
Lixe kembali ke Istana Dey. Bal menyambutnya dengan ceria, seolah tidak terjadi apapun.
"Memang tidak ada apa-apa di istana ini kan?" celetuknya. Lixe memutar malas bola matanya. Bal memang cuek dengan keadaan sekitar. Tidak peduli seberapa hancurnya kerajaan ini, Bal bisa tidur tenang.
Lixe berjalan tidak menghiraukan Bal. Tubuhnya sudah cukup remuk hari ini. Bal mengikutinya hingga sampai di depan pintu kamar. Setelah memastikan Lixe benar-benar tidur. Bal pergi. Dia duduk di samping pintu kamar Zenith.
"Siapa kau?!" Gadis yang baru saja ditolong Zenith melihat Bal dari balik pintu. Gadis itu mendekati dinding, yang di sisi lainnya Bal duduk bersandar di sana. Bal membuka matanya lebar-lebar, dia pikir gadis itu bicara secara langsung. Tidak. Gadis itu melakukan telepati.
"Bal Dey, salam kenal." Bal balas melakukan telepati. Tidak ada jawaban. Gadis itu berbalik. Kembali duduk di samping Zenith.
"Qiana Dey?" batin Bal.
Gadis itu menoleh. Tidak percaya Bal bisa tahu. Bal juga tidak percaya, gadis itu bisa mendengar pikirannya. Qiana tidak menghiraukan Bal. Dia merebahkan tubuh di samping Zenith. Tidur dalam hitungan detik.
Pagi hari yang cerah. Tidak ada yang berteriak menyuruhnya berlatih. Lixe merenggangkan badan. "Ternyata ada bagusnya juga Zenith sakit." Lixe kembali ke alam mimpinya. Tidak bisa. Lixe bangun dan menepuk jidat.
"Zenith sakit! Bisa-bisanya kau berbahagia untuk kemalangan temanmu! Bangun! Ayo turun!" batin Lixe berseru. Tapi raganya masih menikmati empuknya kasur. Tidak mau bangkit.
"Bangun!" seseorang berseru. Lixe mengabaikannya. Pura-pura tidak dengar.
Sepuluh menit kemudian...
"Bangun!" Lebih keras.
Lixe melambaikan tangan. "Tiga menit lagi."
"Aku sudah menunggu lebih dari sepuluh menit!" Gusion yang sejak tadi setia berdiri samping ranjang Lixe memukul punggungnya. Lixe bangun. Matanya langsung terbuka lebar. Dia mencari jam di dinding. Pukul tujuh tiga puluh. Lixe melompat turun dari kasur.
"Kau membuatku hampir mati terkena serangan jantung!" Lixe menoleh pada Gusion di belakangnya.
"Dan kau membuatku menjamur di sini!" balas Gusion. Dia menarik tangan Lixe menyeretnya, lalu melemparnya ke kamar mandi. Lixe menurut pasrah tanpa perlawanan. Hingga Gusion keluar dari kamar lewat pintu.
Sepuluh menit, Lixe keluar dari kamarnya dengan penampilan lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada Gusion di sana. Tidak masalah. Lixe memasuki Lift. Turun ke lantai dasar. Lalu keluar baik-baik lewat pintu.
Benar saja Gusion berdiri bersama Bal. Keduanya pergi begitu Lixe keluar dari ambang pintu. Dengan penuh tanda tanya, Lixe mengikuti Bal dan Gusionm.
"Kalian mau kemana?"
"Ikut dan lihat pertunjukan besar di stadion kota," ajak Bal penuh semangat. Firasat Lixe tidak enak. Anak itu kadang membuatnya resah.
"Apa kalian tidak membersihkan kekacau...?"
"Kerja baktinya sudah selesai satu jam yang lalu. Kau yang bangun telat." sahut Gusion ketus. Lixe terdiam seribu bahasa. Dia mengikuti langkah dua orang di depannya pasrah.
***
Suasana dalam stadion begitu ramai, bahkan di pintu masuk pun suara teriakan terdengar memekakkan telinga. Tiga piring terbang berhenti di depan ketiganya, mengambang lima meter dari tanah.
Bal menaiki piring itu. Dia melirik Gusion dan Lixe bergantian. Dia harap, dua orang ini tahu cara menaikinya. Gusion menaiki piring terbang itu, disusul Lixe. Bal tidak salah, ini memang kali pertama mereka berdua menaiki benda seperti ini.
