
***
"Hah, hah, hah," seorang anak laki-laki berlari menembus kerumunan. Beberapa warga mengejarnya. Anak itu berbelok, memasuki gang sempit nan gelap. Dia bersembunyi di balik tiang listrik sambil meringkuk ketakutan.
"Tuan! Dia ada di sana!" ujar seorang gadis saat para warga hendak memasuki gang tersebut.
Para warga berlari ke arah yang ditunjuk oleh gadis tersebut. Bak terkena sihir, mereka tetap mempercayai perkataan gadis itu walau mereka melihat anak tadi berbelok ke gang kecil tersebut dengan mata kepala sendiri.
"Ayo, ikut aku!" anak perempuan yang lebih tua darinya tiga tahun itu mengulurkan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya mengelus lembut rambutnya.
Dengan ragu-ragu dia mengangkat kepala. Mengedipkan mata, lalu menatap menyelidik. Perempuan itu tersenyum. Dia menyambar lengan anak di depannya. Menariknya berdiri. Lalu berlari sejauh-jauhnya dari tempat kejadian.
Keduanya berlari tanpa henti. Walau ngos-ngosan, anak laki-laki itu punya daya tahan tubuh yang kuat. Dia bahkan bisa berlari mendahului anak yang menyelamatkannya. Anak laki-laki itu terus berlari, tanpa sadar keduanya memasuki gerbang istana yang terbuka lebar.
Anak laki-laki itu berhenti, membuat anak perempuan yang berlari di belakangnya menabrak punggungnya. Gadis itu mengusap wajahnya.
"Aku yang mengajaknya berlari, kenapa dia yang di depan?" gerutu anak perempuan dalam hati. P
"Siapa yang kau bawa, Lia?" tanya seorang anak perempuan dari atas. Keduanya mendongak. Gaida Aenmal, pewaris tunggal tahta kerajaan setelah kematian ibunya.
"Kenapa tidak tanya sendiri?" sahut Lia yang langsung ambruk dengan napas tak karuan. Gaida memonyongkan bibir. Lia memang orang yang tak pandang bulu, dia tidak segan bertindak sedikit kurang ajar pada putri mahkota.
Gaida melompat dari leher elangnya. Dia menghampiri anak laki-laki yang mundur saat dia mendekat. Anak itu masih syok dan takut.
"Kamu..." Gaida hendak meraih tangan anak itu. Namun dia memalingkan wajah, dan menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
"Aku tidak tahu apapun. Aku hanya budak tak bernama. Mohon ampuni aku, Putri." Anak itu berlutut. Gaida menatap nanar. Anak itu lalu bersujud.
"Panggil aku Kak Gaida!" Gaida berjongkok dan mengelus lembut punggungnya.
"Aku panggil dirimu Dirata. Lalu jadilah adik angkatku. Kau mau?"
"Selalu patuh, pada segala perintah diberikan." Anak itu bangun. Namun kepalanya tetap tertunduk. Seperti sudah terlatih dalam mengatakannya. Juga terbiasa untuk tidak membantah.
***
"Aku bukan siapa-siapa tanpa Kak Gaida. Dan aku tidak akan bertemu dengannya kalau bukan karena Kak Lia. Siapa yang lebih berjasa. Lupakan. Aku sudah membunuh penyelamat dalam hidupku. Sungguh, limbah kotor yang mematikan."
"Tuan Dirata!" Gueta berseru. Elangnya terbang turun hendak menangkap tubuh Dirata. Gueta panik hingga pucat.
"Maaf, Kak Lia." Dirata hanya pasrah. Tidak peduli apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Semangat hidupnya seolah menghilang.
Gueta menelan ludah. Lixe tiba-tiba keluar dari kepulan asap. Dia lebih dulu menyambar tubuh Dirata. Meski kebencian memancar di matanya, Lixe berinisiatif menyelamatkannya. Dirata menatap tidak percaya.
"Aku anggap Ibu memaafkanmu."
"Aku harap begitu."
Dirata melirik pasukannya. Beberapa dari mereka bersiap menembak. Orang-orang itu tampak tak peduli dengan dirinya. Tidak. Mungkin mereka memang ingin membunuhnya.
"Apa yang kalian lakukan?!" tanya sebagian kecil dari mereka. Mereka adalah orang-orang paling setia pada Dirata. Dor. Mereka mendapat tembakan di dada oleh kawannya sendiri.
