
Tok tok tok. Seseorang mengetuk pintu kamar apartemen Aizla seperti sedang menagih hutang. Aizla bangun dari tidurnya. Keluar dari kamarnya, menuju pintu dengan langkah gontai. Dia mengambil pisau buah di meja.
Aizla membuka pintu. Langsung menyodorkan pisau ke leher Lixe. Lixe mengangkat tangan. Rambut Aizla yang acak-acakan, poninya berdiri. Wajahnya yang kusut, dan matanya yang sayu, astaga sungguh memalukan. Aizla langsung berpaling.
"Maaf, Anda salah Ruangan. Ruangan Xiota dan Gusion di samping." Aizla menunjuk ruangan di samping kirinya. Lixe menoleh. Dia mengangguk.
"Tapi aku mencari mu."
Aizla terkejut. Dia panik. Aizla berbalik. Lalu membanting pintu di depan wajah Lixe. Lixe menahan pintu dengan satu tangan. Tapi Aizla balas mendorong pintu dengan sekuat tenaga.
"Pulanglah! Aku belum mandi."
"Tidak papa."
Brak. Clak. Pintu itu kembali terkunci. Lixe menghela napas panjang. Dia bersandar di pintu kamar itu. Jujur saja, Lixe masih mengantuk. Dia duduk dengan tangan memeluk kaki, meletakkan kepala di lengannya. Kemudian kembali memasuki alam mimpi.
Clak.
Lixe terbangun saat sandaran punggungnya menghilang. Aizla membuka pintu. Lixe menoleh ke belakang. Aizla mengulurkan tangan, membantunya berdiri. Lalu mempersilahkan Lixe masuk.
"Dimana Nenek Biete?" tanya Lixe tanpa basa-basi.
Aizla mempersilahkan Lixe duduk di sofa ruang tamu. Aizla pun duduk di depannya. Aizla mengangkat bahu, tidak tahu. Biete itu berjiwa bebas, sebelum matahari terbit sudah keluyuran entah kemana. Lixe kecewa. Eh. Sepertinya tidak. Semangat Lixe kembali.
"Ada perlu apa?"
"Apa kamu bisa mengikatkan jiwa ke dalam tubuh seseorang?"
Aizla mengerutkan dahi. Kenapa Lixe tiba-tiba bertanya tentang hal itu? Otaknya memunculkan banyak tebakan. "Kau ingin mengikat jiwa siapa?"
Tebakan Aizla tepat sasaran. Lixe menoleh ke samping. Dia melihat sebuah not balok melayang. Tapi dia pikir Aizla tidak bisa melihat First.
"First Lyde. Kau kenal?" Lixe masih memandangi benda melayang itu. Aizla menggeleng. Dia yakin Biete mengenal orang itu.
"Aku bisa membantumu mengikat jiwanya. Mungkin akan sakit. Bagaimana?"
Lixe mengangguk. Terserah, sakit atau tidak. Yang penting First bahagia. "Sungguh? Terimakasih." bisik First bahagia. Lixe mengangguk.
Aizla berdiri. Ini pertama kalinya dia akan mengikatkan sebuah jiwa ke tubuh seseorang.
"Lingkaran darah. Ikatan dua jiwa."
Asap darah menyelimuti tubuh Lixe dan not balok yang mengambang di sampingnya. First berubah ke bentuk tubuhnya. Aizla bisa melihat pria itu.
"Gabungkan."
Dada Lixe sakit. Perutnya mual. Kepalanya pusing. First berubah menjadi asap darah yang memasuki tubuh Lixe. Napas Lixe tersengal. Dia membuka mulutnya, mencoba mendapat lebih banyak oksigen.
"Bertahan lah. Sebentar lagi kau akan masuk ke bagian yang paling tidak enak." Aizla menggenggam tangan Lixe. Aizla mengerti rasa sakit itu. Sama seperti yang pernah ia derita saat Aira memasukkan jiwa Biete ke dalam tubuhnya. Walau mungkin Lixe akan mengalami rasa sakit yang lebih parah, mengingat Biete bisa melakukan penggabungan jiwa sendiri.
