
Xiota menarik Lixe keluar dari kepungan lebah. Membiarkan Gean dikerumuni para lebah. Lixe Sayangnya, formasi awan itu terbelah. Setengah yang lain menyerang Lixe dan Xiota.
"Ayo pergi dari sini!" pinta Xiota berbisik dengan tenang pada Lixe.
Lixe selalu penasaran bagaimana temannya ini bisa sangat santai. Jantungnya berdetak kencang. Lebah itu terbang membentuk awas bercahaya ke arahnya. Lixe melompat mundur.
"Xiota!"
Lixe berseru panik. Xiota yang tidak bergeser sama sekali dari tempatnya sekarang dikepung para lebah. Tidak ada perlawanan. Gerakan Lixe yang sudah mengangkat pedangnya, hendak mengayunkannya terhenti.
Lebah-lebah itu hanya terbang di sekeliling Xiota. Anak itu memang selalu tenang, tapi tidak dia sangka itu juga akan berguna dalam keadaan ini.
Lixe melirik Gean. Nasibnya lebih buruk dari mereka. Para lebah benar-benar menyerangnya. Gean terkepung hingga tubuhnya tidak terlihat. Tapi sesuatu yang aneh terjadi di sana.
Lixe menunduk. Bayangan yang menutupi medan di bawah sana tersedot ke arah Gean. Berkumpul menjadi sebuah bola besar di tangannya. Hingga tak lagi ada bayangan yang menutupi medan di sekitarnya, bola itu meledak.
Boooom.
Para lebah yang mengepungnya terdorong menjauh. Bayangan itu menyelimuti lebah-lebah, membuat cahaya yang mereka keluarkan tak terlihat.
Lixe mengayunkan pedangnya, sabitan cahaya merobek satu sisi bayangan. Beberapa makhluk kecil itu terbebas. Terbang menghampiri Gean.
Gean melirik Lixe sebal. Lixe mematung. Merasa kenal dengan orang tahu namanya itu.
"Siapa ya?" belum sempat Lixe mendapat jawabannya. Xiota menyadarkannya dari lamunan.
Xiota berjalan mendekati Lixe. "Cepat buka portal ke sekitar istana!" Xiota menggoyang tubuh Lixe.
Tak disuruh dua kali, Lixe membuka portal cahaya. Saat melihatnya, Gean menyeringai.
Ctak.
Duar.
Ledakan hebat terjadi. Kepulan asap membumbung tinggi. Dalam sekejap para lebah itu terkapar menutupi aspal di sekeliling Gean. Dia sudah merubah tempat menjadi kota mati yang sungguh tak berpenghuni. Sebuah portal bayangan muncul di sampingnya. Gean menghilang. Mengejar Lixe dan Xiota yang membawa sarang lebah yang tersisa, sedang yang lain sudah meledak bersama para lebah.
Portal cahaya muncul di tengah stadion yang mulai sepi. Lixe dan Xiota muncul tiba-tiba. Beberapa penonton yang masih di sana berseru. Mereka berdiri. Zenith dan Aizla melompati papan penghalang di depannya. Berlari ke tengah lapangan.
"Aaah!"
Sebuah bayangan melilit kaki dua gadis itu. Keduanya hampir tersungkur. Mereka mendongak sebal.
"Gusion!"
Yang diteriaki menggeleng. Mereka salah paham. Sebuah portal bayangan muncul satu meter di belakang mereka. Gean keluar dari sana. Tatapan mata tertuju padanya.
"Halo, Kak. Selamat datang." Gueta buru-buru mendekat. Dia menyapa Gean dengan ramah, berusaha menutupi kekesalannya. "Semoga dia tidak menyadarinya."
Gean menatap sekeliling. Roy'ah terdiam menatapnya. Roy'ah mengepalkan tangan. Tidak bisa disangkal. Dia takut pada Gean hanya dengan menatap matanya. Roy'ah menggeleng. Meyakinkan diri bahwa tebakannya sendiri salah.
Gusion menatapnya tanpa berkedip. Lixe membantu Zenith dan Aizla dengan memotong surai yang mengikat kaki keduanya. Aizla langsung terbang dan menggendong Zenith. Gadis itu sempat merontah. Namun benarsaja. Belasan surai kembali muncul dan berusaha merai kaki mereka. Lixe mengayunkan pedangnya demi menebas surai-surai yang sekarang malah menyerangnya.
Gean menatap sekitar. Dia bisa menebak sebuah pertandingan telah berakhir sekarang. Gean mencari lawan Roy’ah. Penasaran siapa yang menjadi lawannya. Gueta berlari mendekat, dia ingin mengalihkan pandangan Gean dari sesuatu.
“Kakak! Apa kabar dengan Paman? Apa kau rindu denganku sampai harus datang ke sini?” Gueta berseru heboh. Gean tidak mendengarkannya. Pandangannya sudah jatuh pada Lixe. Gueta menyadarinya, dia melirik Lixe lalu menyengir.
“Tuan Arian!” Gueta mengangkat tangan. Berseru memanggil Arian yang langsung memperhatikannya. Gueta menjadi pusat perhatian. Dia tersenyum ramah. “Bolehkah kami mengadakan satu pertandingan lagi.”
