
Tumpukan reruntuhan di lantai dasar kantor polisi pusat bergetar.
Crack. Brak.
Zenith memukulnya dari dalam, membuat sebuah lubang besar di atas dirinya dan dapat membuatnya keluar. Zenith melirik ke atas. Lalu menggigit bibir.
Cain sudah melompat ke bawah. Mendarat di depan Zenith yang masih menyingkirkan beberapa reruntuhan yang kembali menimpanya. Zenith melakukan tendangan demi menyingkirkan reruntuhan tersebut.
Cain memasang kuda-kuda atas. Zenith berdiri dan memasang kuda-kudanya. Zenith maju lebih dulu, dia hafal sekali, kakak sepupunya ini orang yang teliti dalam adu kekuatan.
Pukulan pertama dari Zenith. Cain mengayunkan tubuh ke samping, menebas lengan Zenith dengan dengan tangannya. Zenith menjatuhkan diri ke depan. Menjadikan tangannya sebagai tumpuan, Zenith mengangkat kakinya. Zenith menyilangkan kaki saat berhasil meraih lengan kanan Cain. Cain tertarik ke belakang. Dia hendak menopang tubuhnya dengan tangan kiri.
“Bisikan kematian….”
Cain menarik tangan kirinya yang sudah siap menopang tubuhnya. Dia mengernyitkan dari. Menghadap ke kanan, ke tempat Zenith berbaring. Cain membungkam mulut Zenith sebelum berhasil merapal mantra. Zenith
melirik Cain. Dia membuka mulut, kemudian menggigit tangannya. Cain cukup tahan, tidak melepaskan Zenith. Hingga sebuah sabitan cahaya menyerangnya tiba-tiba. Cain melepaskan mulut Zenith dan menarik Lengannya yang diapit kedua kaki Zenith. Cain berguling belakang.
Cain melirik sekeliling. Dia tahu itu siapa, tapi tidak tahu itu ada di mana. Tidak terlihat. Bukan masalah, dia punya penciuman yang tajam. Cain menarik napas.
Buk.
Zenith memukul hidungnya hingga melenting dan hidungnya menghantam batu. Zenith tidak akan membiarkannya melacak keberadaan siapapun.
"Sial." Cain melirik sekitar. Tidak terlihat apapun. Dia memukul batu di bawahnya. Darah keluar dari dua lubang hidung.
Syut.
Kali ini bumerang berbentuk bulan sabit melayang ke arahnya. Cain seketika melompat berdiri. Dia melupakan Zenith masih berdiri di belakangnya dan siap mengirim tendangan.
Bumerang yang sudah melewati dirinya berbalik, kembali terbang ke arahnya.
"Kalau kau berani tunjukkan dirimu! Jangan sok..."
"Kau yang sok-sokan!"
Cain menggeram, lalu menoleh ke belakang. Tendangan Zenith sungguh tinggal empat senti darinya. Cain memejamkan mata, masih sempat melompat mundur. Lalu Cain menyilangkan kedua tangan di depan wajah.
Tanpa sepengetahuan Cain, Lixe muncul di depan Zenith. Menahan kaki gadis itu dengan satu tangan.
Tiga detik tidak terjadi apapun. Cain membuka mata. Tersentak saat menyadari Lixe berdiri di hadapannya.
"Bulan biru. Bekukan dirimu."
Udara yang melewati Cain mendadak berubah sangat dingin. Dalam sekejap, tubuhnya mulai menggigil lalu membeku. Cain berdiri mematung dalam kondisi kedinginan. Selain bola matanya, tidak ada yang bisa bergerak. Cain berusaha bergerak. Lupakan,tidak ada gunanya.
"Zen!" panggil Cain dalam hati. Zenith terkejut namanya dipanggil. Matanya membulat.
"Terimakasih, telah membiarkan Nona Anita menjadi ibu bagiku selama beberapa tahun. Aku merindulakanmu. Jadi, kapan-kapan berkunjunglah lagi seperti dulu."