Lixe berteriak kesakitan. Darahnya serasa menyumbat di bawah meski jantungnya berdetak lebih kencang. Energinya terkuras habis. Pandangannya buram. Lixe membuka matanya lebar-lebar.
Aizla menengok ke sekeliling. Sebuah nyanyian terdengar merdu. Rasa sakit yang dialami Lixe mereda. Darahnya kembali mengalir normal. Lixe menutup mata. Pingsan di atas sofa.
Aizla sedikit panik. Dia sudah mengira ini akan terjadi. Untungnya tidak seburuk yang dia pikirkan. Lagu merdu diiringi permainan biola yang indah itu tidak akan pernah Aizla lupakan.
Aizla membantu membenarkan posisi tidur Lixe. Menurutnya Lixe bisa sadar sendiri. Tidak perlu repot. Toh memang prosesnya akan seperti ini.
"Semoga kalian akrab ya," pinta Aizla. Dia kembali duduk. menyalakan tv dengan jentikan jari.
***
Lagi-lagi Lixe mendapati dirinya berdiri di tengah laut. Tapi kali ini berbeda. Langit di atas sana bukan langit siang, melainkan malam. Bulan abadi bersinar. Menjadi penerangan tunggal di alam bawah sadarnya. Lixe merenung melihat bulan.
"Aku ingat pernah melihat bulan itu." First menyadarkan Lixe dari lamunan. Dia menoleh.
"Suku yang menjadi alasan kehancuran kami. Bulan Yang Agung Van. Apa hidupmu bahagia?"
Lixe memiringkan kepala. Berpikir dalam-dalam. Lixe mengangkat bahu, bersungut-sungut. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan First. Tapi itu membuat dirinya sebal.
"Bagaimana menurut Kakek?" Lixe memejamkan mata.
"Mereka tidak akan mencintaimu, meski kau menyanyi untuk mereka."
Lixe menyengir. "Mereka akan mencintaiku, tanpa aku harus bernyanyi."
***
Satu jam berlalu, seseorang memegang pundak Qiana. Sempat terbesit di pikirannya akan kehadiran sebuah hantu. Qiana memeluk lebih erat batu nisan itu sembari menoleh.
"Sampai kapan kau akan diam di situ?" Sebuah robot penjaga kuburan bertanya. Kedua mata kotaknya bersinar merah di kepalanya yang bola. Qiana berdiri. sekali lagi menatap makan Kian. Lalu berlari pergi. Air matanya keluar sepanjang jalan. Sampai ia tidak sadar di depannya ada orang.
Buak.
Seseorang meninju wajah Qiana. Anak itu jatuh ke belakang sambil memegangi pipinya. Orang yang melakukannya, Qiana mengingat wajah itu. Tiga orang gadis yang sebelumnya pernah merundungnya di kafe.
"Kita lihat siapa yang akan membantumu hari ini."
"Bisikan kematian. Berlutut."
Tiga gadis itu berlutut. Dengan keras lutut-lutut mereka menghantam tanah yang terbuat dari batu. Mereka meringis. Menatap Qiana seperti meminta pertolongan. Qiana menutup mulutnya.
"Bersujud."
Duak.
Aaaahk
Mereka membenturkan kepalanya keras ke jalan. Ketiganya menangis. Mereka menoleh ke belakang dengan kening tertempel di jalan. Mereka mencoba bangun, tapi tubuh mereka berkehendak lain.
Bal tersenyum jahat. Tangannya terlipat di depan dada. Bal menunduk, mendekatkan wajah pada ketiganya.
"Mau macam-macam dengan kami?" katanya dengan nada datar.
Orang-orang itu memejamkan mata, menggeleng. Dalam hati mereka memaki Bal. Bal mendengarnya. Dia menatap Qiana. Mengabaikan tiga pengganggu. Bal mengulurkan tangannya.
