
Lixe mengayunkan pedang ke arah Arian. Pedangnya bercahaya. Dua belas sabitan pedang mengarah pada Arian.
Meleset. Kaki Lixe bergeser sedetik sebelum serangannya lepas.
"Ada apa?" batinnya.
Lixe kembali mengayunkan pedang. Kali ini lengan kanannya yang memegang pedang tiba-tiba mengayun ke bawah. Arian hanya tersenyum jahat.
"Aaaaahh!" Mata Lixe semakin bercahaya. Dia Memegang erat pedangnya.
"Cahaya bulan purnama. Lingkaran sihir," sebuah lingkaran dengan jari-jari 2 meter, berpusat pada Arian.
"Seharusnya, ini akan melemahkan kekuatannya," batin Lixe.
Arian menghentakkan kaki kanannya. Lixe membulatkan mata. Lingkaran sihirnya retak. Arian kembali menghentakkan kakinya, sempurna. Lingkaran itu hancur.
"Kau ingin melemahkan kekuatanku? Sungguh?Hahaha!" Arian tertawa jahat.
"Kau bahkan tidak bisa mengendalikan dirimu!"
Lixe menatap pedangnya. Tangan kanannya menggenggam pedang dengan erat. Tangan itu kini terangkat ke lehernya.
"Ini hal yang buruk," batin Lixe. Dia mencoba menggerakkan tangannya. Tidak berhasil. Lixe mengangkat kepala, berusaha menjauhkan lehernya dari pedangnya sendiri. Satu senti lagi, Lixe memejamkan mata.
***
"Kau tidak bisa menghancurkan pedangmu sendiri? Dan kau menyebut dirimu Van? Pulanglah, Nak. Kami tidak butuh dirimu." Suara Lest melintas di kepalanya. Ingatan itu muncul di kepalanya.
Ingatan yang selalu menghantui kehidupannya. Bagaimana dia bisa lupa itu.
Lixe membuka matanya. Kali ini, dia tidak berusaha menolak, tapi justru menarik pedangnya. Dia berusaha mendekatkan pedangnya ke leher.
"Kalau kau berani membunuhku! Coba saja! Aku tidak pernah takut pada apa yang menjadi milikku!" Lixe berseru. Memperlihatkan urat lehernya.
Lehernya tersayat.
Tes.
Saat darah segar keluar dari sana. Sakit. Kesadarannya kembali seutuhnya. Lixe buru-buru menghentikan gerakan tangannya. Menjauhkan pedang itu dari lehernya.
"Hebat juga. Sepertinya, aku pernah dengar kata-kata itu." Arian memiringkan kepala. Sedetik terdiam. Dia menarik ujung bibirnya, menyeringai jahat.
"Apa nama ayahmu Loam Van?"
Lixe menatapnya lamat-lamat.
"Darimana kau tahu?" suaranya terdengar lirih.
"Sudah kuduga." Arian dari tempatnya. Lixe melompat mundur.
"Ternyata, darah kotor juga mengalir dalam dirimu, ya? Bandit!"
Arian mengangkat rubik di tangannya. Rubik itu mengambang di udara berputar. Suasana di sekitarnya kembali menghitam. Aura tidak mengenakkan menusuk hingga tulang.
"Kau cucu Lyde. Anak Lia Lyde, kan? Dasar hina," bisik Arian di telinga Lixe.
Lixe menoleh. Tidak buang waktu. Lixe mengayunkan pedangnya pada Arian. Tapi tangannya berhenti persis sebelum pedangnya menyentuh tubuh sang lawan. Lixe menggigit bibir.
"Ternyata, tidak sehebat Lyde ataupun Van. Menyedihkan."
"Berhentilah mengoceh soal kehidupan orang lain! Kau sungguh tidak ada hak untuk itu!" Lixe berteriak. Mencoba menguasai tubuhnya. Seluruh tubuhnya sekarang kaku. Benar-benar tidak mau menuruti perintahnya.
"Kau akan mati kalau terus melawan. Kau tahu, karena kau lemah." Arian mendekatkan rubik itu persis di depan wajah Lixe.
"Matilah oleh leluhurmu." Rubik itu mengeluarkan bayangan hitam. Menyelimuti tubuh Lixe.
Lixe menguatkan rahang. Dia melawan setiap sakit di sendi dan otot. Bahkan dia bisa merasakan sebagian tulangnya ada yang retak. Berusaha melepaskan diri dari bayangan yang membungkus tubuhnya, kecuali kepala.
"Raja bayangan. Lenyap lah sekarang."
Gusion merapal mantra. Bayangan yang keluar dari rubik itu hilang. Bayangan di tubuh Lixe pun hancur. Arian menoleh pada Gusion. Matanya laki-laki itu sepenuhnya hitam.
Tanpa Arian sadari, Zenith berlari ke arahnya. Dengan sepatu kedap suaranya. Dia langsung menendang dan telak mengenai dada Arian. Membuat orang itu terpental dan menghantam dinding kayu di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Arian. Dia menatap rubik di tangannya.
