AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Pengganti



"Apa kabar, Paman Ague?" tanya Lixe pada Bal yang duduk di sampingnya. Sejak memasuki rumah Jian, Lixe mengganggu Bal. Dia terus menyenggol anak itu.


Bal berdecak.


"Dia ditahan di ruang pengasingan yang sempit. Kalau Kakak berminat, aku bisa menghubungi Tuan Muda Arek untuk memasukkan Kakak ke dalamnya," jawab Bal ketus.


Lixe diam. Tidak sampai satu detik sudah bersuara.


"Apa dia tidak akan pulang?"


"Dia dijadikan pengganti raja sampai Putri Dira naik tahta!" Bal mengatur napas. "Itulah alasan mengapa kita di sini!"


Brak.


Zenith menggebrak meja. Lixe manggut-manggut mulutnya terkunci rapat.


"Kami membawa tawaran untuk Gusion dari Kerajaan Dielus." Zenith sudah bisa. berbelit-belit dengan Jian. Bahkan di sampingnya sana sudah duduk seorang kakek. Tapi yang dicari justru tidak ada.


Jian menyemburkan air yang belum sempat ia telan.


"Dan kamu berharap kami akan menyerahkan anak itu pada kalian?" Kakek itu balas menatap tajam.


"Aku tidak meminta. Ini perintah!"


Tatapan Zenith beradu dengan Sang Kakek.


"Pulanglah! Kami menolak," balas Jian.


Lixe tahu Zenith tidak akan pulang begitu saja. Tapi siapa sangka. Zenith justru berdiri. Menarik lengan Lixe. Lalu menyeretnya.


"Ayo kembali! Kita tidak perlu izin mereka untuk melakukannya."


Pesan dari ayahnya memang membuatnya kaget. Mungkin Zenith juga tidak setuju. Tapi tidak mungkinkan dia menyerah begitu saja.


"Aku tidak butuh izin dari kalian!" Zenith melirik keduanya tajam.


"Tunggu. Bukankah kau berasal dari Kerajaan Aenmal?" Jian menjentikkan jari.


Lixe menghentikan langkahnya. Dia menoleh dan mengangguk.


"Auh."


Zenith memukul kepala Lixe. Menyeretnya keluar.


"Lalu bagaimana kau bisa bekerja untuk Dielus?" lanjut Sang Kakek setengah berseru.


"Aku diusir oleh raja," jawab Lixe balas berseru.


Sekarang dia sudah duduk di kursi penumpang. Zenith bersiap menancapkan gas.


Lixe panik. Zenith bahkan belum sempat memakai sabuk pengaman. Tapi dia memilih diam. Tidak ada baiknya menggurui Zenith yang sedang marah.


Brum.


"Raja? Tuan Geor Wist?" tebak seseorang yang baru saja muncul dari sebuah portal bayangan. Semua pandangan kini berpusat padanya.


Ciiit.


Mobil yang sudah berputar. Sudah melaju dua meter akhirnya berhenti. Zenith melompat keluar. Dia menghampiri Gusion.


Semua menganga. Tidak percaya saat Zenith berlutut demi menawarkan kerjasama. Zenith menyampaikan perintah dari rajanya. Gusion memiringkan kepala. Dia melirik Lixe.


"Kau mengaku kalau kau lebih lemah dariku?"


Lixe mengepalkan tangan. Dia sudah akan maju dan memukul orang itu.


Tapi Zenith langsung berlari dan menahan gerakan Lixe. Dia bahkan membanting Lixe. Zenith tampak kesal.


"Aku setuju." Gusion mengangguk.


Jian dan Sang Kakek berseru marah. Gusion mengangkat bahu. Keduanya hanya bisa pasrah. Mereka serempak melambaikan tangan.


"Urusan kita belum selesai!" Lixe menunjuk tepat di depan wajah Gusion.


Gusion hanya melewatinya. Dia sudah mengikuti Zenith yang berjalan menuju mobilnya.


Gusion duduk di kursi penumpang di samping supir. Dia tidak berharap duduk bersebelahan dengan Lixe . Dengan santai mengenakan sabuk pengaman. Laly menyandarkan punggung dan menghela napas.


"Kau sedang ditunggu, Kawan!" Jian menyadarkan Lixe dari lamunannya.


Lixe menoleh. Lalu dengan sebelah alis terangkat. Dia menghela napas sebal. Mengacak rambutnya frustasi.


"Apa mau kalian? Dan keuntungan untukku?" tanya Gusion tanpa dosa.


Zenith yang baru duduk di sampingnya menelan ludah. Tampak berpikir sejenak.


"Apapun yang kau inginkan."


Gusion mengangguk.


"Apapun yang kau inginkan. Kecuali beberapa hal yang memang mustahil kau dapatkan," lanjutnya penuh keyakinan.


Gusion mengangguk.


Zenith menelan salivanya. Tapi dia tahu betul Zecda. Dia tidak akan keberatan untuk berperang. Untuk sekarang, Zenith akhirnya bisa bernapas bebas.


Berbeda dengan Lixe yang tampak berpikir keras. Kenapa Zack memilih orang itu. Menyebalkan, sombong, sungguh membuatnya kesal.


"Namaku Genta Van, tapi tidak terlahir dengan segala kekuatan Suku Van. Malang? Sungguh? Aku tidak pernah menyalahkan takdir, Nak. Karena aku bisa menjadi seorang mantan panglima perang Kerajaan Aenmal. Bagus, bukan?" Kakek itu mengangkat kepalanya bangga.


