
"Saat itu, Pangeran Neo mengancam Raja akan menghancurkan seluru kerajaan. Dia lalu meminta agar aku dibawa ke ibu kota dan tinggal dalam kerajaan. Raja melakukan perbaikan palsu denganku. Dan saat itu aku hamil dirimu. Putri Pengeram Neo." Fiyah berlutut di hadapan Tara.
"Konsekuensi apa yang harus..." Tara menelan ludah dan melirik Neo dalam rangkulannya. "Ayah bayar jika menghancurkan ibukota?"
"Aku dan kamu akan dikembalikan ke desa tempatku dilahirkan." mendengarnya, Tara tersenyum. Itu bukan hal buruk. Dengan senang hati akan dia lakukan.
Keesokan harinya. Puluhan robot berpatroli di sepanjang ibu kota yang hancur. Robot-robot itu membersihkan jalan, memperbaiki rumah, dan membawa para korban ke rumah sakit terdekat. Tara tersenyum melihat kedamaian yang kembali terukir di wajah para warga. Walau dia hanya bisa mengawasi dari jendela kamarnya, itu sudah cukup.
Sebuah cahaya muncul di depan jendelanya. Tara menajamkan penglihatan.
"Haaaaiii!" Lixe tiba-tiba muncul. Lelaki itu menempel di kaca jendela. Tara melompat mundur dan berseru tertahan. Jantung dan matanya ingin copot.
"Ayo bukakan! Gak mau?!"
Tara mengangguk. Dia membuka jendela ke luar. Lalu mempersilahkan Lixe masuk. Lixe yang mengenakan sarung tangan perekat dengan muda memasuki ruangan itu. Dia mendarat dan tersenyum.
"Kakak sedang apa?"
Lixe mengangkat bahu. Dia mengamati dua robot pengangkut barang yang memasukkan barang-barang Tara ke dalam box yang tertanam di tubuhnya dengan belalai-belalainya yang sangat fleksibel.
"Kau mau kemana?"
"Aku akan pergi, ke desa tempatku berasal." Tara tersenyum tipis. "Terimakasih, Kak. Untuk pengalaman yang Kakak berikan."
Lixe bertanya-tanya. Dia menunggu penjelasan Tara selanjutnya. Tapi seseorang mengetuk pintu seraya memanggil Tara. Tara menoleh. Dia berjalan anggun. Lalu membuka pintu.
"KAU?!" Lixe berseru panik. Orang itu adalah Neo. Bagaimanapun penampilannya saat ini, yang muncul di benak Lixe adalah bayangan Neo yang dalam wujud iblisnya. Lixe berlari mendekat. Tatapannya tajam.
"Apa yang kau lakukan di kamar Putri?" Neo mengangkat kaki kanannya dan meluruskannya. Alas sepatunya menyentuh dahi Lixe. Lixe berhenti dan hampir terjungkal. "Jangan dekati Putri!"
Keduanya saling tatap. Seolah ada sebuah gunung meletus di sekitar sana. Lixe menepis kaki Neo. Neo malah menendang pipi Lixe dengan kaki kirinya. Lixe berjongkok lalu berdiri. Keduanya sama-sama memasang kuda-kuda.
"Cukup!" Tara merentangkan tangan. Memberi jarak di antara keduanya.
"Dia Lixe, Teman saya." Tara menoleh pada Neo sambil menunjuk Lixe. Tara menarik napas. Dia tahu ini akan sulit diterima. Tara menoleh pada Lixe. "Dan Beliau adalah ayahku."
Benar saja. Lixe membuka mulutnya tidak percaya. Dia menatap Tara, lalu menatap Neo bergantian. Baiklah, dari rambut dan bola mata warnanya memang sama. Tapi... Tara putri Neo? Itu jauh dari kata mungkin.
"Semua hal mungkin terjadi. Bukankah seorang petarung kelas teri sepertimu bisa memutuskan tanganku jugalah jauh dari kata mungkin?"
Lixe memandang tangan kanan Neo yang tidak ada. Dia ingat apa yang terjadi. Dan apa yang dikatakan Neo barusan memang benar adanya. Lixe mengangguk. Dia ingat sesuatu.
"Maaf. Kalau Anda mau, tangan itu bisa digantikan tangan robot."
Neo menatap dengan aneh. "Apa lagi itu? Ayolah, aku tidak butuh yang seperti itu. Lagi pula, aku sudah hidup selama lebih dari 15 abad," Neo mengoceh cukup panjang.
Dalam hati Lixe berkata, "Mungkin ini yang disebut primitif." Dia tiba-tiba ingat pada Zenith.