Lixe menelan ludah, dia merasa hal buruk akan terjadi. Xiota menarik lengan Lixe saat hendak berseru. Lixe menahan diri, melirik Gean. Netra keduanya bertemu. Dia ingat orang itu, penyebab kematian kedua orangtuanya sekarang berdiri di depan matanya.
“Mohon izinkan Gean berduel dengan pemuda di sana!” Gueta menunjuk Lixe. Jantung Lixe berdetak kencang. Dia mengangguk setuju saat Xiota menatapnya. Gean pun tak keberatan. Dia cukup penasaran dengan perkembangan Lixe hingga mampu hidup sampai hari ini dan berada di tempat sepeti ini.
Arian mengangguk setuju. Kenapa tidak? Seseorang akan membantunya menghabisi pengganggu yang berani membawa pergi rubik memori. Gueta sedang berpikir keras di balik wajah tenangnya.
Kemarin saat pertarungan terjadi di kamar Roy’ah, saat semua orang tiba-tiba tak sadarkan diri, Gueta melihat dengan mata kepalanya sendiri Roy’ah mengambil robik memori dan mengirimnya lewat sebuah portal. “Kenapa dia tidak menggunakannya? Atau benda itu tidak ada padanya?” Gueta menggigit bibir. Dia melirik ke tempat Gusion berdiri. Tidak ada. Orang itu sudah pergi saat kehebohan terjadi.
Semua orang mundur dari tengah lapangan, meninggalkan Lixe dan Gean di sana. Gueta merasa pertarungan ini tidak perlu dia awasi. Tujuannya sekarang adalah saling bunuh. Bukan lagi sebuah permainan yang dapat ia kendalikan. “Aku berharap padamu, Lixe.”
Selurunya kembali duduk di bangku penonton. Gueta mulai cemas. Dia memaki dirinya sendiri. Mengingat terakhir kali saat Lixe menyiksa dirinya demi keluar dari lilitan kabel sudah membuatnya hamper pingsan dan sulit bergerak. Apalagi ini melawan Gean. Gueta sungguh frustasi. Dia menarik napas, bersiap menerima kemungkinan terburuk. Gueta duduk di samping Roy’ah. Stadion itu sudah sepi penonton. Maka dia memilih tempat duduk di sisi paling sepi.
Tanpa aba-aba, Gean mengayunkan pedangnya ke leher Lixe. Lixe mengayunkan tubuhnya ke belakang. Gean memutar pedangnya dengan jemari. Sekarang menusukkannya ke bawah. Lixe menjatuhkan diri, lalu mengangkat kaki. Kakinya menahan gerakan Gean. Gean menyeringai. Melepaskan pedangnya. Lixe melotot, pedang itu akan mendarat di jantungnya.
Tubuhnya menghilang. Lixe berteleportasi empat meter di depan Gean. Dia menghela napas lega.
“Bukankah peraturan duel kekuatan resmi tidak diperbolehkan menggunakan sihir dan teknologi?” Gean mendekat. “Kau ingin mengubah peraturannya….?”
Lixe merentangkan tangan kanannya. Pedang cahaya muncul. “Bukankah kau yang lebih dulu menggunakan pedang?”
Gean hanya diam. Lixe memicingkan mata. Dia melompat dan bergulin ke depan. Benar saja. Dalam keheningan yang dia miliki, Gean menjadi sangat berbahaya. Di tempat Lixe sebelumnya berdiri, sebuah lingkaran bayangan muncul. Lalu menghilang. Lixe tidak peduli. Dia maju. Satu ayunan. Satu sabitan cahaya melayang.
Gean menebasnya dengan pedangnya. Dia menunduk, lingkaran cahaya sekarang muncul di bawahnya. Gravitasi di dalam lingkaran itu memberat. Gean terduduk. Namun bayangannya justru menyelimuti seluru medan lapangan di luar lingkaran cahaya.
Lixe melompat, sepasang sayap muncul di punggungnya. Bukan hanya orang-orang yang melihatnya, tapi Lixe juga bertanya-tanya. Gean menyeringai. Selaput bayangan menyelimuti lapangan. Membentuk sebuah kotak yang mengalangi pandangan orang di luar sana. Lixe menatap sekitarnya. Sekarang dia sungguh sudah terpisah dengan dunia luar.
Lixe mengalihkan perhatiannya. Mencoba mencari celah untuk keluar. Hingga tidak sadar Gean melompat ke arahnya.
“Ekh.”
“Kenapa kau tidak suka padaku?” Tanya Lixe patah-patah. Gean mencekik lehernya. “Iri karena aku keturunan Van dan kau keturunan Wist? Apa orang sepertimu juga ditindas….?”
Gean mengerutkan kening. Membanting Lixe yang terbang ke bawah. Tujuh tombak dengan ujung runcing muncul di bawahnya. Dengan ujung menghadap ke atas, Lixe meringis ngilu membayangkan dirinya akan jatuh di
atasnya.
"Orang-orang hanya memandang apa yang terlihat. Dunia mulai membeda-bedakan, merendahkan sesuatu yang bahkan tidak mereka pahami."