Langkah Lixe terhenti. Dia mengamati wajah pria tua itu hingga dahinya berkerut.


"Aku bisa meraih kejayaan dengan kerja kerasku. Bukan karena warisan yang dibanggakan orang-orang. Jadi jangan minder pada orang-orang yang terlahir dengan kekuatan besar seperti anak itu." lanjutnya. Genta menunjuk Gusion.


Lixe tersenyum. Dia mengangguk.


"Lixe Van. Salam kenal, Kek." Lixe menunduk.


Sekejap semangatnya kembali membara. Dia senang melihat seorang dari sukunya tersenyum padanya.


"Astaga. Sudah kuduga. Regent yang mengaku seorang raja. Siapa namanya? Iya, Geor Wist. Dia benar-benar menyimpan dendam leluhurnya." Genta tertawa payah. Di usianya ini, tidak mungkin baginya mengalahkan Geor. Satu-satunya yang dapat ia lakukan hanya menanti.


"Percayalah. Raja yang asli akan merebut tahtanya." Genta berseru.


Jian tersenyum. Dia melambaikan tangan. Di mobil itu Gusion juga tersenyum. Balas melambaikan tangan.


Lixe terdiam. Mencoba mengolah kata-kata orang-orang yang baru ia kenal.


Di sana, teriakan Zenith yang memanggilnya menyadarkan Lixe dari lamunan. Lixe menoleh dengan wajah tanpa dosa.


"Ayo pergi!" Zenith sudah tidak sabar menunjukkan copy-an alat-alat canggih yang dihadiahkan kepadanya pada Zecda.


Bal sudah duduk saat Lixe melompat memasuki mobil. Dia duduk di belakang Gusion. Lixe menendang sandaran kursi Gusion.


Bal menyikutnya. Mengingatkannya akan harga yang harus dia bayar jika menggores mobil itu sedikit saja.


"Aku bertaruh kalian berdua tidak bisa mengemudi." Zenith membatin. Dia melirik dua laki-laki yang bersitegang.


"Dasar orang-orang primitif!" Zenith berseru dalam hati. Dia mulai menjalankan mobilnya.


Mobil itu melaju cepat ke Kerajaan Dielus. Zenith melirik Lixe dari kaca mobilnya.


"Buka portalnya!"


"Buat apa? Bukankah kau juara bertahan balap mobil tingkat internasional? Bukankah kau sangat handal membawa mobil ini dalam kecepatan ting....," kalimat Lixe terpotong.


Zenith sudah menancapkan gas. Kecepatan maksimal. Mobil itu melaju tanpa batas.


Lixe dan Bal berpegangan. Keduanya berseru tertahan. Gusion menatap awas benda-benda yang ada di depannya.


Zenith beberapa kali mengambil belokan tajam. Entah sudah berapa surat tilang yang dia terima.


"Sepertinya kondisinya sudah sangat baik. Syukurlah," batin Lixe dengan ujung bibir terangkat. Tanpa dia sadari, Zenith mendengarnya. ujung bibirnya pun ikut terangkat.


***


Setibanya di Istana Dielus, keempat orang itu disambut Zecda. Untuk pertama kalinya Lixe bertemu dengannya.


Seram. Itulah kesan pertamanya. Lixe menahan tubuhnya, sebisa mungkin tidak bergetar. Tapi yang lain dengan santai berjalan mendekati Zecda yang duduk di samping jendela yang terbuka. Pria itu menikmati pemandangan istananya.


"Tuan. Aku mendapatkan copy-an semua teknologi Kerajaan Roila," ucap Zenith bahagia. Dia tidak cukup berani berseru kepada Zecda. Zenith berlutut di depan rajanya, menyerahkan flashdisk berisi salinan data.


"Kerja bagus. Tapi seharusnya kau tidak perlu terlalu rajin. seperti ini." Zecda menerima flashdisk dari tangan Zenith.


Zenith menggeleng. Dia harus melakukannya.


Zecda menoleh. Dingin sekali tatapan itu. Dia mengamati kedua orang asing depannya. Dari bawah ke atas. Dia tahu betul ciri manusia itu. "Kalian sepertinya punya latar belakang dan hubungan yang unik."


"Dan itu terlalu unik untuk Anda ketahui," jawab Gusion sama dinginnya. Lixe menahan napas. Dia menoleh pada Gusion tidak percaya. Astaga dia menjawabnya.


"Dan ku tebak kamu yang diusulkan Ague."


Gusion mengangkat bahu.


Zecda terdiam.


"Setelah saya mengalahkan musuh-musuh Anda, saya meminta bantuan Anda untuk menyerang Kerajaan Aenmal."


Lixe kembali menatap Gusion tidak percaya. Di hatinya, dia tentu bersedia melakukannya bersama Gusion.


"Kau sepercaya diri itu?" Zecda mengangkat ujung alisnya.


"Tunggulah kemenangan itu. Dan seandainya saya kalah, saya janji. Kerajaan ini akan tetap merdeka."


"Aku terima. Dan selamat datang. Kau harus membuat mereka hebat!"


Gusion mengangguk. Dia menunduk. Diam-diam melirik Lixe. "Aku juga akan membuatmu lebih kuat."