AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Mata Merah



"Raja bayangan abadi. Panggilan naga terbang."


Gusion menciptakan sebuah naga sepanjang lima belas meter. Naga itu terbang ke arah yang berbeda dengannya. Menuju ke salah satu portal lainnya. Hampir dekat dengan portal yang menjadi sasarannya. Ia dihadang puluh makhluk yang terus muncul dari sana.


Ia mengangkat tangannya. Dengan cepat kumpulan monster itu lenyap ditelan bayangan mereka sendiri. Lalu dengan kekuatan bayangannya, ia menutup portal di hadapannya.


Tidak berhenti. Dia menoleh ke barat. Tidak jauh dari sana, para zombie memasuki gedung apartemen para warga. Pintu gedung itu yang semula terbuat dari layar hologram yang tak dapat ditembus, akibat kematian teknologi yang terjadi. Gedung itu tidak lagi memiliki pintu.


Gusion melompat turun dari tunggangannya, berlari menuju gedung itu. Hewan itu lalu terbang menuju satu portal yang lain. Mereka berpisah. Tapi itu bukan masalah, karena keduanya sama-sama hebat.


"Apa ini sungguhan?" tanya Arek masih tidak percaya dengan segala hal yang terjadi. Apapun itu. Baik soal karyanya yang lenyap, ayah palsu, kerajaannya yang diserang. Terserah. Malam ini dia benar-benar terpukul. Ditambah tubuhnya yang mendadak lemas. Lixe memegangi lengannya. Berusaha menenangkan kawan barunya itu.


"Bukankah Zombie tidak bisa melihat dalam gelap?" tanya Bal dengan mata bercahaya. Mata itu bisa melihat hingga jarak belasan kilo meter. Berusaha mencari sebab monster di bawah sana bisa melihat dalam gelap.


Tak lama. Bal kembali bicara, "Aku menemukannya, mata mereka merah." Arek langsung menoleh ke arahnya.


"Monster-monster ini milik Suku Abta dari Kerajaan Neland?" ucap Bal yakin.


Adek menggeleng. "Tidak mungkin," ucapnya dengan segala rasa keterpurukan.


Arek tidak banyak bicara. Bagaimana pun, Abta adalah suku yang menjadi saingannya dalam keilmuan. Mereka memiliki banyak ilmuwan hebat.


"Bal, kumohon. Engkau bisa menjaga Pangeran Arek?" tanya Lixe sambil menoleh dengan wajah penuh pengharapan. Bal mengangguk, dia mengerti apa yang sebaiknya ia lakukan. Bal menggantikan posisi Lixe. Tanpa aba-aba Lixe mendekati pagar balkon, mengangkat satu kakinya. Lalu melompat turun.


"Lixe! Mau kemana kau?!" Zenith berteriak. Dia berlari mendekati pagar balkon. Langsung menengok ke bawah sambil menahan napas. Dia baru menghembuskan napas lega saat melihat Lixe menunggangi seekor elang. Terbang menuju medan perang.


Tidak mau kalah, Zenith naik dan berdiri di atas pagar balkon. Cukup membuat Arek khawatir, tapi orang itu tidak punya tenaga untuk berkata-kata. Bal tahu apa yang dipikirkan Zenith, dia tidak bisa melarangnya.


"Tangan dan kaki buatan Anda ini akan digunakan untuk melindungi rakyat Anda. Aku janji. Terimakasih, Pangeran Arek." Zenith menjatuhkan dirinya dari lantai sepuluh. Jarak dua puluh lima meter dari tanah. Baiklah. Dengan kaki dan tangan robot dia tentu baik-baik saja. Belum pernah dia terkilir sejak dia mendapatkan tangan dan kaki itu.


"Ternyata dia sungguh berasal dari Suku Wist. Apa yang dia lakukan di sini?" batin Lixe melihat aksi Gusion yang sangat membuatnya kagum. Dia meyakini, itu setara dengan kemampuan Gean.


Lixe menghampiri sebuah portal paling dekat dengannya. Para Zombie berteriak menanti kehadirannya.


"Jangan meremehkanku!" Elang itu melesat di atas kerumunan zombie. Kuku tajamnya Langsung mencengkeram portal hingga hancur. Lixe melompat turun. Dia mengayunkan pedangnya.


