AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Dendam lama



Jiwa dari semua orang yang sudah terkapar tak berdaya keluar dari tubuh mereka dalam bentuk sebuah api hitam. Bola api itu terbang dengan kecepatan tinggi, berkumpul ke satu titik yang sama. Lixe memicingkan mata, sama sekali tidak melihat pusat yang dimaksud.


"Dia sedang mengumpulkan jiwa mereka dalam sebuah pil yang ada di tangannya," kata Qiana yang mengintip dari balik lengan Lixe. Pikirannya kacau, hingga tidak menyadari Era memanggilnya.


"Kau yang pertama." Wisteriam menunjuk ke bawah. Semua pandangan mengikuti arah jari telunjuknya.


Denyut jantung Era berhenti. Wajahnya pucat pasih. Era menghentikan langkah seraya mendongak, menatap Wisteriam.


Wisteriam menyeringai. Dia tidak pandai tersenyum ramah. "Kalau kau ingin senyuman dan gombalan, bisa datang ke adikku."


Era menoleh pada Lixe. Lixe tersentak ke belakang. Tidak tahu apa yang terjadi hingga Era menatapnya begitu ganas.


"Tusuk adik durhaka itu." Suara Era tiba-tiba berubah menjadi suara pria tua yang berat dan nge-bas. Bola mata Era terangkat. Lalu memejamkan mata sejenak dan kembali menampakkan matanya yang sempurna putih. Era menghilang, bayangan hitam menelan tubuhnya.


***/


"Lixe! Hei! Kau dengar!" First berseru panik di dalam tubuh Lixe. Dia menjambak rambutnya. Lixe tak kunjung memedulikannya beberapa saat.


"Apa, huh?" sahut jiwa Lixe.


"Ayo pergi!"


"Kakek takut? Takut menghadapi sebuah takdir yang tidak bisa dihindari?"


First menelan ludah. Dia tidak peduli dengan takdir. First mengepalkan tangan. Bagaimanapun, dia harus membawa Lixe dan Qiana pergi dari tempat ini.


"Ini demi keselamatanmu!"


"Maka diam lah! Demi mendapatkan kembali kasih sayang yang telah dia berikan."


First membuang muka. Tidak ada yang dia harapkan dari Wisteriam. Mungkin hanya pembalasan dendam. Bukankah itu sudah jelas.


***


Qiana mendorong Lixe ke depan. Anak itu berbalik, tepat saat Era mengayunkan belati. Era menggeram. Gagal mengenai Lixe, Era melirik Qiana. Bibirnya bergeming.


"Kalau begitu kau yang pertama." Era menyeringai.


"Aaahh!!" Qiana menutup mata. Beberapa detik, tak terjadi apapun. Qiana membuka mata. Di depannya, Gusion mencekik Era hingga terangkat setengah meter dari aspal. Qiana menyikut perut Gusion.


Gusion melepaskan leher Era. Era langsung melompat mundur. Bayangan hitam yang menyelimutinya perlahan memudar.


"Jangan sakiti dia!" Ucap Gueta tegas pada makhluk di atasnya. Gueta mendongak. Tatapannya bertemu dengan Wisteriam. Tidak ada ketakutan yang didapati Wisteriam dari gadis itu.


"Aku mengerti situasinya sekarang." Wisteriam menyeringai. Meluncur dan memukul wajah Gueta hingga Gueta melesat cepat menghantam aspal.


"Hah, hah." Gueta mengatur napasnya. Dia merasa seluruh tulangnya remuk. Tulang belakangnya patah, Gueta tidak bisa berdiri walau sudah berusaha sekuat tenaga.


"Lepaskan laki-laki itu." Wisteriam menatap intens.


"Dia juga cucumu...." Gueta menggeleng. Dia pikir yang dimaksud Wisteriam adalah Gusion. Nyatanya tebakannya salah.


"Maksudku, anak yang berkalung rantai perak. Dia terhubung denganmu."