"Kamu masih bertanya soal itu?" Gusion memiringkan kepala.
"Aku bisa merasakan ruh nenek moyangku bersemayam di sana."
"Dan kau ingin membantu cucu Lyde?"
"Sebagai penebusan dosa." Gusion mengangguk.
Lixe menoleh tidak percaya.
"Justru akulah yang bersalah," batin Lixe.
Gusion mengulurkan tangannya pada Lixe. Apa itu sebuah tawaran pertemanan? Lixe tidak bisa menolak. Di tempat seperti ini tidak boleh ada perselisihan antar teman. Lixe membalas uluran tangannya.
"Kalau begitu." Arian berusaha berdiri tegak. Dia mengacungkan rubik itu ke depan.
"Kau ingin bertemu mereka? Aku pertemukan."
"Panggilan ingatan. Tentara memori kegelapan."
Rubik itu kali ini mengeluarkan bayangan gelap dan pekat.
Di depan Arian. Muncul beberapa bayangan yang membentuk seseorang. Lagi. Seperti portal si monster merah, rubik itu terus memunculkan makhluk-makhluk bayangan. Satu-persatu berubah menjadi pria dewasa, anak-anak, bahkan lansia.
"Siapa mereka," gumam Lixe.
"Mereka adalah orang-orang yang ingatannya pernah diserap rubik itu, Lix," jawab Zenith. Dia melangkah mundur. Menyejajarkan posisinya dengan Lixe dan Gusion.
"Apa Nona mata merah juga?" gumam Lixe saat melihat Aizla, namun dalam versi kecil? "Benarkan?" batinnya. Sosok itu tidak asing. Bahkan mata anak itu merah darah, sama sekali tidak menyusahkan warna putih.
"Dan apakah itu aku?" Lixe menelan ludahnya. Iris anak itu putih bersinar. Dia yakin itu dirinya. Lixe memasang kuda-kuda. Anak itu, dirinya dalam versi kecil mengangkat pedangnya.
"Cahaya bulan purnama. Lingkaran gravitasi tinggi."
Lixe, Gusion, Zenith spontan menunduk. Di bawah mereka, sebuah lingkaran cahaya terbentuk. Menarik tubuh mereka ke bawah. Membuat Lixe tersungkur.
Zenith memukul lantai kayu di bawahnya. Membuatnya retak bersama lingkaran cahaya yang sempurna pecah.
Gusion menusuk lingkaran itu saat tubuhnya tertarik ke bawah. Membuat lingkaran itu hancur.
Zenith dan Gusion tanpa aba-aba melesat maju secepat kilat. Keduanya berkelit, memukul, dan mengalahkan musuh di yang datang di depan sana.
"Ini penebusan dosaku, untuk segala keegoisanku."
"Panggilan Raja bayangan. Bayangan Naga."
Sebuah naga bayangan terbentuk di hadapan Gusion. Memporak-porandakan ruangan itu. Naga itu lalu terbang ke langit-langit. Menghancurkannya. Membuat keretakan di sana.
Gusion mengangkat tangan kirinya. Dua naga terbentuk. Keduanya terbang ke arah Zenith dan Lixe. Menghentikan gerakan Zenith yang hendak menghajar seorang lansia di depannya.
Naga itu membelit keduanya. Tetap saat langit-langit runtuh. Membuat kepulan debu beterbangan ke mana-mana.
Zenith terbatuk saat naga itu melepaskan lilitannya. Dia melompat mundur. Arian berdiri di depannya. Zenith menggerakkan rahang. Dia melompat maju, hendak melayangkan tinju.
"Sampaikan maaf, pada ibumu,"kata Arian pelan. Tatapannya kosong. Dia bergeser dia langkah. Balas melayangkan tinju. Membuat tinjunya bertemu dengan kepalan tangan Zenith.
"Apa yang kau katakan?" Zenith melangkah mundur. Tubuhnya terdorong. Tenaga Arian jelas lebih kuat darinya. Arian tidak menjawab.
Zenith memutar tubuh. Memegang lengan Arian dengan kedua tangan. Lalu membantingnya ke atas puing-puing.
Dari sudut-sudut bibirnya, Arian mengeluarkan darah. Tidak. Darah itu berubah menjadi bayangan hitam. Lalu hilang diterpa angin seperti orang-orang yang dibangkitkan rubik terkutuk itu.
"Apa kau... juga, hanya ingatan?" Zenith bertanya dengan ragu. Arian berdiri. Menatap Zenith Punuh tanda tanya.
Pria itu mengangkat tangannya. Sebuah bayangan tipis menyelimutinya.
"Aku? Hidup di dalam rubik memori?" dia bertanya pada dirinya.
"Raja gila itu menghapus ingatannya sendiri? Sungguh kejam," batin Zenith. Sejenak dia merasa iba. Tapi tidak ada waktu untuk itu. Seseorang yang entah siapa menyerangnya dari belakang.
