AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own
Serangan datang



Duar.


Sebuah bom dijatuhkan dari salah satu pesawat perang yang Kerajaan Dielus. Namun Roy'ah berdiri di tengah lapangan istana menahan benda itu agar tidak jatuh dan meledak di udara.


"Berani-beraninya mereka menyerbu secara tiba-tiba begini."


Roy'ah mengernyitkan dahi dan berdecih. "Hanya ada satu pesawat? Apa mereka meremehkan kami?"


Driit.


Jam tangannya berbunyi. Sebuah panggilan masuk. Roy'ah menatap nama orang yang menghubunginya dengan teliti sebelum menerimanya. Hingga mendapati nama Aira, dia baru menerima telepon tersebut.


"Saya sudah mengirimkan pasukan vampir ke Kerajaan Dielus. Mereka akan hancur..."


Roy'ah memutuskan sambungan itu. Dia berlari kelar dari gerbang istananya. Para penduduk yang menyaksikan ledakan tersebut berhamburan ke sana-kemari. Robot-robot polisi mulai mengamankan penduduk. Para kesatria pun sudah berkumpul di belakangnya.


"Berani masuk ke kandang lawan. Kalian akan dikalahkan!!"


Roy'ah menantikan musuhnya. Sekejap Sorot cahaya muncul dari bagian bawah pesawat. Puluhan kesatria muncul di depannya. Pasukannya langsung menyerang.


"Harusnya, tidak mungkin hanya segini."


Driiit!!


Lagi-lagi jam tangannya berdenyit. Dia pikir, orang yang sama. Tidak perlu mengecek siapa itu, dia langsung menerimanya. Lima detik, tidak ada jawaban. Bukan. Dia hanya tidak dengar.


"Roy'ah! Apa yang terjadi padamu?"


"Apa? Ada apa?"


"Kita sedang di serang dalam jumlah banyak!"


"Apa maksudmu dalam jumlah banyak?"


"Apa maksudku? Buka matamu, Pangeran!"


Roy'ah menatap sekelilingnya. Tidak ada apapun. Dirinya ling-lung. Segala yang dimatanya terlihat aneh. Tidak nyata.


Plak.


"Huh?" Seseorang menamparnya. Tidak ada seseorang di dekatnya. Bagaimana bisa, siapa.


"Sadarlah!" Lixe mencengkeram dagu Riy'ah. Cahaya muncul di mata Roy'ah. Kepalanya pusing. Cahaya itu perlahan meredup, pandangan Roy'ah pulih.


Sekarang, terlihat jelas Lixe yang sedang berdiri di depannya. Roy'ah melirik sekelilingnya. Pertempuran besar meledak di sepanjang jalan. Lalu mendongak. Terlihat jelas sepuluh pesawat terbang berpencar. Menembakkan bom, dibalas dengan bom yang ditembakkan dari bawah.


"Kau sadar sekarang?"


Lixe melepaskan dagunya saat Roy'ah mendapatkan pukulan di pipi kiri. Roy'ah kembali bergerak maju. Sekali lagi, Lixe terkena tinju hingga membuatnya membentur sebuah robot keamanan Kerajaan Argio.


Kepala robot itu berputar 180 derajat. Matanya mengeluarkan laser yang diarahkan pada Lixe. Lixe menyengir. Pedang cahaya muncul di tangannya. Robot itu langsung terpenggal dalam hitungan detik.


Tidak beruntungnya, Roy'ah juga mengayunkan pedang untuk menebas lehernya dari belakang. Lixe berbalik.


Tring. Kedua pedang bertemu.


"Aku menginginkan pertarungan yang adil." Lixe menekuk lutut. Merendahkan tubuh, dan membiarkan pedang itu melewatinya. Saat hendak memberikan sebuah sayatan di dada Roy'ah, tubuhnya kaku. Roy'ah berhasil mengendalikan tubuhnya.


Lixe melirik ke samping. Riyal bersiap menembakkan anak panah ke arahnya. "Ada apa? Apa yang terjadi?" batinnya, ucapan itu tak dapat keluar dari tenggorokannya.


"akh!" Xiota entah dari mana datangnya, menghalau serangan Riyal dengan berdiri di antaranya dan Lixe. Membiarkan anak panah itu melukai bahu kirinya. Tepat di luka yang sama, luka yang pernah dibuat Aizla. Xiota tersenyum tipis.


Riyal seperti mayat hidup, sama sekali tidak merespon. Dia dikendalikan Arian di suatu tempat.


Tangan Lixe mengepal. Pengendalian yang dilakukan Roy’ah gagal. Roy’ah tersentak ke belakang. Lixe menghilang dan sudah muncul di belakangnya.


Wussh.


Riyal melepas tali busurnya, menciptakan gelombang bunyi yang mendorong Lixe lima meter ke samping. Riyal


kembali menarik tali busurnya. Kali ini tembakan itu mengarah ke bawah. Roy’ah melirik Xiota yang terduduk tidak jauh darinya, lalu kembali menatap Riyal.


“Hidup ini tidak akan indah tanpa penyesalan.” Roy’ah memalingkan wajah. Mengejar Lixe yang terus terpental menjauh.


Lixe berhenti, tubuhnya melayang. Tapi itu bukan kabar baik. Roy’ah mengayunkan pedangnya. Beruntung Lixe lebih dulu menangkisnya.


“Aaaah.”


Lixe menoleh. Roy’ah langsung menendangnya.


“Xiota?” gumam Lixe pelan. Dia berdiri, sendi di punggung kanannya bergeser. Lixe menahan sakit. Menunjukkan


ekspresi masam sembari memegangi pundaknya.


Lixe menoleh ke belakang. Sebuah meriam di tembakkan ke arahnya. Lixe memejamkan mata. Portal cahaya muncul di belakangnya. Sebuah bola putih besar keluar dari sana. Mendekati bom, lalu membuatnya membeku saat saling bersentuhan.


Lixe kembali menoleh ke depan. Roy’ah tidak menyerang. Seperti menunggunya. Bukan. Riy’ah sedang melirik ke belakang. Lixe ikut melirik kea rah yang sama. Riyal sedang menggeram, sebuah kabel listrik melilit dirinya. Riyal menatap Roy’ah marah. Juga kesakitan, akibat sengatan arus listrik yang begitu besar.


Tanpa berpikir dua kali, Lixe mengayunkan tangannya yang menghantam keras leher lawannya hingga Roy’ah oleng.


“Bodoh.” Mata Roy’ah perlahan tertutup. Saat ini, yang muncul di benaknya justru Riyal kecil yang duduk di atas kursi roda. Roy’ah jatuh pingsan, bersamaan dengan kabel yang melilit tubuh Riyal pun mengendur dan sempurna jatuh di atas aspal.


Lixe bernapas lega. Sayangnya, melihat mata Riyal yang terpejam dan anak panah yang terarah pada Xiota. Gawat. Jantung Lixe berdetak kencang. Dia meremas rambut. Jaraknya dengan Xiota sangat jauh. Ditambah setelah pertarungan dengan Gean. Lixe hanya dapat berseru dan memaksa dirinya saat anak panah itu lepas dari busurnya.


Dor.


Seseorang menembak anak panah tersebut. Lixe mencoba menemukan pelakunya. Qiana tiba-tiba merangkul dirinya dari belakang. Era mendarat di antara Riyal dan Xiota. Kepalanya tertunduk, namun moncong pistolnya terangkat ke depan.


Riyal tidak peduli siapa dia. Riyal kembali menembakkan anak panah. Dor. Lagi-lagi hancur terkena tembakan. Begitu seterusnya, memberikan celah bagi Lixe untuk membawa Xiota pergi dari tempat itu.


“Aku… minta maaf.” Era menelan ludah dan terus menembak. “Karena sudah membunuhmu waktu itu.”


Serangan Riyal berhenti. Era mengangkat kepalanya.


“Siapa?”


“Elen Lyde.” Suara Era bergetar. “Yang telah membunuh Anda yang dulu.”


Lixe yang sudah memasukkan Xiota ke dalam portal menoleh. Tidak percaya. Qiana menggenggam lengannya. Dia menyeret Lixe ikut memasuki portal.


“Apa aku pernah mati?” tanya Riyal. Dia tertawa. Mengarahkan busurnya ke langit. Lalu melepaskannya. Anak panah itu lenyap, menjadi sebuah rubik memori yang langsung mendapat perhatian semua orang.


Booom. Rubik itu meledak, hancur. Lalu berubah menjadi sebuah lubang hitam yang mengeluarkan aura jahat yang kuat. Riyal benar-benar kehilangan kesadarannya. Bahkan saat sebuah peluru menembus lengan kanannya. Riyal tidak merasakan apapun, justru menggenggam busurnya semakin kuat.


“Lemah,” ucapnya seraya menatap nanar Era dan tersenyum mengejek.


“Saya akan menyerahkan diri seusai perang, bunuh diri di hadapan Anda. Sebelum itu terjadi, saya akan melawan Anda sekuat tenaga.”


Riyal memamerkan rentetan gigi depannya yang rapi. Mengangkat busurnya yang tiba-tiba diselimuti bayangan


hitam. Anak panahnya pun jadi mengeluarkan asap hitam di ekornya. Saat tali busur dilepas. Anak panah itu melesat cepat dan menancap di aspal satu centi di depan Era.


Era mengantupkan rahang. Matanya tidak  bisa menandingi kecepatan serangan musuh.


“Kau mau membanggakan kekuatan matamu yang hanya pas-pasan. Hanya lebih beruntung


dari beberapa orang yang tidak dianughrani mata seperti itu, tidak menjadikan mu orang hebat.”Suara Zwesta yang sudah ia kubur dalam-dalam di hatinya kembali terdengar.


“Maaf. Kami tidak bisa menerima seorang petarung yang hanya lebih hebat dari orang lemah.”


Era memegangi kepalanya. “Sedikit lebih hebat dari orang lemah?” Dia menyeringai. Mengangkat pistolnya. Melontarkan tantagan bagi Riyal.


Riyal menerima tantangannya. Kembali memanah dengan kecepatan lebih tinggi dari sebelumnya. Tidak berhenti. Ledakan-ledakan kecil tercipta. Anak panah dan peluru yang bertabrakan. Era mengeluarkan keringat, jarinya mulai kebas. Tapi serangannya tidak berhenti. Era dengan cekatan mengambil dari peluru dari sling bagnya, kemdian mengisi pistolnya. Bola matanya bergerak cepat ke segala sudut.


“Aku bukan orang lemah!” Era kehabisan peluru. Dia memilih berlari sambil menghindari tiap anak panah yang


semakin brutal. Paha dan lengannya tergores hingga membuat pakaiannya koyak. Namun sama sekali tidak menghentikan langkahnya. Era mengisi pistolnya dengan satu puluru istimewa. Dengan bola matanya Dey, Era mampu menghindari setiap anak panah berasap hitam tersebut.


Era menepis busur Riyal. Menaruh moncong pelurunya ke kening Riyal.


Dor.


Peluru itu tidak menghancurkan tengkorak kepalanya. Hanya menyerap dan memberi efek tidak sadarkan diri selama sehari. Riyal jatuh tak sadarkan diri.


“Ku harap Anda melihat saya, Tuan Zwesta Dey.” Mendongak dengan wajah damai. Lalu berlari merebut sebuah senapan di tangan seorang musuh. Era menembak robot besar di langit yang hendak menghancurkan pesawat tempur Dielus.


Dor. Robot tersebut hancur, meluncur dan menghabisi pasukan lawan yang berdiri di bawahnya.


***


“Wisteriam?”


"Kakak! Aku merinduhkanmu.” Panggil Gueta. Phonix yang dia tunggangi mendarat di atas sebuah atap. Gueta


berlari memeluk laki-laki yang berdiri mematung.


Gusion yang sudah sejak tadi berdiri di sana sambil mengamati dua naga bayangannya sedang menghancurkan pasukan musuh, merasa dadanya sesak. Dia menoleh.


“Aku akan membantumu mendapatkan kekuatan Wisteriam! Lalu mari mengambil apa yang seharusnya jadi milik Kakak. