AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Bangsawan menyebalkan



Pesta sudah hampir selesai. Lixe dan Bal di bawah pimpinan Biete baru datang. Tidak ada yang menyadarinya memang. Tapi sedikit aneh untuk Lixe dan Bal yang masih menjunjung etika bertamu. Tapi pemimpin mereka yang bodoh amat tidak bisa dilawan.


Meski datang paling akhir, Biete menyalami semua yang dia temui. Bersikap sok kenal pada mereka semua. Dia berjalan menuju tengah-tengah ruangan. Menyapa sana-sini sambil melangkah tanpa melihat ke depan. Langkahnya terhenti, seorang pria berambut coklat dengan tubuh tinggi besar menunduk di depannya. Biete menelan ludah.


"Neo?" Matanya berkaca-kaca. Biete spontan merangkul murid pertamanya yang paling dia sayangi. Neo balas memeluk gurunya.


"Maafkan aku. Aku guru yang tidak becus. Aku sungguh orang yang buruk. Aku...."


Neo mengendurkan pelukannya. Dia menyeka air mata Biete yang membasahi pipi wanita itu. Neo tersenyum, seperti yang selalu dilihat Biete.


"Aku berterimakasih padamu, gur allu. Untuk segalanya. Aku menerimanya. Yang menjadi bebanku adalah kesalahanku. Aku menerimanya."


Biete melepaskan pelukannya. kepalanya tertunduk. Bagaimanapun dia tetap bersalah. Ditambah dengan fakta, dia harus mengembalikan barang yang dulu dia berikan pada Neo untuk balas dendamnya.


"Apa aku sudah kelewatan tentang balas dendam ini? Aku menjadikanmu murid karena kupikir darah bangsawan murni memiliki kekuatan yang besar. Dan memang, aku bisa melihatnya."


Lixe mengabaikan Biete yang hilang entah kemana. Fokusnya mencari Tara. Dia harus memastikan Tara baik-baik saja. Lixe menembus kerumuman. Dia akhirnya dapat melihat Tara yang dikelilingi anak-anak seusianya. Tara tersenyum. Dia menikmati suasana itu walau dia hanya jadi pendengar setia dari setiap cerita. Tara tersenyum tipis pada Lixe.


Tapi pandangan Lixe teralihkan pada orang-orang bangsawan kelas atas yang mencibir Tara di belakang sana. Mereka berbisik. Bahkan Ratu Kedua menjadi tokoh utama dalam provokasi tersebut.


"Tidakkah kalian tahu? Ratu Fiyah sudah hamil lebih dulu sebelum menikahi Raja," bisik Ratu Kedua. Yang lain percaya. Tentu, Ratu Kedua berasal dari seorang bangsawan. Tapi Fiyah, hanya gadis desa yang beruntung. Pandangan para bangsawan buruk pada Fiyah. Sejak kecil, rumor bahwa dia anak tidak sah sudah disebarkan Ratu kedua. Dan membuat bangsawan tidak ada yang mau terlalu dekat dengannya.


Gosip-gosip makin tidak terkendali. Lixe ingin menghentikannya. Tapi dia jelas bukan siapa-siapa. Karena itu, dia hanya diam dan berharap Tara tidak mendengarnya.


Tapi Tara mendengarnya. Dia juga hanya bisa membiarkan mereka bicara. Sampai pestanya berakhir, dan teman-teman barunya pulang. Ibunya selalu mengajarkan untuk bersikap sempurna, tidak perlu melakukan hal yang dapat merusak image.


"Anda dengar gosip itu, Putri?" Neo tiba-tiba menepuk bahu Tara saat gadis itu sendirian. Tara menoleh. "Anda tidak ingin menghajar mereka?"


"Apa yang bisa saya lakukan, Tuan? Ratu Pertama yang lebih tahu tidak pernah menyangkalnya."


"Kalau begitu katakan saja pada mereka, kalau semua itu benar." Neo tersenyum.


Tara tidak bisa mengatakan apapun. Otaknya berpikir cepat. Berpikir bahwa dia memang bukan anak Raja. Dan semua akan menjadi alasan yang wajar mengingat raja tidak pernah mengunjungi bahkan saat pesta ulang tahun. Juga bagaimana bisa Raja memberinya istana yang di bawahnya tersimpan moster kerajaan. Tara menyeringai.


"Semuanya mungkin benar. Aku ingin lihat."


Lixe mencari Bal. Biete bilang akan melaksanakan rencananya saat pesta akan berakhir. Tapi Bal malah hilang, dan mencari Biete tanpa Bal adalah hal yang merepotkan. Dalam hati Lixe memanggil Bal. Anak itu harusnya bisa mendengar panggilan hatinya.


Lima menit kemudian, semua tamu sudah pergi meninggalkan acara. Menyisakan para bangsawan. Tara menghampiri mereka. Dia sadar, Tara belum memberi salam pada mereka.


"Selamat malam, Nona dab Nyonya. Saya Tara Neland memberi salam kepada Anda sekalian," Tara menundukkan kepala sedikit. Mereka balas dengan tatapan rendah. Tara sudah terbiasa dengan semua itu. Saat ada rakyat biasa, mereka bersikap baik. Dan saat tidak ada, mereka menunjukkan sifat aslinya.


"Pesta Anda cukup menarik. Tapi dimana Yang Mulia Aero? Apa dia tidak hadir lagi? Dan Kami juga tidak melihat Ratu Fiyah."


"Ah, saya sempat menyapa beliau tadi. Lalu beliau menghilang entah kemana."


"Apa beliau malu pada kami," ucap Ratu Kedua. Itu ejekan yang terang-terangan. Tara diajarkan ibunya untuk mengabaikan setiap hal dan bersikap anggun selama bertahun-tahun. Tapi dia tidak pernah membayangkan, hasutan seorang pria yang baru ia kenal bisa merusak semua ajaran ibunya itu.


"Mungkin karena Beliau tidak ingin melihat wanita kurang ajar seperti kalian," ucap Tara dengan sopan. Mereka saling berbisik. Tidak menyangka Tara akan mengucapkannya.


"Astaga. Apa yang Anda ucapkan, Putri? Sepertinya Ibu Anda kurang mendidik Anda..."


"Tidak. Beliau sudah mendidik saya dengan sangat baik. Mungkin, ibu Anda sekalian lah yang tidak mengajarkan pada Anda sekalian menjaga mulut itu." Tara mengeluarkan segenap keberaniannya.


"Darimana dia mendapatkan keberanian itu?" batin Ratu Kedua. Dia diam-diam tersenyum. Dia suka saat Tara menghancurkan imagenya sendiri.


"Dasar Anak tidak tahu diri! Kau bukanlah Putri kami! Kau hanya putri palsu!" seorang nenek datang tiba-tiba menghampiri. Mantan ratu ketiga. Nyonya Lily Neland. Tara menelan ludah. Dia menatap nenek itu tanpa berkedip.


"Saya Ratu Lily Neland. Penyelamat Putri Bella Neland, Putri dari Rahim Ratu Kedua yang suci. Saya memberi salam kepada para anak-anakku," kata Lily sambil menunduk. Wajah tuanya yang keriput tetap terlihat cantik. Semua jelas percaya dengannya. Walau sebagian besar menggunjing dirinya.


"Jadi Anda yang mencuri putri saya. Anda harus dihukum."


Lily mengangkat wajahnya. Ini tidak mungkin terjadi. Dia sudah susah payah membesarkan Bella. Sebuah hukuman tidak pantas baginya.


Ratu Kedua menekan tombol earphone yang tersembunyi di balik rambutnya. Dia memanggil bodyguardnya yang dia di dekat pintu. Laki-laki kekar itu langsung datang.


"Bawah dia ke penjara!" Laki-laki itu menurut. Dia mencengkeram tangan rapuh Lily. Lily memberontak.


"Tidak baik melakukannya pada orang yang sudah merawat Putri Anda." Tara menahan tangan bodyguard itu.


Neo kembali menatap gurunya. "Hari ini, aku ingin mengembalikan permata yang diberikan guru dulu. Terimakasih, berkat itu aku bisa melakukan banyak hal. Tapi kurasa aku sudah tidak membutuhkannya. Jadi ini," ucapnya seraya menyodorkan sebuah potongan permata berwarna putih yang dia keluarkan dari sakunya.


Biete menatapnya ragu. "Kau tidak....." Biete tak kunjung menerimanya.


"Ambillah Guru." Neo tersenyum jahat. Dia menjatuhkan permata yang tak kunjung diambil dari tangannya. "Karena aku ingin menghancurkan kerajaan yang sudah rusak dan busuk ini!"


Tepat saat permata itu menyentuh lantai, tubuh Neo di selimuti asap darah berwarna merah yang pekat. Bal mengambil permata itu lalu mundur. Dia tahu, tidak ada baiknya dia dekat-dekat dengan Neo. Tapi Biete justru mendekat.


