AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Musnahkan



***


"Ibu pergi ya!" Miya melambaikan tangan. Mobil yang dikendarainya melaju cepat meninggalkan Zecda dan Mita yang sama-sama melambaikan tangan.


"Jangan lupakan salamku pada Kakek dan Nenek!!!" Mita berseru. Miya mengacungkan jempolnya keluar.


Setelah kepergian Miya ke Kerajaan Berlin. Dengan bodohnya Zecda mengajak putrinya memenuhi undangan pesta pengangkatan Roy'ah sebagai putra mahkota.


"Mereka tidak suka dengan kita, Ayah. Apa Ayah masih mempercayai mereka?" Sepanjang perjalanan hati Mita merasa tidak tenang. Firasatnya buruk. Meski dia sangat ingin bertemu Riyal.


"Bukankah kau ingin mengunjungi laki-laki rahasiamu itu?" celetuk Zecda.


Mita membuang muka. Menatap keluar jendela. Dia tidak bisa menyembunyikan rona di wajahnya. Dia mulai berpikir sejak kapan ayahnya tahu. Mita tidak lagi bertanya. Dia memilih diam.


Mobil itu berhenti tepat di parkiran. Mita keluar dengan membanting pintu. Langsung meninggalkan ayahnya. Gadis itu berlari melawan rasa takutnya pada setiap orang yang ia temui. Zecda hanya menggeleng pasrah.


"Apa yang Ibu rencanakan?" gumam Zecda sembari mendongak ke atas. Dia menangkap sosok Valeya yang melihatnya dari jendela kamarnya. Tatapan Valeya yang dingin membuat Zecda mengingat masa lalu yang kejam itu.


"Itu bukan salahku. Juga bukan salah Ibu," ucapnya. Zecda mengabaikan Valeya yang tak berhenti menatapnya penuh kebencian. Zecda hendak melangkah.


"Kau akan mati, bersama putrimu, bersama istrimu. Juga semua Kerajaan Berlin yang akan diratakan dengan tanah!"


"Triiiing."


Sebuah layar hologram muncul di dekatnya. Layar itu menampilkan Kerajaan Berlin yang dihancurkan para monster memori yang diciptakan rubik memori. Arian berdiri di gedung paling tinggi. Memandang ke bawah dengan tampang tanpa dosa.


Zecda meremas jemari. Kembali menoleh ke arah Valeya berdiri. Namun wanita itu sudah tidak ada. Zecda berlari. "Mita?!"


Begitu memasuki pintu, Zecda melihat Roy'ah yang hendak penusuk Valeya yang tengah asik berbicara dengan para tamunya. Pisau di tangan Roy'ah terlihat tajam. Zecda melirik sekitar. "Bagaimana bisa yang lain tidak merespon apapun?"


Zecda berjalan cepat. Menyingkirkan kerumunan. Dan tanpa dia sadari, dia mengangkat pedangnya. Memenggal kepala Roy'ah yang kemudian berubah menjadi Mita.


"Aaaaah!" para tamu berseru.


Valeya berbalik dan tersenyum. "Tidak akan ada yang percaya denganmu setelah ini, Nak."


Semua yang ada di sana mulai membicarakannya. Sejak hari itu, tidak ada lagi yang mau berhubungan bisnis dan sosial dengan Kerajaan Dielus. Bahkan berita tentang kehancuran Kerajaan Berlin dikabarkan adalah karena Zecda yang sudah gila.


Perang dimulai. Segalanya putus di saat yang bersamaan.


***


"Kau ingin aku memaafkan mu? Setalah segala yang kau lakukan?"


Arian menyengir. Dia memang tidak berharap Zecda akan mengampuninya.


"Untuk hari ini. Ayo!" Zecda melirik Arian. Dia mengizinkan Arian mengendalikan tubuhnya. Dengan bantuan Arian yang bisa membaca setiap gerakan lawan, Zecda berhasil memberikan luka parah di leher Wisteriam dalam tiga puluh detik.


