yang bisa melihat keberadaan pasti Biete. Dia melihat Biete kabur keluar dari dinding yang berlubang itu. Zenith hendak mengejar. Tapi sebuah suara menghentikan gerakannya.
"Apa yang kalian lakukan?! Cepat ganti rugi!" seseorang dengan pakaian rapi, bos kafe itu berseru marah. Lixe mengaktifkan teleportasi. Di bawahnya sebuah lingkaran cahaya terbentuk. Tiga orang itu lenyap ditelan cahaya.
Mereka muncul di suatu tempat yang bahkan Lixe tidak tahu. Zenith langsung mencekiknya.
"Apa yang kau lakukan?! Siapa orang itu?!"
Lixe mengangkat bahu. "Seseorang mengendalikan tubuhku, Zen."
Zenith mendorong Lixe. Dia tahu kebenaran itu. Zenith menoleh pada Aizla. Dia berpikir cucu asuhan Biete tahu sesuatu. Tapi tidak ada yang dapat dia baca di pikiran Aizla.
Aizla menatap sekitar. Dia penasaran dengan tempat itu. Mengabaikan Zenith yang berusaha mengintip isi kepalanya. Ruangan itu terang dan luas. Namun tidak ada apapun selain lampu yang menerangi setiap sudutnya.
"Bukankah, kalian merasakan kedamaian abadi di sini?" tanyanya.
Zenith menenangkan dirinya. Benar. Sesuatu menahannya marah. Emosinya lebih terkendali di sini. Lixe menelan luda. Perasaan yang sama saat di istana Tara. "Potongan Permata naga langit putih?!"
"Apa benda itu sungguh di sini?" Zenith mendengar seruan Lixe dalam hati. Dia meneliti setiap arah. Tidak ada apapun. Lixe pun menebar pandangannya, menyipit memperjauh jarak pandang. Aizla yang menyadari dua orang itu mencari sesuatu ikut menebar pandangan.
"Apa yang kalian cari?" tanya Aizla polos.
"Permata Naga Langit Putih," jawab Lixe. Zenith menoleh padanya. Lixe bodoh. Bisa-bisanya dia memberitahu musuh dengan begitu santai. Lixe langsung menutup mulutnya.
Saat itu, langit-langit berubah menjadi merah. Sesuatu muncul dari lantai yang tiba-tiba terbuka. Monster lima meter yang tangan dan kakinya terikat tali. Monster itu meraung. Otot-ototnya tampak jelas, membuat ukuran tubuhnya bertambah.
Seekor naga berwarna hitam dengan tanduk besar dan runcing. Matanya tajam. Hidungnya menyedot sebuah aroma. Matanya menatap tiga orang di depannya bergantian. Berhenti pada Lixe. Monster itu menyeringai.
Dia menarik tangan kanannya. Tali itu putus setelah beberapa saat. Tangannya bebas, langsung melayang pada ketiganya. Zenith dan Aizla dengan lincah melompat mundur. Lixe melakukan teleportasi. Tubuhnya bercahaya, muncul satu meter di depan monster itu.
Lixe menyengir bangga. Dia baru mempelajarinya dari Gusion. Tapi perasaan tidak enak menyelimuti tubuhnya. Benar saja, sejak awal naga itu mengincar dirinya. Naga itu mendekatkan moncong mulutnya pada Lixe.
"Sepertinya aku pernah mencium darah ini. Dimana? Siapa kau?" suara naga itu terdengar sangat berat dan menyeramkan. Kini tali-tali yang mengikatnya putus. Monster itu sempurna bebas. Lalu bersedia menyerang mereka.
Tubuh Lixe kaku. Tidak tahu apa yang terjadi. Sebuah film tiga dimensi diputar dalam kepalanya.
***
Seorang anak perempuan memegangi kedua tangan seorang anak laki-laki yang lebih tua darinya beberapa tahun. Di kepala anak laki-laki itu muncul sebuah tanduk. Dia memberontak.
"Pergilah, Lia!!" teriak anak itu.
"Aku tidak akan melepaskan Kakak! Aaah!"
Anak laki-laki itu menggigit lengan Lia. Lalu menendang perutnya. Anak laki-laki itu pergi.