Zenith tersenyum. Dia mengangguk.
"Kau kenapa?" tanya Lixe merusak suasana. Ingin sekali Cain memukul kepalanya. Zenith menggeleng.
Tidak jauh dari ketiganya, Xiota berbaring dengan Qiana yang menjaganya. Zenith melihatnya heran.
Zenith tahu gadis itu. Juga menebak bahwa Qiana lah yang menggunakan sihir tak terlihat. Lixe pun menyadarinya. Dia pikir, yang membuat Roy'ah tidak bisa melihat apapun juga gadis itu.
"Kenapa kau selalu merusak rencanaku. Harusnya kau bisa saja menghabisi Roy'ah saat dia tidak melihatmu. Kau malah menyadarkannya. Sekarang pun, Harusnya kau bisa melenyapkan orang itu saat dalam mode tak terlihat. Gak jelas! Aneh!" Qiana bersungut-sungut menggerutu Lixe dalam hati.
Zenith yang membaca pikirannya mengangguk. Setuju kalau Lixe memang aneh dan pendek pikirannya.
Bodoh amat. Lixe tidak mengerti dengan dua orang yang saling bisa membaca pikiran. Dia melompati reruntuhan. Lalu berjongkok di dekat Xiota. Dia menaruh tangannya di atas luka di dada Xiota. Harusnya, dia juga bisa melakukan penyembuhan dengan cahaya bulannya.
Tangannya bercahaya. Angin sejuk menyelimuti tubuh Xiota. Lixe menggigit bibir. Apa yang telah dia lalukan. Lixe pikir, tubuh Xiota akan segera membeku seperti Cain. Tidak. Beberapa detik setelahnya, Xiota mengerjapkan mata.
Membuat Lixe yang panik menghela napas lega.
"Cukup, apa kau ingin membekukan jantungku?" gumam Xiota.
Lixe menarik tangannya. Dia tidak ingin membuat ini menjadi semakin parah. Xiota duduk. Melirik Cain dengan tubuh kaku. Sungguh memalukan bagi Cain dan membuat Xiota sedikit malu.
"Ayah, hari ini aku sungguh menjadi pemberontak."
Zenith memicingkan mata sambil berjalan. Meraih tangan Xiota, lalu membawanya pergi.
"Hei!" Lixe berseru tidak terima dirinya ditinggalkan. Membuat Qiana merasa terabaikan sesaat. Gadis mendengus sebal.
"Aku tahu kau tidak akan melawan pasukan kebanggaanmu itu kan. Ikut aku!" Zenith menyeringai. "Aku tidak akan membiarkanmu berkeliaran di saat seperti ini sendirian."
"Kau terlalu mencurigai aku," sahut Xiota dengan tampang polosnya. "Tapi aku memang datang hanya untuk menyelamatkan Riyal.”
Zenith melengos. Tidak ingin terpengaruh dengan ucapan ataupun ekspresi wajah itu.
Lixe membiarkan dua orang itu pergi meninggalkannya. Lixe menepuk bahu Qiana. Lalu menghilang ditelan cahaya dari tubuhnya.
***
Ague menghela napas benar. Sejak pertempuran ini meledak, dia seperti magnet yang terus di datangi gerombolan musuh Keringat membasahi seluru tubuh. Baru habis menyapu bersih belasan musuh, puluhan musuh lain datang. Ague merungut. Lihatlah, Zecda sebagai pimpinan tertinggi Kerajaan Dielus bahkan banyak yang mengincarnya.
“Sungguh sial bagi pemegang kekuasaan kedua yang tidak ditakuti ini,” Ague mengeluh sedikit berbisik.
“Roar!
“Roar!”
Dua naga bayangan menggantikannya menghabisi musuh yang mengerumuninya. Moncongnya yang mengeluarkan api hitam membakar beberapa lawan dan membuatnya kocar-kacir. Juga ekornya yang panjang dan lincah dengan cekatan menyapu lawan di sekitarnya. Gusion turun dari pegasus nya saat hewan itu melintas di atas Ague. Hewan itu lalu meninggalkannya, terbang rendah sembari menendang para musuh yang dia lewati.