Lixe maju. Lima belas sabitan cahaya melayang ke arah lawan. Wisteriam membuat tameng dari bayangannya. Berhasil menahan serangan Lixe. Wisteriam balas menyerang, sabitan bayangan balas menyerang Lixe.


Lixe melakukan teleportasi. Namun saat kakinya menginjak aspal, dia kembali tersedot bayangan yang ada di bawahnya. Lixe mengeluarkan sepasang sayapnya. Tubuhnya terangkat ke atas. Lixe berhasil mengeluarkan diri dari perangkap itu. Zecda dan Arian pun melayang. Tidak ada yang selamat dari bayangan penyedot di bawah sana.


***


Sedang di sisi lain....


"Apa yang kau lakukan?!" Gusion membentak Gueta seraya membantunya duduk. Bayangan penghisap itu tidak menghisap Gusion dan Gueta. Selagi Ague membereskan para makhluk yang tidak kunjung berhenti berdatangan dari portal, Gusion membantu Gueta duduk.


Gadis itu terlalu lemas. Dia membuka mata sipit. Bibirnya bergetar. Namun suaranya tidak keluar. Butuh waktu lima menit hingga Gueta mengeluarkan suaranya.


"Aku ingin Wisteriam memberikan kekuatannya pada Kakak."


"Aku tidak butuh!" Gusion menggeleng keras.


"Tapi dia Wisteriam butuh! Dirinya akan kembali menjadi benda kejam yang selalu dikutuk. Benda yang akan digunakan untuk menghancurkan rumah kita!" Gueta bernapas tidak teratur. Wajahnya merah.


"Bukankah dia akan senang?"


"Aku yang tidak senang!" Gueta menarik kera baju Gusion. "Ayah sudah menundukkan kepalanya. Mengabdikan dirinya demi kerajaan. Ayah melawan Suku Wist yang menentang istana. Demi perdamaian, dia...," ucapan Gueta berhenti. Suaranya habis. Gueta susah payah menarik napas.


Gusion hanya menatapnya kosong. Tidak peduli.


"Ibu tewas di tangan Paman Geor saat menemui Tante Lia Lyde! Lalu Tante Lia menjadi buronan atas pembunuhan terhadap garis murni! Kakak tahu itu?!" Gueta membiarkan Gusion mencerna tiap kalimat yang dikatakannya.


"First mengkhianati Wisteriam. Geor Wist memfitnah Lia Lyde. Bukankah itu sudah impas?"


Gusion meletakkan kembali tubuh adiknya di atas aspal. Dia sudah cukup lama membiarkan Ague berjuang sendiri. Sudah saatnya dia yang melakukan perlawanan. Sama seperti yang pernah dia lakukan saat menghadapi Neo.


***


Wisteriam menoleh. Pandangannya luput dari tiga orang yang terus melawannya tanpa henti. Wisteriam mendapatkan pukulan angin dari Zecda. Juga tiga belas bulan sabit bak bumerang berhasil mengenainya. Membuat beberapa goresan di sekujur tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan!" Wisteriam berseru.


Bayangan yang menyelimuti aspal terserap ke satu tempat. Orang-orang yang menghilang ditelan bayangan kembali muncul. Gusion menarik semua bayangan itu ke bawah kakinya. Portal bayangan yang terbentuk lenyap bersama para monster.


"Bodoh! Kau tidak akan bisa menahan kekuatan itu!" Wisteriam berseru panik. Lupakan tentang tiga lawannya. Wisteriam terbang menuju Gusion.


Gusion memandang Wisteriam yang terbang ke arahnya. Bayangan hitam menyelimuti separuh tubuhnya. Gusion merasa tubuhnya akan hancur dilumat bayangan tersebut.


Wisteriam hendak mendekatinya. Namun Gusion menyerang dengan api hitam. Wisteriam mendarat, menghindari serangan tersebut. Sekali lagi, serangan itu datang padanya. Kali ini Wisteriam hendak menangkisnya. Namun Arian membuatnya tidak dapat bergerak. Wisteriam mendapat serangan langsung yang membuatnya terluka para.


