
Di lapangan latihan kediaman Dey. Sejak pagi buta, Zenith sudah membangunkan Lixe. Menyeretnya berdiri di hadapannya dengan pedang di tangan.
"Aku masih ngantuk sekali," batin Lixe sempoyongan. Kuda-kuda tidak bertenaga, bahkan untuk membuka mata dia tidak bisa.
Tidak setelah Zenith memukul wajahnya. Lixe dengan mudah ambruk. Zenith berhenti, membiarkannya bangkit. Tepat sesaat setelah Lixe berdiri, Zenith mengayunkan kakinya ke pelipis kiri Lixe. Kali ini sempat menahannya, hingga tubuhnya terdorong satu meter ke samping.
"Bangun, Pemalas!" Zenith
Untuk ke sekian kalinya Zenith memukul Lixe. Lixe lagi-lagi menghindar. Zenith yang melihat gerakan Lixe hanya begitu-begitu saja menjadi kesal. Dia mempercepat serangannya. Lixe bingung. Serangan Zenith luput dari pandangannya. Pedangnya terlepas. Zenith mencekik leher Lixe di akhir serangannya.
Lixe mengangkat tangan. "Satu kali lagi!"
Zenith melempar Lixe. Dia kembali memasang kuda-kuda. "Menarik, Lixe akan lebih serius, kan?" pintanya dalam hati.
Lixe menambah kecepatannya. Pertama kalinya, Lixe berhasil menepis tinju Zenith. Lalu balas meninju. Zenith menghindar. Lalu menganyunkan kaki. Lixe membungkuk. Zenith menyeringai. Dia hendak menyikut punggung Lixe. Tapi Lixe lebih dulu melenting. Zenith mengenai udara kosong. Tubuhnya oleng.
Lixe menyeringai. Ini kesempatan baginya. Dengan bertemu pada tendangannya. Lixe berharap Zenith tumbang. Serangan it telak mengenai Zenith. Kuda-kudanya tidak kokoh. Lixe menyerang dengan tinju. Sayangnya, lengannya lebih dulu di genggam. Zenith mengangkat Lixe dan membantingnya.
"Aku menyerah!!" Lixe mengangkat tangan.
Zenith menatapnya tidak percaya. Dia mendengus sebal. Tapi Lixe memang sudah tidak bertenaga. Saat Zenith sudah membuka mulut hendak memakinya. Lixe menutup telinganya dengan kedua tangan.
*Payah!" Bukan Zenith. Suara Gusion yang memakinya membuat Lixe langsung menoleh. Di sana Xiota sudah tertawa habis-habisan. Entah sejak kapan keduanya berdiri menonton di sana. Lixe beranjak duduk. Ia hendak berdiri, tapi punggungnya tidak bisa diajak kompromi.
Zenith menugulkan tangan. Walau sebal dan malu, Lixe tetap menerima uluran tangan Zenith. Dia bangun. Gusion menghampirinya.
"Apa-apaan kau?"
Lixe memalingkan wajahnya yang merah. Tapi Gusion menatapnya begitu tajam, seolah pelipisnya bisa patah kapan saja.
"Sudahlah, kau kalah taruhan." Xiota pun mendekat. Dia tertawa seperti orang gila dadakan.
"Salahmu, kenapa membuatku jadi jagoan. Aku tidak akan menang melawan Zenith tahu." Lixe menggeleng tidak mau disalahkan saat Gusion meminta pertanggungjawaban.
Ketiga laki-laki itu membuat sebuah forum debat yang tidak bisa dan tidak menarik Zenith mengikutinya. Zenith menebar pandangan. Berusaha mengabaikan entah apa yang mereka bahas di sana. Mata Zenith akhirnya jatuh pada sebuah pohon besar kesayangannya.
Zenith berjalan mendekat. Dia tersenyum, itu adalah pohon yang ia tanam bersama Anita sewaktu ia kecil. Zenith selalu menyiraminya, menjaganya penuh kasih sayang. Dia bangga, pohon itu dapat tumbuh lebih besar darinya. Tapi sesuatu di balik pohon itu membuat Zenith penasaran. Matanya bercahaya.
Dahinya mengerut. Dia menajamkan pandangannya yang bisa menembus pohon. Seseorang duduk meringkuk di sana. "Aizla?"
Zenith berjalan perlahan. Bersiap dengan segala bahaya yang mungkin terjadi. Semua ekspektasi dan prasangka buruknya hancur. Dia melihat Aizla. Tapi alih-alih monster. Aizla bahkan lebih mirip anak-anak ketimbang Bal.
Zenith menatapnya aneh. Aizla duduk memeluk kakinya. Gadis itu mencium lututnya. "Kalau dilihat dari dekat, imut juga ya?" batin Zenith terpesona.
Setelah memberanikan diri, Zenith akhirnya duduk di samping Aizla. Aizla tidak merespon. Zenith menium telinganya.
"Aaahh!" Aizla berteriak, namun langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Dia menoleh pada Zenith, sekejap kemudian menoleh ke arah lain. Gadis itu tidak tenang. Zenith mendengus kesal.
"Kau tidak bisa melihatku!" Zenith berseru. Tapi suaranya tertahan saat sesuatu menyumpal mulutnya. Zenith menoleh. Sosok yang mirip Aizla. Tapi wanita itu memiliki wajah yang sedikit berbeda.
Biete yakin Zenith bisa melihatnya. "Siapa?"
"Biete," jawab Biete singkat.
"Kau lupa dia tidak bisa melihat!" Biete berseru di pelan di telinga Zenith.
Zenith langsung menutup telinganya yang berdenging. Zenith menepuk dahi. Astaga, dia melupakan hal itu.