Tidak lama, sebuah robot datang. Dia memanggil ketiganya untuk turun. Neo menggandeng Tara ke bawah. Lixe pun mengikuti. Saat menuruni tangga, tentu semua orang yang berdiri di lantai dasar terkejut setengah mati. Bulu kuduk mereka berdiri. Seorang iblis Neo, menggandeng Putri mereka. Hanya Bal dan Aren yang tetap tenang.
Di bawah sana, Tara bisa melihat seorang gadis berambut coklat dengan mata hijau yang sering ia lihat bersama anak desa. Bella Neland. Putri kandung Raja Aren dan Ratu kedua. "Jelas dia orang yang akan menggantikan ku," batin Tara.
Tatapan mereka berdua bertemu. Bella sedikit merasa sungkan. Dia langsung memalingkan pandangan saat Tara tersenyum tipis padanya. Tapi Tara yang sudah berdiri di depannya mengangkat gaun dan menunduk.
"Yang Terhormat Nona Muda, Saya Tara Neland memberi salam. Semoga kehidupan Anda selalu bahagia dan sejahtera."
Salam itu disambut pertanyaan para pelayan yang menyaksikannya. Itu untuk pertama kali Tara menunduk pada gadis biasa. Bella tak bergeming, dia tidak tahu bagaimana cara membalas salam itu. Hingga tubuh Tara kembali tegap, Bella hanya bisa terpaku di tempat.
Ratu kedua yang melihatnya langsung merangkul Bella. Bella menoleh. Jujur dia tidak tahu bagaimana bisa sebuah robot pagi-pagi datang dan menyuruhnya ke istana. Walau Lily banyak bercerita tentang kerajaan, juga bahwa dirinya adalah pewaris tunggal yang sah dari rahim Ratu Kedua. Tetap saja, melihat takdir itu menjadi nyata bukan lah hal yang mudah untuk diterima.
Aren berdehem. Mengambil alih pandangan setiap orang yang berkumpul di sana. Mereka memberi hormat. Lixe melirik Zenith, gadis itu ternyata handal memberi hormat. Hanya Aren yang tidak tertarik menundukkan kepalanya.
"Aku ucapkan terimakasih pada kalian yang telah membantu. Yang tampaknya tidak dengan sukarela?" Aren menatap tajam orang-orang dari Dielus itu.
"Saya datang demi warga satu tanah air. Mohon Anda tidak salah paham," jawab Gusion datar. Dia tidak menatap Aero, justru melirik Lixe yang berdiri di samping Neo. Aren menatap yang lain.
"Saya hanya peduli dengan pewaris Suku Dey. Tidak peduli mau kerajaan Anda hancur, warga Anda tewas tak bersisa, ataupun Anda sendiri yang tewas. Sama sekali bukan urusan saya." Zenith memalingkan wajah. Zenith tahu betul, Kerajaan Neland adalah sekutu Kerajaan Argio. Bahkan di dalam sebuah perang yang pernah terjadi, Aren yang masih seorang pangeran membunuh beberapa orang Dey.
"Kata-katamu sungguh tajam. Sepertinya kita akan bertemu lagi dalam sebuah pertempuran."
"Saya akan menantikannya." Zenith mendengus sebal. Dia melirik Bal. "Awas kau, Bal. Aku akan memukulmu di rumah."
"Saya datang untuk Guru Aizla. Hanya itu," menjawab mantap. Aizla hanya melirik malas Xiota yang dirasanya berlebihan. 'kalau aku jadi kamu, buat apa aku peduli pada jiwa tua yang sudah hidup 17 abad lebih," batin Aizla.
Aren menatap Aizla. Aizla mengangkat bahu.
"Tidak ada yang perlu Anda tanyakan."
Aren tidak peduli dengan Lixe. Melihat hubungan Lixe yang baik dengan Tara, itu sudah menjadi alasan yang cukup. Lixe yang sudah menyiapkan jawaban, sedikit kecewa.
"Aku tidak pernah memberikan perintah untuk pergi, Putri Tara."
"Saya harap Anda mempersilahkan saya dan Pangeran Neo pergi." Tara melirik Fiyah. Wanita itu memohon untuk ikut. "Juga Ratu Pertama jika Anda mengizinkan."
Permintaan Tara jelas disambut kemenangan oleh Ratu Kedua dan Ratu Lily yang dibebaskan atas perintah langsung Aero. Sedangkan Bella tidak tahu harus bagaimana. Perasaan tidak enak justru menyelimuti tubuhnya.
Aren mengangguk. Mempersilahkan keluarga kecil itu pergi.