Gueta membulatkan mata. Dia lupa dengan Lixe yang termasuk dalam orang-orang suku Lyde yang dibenci Wisteriam. Dia memejamkan mata, seekor lebah muncul di dekatnya. Lebah itu terbang, mencari keberadaan Lixe.


"Kakek ingin membunuh cucu sendiri?" Gueta bergumam pelan. "Uhuk." Dia terbatuk. Darah keluar dari mulutnya.


Lebah itu menemukan Lixe. Matanya yang terhubung dengan Gueta mengamati keadaan Lixe yang terduduk dan muntah darah. Lixe bingung, entah apa yang terjadi padanya tiba-tiba.


Kalung di lehernya menyala. Era terkekeh. Dia berlari menghampiri Lixe seperti orang gila.


"Bunuh anggota keluarga Lyde!" bisikan dari Wisteriam masuk ke telinga Gusion. Mempengaruhi pikirannya. Gusion mengangguk.


Pedang di tangan Gusion diselimuti bayangan. Pandangannya fokus pada Era. Namun gerakannya terhenti. Pengaruh jahat yang diberikan Wisteriam menghilang.


"Maaf. Aku mohon, sadarkan ibuku!" Qiana berlutut dan memegangi kaki Gusion. Bayangan yang menyelimuti pedangnya pun hilang.


Era sudah di hadapannya. Tapi ucapan Qiana justru membuatnya tidak bisa bergerak. Hatinya tidak tegah menyerang Era. Era mengincar Qiana. Belati yang terangkat itu hendak ditancapkan ke bahu Qiana.


Tring.


Zecda memegang pedangnya di depan tubuh. Bersiap dengan serangan berikutnya. Tapi Era mendapat bisikan lain. Era mengernyitkan dahi. Dia menyeringai. Kemudian dengan sengaja menjatuhkan diri ke depan. Era sengaja membuat pedang Zecda menusuk jantungnya.


Crash.


"Ibu!!"


Zecda langsung menarik pedangnya yang sudah berlumuran darah. Era tersenyum. Qiana menangkap tubuhnya. Mendudukkannya perlahan. Era mengelus rambut putrinya untuk sesaat. Tubuhnya lemas.


"Sudah Ibu bilang.... Jangan mengangis! Ibu.. memang datang untuk bunuh diri, Nak."


Qiana menggeleng keras. Dia menangis sekencang-kencangnya. Memeluk tubuh ibunya yang mulai dingin. Qiana terus menggoyang tubuh Era, berharap ibunya hidup kembali. Meskipun Qiana bisa melihat jantung Era sudah tidak bergetar.


"Aku benci mata ini," gumam Qiana seraya memejamkan matanya.


"Kalau kau tidak mampu membunuhnya, ya. Nekat sekali." Qiana tidak merespon. '"Jadi biar aku yang melakukannya."


Semua yang berkumpul di sana menoleh pada sumber suara. Wisteriam sudah berdiri lima meter dari mereka. Lixe berusaha berdiri. Tidak bisa. Dia merasa kekuatannya terserap kalung yang melingkari lehernya.


Wisteriam mengulurkan tangan pada Gusion. Gusion hanya menatapnya kosong. Tidak mengerti. Lalu kembali menatap mata Wisteriam. Dalam dua detik kemudian, Gusion memalingkan wajah.


Wisteriam menarik kembali tangannya, lalu mengibaskannya santai. Wisteriam kembali fokus pada Qiana. Anak itu berdiri, sepertinya sudah mengikhlaskan ibunya. Wisteriam terkekeh.


Tanpa ada yang menyadari, Qiana diam-diam menyembunyikan senapan yang diambilnya dari Sling bag Era dibalik kaus hitamnya.


Qiana berjalan sambil menutup mata. Lalu berlutut dan mencium kaki Wisteriam. Gusion meliriknya tidak suka. Dia menyadari sesuatu. Qiana membuka matanya.