"Cahaya Bulan. Dua belas sabitan Bulan."


Para Zombie itu menakutkan. Tapi juga tidak sulit mengalahkan mereka. Ini mungkin mudah, tapi akan melelahkan. Setelah membereskan wilayah itu kurang lebih lima menit bersama elangnya, ia mendengar jeritan seseorang. Pandangannya langsung tertuju pada portal yang terletak dua puluh meter darinya. Kacau sekali. Orang orang berlarian, berjatuhan setelah melakukan perlawanan sesaat. Ditambah lagi para monster itu tak kunjung berhenti bertambah.


"Awas!" Lixe berseru sembari berlari. Seorang anak kecil menatap ngeri salah satu monster yang hendak menggigitnya. Anak itu terjatuh di tanah. Dia memejamkan mata saat Zombie itu menggigit lehernya dan menyerap segala sumber kehidupannya.


Lixe terpaku di tempat. Dia gagal menyelamatkannya. "Siapa yang tega melakukan ini," batinnya perih. Di hadapannya, orang-orang lainnya mengalami hal sama. Bahkan di seluruh wilayah kerajaan. Sekejap dipenuhi darah.


"Apa masih ada harapan?" tanyanya dalam hati.


Di sisi lain, Zenith bertarung melawan kumpulan Zombie. Dia tidak khawatir tangan dan kakinya akan terluka. Beberapa kali tangannya digigit Zombie hingga mantelnya tak lagi menutupi lengannya. Sakit? Bahkan tidak berdarah. Jangan tanya. Tangan dan kakinya terbuat dari besi. Tentu saja. Semua itu tidak mempan.


"Akh!" Zenith berseru. Mencoba menggerakkan seluruh kekuatannya. Dia mengangkat tangan. Zombie-zombie itu terdiam.


"Bisikan mata kematian. Matilah."


Darah bercucuran di depannya. monster-monster itu saling menggigit. Zenith, mengagunkan pedangnya. Membela portal hingga pecah. "Ini tidak ada habisnya," gumam seraya memandang ke sekeliling. Masih banyak portal yang tersisa. Sepanjang perjalanan dia sudah cukup lelah dengan menghancurkan empat portal. Napasnya mulai tidak teratur.


Zenith berlari dengan kecepatan yang tak sebanding dengan sebelumnya, menghampiri portal berikutnya. Meski kakinya tidak lelah atau sakit. Setidaknya jantungnya masih asli buatan tuhan. "Malam ini sungguh benar merepotkan. Dimana Lixe?"


"Aaah!" Zombie melompat ke arahnya. Tiba-tiba menggigit bahunya. Zenith tersungkur. Sekumpulan Zombie berdatangan.


"Sial."


Para Zombie itu melawan. Menggigit tangan dan kaki robot miliknya. Setidaknya, Zenith tidak merasa sakit. Tapi dia tidak jadi tidak bisa bergerak.


"Berapa orang yang mengirim mereka?" tanya Gusion pada dirinya sendiri. Dia yang berdiri di atap gedung, menatap pemandangan di bawah. Tiga naga buatannya menghancurkan tiga portal. Pegasusnya juga cukup banyak menghancurkan portal. Dia mengembuskan napas.


Portal lain bermunculan. Salah satunya muncul di dekatnya. Gusion melompat turun. Para Zombie ikut turun. Menghujani Gusion.


Gusion memulai pertarungan. Dia bersiap menebas semua lawannya.


"Goar!"


"Goar!"


Dua ekor naga menghilang. Ini gawat.


"Apa dia baik-baik saja?" batinnya saat melihat elang milik Lixe berteriak tidak karuan.


"Orang lemah itu, semoga tidak menjadi beban." Gusion melompat maju. Melawan zombie-zombie menjijikkan di depannya.


Satu portal muncul lagi.


Gusion menggigit bibir. Monster-monster bertambah. Mereka siap menghancurkan dirinya.


Seorang paru baya berteriak di dekatnya. Pandangannya teralihkan. Kakek itu langsung berlari memasuki sebuah gedung dia malah menoleh pada Gusion.


Sebelum sempat menyadari apapun. Lima Zombie melompat, me gincu kaki tangan dan pinggangnya.


