
Anak laki-laki itu membentangkan tangan. Dia berdiri di tepi jurang kematian. Tempat sebuah kekacauan pernah terjadi di sana. Tatapannya kosong. Tanpa ada yang tahu. Di bawah cahaya bulan purnama, dia melompat. Berharap segalanya berakhir. Tidak ada lagi yang akan mengganggu hidupnya.
"Aku tidak akan membiarkan Anda mati begitu saja, Tuan."
"Tidak. Biarkan aku mati."
"Aku ingin bersama Anda."
"Pergi!!!"
Byur. Anak itu tenggelam. Matanya mulai buram. Dari punggungnya muncul sebuah sayap yang mengangkat tubuhnya terbang. Anak laki-laki itu terbang tanpa kesadaran menuju Kerajaan Dielus.
***
Lixe membuka matanya lebar-lebar. Tangan besar naga itu hendak menimpanya. Lixe melompat mundur. Angin diiringi kepulan debu membuatnya semakin terpental ke belakang.
"Groaar!" Naga itu mengeluarkan angin kencang dari mulutnya.
Zenith dan Aizla sama-sama menyilangkan kedua tangan di depan wajah. Menghalangi debu yang masuk ke mata.
Aizla berubah, tanduk dan sayapnya terlihat. Gadis itu dengan mata terpejam terbang mendekati naga dari atas. Perhatian naga itu kini tertuju pada Aizla. Selagi mengalihkan perhatian, Zenith berlari mendekati sang naga.
"Buka penyimpanan. Drone penjaga Kerajaan Roila!" Zenith merentangkan tangan kiri. Sebuah jendela muncul. Sepuluh drone Roila keluar dari sana. Mereka menyerbu naga dengan sengatan listrik dari tubuh drone itu.
Aizla menyengir. Tidak disangka ia akan berkerja sama dengan benda yang pernah ia hancurkan.
"Kau tidak keberatan, bukan?" tanya Zenith yang membaca ekspresi Aizla. Yang ditanya tertawa kecil. Aizla mengangguk. Dia mengangkat kedua tangan.
"Portal bayangan. Panggilan monster Abta."
Sebuah portal bayangan muncul di bawah sana. Zombie-zombie bermata merah yang pernah ditemui Zenith di Kerajaan Roila muncul. Dua puluh. Lalu portal itu menghilang. Tanpa bantuan alat-alat laboratorium Abta, membuat kejutan seperti di Kerajaan Roila adalah hal mustahil baginya.
Sepuluh drone, dua puluh zombie, ditambah tiga orang kesatria. Zenith dan Aizla sangat berharap dapat memenangkan pertempuran itu.
Tapi sang naga meroar. Tangan besarnya menghantam lima drone yang langsung tersapu habis. Kelima-limanya terpental menghantam dinding. Berdenyit. Lalu tergeletak menjadi bola biasa dalam sekejap.
Aizla mengeram. Monster-monsternya berlari secara brutal. Mereka menggigit naga, bagian manapun yang dapat mereka jangkau. Tapi alih-alih kesakitan, kulit kerasnya bahkan tidak dapat digores dengan gigi-gigi para monster tersebut.
Aizla terbang rendah di samping Zenith. Dia berbisik, "Apa tidak sebaiknya kita kabur?"
Zenith merasakan aura berbahaya di sini kental sekali. Dia hendak mengangguk. Tapi Zenith lebih memilih meminta pendapat Lixe.
Lixe berlari, sepertinya dia sudah selesai dengan lamunannya yang kali ini tidak dapat dibaca Zenith.
Lingkaran cahaya mengitari naga tersebut. Cahayanya memancar tinggi. Membuat sebuah pagar yang mengelilingi naga berwarna hitam kini terlihat sedikit putih. Lixe berlari dari depan naga ke arah sisi kanan naga. Lalu melompat. Pedangnya hendak menusuk kulit tebal naga yang tidak bisa bergerak itu.
Naga itu mengayunkan tangan. Menghantam Lixe, hingga tubuhnya balas menghantam dinding. Tubuh Lixe bercahaya, kini dia menggunakan kekuatan gravitasinya agar bisa menempel di langit. Lixe memejamkan mata, dia berusaha mengatur napas. Kata Gusion, 'Jangan sampai kau tidak bernapas. Bisa-bisa kau mati konyol di medan tempur.' Oke. Lixe mendorong tubuhnya. Membiarkan dirinya terjun bebas ke arah naga.
Naga itu membuka mulutnya lebar-lebar. Lixe masuk ke tenggorokan naga tanpa terkoyak oleh gigi-gigi kuatnya.
Zenith menggigit bibir. Dia mengacungkan tangan. QS see Memerintahkan kelima drone yang tersisa maju. Aizla terbang. Dia menyusuri setiap celah di tekukan kaki, tangan, dan leher naga. Aizla berusaha mencari kulit lunak yang bisa ditembus kuku-kuku tajamnya.