Piring terbang itu membawa mereka ke sebuah tempat kosong. Ketiganya turun. Mereka duduk di kursi penonton, tidak paling depan, juga tidak paling belakang.
"Pertandingan apa yang akan berlangsung sekarang?" tanya Lixe dalam hati. Dia mengamati lapangan di bawah sana. Sebuah net terpasang di tengah lapangan. Lixe melirik Bal.
"Pertandingan bulu tangkis 2 vs 1," jawab Bal antusias. Lixe mengangguk. Sepertinya, akan seru. Tapi apa? dua lawan satu? Siapa? Lixe lagi-lagi menoleh pada Bal. Anak itu selalu tahu apa pertanyaan Lixe tanpa bertanya.
"Dua lawan satu. Xiota dan Aizla vs Zecda." Bal tersenyum lebar. Dia pendukung Zecda yang setia. Dengan bangga mengumumkan pertandingan jagoannya.
Lixe tercengang. Tidak percaya. "Bagaimana dua orang itu bisa terlibat dalam pertandingan seperti ini melawan Raja Dielus?" batinnya hingga membuat otaknya berpikir sangat cepat. Saking cepatnya sampai ia melihat lima kunang-kunang berkeliling di sana.
Benar saja. Saat sebuah robot membuka portal di satu sisi, Xiota dan Aizla muncul bersamaan. Dua orang berwajah polos itu berjalan santai. Keduanya mengukir senyum ramah di wajah tanpa dosa. Walau semua penonton memandang keduanya dengan penuh amarah.
Para penonton yang hadir jelas ingin melihat dua musuh mereka dikalahkan rajanya. Mereka menyimpan dendam pada Xiota sebagai perwakilan Argio, juga Aizla sebagai perwakilan Neland. Lixe menoleh pada Bal. "Bukankah hasil pertandingan ini sudah pasti? Tuan Zecda tidak mungkin kalah."
Bal menggeleng. "Tidak ada yang tahu hasil terakhirnya, Kak. Lagipula ini sangat adil, bukan?"
"Mereka akan dipermalukan?"
"Xiota sendiri yang memilih jalan ini. Lagipula sepertinya mereka berdua tidak punya malu," sahut Gusion. Dia sedikit malu, Xiota melambaikan tangan dengan senyuman polos. Tidak ada orang yang peduli, dia hanya seekor tikus yang masuk di kandang ular.
Lixe pasrah melihat kelakuan dua orang polos yang tetap tersenyum meski dicaci-maki.
Sedang di sisi lain, portal terbuka. Zecda keluar, disambut sorakan rakyatnya. Mereka meminta pembalasan dendam. Zecda menghela napas. Lalu mengangkat tangan. Sorakan berganti tepukan tangan. Bal ikut bertepuk tangan.
Astaga. Lixe menepuk jidat. Zack berdiri di samping net. Dia wasit tunggal di pertandingan ini. Bal menghentakkan kaki. Dari raut wajahnya, sepertinya dia juga ingin menjadi wasit.
Priiiit!!
Kaca tebal muncul di dari tanah di sekeliling lapangan. Kaca itu membentuk setengah bola, menutupi area pertandingan. Sebuah kok muncul di tengah lapangan, mengenai net, lalu jatuh ke daerah Zecda.
"Kenapa kita tidak bermain catur atau kartu? Aku cukup ahli di bidang itu," Aizla menggerutu. Zecda memukul kok itu dengan kekuatan anginnya. Membuat kok itu terbang tinggi, dan meliuk ke bawah dengan cepat. Aizla kesulitan. Seumur hidupnya ini pertama kalinya dia bermain bulu tangkis.
Crash.
Xiota melakukan drive dari bawah tangannya. Kok itu melambung tepat di atas net. Zecda mendekati net. Melakukan pukulan netting yang kuat. Kok itu melaju cepat ke sudut kanan, tempat Aizla berdiri.
Xiota menatap Aizla. "Ayo pukul!" batinnya dengan ekspresi memohon. Aizla melihat raket di tangannya. Berharap keajaiban terjadi.
Crash.
Aizla melakukan pukulan overhead lob. Kok itu melambung tinggi ke wilayah Zecda. Aizla tercengang tidak percaya. Biete merasuki dan mengambil alih tubuh Aizla. Aizla mengalah dengan senang hati.