"Suatu hari, aku akan balas budi, Kak Lixe Van," kata Tara saat melewati Lixe. Lixe mengangguk.
"Hiduplah dengan bahagia."
"Kau juga, Kak."
Setelah segalanya selesai. Dengan berat hati Aren mempersilahkan pahlawan yang tidak pernah ia harapkan pulang. "Mungkin aku akan berbelas kasih pada Dey."
"Tidak perlu, Suku Dey tidak butuh belas kasihan."
"Kudengar, kalian sudah kehilangan hampir semua petarung, bukan? Hanya orang-orang lemah yang tidak bergu...,"
"Tidak ada yang tidak berguna. Lemah ataupun kuat, kami tetap keluarga. Suku Dey tidak butuh orang kuat yang tidak dapat melindungi keluarganya. Sampai di akhir napas saya, saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti keluarga saya. Baik dia anak-anak, maupun lansia."
Zenith sudah menyalahkan motornya. Gadis itu pergi lebih dulu dengan membonceng Bal. Diikuti Xiota.
"Kau bisa naik motor?" tanya Lixe menatap Gusion tidak percaya saat Gusion mengeluarkan sebuah motor dari penyimpanan tak terlihatnya.
Gusion hanya menatapnya dingin. Lixe tampak mengejek. Lixe menepuk punggung Gusion.
"Ayo kita coba. Walau aku tahu kau lebih pandai menunggang kuda." Lixe naik ke motor Gusion.
"Walau kau benar. Aku tidak sepayah itu." Gusion menarik gas. Motor itu melaju dengan kecepatan tinggi mengejar Zenith yang ugal-ugalan di jalan yang legang. Bal merangkul erat pinggang Zenith. Angin kencang menerpa tubuh anak itu hingga rasanya dia akan terpental ke belakang.
"Tidak ada keluarga yang tidak berguna?" Aizla mengulangi kalimat Zenith sepanjang perjalanan menuju laboratorium.
Di sana para ilmuwan menyambutnya bahagia. Mereka beranggapan tubuh Aizla sudah tidak akan terpengaruh cahaya bulan purnama.
"Bagaimana perasaan Anda, Nona?"
"Mari kita buat tubuh Anda semakin kuat. Saya sudah mendapatkan orang-orang tidak berguna yang bisa jadi bahan untuk memperkuat Anda."
Aizla menatap sederetan orang yang menunduk dan menangis. Tangan mereka terikat borgol di belakang. Mulut mereka disumpal dengan sebuah rantai besi. Sebagian mereka adalah lansia dan orang dewasa yang bernasib tidak beruntung.
"Mereka keluarga kita. Suku Abta?" gumam Aizla.
"Anda tidak perlu khawatir Nona. Keluarga adalah mereka yang bermanfaat bagi anggota yang lain. Kalau mereka sudah tidak bisa apa-apa, bukankah kita bisa memanfaatkannya agar mereka layak dipanggil keluarga." Seorang ilmuwan Abta tersenyum. Diikuti seruan setuju yang lain. Mereka menendang dan menginjak, menyiksa orang-orang tidak berdaya dengan hati bahagia.
"Sebenarnya, apa konsep keluarga yang sebenarnya?" batin Aizla sembari berjalan menuju ruangan kaca miliknya. "Aku ingin pergi dari sini."
"Mencari arti keluarga yang sesungguhnya." Bella memandang pemandangan kerajaannya dari lantai paling atas gedung pencakar langit. Tempat Tara biasanya mengawasi dirinya bermain. Gedung itu adalah kantor pusat Kerajaan Neland. Ayahnya bilang, dia akan sangat sering datang ke sana.
Bella menyentuh kaca di depannya. Dari bawah sana, teman-teman berdiri sambil menghadap ke arah gedung. Mereka berlutut di jalan. Mereka tahu, Bella bisa melihat mereka. Bella tersenyum.
"Aku tidak akan melupakan kalian. Kalian tetap keluargaku." Bella berbalik. Aren memanggil.
"Selamat Putri Bella." Tara menoleh ke arah bangunan yang terlihat di setiap penjuru kerajaan. Tara menatap ke tempat dia biasa berdiri. Dia tersenyum. Hari ini, esok hari, hingga masa tuanya, dia akan bermain di alam tanpa bodyguard yang membuntuti.
Warga desa menyambut Tara, Neo, dan Fiyah dengan hormat dan bahagia. Tara bersyukur, keinginannya tercapai.
"Hidup kita, berubah mulai titik ini." - Aizla, Tara, Bella.