"Kami tidak sudi tunduk di depan seorang budak!" seru para pemberontak dalam pasukannya.
"Dan aku tidak suka orang yang menyombongkan nama keluarga, lalu menuding orang lain tidak pantas sesuka hati." Lixe menatap para pemberontak itu.
Pedang yang tertancap di kaki pegasus milik Dirata menghilang. Luka di kaki pegasus tersebut tertutup. Tubuhnya sekarang diselimuti cahaya. Pegasus itu menghilang, muncul di tengah para pemberontak.
"Ngiiik!"
Duak.
Kedua kaki depannya terangkat. Hewan itu menendang salah satu penghianat. Dua ekor pegasus yang lain kompak menendang perutnya dari samping. Pegasus milik Dirata terhempas ke bawah.
Crash!
"Awas!!" Dirata berseru. Lalu terbatuk akibat lukanya yang semakin terbuka.
Seseorang melemparkan tombak ke arah pegasus itu dari bawah. Tombak itu hancur saat menghantam cahaya yang menyelimuti pegasus. Dirata menengok ke bawah. Seseorang yang menatapnya dengan tatapan tidak mengenakkan. Dia pikir, banyak orang yang tidak suka dengannya.
Pegasus miliknya berteleportasi ke dekatnya. Lixe membantu Dirata naik ke punggung tunggangannya. Dirata memeluk leher kuda terbang itu, membelai lembut hewan tersebut.
"Aku akan membereskan mereka. Pergilah, ke tempat yang seharusnya kau datangi!" Dirata meninggalkan. Pegasusnya membawanya terbang ke kerumunan pasukannya yang memberontak. Dirata menembak dengan senapan di tangan.
"Kau hanya orang beruntung yang tidak bisa hidup tanpa Ratu!"
Dirata terdiam. Tatapannya dingin. Pernyataan itu sungguh tidak dapat dia sangkal. Bahkan dialah yang mengatakannya sebelumnya.
Lixe menoleh. Sebuah surai bayangan melilit kaki kanannya. Lixe terseret ke bawah. Dia menggeram. Zenith menangkap tubuhnya sebelum menghempas ke tanah. Roy'ah mengayunkan pedang, memotong surai bayangan yang mengikat kaki Lixe. Bayangan itu menghilang.
Gean berdiri tidak jauh dari mereka dengan senyum mengerikan. Lixe berdiri dengan bantuan Zenith.
"Aku menantang mu." Gean menunjuk Lixe. "Kita bertarung seperti dulu, tapi di tempat yang berbeda, kali ini tidak akan ada pengganggu. Aku jamin kau suka"
Lixe menunduk. Sebuah portal bayangan muncul di bawah kakinya. Lalu dia melihat Gean. Portal yang sama muncul di bawah kakinya. Lixe mengangguk.
"Kali ini, aku akan mengalahkan mu." Kedua pasang mata bertemu. Lalu menghilang.
Zenith meremas jemari. Dia menoleh, berharap dapat menemukan dimana keberadaan Lixe. Tidak ditemukan.
"Bal!" Zenith berseru memanggil Bal yang berdiri dua meter di belakangnya. Setelah sungguh menyerah, barulah Zenith menoleh pada Bal.
Bal mengangkat bahu sambil menggeleng. Zenith melengos. Kali ini menatap Zack.
"Kita tidak perlu mencarinya. Dia sendiri ingin pergi. Lagipula di kerajaan ini terlalu banyak tabir penghalang. Sulit untuk menemukannya," jawab Zack terang-terangan. Dia tahu Zenith tidak akan percaya, tapi biarlah.
Karena sekarang, kuba yang dibuat Gusion untuk melindungi para musuh sempurna menghilang. Riyal menghela napas berat. Kepalanya pusing, ditambah beberapa sayatan di lengan. Sulit baginya mengangkat senapan yang juga mulai kehabisan peluru.
Roy'ah berjalan mendekatinya. "Semuanya sudah berakhir bagi kita, Kak," ujarnya.
Benar saja, para pasukan itu berlutut dengan kepala menunduk pada Gusion. Bahkan Aira berlutut setelah memerangkap Aizla dengan sangkar yang terbuat dari darah. Gusion mulai pulih dari hawa dingin yang ia dapatkan setelah menerima butiran cahaya dari Lixe mentah-mentah.
Gusion membuka mulutnya perlahan. "Yang menentang ku, tidak perlu berpura-pura baik! Aku tidak butuh orang munafiq."
Belasan pasukan berdiri. Mendadak berlari dengan tombak ataupun pedang terangkat. Sedang beberapa yang lain menembakkan anak panah dan peluru ke arahnya.
Aura membunuh yang mematikan keluar dari tubuhnya. Bayangan dari orang-orang yang menentangnya muncul ke permukaan, melilit tubuh masing-masing.
"Tuan Wisteriam," gumam Aira. Matanya berbinar. Lupakan soal Lixe! aat Wisteriam melindungi anak itu, tidak mungkin baginya menyentuh Lixe dan kembali dengan selamat.
"Itukah tuan yang selalu engkau agungkan?" tanya Aizla seraya meremas sangkar yang mengurung dirinya. Aira menatapnya malas. Namun matanya membulat di detik berikutnya.
Tubuh Aizla diselimuti asap darah. Sepasang tanduk yang kokoh muncul di kepalanya. Sayap kirinya melebar. Aizla menunjukkan taringnya. Sangkar yang mengurungnya terbakar dan lenyap.
"Apa kau meremehkan ku? Jiwa yang kau ikat di dalam tubuh putrimu dengan muda. Apa kau pikir aku selemah itu? Aku hanya merasa bersalah pada dia." Biete mengambil alih tubuh Aizla. "Kupikir, dengan menjalin kontrak dan menjaganya, aku bisa menebus kesalahanku pada anak itu."
"Kau ingin menjaganya? Kau ingin menebus kesalahanmu padanya, kan?" tanya Aira. Aizla mengangkat sebelah alis.
"Bawa dia pergi. Jaga dia selamanya. Jangan biarkan seseorang meremehkannya, seperti mereka meremehkan ayahnya." Aira mencengkram lengan kirinya dengan tangan kanan. Membuat lengannya itu berdarah terkena kukunya sendiri.
"Pergilah! Ini kesempatan bagus untuk membunuh Arian!"
"Putrimu tidak ingin pergi. Dia ingin kasih sayang ibunya. Apa kau tidak ingin memberikannya?"
Aira memalingkan wajah.
"Dan tentang dendam yang satu itu. Aku sudah melupakannya. Juga, aku bersyukur bisa hidup lama sebagai arwah gentayangan."
Aira berdecih pelan. Dia mendapati seekor lebah pengintai terbang di dekatnya.
"Tidak berguna! Lupakan perjanjian tadi. Kau gagal, aku juga sudah menemukan apa yang aku cari." Suara serak itu terdengar dari lebah tersebut. Lebah itu berubah menjadi portal bayangan.
"Kau harus pergi dari si....! Aaakh!"
Gusion muncul di dekat Aira. Aura Wisteriam yang pekat membuat tekanan darahnya naik. Aira menunduk.
"Selamatkan Xiota." Gusion menelan ludah. "Aku mohon," lanjutnya.
Aira salah. Aura yang seram itu bukan milik Wisteriam, tapi memang asli milik Gusion. Seorang dengan kekuatan besar, memohon padanya. Aira memiringkan kepala.
"Apa Anda tidak ingin membalaskan kematian Anda pada First?" tanya Aira dengan mata berkaca-kaca.
"Kau ingin melakukannya untukku? Tapi aku tidak membutuhkannya." Gusion menghandap portal. Geor muncul dari sana.
"Kenapa kau membuat hidupmu berat dengan beban dari dendam? Bahkan berani mengorbankan keluarga sendiri?" Gusion menyindir Geor. Juga Aira yang menutup matanya sambil menarik napas dalam-dalam.
"Maaf, Aizla."
"Selamat datang kembali Pangeran yang Hilang." Geor membungkuk. "Aku akan kembalikan tahta ini padamu. Syaratnya, Kau habisi mereka." Geor menunjuk pasukan dari Suku Van dan beberapa bangsawan lainnya.
Yang ditunjuk menelan ludah. Saling tatap dan menunjuk diri sendiri.
"Ingatlah! Bagaimana mereka menginjak-injak leluhur kita di masa lalu."