Zecda dengan muda mengembalikan serangan. Pukulannya selalu kuat dan diiringi deru angin yang menambah kecepatan kok. Sepertinya memang tidak ada aturan tidak boleh pakai kekuatan.
"Huh." Aizla berkacak pinggang.
"Bocah dengan teknik kinetik ini benar-benar membuatku bosan," jiwa Biete mengomel di alam bawah sadar. Dia sebal, sudah enam kali pukulan, Xiota tidak membiarkannya bermain.
"Bukankah itu bagus. Kita tidak perlu susah payah. Lagian aku tidak tertarik dengan olahraga ini," sahut jiwa Aizla.
Di pukulan berikutnya, kok itu diselimuti angin. Xiota hendak mengendalikannya lagi, tapi gagal. Angin itu terlalu kuat. Sedetik sebelum kok itu menyentuh alas, Aizla menjatuhkan diri. Melakukan penyelamatan yang membuat kok tersebut terbang vertikal ke atas. Para penonton berteriak kecewa. Xiota menerima umpan. Dia memukul dengan sekuat tenaga.
Zecda hendak menerima serangan. Tapi kok itu meliuk ke samping bawah. Berubah arah. Penonton sudah menahan napas. Beruntung Zecda dapat mengantisipasi perubahan serangan dengan cepat. Kok dikembalikan, yang ini tanpa angin apapun.
Aizla dengan muda menerimanya. Melakukan drive santai. Zecda menyengir. Namun saat raketnya hendak menyentuh kok, bola itu langsung jatuh ke bawah. Xiota melakukan pengendalian jarak jauh. Berhasil.
"Poin pertama untuk tamu tak diundang!" seru Zack disusul keluhan penonton. Layar hasil pertandingan menampilkan 0 1. Tidak ada yang bertepuk tangan, kecuali Gusion.
Lixe meliriknya malas. "Kenapa kau tiba-tiba mendukung Xiota? Bukankah biasanya kau bertaruh dengannya?"
"Kalau dia menang, dia akan mentraktirku. Kalau Tuan Zecda menang, aku yang akan mentraktirnya." Gusion mengangkat bahu.
"Aku tidak punya uang! Semoga aku kalah!" Xiota berseru di tempatnya.
Aizla menatapnya malas. Tidak tahu bagaimana dia bisa terjebak satu tim dengan orang tidak jelas seperti ini. Aizla menjambak poninya, berusaha menutupi wajah dengan itu.
Xiota melakukan servis pendek. Zecda menerimanya dengan drive santai. Xiota membalas sedikit bar-bar. Zecda mempercepat gerakannya. Kok itu diterima dengan sempurna oleh Aizla. Melambung tinggi.
Zecda melompat, melakukan smash keras. Kok itu menyentuh ujung raket Xiota. Jatuh di wilayah lawan. Satu poin untuk Zecda.
"Satu vs satu. Nilai seimbang bagi kedua belah pihak." Layar poin menunjukkan dua angka 1. Warga Dielus berteriak bahagia.
Permainan semakin sengit. Gerakan kedua tim semakin tidak terlihat mata biasa. Satu poin lagi bagi Zecda. Beberapa detik setelahnya, Aizla mencetak poin dengan drive pendek yang menyentuh net.
Babak pertama berhasil dimenangkan Zecda dengan skor 21 vs 15. Xiota bersyukur. Tapi Gusion mengumpat di dengan berani meski semua orang tangah memuji Zecda.
Babak kedua dimulai. Belum apa-apa, Zecda sudah mengeluarkan tornado kecil mengantarkan kok tersebut ke daerah lawan. Aizla menangkisnya. Kok itu kini di selimuti asap darah. Saat menyentuh raket Zecda kok itu tergelincir jatuh. Lagi-lagi poin pertama di awal babak jatuh pada Tim Tamu tak diundang.
Aizla dan Xiota memperbaiki kerjasama. Saling mengisi. Jiwa Aizla keluar dari tubuhnya. Arwah itu membisikkan strategi pada Xiota. Arwa Aizla memberi arahan. Tidak ada yang tahu, selain beberapa Suku Dey yang bisa bermata sakti.
Zack menggelengkan. Dia membiarka. pertandingan itu menjadi satu lawan tiga. Tapi Zack akui, strategi buatan Aizla sangat bagus. Dalam empat puluh menit, Tim Tamu Tak Diundang menang dengan skor 21 vs 12.