"Siapa? Nenek, ini dimana?" Aizla bergumam. Dia kebingungan. Wajahnya cemas. Membuat Zenith berempati padanya.
Dulu, saat dia kehilangan kaki dan tangan rasanya juga sama seperti apa yang dilakukan Aizla. Orang dalam kebingungan dan kesedihan. Zenith mengelus lembut Aizla lembut.
"Aku Zenith Dey."
Aizla diam. Dia menelan ludah. Sekujur tubuhnya bergetar. Apa yang akan terjadi setelah ini? Tapi Zenith memeluknya. Aizla sedikit tenang. Lalu tenggelam dalam kedamaian yang ia dapatkan.
"Kamu ingin jadi ibuku?" tanya Aizla polos.
"Anda gila?" Zenith menggeleng.
"Kenapa?"
"Makhluk aneh ngelantur yang satu ini benar-benar." Mata kiri Zenith cedutan. Dia ingin *******-***** Aizla lalu mencincangnya. "Aukh." Zenith mengacak rambutnya.
Zenith menarik lengan Aizla. Membuatnya berdiri. Lalu berjalan ke suatu tempat dan Aizla hanya bisa pasrah. Kalau Zenith tidak bisa membaca pikirannya. Bal bisa dan akan melakukannya.
***
Di laboratorium, Aira tertwa di atas kursinya yang beroda. Kursi itu berputar seperti arahan tuannya. Aira sungguh bahagia. Dia layar komputernya, dia melihat suasana Kerajaan Dielus. Dan sekarang, menampilkan kediaman Dey.
"Sebentar lagi, istana Dey. Lalu aku akan mengirim monster-monster itu ke sana." Aira tertawa.
"Apa mereka sudah siap?" Aira bertanya setengah membentak seorang ilmuwan yang sibuk dengan tulisan-tulisan di komputernya.
Aizla tersenyum puas. Dia menyandarkan diri. Kakinya berayun. Mengukir senyuman jahat di wajahnya.
***
Bisikan Dewa kematian." Bal memegangi kedua pelipis Aizla.
"Aaaàhhhh!!!!!" Aizla berseru sekencang-kencangnya. Tidak tertahankan. Sebuah cahaya kematian yang menusuk seluruh tulangnya. Membuat segala sel dalam tubuhnya mati lalu hidup kembali. Seperti sebuah siksaan tanpa henti untuk sesaat.
Bal tidak akan melepaskan Aizla walau gadis itu memberontak hebat. Tangan robotnya bisa memanjang. Juga sangat fleksibel jika harus diputar-putar.
Beberapa saat kemudian, Aizla jatuh pingsan. Kesadarannya hilang bersama seluru rasa sakit yang ia rasakan. Zenith menangkap tubuhnya. Lalu membawanya ke atas pangkuannya.
Zenith menatap Bal penuh tanda tanya. "Apa yang kaku lakukan lada Aizla?"
Bal mengangkat bahu. "Dia datang secara damai. Tapi orang lain memanfaatkannya. Menjadikannya racun bagi kita." Bal mengangkat tubuh Aizla. Anak kecil yang tingginya sedada Aizla membopongnya.
Zenith menelan ludah. "Apa yang terjadi?!"
Bal tidak merespon. Tapi Biete menepuk punggungnya. Sepertinya jiwa ini punya urusan dengannya. Zenith berkacak pinggang. Menunggu apa yang akan keluar dari mulut Biete.
"Selamanya dia adalah alat."
Zenith mengangkat tangan. Hendak menamparnya.
"Aku Arwa yang tidak bisa kamu sentuh."
Gerakan Zenith terhenti. Zenith mendengus lalu berjalan menembus tubuh Biete.
"Selamat datang di istanaku, Nenek."
Biete berbalik. Bulu kuduknya sudah berdiri. "Yang hantu itu aku," batinnya.
Zack menatapnya dingin. Biete berlutut. Dia meletakkan kepalanya di depan kaki Zack.
"Aku memohon maaf pada kalian."
***
Biete berdiri di hadapan Raja Neland sebelum Aero. Biete menahan amarah. Di antara keduanya, Neo dengan tangan diikat berdiri kaku tanpa kesadaran. Pedang orang itu persis menyentuh kulit leher Neo yang berdarah.
Biete tak tahan lagi. Dia melangkah. Tapi tubuhnya langsung terjatuh. Di bawahnya terdapat sebuah lingkaran pengikat jiwa. Dia tidak akan bisa kemana-mana.
"Bawakan permata naga putih pembawa ketenangan abadi. Aku akan mengampuni dia." Tatapan tajam itu mampu mencekik leher Biete. Matanya meneteskan air mata.
"Akan aku lakukan."
***
"Aku sungguh bodoh."
Zack meninggalkan Biete yang masih bersujud. Biete menangis. Sampai suara mengilukan terdengar. Biete mengangkat kepalanya.
"Sring." Lixe mengayunkan pedangnya. Sudah tiga menit dia di sana berputar dengan pedang terayun ke sana-kemari. Laki-laki itu tidak bisa melihat Biete yang berdiri.
Biete menyeringai. Pedang Lixe terayun ke lehernya. Menembus tubuhnya yang transparan. Kemudian Biete menahan lengan Lixe. Lixe bingung. Dia menatap Biete, tapi di matanya hanya ada udara kosong.
"Kemampuanmu sebagai Van diragukan, Nak."
Lixe menelan ludah. Kali ini bukan Bal ataupun Zack yang berbicara melalui telepati. Suara ini rasanya tidak asing.
"Nenek?!"