"Kakak." Lixe menepuk punggung Wisteriam.


Wisteriam melirik ke belakang. "Aku benci kalian!"


"Dan aku membenci mu." Gusion memeluk Wisteriam. Menyandarkan kepalanya di pundak Wisteriam yang mematung.


First memasuki alam bawah sadar Wisteriam. Dia menunduk saat berhadapan dengan Wisteriam.


"Kau takut? Sekarang kau baru merasa takut? Di mana sikap kurang ajar yang selalu kau tampakkan itu?"


First memalingkan wajah. "Maaf, Kak."


"Lixe sialan. Bisa-bisanya dia mengirim ku ke sini," First menggerutu dalam hati. Dia gugup setengah mati. Walau pun dirinya sekarang hanya sebuah jiwa, berada di dekat Wisteriam tetap membuatnya ingin lenyap saja.


Wisteriam menepuk kepalanya. First mengangkat kepalanya ragu-ragu. Wisteriam tersenyum. Pikiran First kembali ke masa lalu. Saat Wisteriam selalu tersenyum seperti itu di hadapannya, apapun kesalahannya. Tidak pernah marah.


"Mungkin memang karena aku yang terlalu memanjakan mu."


Plak.


Wisteriam memukul First hingga melenting.


***


"Aku akan menyerahkan jiwaku padamu." Wisteriam berubah menjadi bayangan. Dia menelan tubuh Gusion.


Bayangan hitam yang menutupi langit tidak menghilang. Justru menciptakan sebuah tornado bayangan yang menghancurkan apapun dilewatinya.


Ague membentuk sebuah tornado yang sama besar. Dengan berani dia menghampiri tornado bayangan. Keduanya saling bertabrakan. Menyebabkan goncangan yang dahsyat. Petir menyambar keluar dari tornado bayangan. Zecda tidak akan membiarkan adiknya terluka.


Zecda ikut menciptakan tornado yang lebih besar, mengirimnya menuju pusat kekacauan.


Ctar.


"Apa yang terjadi?" Roy'ah akhirnya sadar. Dia menatap sekelilingnya linglung. "Ugh!" Roy'ah berusaha berdiri.


Petir besar menyambar di depan Ague. Matanya membulat. Sebuah cahaya muncul di depannya. Zecda keluar dari portal, membiarkan dirinya menerima petir tersebut.


"Kakak!!!" Ague berseru histeris.


Dua lawan satu. Tornado bayangan berhasil lenyap, berubah menjadi sebuah bola jiwa yang terbang membawa kebencian yang mendalam.


Bola itu terbang ke arah Xiota. Luka ditubuhnya menghilang. Namun dia kehilangan akalnya.


Xiota mendadak melemparkan bola api hitam yang begitu besar ke arah Arian. Tidak sempat menghindar, bola api itu membakar dan melahap tubuh Arian.


"Beraninya kau!"


Xiota menoleh ke sumber suara. Roy'ah lebih dulu menancapkan pedangnya ke leher Xiota. Tatapan penuh kebencian itu seketika berubah saat melihat wajah lemas Xiota. Roy'ah membuang pedangnya. Menangkap tubuh Xiota yang terkulai lemas tak berdaya. Bola yang bersemayam dalam tubuhnya menghilang.


Pertempuran hari itu, selesai dengan kematian orang-orang yang mereka sayangi.


Lixe berlutut. Tidak dapat berbuat apapun di saat seperti ini. Menyebalkan. Lixe hanya dapat menatap nanar aspal di bawahnya. Tapi bukan hanya dia yang berkabung. Juga yang lain.


"Musnakan diriku!" Gusion yang sebagian tubuhnya masih diselumuti bayangan menarik lengan Lixe. Membuat


temannya itu berdiri. Gusion merentangkan tangan sambil mendongak.


"Bunuh aku!"