Aizla yang berjiwa Biete tersenyum bangga. Dia memukul kepala Xiota. Bisa-bisanya rekan setimnya ini malah mengeluh.
"Kalau kita menang, aku yang akan traktir!" Biete berkata seenak jidatnya. Aizla menahan napas. Arwahnya tidak tenang.
Babak ketiga dimulai. Suasana semakin sengit. Xiota bebas dari tanggungan traktiran, kini dia semangat. Xiota memperluas jangkauan teknik kinetiknya.
"Kau ini kan ratu casino. Kau pasti bisa menghasilkan uang banyak dalam semalam," bisik Biete di tubuh Aizla pada Aizla yang asli di sampingnya. Aizla mendengus. Baiklah, Aizla setujuh.
Dua puluh menit berjalan ketat. Sembilan belas vs sembilan belas. Aizla mulai lelah. Xiota berkali-kali menyekah keringat di leher. Wilayah Zecda di penuhi angin kencang.
"Pasti sejuk sekali di sana," celetuk Xiota tertawa kecil. Aizla mengangguk.
Giliran Aizla melakukan servis. Kok itu membumbung tinggi. Lalu jatuh dengan kecepatan kilat. Zecda mengembalikan kok itu, diikuti tornado kecil yang panas. Api kecil itu membakar net, membuat lubang kecil di sana. Kok jatuh di wilaya lawan dengan dramatis.
"20 vs 19"
Xiota dan Aizla bertukar pandang. Keduanya bernapas lega. Setidaknya api itu tidak mengakiti mereka.
Zecda kembali melakukan servis, kali ini lebih normal. Kok itu melambung dua meter di atas net.
Xiota melakukan drive santai ke sisi kanan. Zecda yang berdiri di sisi kiri langsung berlari. Kok itu meliuk. Jatuh di sisi kiri.
"Dua puluh vs dua puluh."
Arwah Aizla memegang pundak Xiota. Berbisik pelan. Dia melirik Zack, menyadari bahwa sedari tadi Zack mengamatinya. Aizla mengukir senyum manis untuk Zack. Seperti dugaan, Zack memalingkan wajah.
Saat Xiota hendak melakukan servis, tubuh Aizla diselimuti asap darah tipis. Xiota melakukan servis panjang. Asap darah mengepul tipis di suruh wilayahnya.
Zecda melangkah mundur hendak memukulnya. Tapi kok itu menghilang, berubah menjadi asap darah.
"Dasar." Bal menggigit bibir. Dia menghentakkan kaki sebal.
Asap darah di wilayah Xiota dan Aizla menghilang. Kok yang asli terlihat menyentuh net. Jatuh di wilayah Zecda.
"Dia puluh vs dua puluh satu. Permainan berakhir. Kemenangan satu babak untuk Tuan Zecda, dan dua babak untuk Tim Tamu," Zack mengumumkan hasil pertandingan. Semua orang tidak tertarik mendengarnya. "Xiota dan Aizla memenangkan pertandingan."
Tidak ada yang bertepuk tangan selain Gusion dan Lixe. Semua pandangan tertuju pada keduanya, tidak ada yang mempermasalahkannya.Dua orang itu memang orang asing yang netral. Tapi seorang gadis berdiri, Qiana bertepuk tangan. Dia benar-benar menarik perhatian para warga.
"Seseorang berbuat jahat. Namun apa kejahatannya bisa membuat orang lain dianggap jahat? Bukankah sebagian dari kita melihat saat mereka sama-sama melawan para monster yang menyerang. Mereka juga membantu kita memperbaiki kota. Apa kalian ingin menutup mata atas kebaikan mereka?"
Beberapa orang menunduk. Mereka terpengaruh perkataan Qiana. Anak itu punya keistimewaannya sendiri, dia mampu membuat orang lain luluh dengan ucapannya.
Beberapa orang memberanikan diri. Mereka bertepuk tangan. Seluruh penonton memberi apresiasi untuk Aizla dan Xiota.
Zecda tersenyum. "Kalian puas?"
Xiota dan Aizla mengangguk.
"Terimakasih," ucap keduanya bersamaan. Biete keluar dari tubuh Aizla. Mengembalikan raga itu pada pemiliknya. Dia bisa merasakan Zack yang mengawasinya.
Zecda melambaikan tangan pada Zack. Zack menoleh."Biarkan dia."
Zack mengangguk. Tidak lagi menghiraukan Biete yang sedikit rileks.