"Apa maksudmu, Neo?"


"Tidak ada yang baik-baik saja di negara ini. Tidak ada yang orang baik yang pantas dilindungi."


"Kau gila Neo! Kau sedang dikendalikan jiwa-jiwa yang ada di tubuhmu!"


Aura jahat yang keluar dari tubuhnya semakin memenuhi ruangan. Hiasan yang tertempel di dinding menjadi abu. Semua orang yang tersisa di sana menoleh pada Neo.


"Hentikan, Neo!!!" Biete berteriak sekencang-kencangnya sembari menahan sakit. Tangannya yang memegang pundak laki-laki itu tersayat oleh asap darah yang menyelimuti tubuh Neo. Biete berusaha bertahan. Tapi tubuh itu sungguh lemah. Biete akhirnya melepaskan tubuh itu. Membiarkan wanita itu tidak sadarkan diri. Biete yang tinggal arwa kembali pada Aizla.


"Pangeran Neo? Apakah ini sungguhan?"


Para bangsawan wanita yang jelas mengenal nama monster itu, ketakutan. Tubuh mereka lemas, kakinya tidak sanggup menahan berat badan mereka. Mereka jatuh terduduk. Para kesatria, bodyguard, dan bangsawan pria menyerang Neo tanpa aba-aba.


"Aku hanya ingin kebebasan. Aku kira aku mampu mengendalikannya. Ternyata tidak. Maafkan aku, Tara."


Pertempuran yang sangat tidak adil itu meletus. Neo memukul siapapun yang datang padanya tanpa ampun. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecepatan Neo. Tidak ada yang berhasil memukul laki-laki itu. Dalam waktu lima menit semua lawannya tumbang dalam kondisi babak belur.


"Cahaya bulan purnama. Dua belas sabitan cahaya."


Serangan itu mengenai tubuh Neo. Sama sekali tidak mempan. Neo menoleh. Dia tertawa melihat wajah Lixe yang sungguh tidak dalam kondisi baik. Ini gawat baginya.


Neo melirik ke tempat para bangsawan wanita tadi berdiri. Mereka sudah tidak ada. "Kabur ya?"


"Kalau Pangeran mencari bangsawan wanita, aku di sini!" Tara berjalan mendekati Neo. Langkahnya mantap, dan tatapannya juga tidak bisa diragukan. Tapi Neo tidak merespon. Dia terus mencari mangsanya.


"Tara pergilah!" Lixe berseru. Neo mengangkat alis.


"Kau bicara dengan siapa?" tanyanya.


"Apa.. Pangeran tidak melihatku?" Tara menghentikan langkahnya.


Neo melupakannya. Dia membentuk lingkaran sihir. Semua yang tergeletak di dalam lingkaran itu menjerit. Tenaga kehidupan mereka diserap. Semuanya berakhir bagi orang-orang itu. Neo keluar dari istana. Melewati Bal begitu saja.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia tidak menganggap ku ada?" batin Lixe.


"Aku menggunakan sihir ilusi untuk menutup keberadaan kita berdua, Kak. Tapi Tara? Neo sungguh tidak bisa melihatnya," jawab Bal. "Siapa dia?" Bal menatap Tara lamat-lamat.


Sementara Bal dan Lixe masih di dalam istana putri. Keadaaan di luar sudah kacau.


Tara tidak akan membiarkan kerajaannya hancur. Dia berlari keluar. Lixe pun mengikutinya. Bal mendengus.


"Kak Zenith!"


"Kemana kau pergi?! Berani-beraninya kau meninggalkanku!"


"Maaf. Ini darurat."


"Kau pikir aku 999?! Katakan dimana kau?!"


"Neland."


"Kami datang."


Door. Peluru ditembakkan ke arah Neo. Sekarang seluruh warga bersembunyi di dalam rumah. Menyisakan para kesatria yang berdiri gagah di hadapan Neo. Bahkan Aren, Raja Neland berdiri di barisan paling depan.


"Nenek kemana saja?" jiwa Aizla bertanya pada jiwa Biete yang seenaknya masuk ke dalam tubuhnya. "Karena Nenek sudah seenaknya sendiri, aku tidak akan meminjamkan tubuhku selama 2 minggu ke depan. Jadi tidurlah yang nyenyak di sini."


Aizla bangun dari tidurnya. Dia melepaskan alat yang dia pakai di kepalanya. Aizla turun dari ranjang besi itu. Keluar dari ruangan kaca khususnya. Dia merasakan jiwa-jiwa yang berteriak di luar.