AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Paman yang berbeda



Sore ini, Zack mengajak Bal ke Kafe


tempat Qiana bekerja. Bal sungguh tidak tertarik. Setelah mendengar alasan Qiana tadi pagi, dia yakin Qiana akan mengusirnya kalau bertemu lagi. Tapi Zack memaksanya ikut. Entah apa yang dipikirkan pamannya itu.


"Kau ingin aku melamarnya untukmu?"


"Ayolah, Paman! Aku tidak tertarik dengan gadis itu." Bal menggeleng keras. Dia tahu, Zack sedang


menyembunyikan sesuatu. Sejak keluar dari gerbang, Zack mulai mengoceh tidak jelas.


Pria itu berusaha menyembunyikan sesuatu.


“Paman tahu, aku bisa membaca pikiran,” kata Bal seraya duduk di kursi bundar. Zack duduk di hadapan Bal.


“Aku tahu. Dan apapun yang kau baca, aku bisa membacanya.”


Bal memalingkan wajah saat Qiana menghampiri mejanya. Qiana menatap dingin, berusaha tidak melihat kea rah Bal. Dia bersikap ramah pada Zack. Tapi Zack tidak  berniat untuk membalasnya.


“Dimana ayahmu?”


“Ada yang bisa saya bantu?”


Zack tahu Qiana memahami maksud dan tujuannya datang. Qiana berusaha mengalihkan pembicaraan. Gadis itu menawarkan makanan ringan dan minuman. Zack tidak bergeming. Baiklah, Qiana menyerah. Dia menggeleng pasrah.


“Panggil dia kemari, atau beritahu dimana dia?Lean Lyde”


Qiana meremas bolpoin dan tablet di tangannya. Qiana berbalik dan meninggalkan kedua tamunya. Dia takut, hingga melupakan Zack dan Bal dapat membaca pikirannya. Dengan rasa panic, Qiana melakukan telepati.


“Ayah! Seseorang yang tidak ku kenal mencari Ayah!”


“Apa kamu tidak bisa memastikan siapa mereka?”


Benar juga, Qiana bisa menjadi anak berbakti sekarang. Qiana berbalik. Tapi dua orang itu menghilang dari hadapannya. Dia menyebar pandangan. Tidak ada. Dia kehilangan jejak keduanya.


Beberapa saat sebelumnya, Zack menyeringai. Sesuai dugaannya. Saat Qiana melakukan telepati, Zack berhasil melacak keberadaan Lean. Dengan bantuan Bal yang menggunakan sihir ilusi mata,


Zack dan Bal pergi diam-diam. Zack memimpin jalan, dia fokus melacak keberadaan Lean. Hari ini dia akan memperbaiki kesalahannya. Saat ini, Bal akhirnya tahu tujuan Zack membawanya ke sana.


Setelah keluar dari tempat itu dan menaiki motornya di parkiran, Bal duduk di belakang. Motor itu melaju cepat, tidak kalah bar-bar dengan gaya Zenith saat mengemudi.


Motor itu keluar dari ibu kota. Dua jam kemudian keluar dari perbatasan. Zack menggunakan rute yang berbelit. Dia tidak ingin Zecda menyadari pergerakannya. Meski Bal sudah menggunakan ilusi


yang membuat keduanya tidak terlihat, tapi drone canggih rancangan Arek sungguh berbahaya.


“Ada yang mengejar,” Bal melakukan telepati. Zack  mengangguk. Seseorang yang tidak dikenal mengikuti mereka. Mata orang itu sungguh hebat. Dia mampu melihat mereka.


“Kau bisa mengetahui identitasnya?”


Bal menggeleng. Tubuh orang itu diselimuti cahaya. Seperti seorang malaikat cahaya. Auranya juga sangat kuat dan baik. Sejenak Bal dan Zack bisa berpikir positif tentang orang itu.


Motor Zack berhenti di tengah hutan. Sebuah mobil hitam diparkir di sana. Zack tidak bisa merasakan keberadaan Lean. Tapi dengan penemuan itu, setidaknya dia yakin Lean di sana. Bal turun lebih dulu. Namun saat Bal hendak memeriksa mobil itu dari tempatnya, sebuah sabitan cahaya meledakkan mobil itu.