Mata Zenith bercahaya. Sesuatu di dalam perut naga itu terlihat lebih gelap dari bagian yang lain. Cukup membuatnya penasaran. Zenith berlari secepat kilat. Dia hendak menusuk perut Naga di bagian yang terlihat gelap itu. Sayangnya, tanpa ia sadari, ekor panjang Sang Naga menyambarnya dari belakang. Zenith berguling, berhenti tertahan kaki Naga. Naga itu mengangkat kakinya tersebut. Zenith menatap ngeri kaki besar yang hendak menginjaknya.
Aizla terbang menggambar tubuh Zenith. Gadis itu memeluk Zenith dan membawanya terbang.
Zenith melihat sebuah cahaya menuju perut naga yang gelap itu. Aizla melepaskan Zenith, dia terbang mundur. Kaki naga itu hendak meninjunya.
Zenith yang baru mendarat langsung melompat ke depan. Dia meraih moncong naga, mengayun tubuhnya ke atas. Zenith bersalto di udara. Tangannya terkepal, Zenith meluncur. Telak meninju mata kiri naga tersebut.
Naga itu oleng. Lima drone mengelilinginya. Drone itu merentangkan tangan robot mereka yang bisa memanjang. Kelimanya saling berpegangan tangan, membuat lingkaran beraliran listrik. Tubuh sang naga tersengat listrik bertegangan tinggi. Darah naga itu serasa mendidih. Aizla menyeringai.
"Vampir murni, Luapan darah!"
Asap darah menyelimuti tubuh Aizla. Juga menyelimuti tubuh Naga. Naga itu menjerit keras. Suaranya menggema ke seluru ruangan. Aizla dan Zenith berseru tertahan. Tubuh keduanya terdorong ke belakang. Asap darah yang menyelimuti Naga hilang.
"Grooooaar!" gerakannya terhenti.
Sebelumnya di dalam tubuh Naga, Lixe yang berhasil masuk mendarat di sebuah tempat gelap. Hanya ada tiga lilin sebagai penerang. Lixe menoleh ke sekitar. Dia berjalan mendekati lilin tersebut.
Lixe mendongak, sebuah penjara besi turun ke arahnya. Lixe lebih dulu melompat mundur.
Lagi, sebuah pedang meluncur dari samping. Lixe menunduk. Pedang-pedang lain meluncur ke arahnya bergantian. Lixe melompat, berputar, dan melangkah ke sana-sini. Lixe menangkap salah satu pedang. Dengan satu pedang itu, dia menangkis semua pedang yang tak kunjung berhenti menghujaninya.
"Siapa kau?!" Lixe berseru. Dia tidak tahan lagi dengan serangan yang menjadi-jadi ini. Hening, tidak ada jawaban.
"Cu! Kau bisa mendengar ku?" suara Biete samar-samar terdengar. Lixe mengangguk. Bulu kuduknya berdiri. Lixe merasa ada sesuatu menggantung di pundaknya saat Biete memeluknya.
"Aku akan membantumu bertemu Prajurit kegelapan terkuat. First Lyde," bisik Biete.
"Gabungkan dua jiwa. Lixe Van n First Lyde."
Tubuh Luxe kaku. Juga naga yang gerakannya terhenti.
Tiga lilin di sana terbakar habis dengan cepat. Menyisakan cairan panas yang dengan segera memenuhi lantai ruangan. Cairan itu berubah menjadi air jernih yang tenang. Sebuah matahari bersinar di langit-langit. Pemandangan indah lautan terlihat menyejukkan mata.
"Seseorang dari masa depan datang. Apa kau akan menerimaku?" tanya suara merdu milik seorang berambut hitam mengkilap yang panjang. Orang itu menoleh. Wajahnya tidak asing.
"Apa kita pernah bertemu?" tanya Lixe dan orang itu bersamaan.
Keduanya saling tatap. Orang itu lebih dulu mengulurkan tangan.
"Monster kegelapan ribuan tahun lalu, First Lyde. Kamu?"
Lixe menggeleng. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dengan tangan gemetar, dia membalas jabatan tangan First.
"Lixe...,"
"Lyde." First menyeringai. Namun Lixe menggeleng cepat.
"Van."
First mengangkat sebelah alis.
"Kau tidak ingin mengakui kakekmu ini? Ada apa dengan kalian generasi muda? Kupikir kau berbeda dengan Lean. Nyatanya, kalian sama saja. Rasakan kekuatan Lyde yang sesungguhnya. Yang membuat dunia kegelapan bertekuk lutut di depan kaki Lyde."
"Yang menumbuhkan benih kebencian? Atau yang membuat kerusakan? Yang menumpahkan darah? Yang merenggut hak orang tak bersalah? Itukah yang Kakekku maksud?"
"Kalian tidak tahu apa-apa."