Kakek itu bukan manusia, dia adalah zombie yang menyamar menjadi laki-laki paru baya. Dia tertawa. Para zombie pun ikut tertawa.


"Apa kau bisa mengeluarkan lebih banyak naga, bocah?" tanya Ague yang di atas gedung tak jauh dari Gusion. Orang itu tampak kelelahan. Ia meninju ke depan. Menghancurkan portal di depannya setelah menghabisi banyak monster. Dia tidak sadar apa yang sedang terjadi pada Gusion.


Sedang di tangga darurat istana, sebelum kekacauan meledak.


"Aaah!" Dira hampir terpeleset di tangga. Untungnya, seseorang menahan tubuhnya. Dira berhenti bernapas beberapa saat. Dia kaget, tubuhnya tiba-tiba kehilangan energi. "Apa yang terjadi?" batinnya.


"Apa Anda baik-baik saja?" tanya yang lain khawatir. Dira berusaha menguatkan kedua kakinya. Dia mengangguk. Sebisa mungkin menutupi kesaktiannya dengan senyumnya yang paling indah. Dira memaksa kakinya berjalan menuruni tangga. Semakin ke bawah, rasanya semakin banyak jeritan yang terdengar.


"Nona, sepertinya kita lebih baik di sini. Maaf, tapi perasaan saya tidak enak," seseorang akhirnya bicara, mewakili perasaan semua orang di sana. Bahkan Dira berpikir demikian.


Dira menatap satu persatu teman-temannya dalam minimnya cahaya. Baiklah, semua sepakat. Mereka akan diam di sana. Menunggu seseorang datang menjemputnya.


"Aku harap, ini pilihan terbaik," batin Dira seraya menyandarkan punggungnya ke dinding. Perlahan duduk. Saat ini seluruh badannya hampir mati rasa. Apa yang terjadi.


Di balkon istana...


"Monster-monster itu masih bermunculan. Tapi Anda tenang saja segalanya sudah hampir selesai" ucap Bal melaporkan keadaanya yang dia lihat dengan mata saktinya itu.


"Terimakasih," ucap Arek dalam hati. Setidaknya itu bisa membuatnya lebih tenang.


"Sama-sama," jawab Bal pelan. Dia bisa mendengar suara hati Arek. Bahkan saat Arek bertanya dalam hatinya, Bal selalu menjawab dan menjelaskan apa yang dia ingin ketahui. Bal sudah melaporkan kondisi para tamu dan adiknya yang aman di tangga. Bahkan tentang rakyatnya yang bersembunyi di dalam gedung-gedung pencakar langit.


Tapi maaf saja, semua itu tidak benar. Di bawah sana, para kesatria itu berjuang mati-matian. Banyak portal yang dihancurkan. Lebih banyak yang terbentuk ulang.


"Ini tidak akan ada habisnya," batin Bal.


"Rupanya kau bisa mendengar segala yang ku katakan dalam hati ya? Apa kamu anak yang lima tahun lalu meninggal saat perang terjadi?" tanya Arek dalam hati. Tenaganya habis, ia tidak sanggup bahkan untuk menggerakkan bibirnya. Bal berdehem pelan. Tanda dia membenarkan.


"Kamu sungguh berbakat, Nak," batin Arek lagi.


"Aku hanya orang yang cukup beruntung. Bahkan setelah matipun." Bal tertawa pelan. "Aku berterimakasih pada Anda," lanjutnya.


"Ah. Aku ingat saat Tuan Ague membawamu ke sini. Hari itu aku angkat tangan. Kupikir kamu sudah tidak bisa diselamatkan. Hanya mata dan otakmu yang masih dalam kondisi baik." Bal tersenyum, masih setia mendengarkan cerita Arek dalam hatinya. "Tapi hari itu Dira menangis. Memintaku menyembuhkan mu. Dia bilang, "Andai Ibu masih hidup, pasti kita punya adik seusianya." Setidaknya, aku jadi punya alasan untuk menyelamatkanmu."


"Meski itu absurd sekalipun. Aku tidak masalah. Terimakasih banyak," ucap Bal pelan.


"Aku yang minta maaf. Aku terlalu curiga pada kalian, Suku Dey." Arek memejamkan mata. Dia berusaha menenangkan dirinya yang berada dalam perasaan bercampur aduk. Mungkin saat ia sehat. Dia akan mengatakannya dengan benar.