Duar.


Bal dan Zack bersamaan menoleh. Orang yang sejak tadi mengikuti mereka ternyata sungguh berniat jahat. Cahaya yang menyelimuti tubuhnya menghilang, membuat tubuhnya terlihat jelas. Bola mata dan rambut putih. Serta pedang di tangannya yang bercahaya. Pakaiannya terlalu


suci untuk disebut penjahat. Setelan serba putihnya, sungguh membuatnya terlihat bak malaikat.


Dor.


Sebuah peluru ditembakkan ke arah pria suci itu. Pria itu mengayunkan pedangnya. Berhasil membelah peluru itu.


Sekali lagi. Pria itu menghindar.


“Cahaya bulan purnama. Dua belas rotasi bulan.”


Cincin-cincin cahaya terbentuk di sampingnya. Melesat ke arah datangnya peluru. Serangan itu berhasil menghancurkan pepohonan. Lean melompat keluar dari dedaunan yang menyembunyikan keberadaannya. Pria itu tersenyum. Cincin cahaya terakhir yang masih ada di sampingnya melesat ke arah Lean.


Dor.


Lean menembak. Menghancurkan cincin


itu. Dia mendarat dengan sempurna. Mengeluarkan pistol lain dari jaketnya. Di tangannya, dua pistol siap menembak sasaran. Tanpa ragu dia menghujani pria itu dengan peluru beruntunnya.


“Cahaya bulan sabit, tameng setengah lingkaran.”


Peluru-peluru itu meledak setengah meter di depan wajah pria itu. Terhalang sebuah tameng cahaya. Lean mendengus, walau dia tahu, mengalahkan pria itu adalah hal yang mustahil. Setidaknya dia harus memukul mundur dan kembali kabur.


Pria itu menghilang di dalam kepulan asap. Sebuah portal cahaya muncul di belakang Lean. Pria itu tertawa, mengunci kedua lengan Lean.


“Aku akan menghabisi mu  hari ini!” Pria itu tertawa.


Sebuah peluru di tembakkan ke arah pria itu. Tangan Bal yang berubah menjadi meriam kecil kembali mengeluarkan peluru. Dua tembakan akurat melesat ke wajah pria itu. Lean menunduk. Pria itu melepaskan lengannya. Portal kecil muncul di depan wajahnya. Dua peluru Bal menghilang.


Lean menendang wajah lawannya.


meluncur ke arah Lean. Zack menarik lengannya. Lean bergeser, sabitan itu mengenai pepohonan di belakang sana.


“Kakak, ada orang yang ikut campur,” kata sang lawan pada temannya lewat earphone yang ia gunakan. Lean menatapnya lamat-lamat.


“Seorang petarung Van takut hingga meminta


bantuan temannya?” ejek Lean.


“Kau berani menghinaku?”


“Entah apa urusanmu denganku? Kenapa


kalian tidak bisa merelakan sesuatu yang kecil dan membuatnya menjadi masalah besar.”


“Hal kecil kau bilang? Katakan berapa


total yang kau curi dari Bank Nasional Aenmal? Kau tidak tahu apa pura-pura lupa?”


“Aku memang pencuri. Aku cukup sadar diri.” Lean menatap Zack.Tapi kali ini Zack bertekad untuk membelanya. Tidak peduli Lean bersalah atau tidak, Zack hanya ingin melindungi temannya sebagaimana mestinya.


Sebuah portal cahaya muncul. Satu orang lagi datang. Dengan penampilan tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, mereka menyebut diri mereka pelindung Kerajaan Aenmal. Orang yang baru datang itu melihat Zack dan Bal heran.


“Saya rasa, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Apa urusan Anda berdua?” tanyanya ramah.


Zack dengan cepat membaca identitas kedua lawannya. Begitu juga Bal.


Yang sebelumnya, Lucky Van. Lalu yang baru datang bernama Lest Van. Menurut Bal, harusnya dia juga membawa Lixe. Ini akan lebih menarik. Zack menyuruh Bal mundur. Dia merasakan kekuatan besar dari dua orang di depannya. Tapi Bal tidak ingin diremehkan. Bal lebih dulu menyerang, sekarang menembakkan bola listrik yang tercipta dengan teknologi meriamnya.