"Silahkan dibalas."
Qiana menggeleng. Dia tidak berani memukul orang lain. Bal menatapnya tajam. Qiana berlari meninggalkan tempat kekacauan. Air mata lagi-lagi membasahi pipinya. Bal menatapnya heran.
Bal menunduk. Mendekatkan wajahnya pada tiga orang itu. "Katakan maaf, kami hanya orang lemah yang tidak berguna."
Mereka menggeleng. Mulut Bal bergeming. Kedua tangan mereka yang mendorong jalan terangkat. Malah mendorong kepalanya dari belakang kepala ke bawah.
"Kami hanya orang lemah yang tidak berguna. Maafkan kami. Kami mohon!" ucap mereka kompak sambil menahan rasa sakit.
Bal terkekeh pelan. Dia berbalik dan meninggalkan mereka. Orang-orang itu akhirnya bisa terbebas. Mereka langsung terlentang di jalanan sambil mengusap keningnya yang benar-benar memar.
"Mereka juga Suku Dey. Kamu tahu itu?" tanya Qiana yang duduk di halte bis pinggir jalan saat Bal duduk di sampingnya. Bal mengangguk.
"Mereka lebih kaya dan lebih pandai memukul daripada aku. Kalau ada orang yang tidak berguna itu aku! Mereka bangsawan, terpelajar dan tangguh. Tapi aku hanya pelan di kafe orangtuaku."
Qiana menghapus air mata di wajahnya dengan tangan. Lalu menatap Bal. "Wahai kesayangan Tuan Zwesta. Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku untuk bertarung. Anda tidak akan diuntungkan dengan keberadaan ku di keluarga inti Dey. Jadi mohon jangan cari aku!"
"Orang yang bisa membaca pikiranku melakukan telepati, masih menganggap dirinya lemah? Kau sama saja sedang meremehkan ku." balas Bal juga bertelepati.
Qiana berdiri. Sebuah bus berhenti. Dia memasuki bus itu. "Mohon jangan mencari saya. Saya akan selalu pergi dari dekat Anda. Terimakasih untuk hari ini."
Bal menarik napas dalam-dalam. Yang dikatakan Qiana memang benar. Dia sudah salah berharap bisa membawa gadis itu ke keluarga inti dan memanfaatkannya. Mungkin ajaran Zwesta salah besar.
Biete terbang bebas di seluruh penjuru kota. Tapi sebuah angin kencang menarik tubuhnya menuju balkon di istana raja. Jantungnya sudah mau copot. Wajahnya pucat. Zecda sudah menantikannya. Pria itu duduk dengan kaki bersilang.
"Kemana Nenek akan pergi?"
Biete tidak punya jawaban. Kau selalu pergi. Ada apa? Tidak sanggup menjelaskan apa yang terjadi dulu? Apa yang terjadi pada Lean Lyde? Aero Roila? Juga Qien.. Abta?"
Biete menahan napas. Walau dia tidak perlu bernapas untuk hidup. Biete memberanikan diri.
"Iya, semuanya salahku. Aku yang egois. Bahkan pada cucuku sendiri."
***
Qien Abta, anak laki-laki dengan kepandaian di bawah rata-rata yang selalu ingin jadi ilmuwan hebat layaknya sang adik sepupu yang sudah mendapat banyak penghargaan dan dinyatakan sebagai ilmuwan cilik yang hebat. Dia, Aira Abta.
Qien sangat menyayanginya, tapi dia juga iri pada Aira. Anak kecil yang polos. Suatu hari aku datang padanya, menawarkan kepandaian di atas rata-rata. Qien menerimanya. Aku mengikat jiwaku ke dalam tubuhnya.
Anak polos yang agak konyol. Tentu saja aku tidak menjadikannya tempatku tinggal tanpa mengharapkan sesuatu. Aku, Biete Abta, akan membuatnya menjadi pahlawan. Melalui dirinya, bersama kami akan menjinakkan Pangeran Neo.
Namun segalanya kembali kacau.