"Tidak perlu minta maaf, Tuan," ucap Bal hangat. "Karena kami memang sulit untuk Anda percayai," batin Bal. Maafkan aku. Aku sengaja mengunci mulutmu. Mungkin Anda tidak sadar. Kita tadi sedang bertelepati. Dan yang Anda lihat bukan yang sebenarnya. Aku sungguh sedang memberikan ilusi di mata anda.


Arek bernapas lega. Di depannya, walau masih banyak portal tersisa. Setidaknya tidak banyak rakyatnya yang gugur.


Sedang di mata Bal, Lautan darah mengalir di seluruh wilayah kerajaan. Dalam sekejap, semua kecanggihan dan kemegahan kerajaan itu lenyap. Digantikan kerajaan yang malang dan tenggelam dalam warna merah.


"Semuanya karena gadis bermata merah di dalam ruangan pesta," batin Bal. Dia memejamkan mata. Seketika dirinya dan Arek menjadi tidak terlihat.


"Apa yang terjadi sekarang?" gumam seorang gadis dengan kemeja putih dan celana hitam ketatnya. Aizla sudah berdiri di samping keduanya. Namun sama sekali tidak menyadari keberadaan keduanya.


Matanya terbuka lebar. Memandang ke bawah. Bal menebak, orang itu tidak bisa melihat. Itu sedikit membuatnya lega. Namun dia tetap membuat dirinya dan Arek tidak terlihat untuk jaga-jaga. Karena aura gadis itu sungguh tidak menyenangkan.


"Ini? Orang itu masih hidup?" batin Lixe seraya menoleh ke arah Istana. Tanpa ia sadari enam zombie melompat ke arahnya. Dia langsung menoleh ke arah monster-monster itu. Lixe menelan ludah, belum sempat memasang pertahanan.


"Groaar!"


Seekor naga menerjang habis keenamnya. Kini naga itu dikepung dari segala arah. Lixe hendak menyelamatkannya. Tapi naga terakhir Gusion yang tersisa akhirnya menghilang.


"Bahkan yang tidak bernyawa pun tidak bisa ku selamatkan?"


Lixe terdiam sejenak. Dia mendongak. Elangnya turun. Para Zombie menaiki elangnya. Elang itu terbang menjauh. Menjerit hebat dan menghilang.


Lixe menatap bulan purnama di langit. Cahaya bulan purnama menyinari dirinya. Tubuhnya bercahaya. Zombie yang ada di dekatnya mundur. Tidak berani mendekat.


"Cahaya bulan purnama. Dua belas sabitan bulan."


Dua belas sabitan cahaya mencul di samping Lixe. Sabit-sabit cahaya itu melesat terbang menyapu Zombie di sekitarnya hingga lima meter.


Lixe menatap bulan purnama itu. Dia membuka sebuah portal di langit.


"Cahaya bulan purnama. Hujan sabitan cahaya."


Ratusan sabitan cahaya keluar bergilir dari portal besar di langit. Meluncur terbang menebas para zombie dan portal di bawahnya.


Satu zombie berteriak marah. Dia berlari cepat ke arah Lixe. Ingin menggigitnya. Lixe yang terlalu fokus dengan portalnya, tidak sempat menghindar. Melawanpun sepertinya terlambat.


Sebuah portal bayangan muncul di dekatnya. Lixe menahan napas, dia pikir itu musuh. Tidak. Gusion keluar dari sana. Menangkap leher zombie yang datang pada Lixe itu.


"Kau merasakan keberadaan orang itu?"


Lixe tidak terlalu paham siapa yang di sebut orang itu. Dia mengabaikan ucapan Gusion. Kembali fokus pada portalnya.


"Itu yang ku harapkan," batin Bal tersenyum lebar saat melihat portal di langit. Dia melirik Aizla. Gadis itu sepertinya akan berbuat yang tidak-tidak lagi.


"Kak Lixe. Datanglah kemari! Biang masalahnya ada di sini!" Bal melakukan telepati. Lixe menoleh ke arah balkon istana.


"Kau takut ke sana?" tanya Gusion mengejek.


"Aku lebih hebat darimu!"


Satu portal cahaya muncul di depan Lixe. Dia memasukinya, berpindah ke balkon tempat Bal berada.