Lest mengayunkan tangan. Sebuah bola cahaya melesat. Menabrak bola listrik buatan Bal. Bal terpental ke belakang. Ledakan di depannya mendorong tubuhnya mundur.


“Aku tebak kekuatanmu tidak untuk bertarung.” Lest menatap Zack. “Jadi silakan mundur. Atau aku ingin aku menghancurkan dirimu juga.”


Lean memegang pundak Zack. “Terimakasih sudah datang hari ini. Tapi dia benar. Semua ini tidak ada hubungannya denganmu. Pergilah, Qiana baru saja kehilangan kakaknya. Jangan katakan padanya


kalau aku juga pergi…,”


“Diam!’


Zack merentangkan tangan kirinya. Meski berbeda dengan yang lain, Zack bisa bertarung. Sebuah pedang muncul di tangannya.


Lest dan Lucky bertukar pandang. Lest mengangkat bahu. Dua lawan dua, setidaknya itu adil.


Kedua lawan mereka menghilang. Muncul di samping keduanya. Zack mengayunkan pedangnya. Dia bisa membaca pergerakan Lest yang menjadi lawannya. Lean juga cukup hafal dengan trik itu.


Lean menembakkan pelurunya, menghancurkan sabitan cahaya Lucky yang terbang ke arahnya. Lalu peluru kedua untuk menyerang. Lucky menghindar.


"Cahaya bulan purnama. Dua belas sabitan bulan."


"Lompat ke atas!" Bal melakukan telepati pada Lean. Lean mengikuti arahan Bal.


"Sekarang tembak kakinya."


Dor.


Lucky melompat mundur.


"Cahaya bulan biru. Lautan es pembeku." Lingkaran cahaya muncul di bawah Zack dan Lean, juga Bal yang berdiri jauh dari area pertarungan. Tubuh mereka membeku, dari ujung kaki lalu naik perlahan. Bal dan Zack menggeram.


"Sudah cukup. Aku tidak punya urusan dengan kalian berdua. Jadi selamat tinggal. Kalau kita bertemu lagi, semoga dalam keadaan lebih baik," Lest mengucapkan pidato perpisahannya. Lingkaran cahaya yang lain muncul di atas kepala Bal dan Zack. Itu adalah portal yang menyedot tubuh mereka. Keduanya menghilang. Meninggalkan Lean bersama kedua musuh yang terlihat tidak akan memaafkannya.


"Awas kalian!" seru Zack sebelum portal itu tertutup. Dua lawannya tidak peduli.


"Senang bertemu dengan kalian. Apa kalian mengenal Lia Lyde?" Lean bertanya pasrah.


Lest menyengir. "Dia adikmu?"


Lean merasa ragu dengan orang itu. Dia mengangguk.


"Dia sudah tiada. Dihukum atas nama keadilan yang gila. Apa kau tahu tentang Lixe?"


Lean terbelalak. Tanpa sadar es yang membekukan tubuhnya sudah sampai di dada. Perlahan menuju ke leher. Lest tertawa kecil.


Lean mengerti situasi ini. Adiknya menikahi seorang dari Suku Van. Melahirkan Lixe. Lalu dihukum mati. "Ah. Tentu saja. Hukum yang gila."


"Kalian juga akan membunuhnya?" Suara Lean menjadi berat. Lehernya sudah membeku. Dagunya, mulutnya juga sudah kaku.


"Serakan saja semuanya pada kami," sahut Lucky.


Tubuh Lean sempurna menjadi patung es. Lucky melirik Lest. Dia menyikut lengan Lest. Lest menoleh.


"Ayo bawa dia, Kak," ajak Lucky. Lest mengangguk. Portal cahaya muncul. Lucky menggendong Lean di pundaknya. Berat badan Lean menurun drastis, tidak sulit bagi orang kurus seperti Lucky menggendongnya. Terlebih lagi, saat rekannya sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Dia terlalu naif." batin Lucky.