Zenith membantingnya. Lalu mencekik leher pria tak dikenal itu.
"Izinkan aku, masuk ke tubuhmu," ucapnya lirih. Zenith membulatkan matanya. Dia mengalihkan pandangan. Menoleh ke sekitar. Benar saja, dia bisa membaca pikiran para monster ingatan itu. Mereka berteriak dalam pikirannya.
"Izinkan aku masuk ke tubuhmu!"
Pria tadi mencengkeram lengan Zenith. Menarik tubuhnya untuk bangun. Pria itu berusaha meraih kepala Zenith.
"Maaf. Aku tidak bisa menerima kalian." Zenith menghempaskan pria itu. Membebaskan lengannya. Tapi yang lain justru berdatangan. Zenith mengepalkan tangan.
"Zenith, katakan pada Anita. Maafkan aku," ucap Arian, monster ingatannya. Tatapannya tidak jahat. Sangat lembut.
***Zenith 4 tahun
"Ini putrimu?" suara Paman Arian terdengar sangat lembut. Dia membelai rambutku lembut. Paman ini sungguh baik.
"Iya," jawab ibu sambil mengangguk.
"Kalau besar, pasti cantik sepertimu." Dia tersenyum.
"Kak!" Ibu menggeleng, entah kenapa. Aku tidak paham.
"Aku hanya bercanda." Paman Arian tertawa. Dia lalu mengangkatku.
"Aku sayang Paman," ucapku saat Paman Arian menggendongku.
"Aku juga," balasnya mencubit pipiku.
***
"Hari itu, aku tertawa. Aku ingat, Paman," gumam Zenith. Matanya berkaca-kaca. Tangan dan kakinya bergetar. Dadanya sesak. Isakan tangis terdengar.
"Jahat. Aku akan membalaskan dendam kalian. Demi Paman Arian." Zenith mengepalkan tangan. Tekad di matanya terlihat jelas.
Di sisi lain...
Gusion mengalahkan makhluk ingatan itu dengan mudah berkat bantuan kedua naganya. Mereka jelas unggul. Tapi seorang anak kecil yang dalam posisi tengkurap memegang kakinya.
Gusion menoleh ke bawah. Netranya bertemu dengan tatapan penuh kebencian dari anak itu.
"Kamu, Wist. Aku benci," ucapnya tajam.
Gusion lalu mendengar suara yang lain. Dia mendongak. Di depannya, kerumunan makhluk ingatan berkumpul. Sama-sama menatapnya penuh kebencian.
"Suku Wist yang terkutuk. Jahat! Kalian sungguh jahat! Semuanya karena kalian! Semuanya!" Mereka bergerak maju. Tubuh Gusion kaku. Kedua naganya lenyap.
"Kau harus menebus dosa leluhurmu!" Mereka menyerang.
***
"Kenapa Paman tega melakukannya?" Gusion berlutut di depan seorang pria dengan pedang berlumuran darah di tangannya.
"Apa kamu tahu, Gusion? Kamu tahu bagaimana orang di luar sana memandang rendah kita?" orang itu menatap kosong.
"Sedikit pengorbanan tidak apa, kan? Bukankah darah kotor memang mengalir di tubuh kita?"
***
"Darah kotor. Dosa leluhur. Kalau sudah begini, berkorban lah sedikit lagi," gumam Gusion. Dia mengangkat kepalanya.
Gusion menggenggam erat pedangnya. Menerima serangan dan balas melawan. Gusion menebas lawannya. Tanpa ampun, dan tanpa dosa.
Di sisi lainnya...
Orang-orang dengan aura gelap mendatangi Lixe yang masih ada di dalam lilitan naga milik Gusion. Lingkaran gravitasi di bawah sana masih ada.
"Apakah aku selemah ini?" batin Lixe. Tangannya yang terkepal bergetar. Di luar sana, makhluk-makhluk itu saling bertikai.
"Aku merasakan darah Lyde. Apa kau juga?" tanya seseorang pada yang lain.
"Lyde? Yang menjadikan kita sebagai tumbal pengisi batu itu? Apa kau serius?"
"Tentu saja. Aku yakin."
"Aku juga," yang lain balas berseru. Mereka mendekati naga itu.
"Raja bayangan. Naga, hilanglah!" salah seorang dari mereka mengucapkan mantra.
Naga yang melilit Lixe bergetar hebat. Dia meroar keras.
"Pergilah! Terimakasih." Lixe berdiri. Melawan lingkaran gravitasi tanpa menghancurkannya. Berhasil. Dia sanggup berdiri tegak. Naga itu langsung menghilang.
Orang-orang itu tersenyum puas. "Ini balas dendam kami!" Mereka menyerang dengan ganas. Lixe menghindar. Pertempuran meledak.
"Aku akan menampung kekesalan kalian, Para Wist yang berkorban dengan paksaan Lyde. Aku terima dosa leluhurku!"