“Bisakah kau membuat lebih banyak naga?” bisik Ague di telinga Gusion.
Gusion menggeleng. Walau Ague merasa ada yang tengah disembunyikan Gusion darinya, bukan masalah. Ague mendengus. Urusan pribadi seseorang bukan masalahnya. Kembali fokus dengan para musuh yang menyerang.
Keduanya saling membantu, bahu-membahu hingga berhasil menyapu habis ;awan yang ada di sekitar mereka. Namun Ague tidak merasa senang. Dia menatap melas prajuritnya yang gugur. Gusion berdehem. Ague menoleh pada Gusion yang menunjukkan wajah melas.
“Turut berduka cita,” ucapnya singkat. Ague tersenyum kecut, kembali mengamati prajuritnya yang benar-benar taka da tanda-tanda kehidupan.
“Terimakasih, Pangeran.” Ague menatap Gusion penuh arti. Membuat lawan bicaranya membatu.
“Aku bertemu Jian. Dia menitipkan mu kepadaku sambil mengungkap identitasmu sebagai Pangeran Aenmal yang menghilang lebih dari sepuluh tahun lalu…,” ucap Ague melupakan kesediannya. Namun mendapat lirikan sinis dari
Gusion.
“Aku akan menjaga rahasiamu, Bocah.”
Gusion masih melirik dengan sinis hingga beberapa saat. Baiklah. Tidak masalah. Gusion mengangkat bahu. Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Asap hitam tiba-tiba menyelimuti kakinya. Gusion membulatkan mata dan menoleh.
“Gueta, jangan!” gumamnya pelan dengan bibir bergetar.
Portal cahaya Lixe muncul di dekat keduanya. Saat Lixe keluar, tubuhnya tiba-tiba merinding. Jantungnya berdebar tidak karuan. First yang ada dalam tubuhnya merasa resah.
“Bocah, pergi! Menjauh dari sana! Cepat sembunyi!” First berteriak di dalam sana. Lixe tidak begitu
mendengarnya. Perasaan First yang tidak karuan lebih dulu membuat Lixe bingung dan rasah. Lixe merasakan sesuatu yang buruk. Dia menoleh, satu arah pandangan dengan Gusion.
"Yang aku tunggu sejak lama, akhirnya.." Gueta mengambil napas dalam-dalam
“Panggilan jiwa nenek moyang. Wisteriam, Gueta Wist memanggil leluhurnya!”
Tubuh Gueta melayang dua meter di bawah lubang hitam yang dibuat Riyal. Gueta merentangkan tangan dan memejamkan mata. Tiga belas bola api hitam tipis berputar mengelilingi tubuhnya. Dia mendongak, lubang di atasnya yang besar mengecil perlahan.
“Seseorang! Bukan, apa dia?” Qiana yang melihat seorang pria ada di dalam lubang yang mengecil itu merinding. Dia mendekati Lixe dan merangkul lengannya. Darah yang mengalir di tubuhnya pun merespon tidak baik, sama seperti yang dirasakan Lixe.
“Lyde? Apa kau di sini?” Suara itu menggema di setiap penjuru. Suara berat yang keluar dari lubang tersebut berhasil menyita semua pandangan. Tidak ada yang peduli tentang permusuhan antar kerajaan. Orang yang
keluar dari lubang hitam itu lebih menakutkan. Seorang pria dengan sayap dan tanduk berwarna hitam pekat, juga ekor panjang berujung runcing.
“Qiana! Lixe! Pergi!” Era berlari pada kedua orang yang dia sebut namanya. Wajahnya tampak tak bersahabat. Suara yang memecah keheningan itu mendapat perhatian dari sosok yang baru saja keluar dari lubang tersebut.
Dia menoleh, bola matanya bergerak cepat. Dalam sesaat berhasil menemukan Lixe.
“Aku menemukan adik tiri durhaka.” Wisteriam tersenyum jahat.