Wisteriam menendang Qiana hingga terpental. Melompat mendekat, kembali melayangkan tendangan, hingga gadis itu mendapatkan luka di sebagian besar tubuhnya.


"Haahahahha!!" Wisteriam tertawa puas. Semua orang membeku. Sama-sama tidak mengerti.


Dor.


Qiana menekan pelatuk. Peluru dari senapan yang dia arahkan ke dada kiri Wisteriam tepat sasaran. Apapun yang dilihat Wisteriam hanyalah ilusi yang dibuat Qiana. Gadis itu sesungguhnya masih dalam keadaan berlutut di hadapan Wisteriam.


"Itu untuk ibuku." Qiana berdiri.


"Dan ini untukmu!" Wisteriam tertawa. Dia mencekik leher Qiana dan mengangkatnya. Qiana hendak menangis, tapi dengan sekuat tenaga ditahan. Wisteriam mendekatkan wajahnya. Qiana memejamkan mata.


"Apa kau buta?!" tanya Wisteriam menggeram kesal. Dia menjambak rambut Qiana dengan tangannya yang lain. Qiana menjerit tertahan.


Wisteriam menoleh, Lixe sudah berdiri dengan kuda-kuda lemah. Lixe mengacungkan pedangnya ke depan. Melihat keadaan itu membuat Wisteriam tertawa.


"Bagaimana mungkin seorang idola berdiri seperti daun yang tertiup angin? First lawan kakak tirimu ini!!"


Wisteriam melempar tubuh Qiana. Seekor burung merpati muncul dan menjepit kera kemejanya dengan paruh kecilnya. Burung itu membuka portal. Dia membawa Qiana pergi dari kekacauan di sini.


Lixe melangkah mundur. Tubuhnya bergetar.


"Aku tidak takut...!" serunya meyakinkan diri. Kalung dilehernya perlahan kembali tak terlihat. Lixe menatap cahaya di lehernya yang meredup dengan heran. "Apa itu?"


"Aku berikan sisa tenagaku padamu. Ini bantuan terakhir yang harus kau berikan, Lix!" Seseorang berbisik di dalam pikiran Lixe. Suara itu sepertinya tidak asing. Lixe melirik sekitarnya, berusaha mencari sumber suara. Tidak ada. Gusion menepuk pundaknya.


"Gueta sudah memberi kepercayaannya padamu. Aku tidak mengira si cengeng itu akan tumbuh menjadi perempuan yang berani."


Lixe menatap Gusion penuh tanda tanya. Namun Lixe menangkap sebuah bayangan anak perempuan di bola mata Gusion. Seorang anak yang juga perna ia temui. Yang dulu pernah memberikan kalung yang selalu ia kenakan.


"Gueta Aenmal," gumam Lixe. Kini Lixe mengingat namanya.


Saat nama itu keluar dari mulut Lixe, lebah yang mengawasinya dari kejauhan menghilang. Mata Gueta terpejam, bersamaan dengan jantungnya yang melemah.


"Jadi ini yang kau rencanakan?" Arian mengusap wajah Gueta. Tidak bergerak, Gueta sungguh kehilangan kesadarannya. Arian yang berjongkok demi mengamati wajah gadis itu mendengus pelan.


"Malang sekali." Arian berdiri dan meninggalkan Gueta.


"Aku akan membalaskan dendam pada First! Sebagai salah satu Suku Wist harusnya kau mendukungku! Tampaknya, gadis itu juga ingin melawanku. Dia yang memanggilku, lalu sekarang ingin menghancurkan ku melalui anak ini?" Wisteriam menatap Gusion sebal. Dia juga menyadari Gueta yang memberikan tenaganya pada Lixe.


"Kakek First, meminta maaf pada Anda." Lixe menundukkan kepala. Di alam bawah sadarnya, jiwa Lixe memaksa First mengambil alih tubuhnya. Namun First menolaknya, dia tidak ingin berhadapan dengan Wisteriam.


"Matilah!" Sebuah belati muncul di tangan Wisteriam. Dia hendak menusuk perut Lixe.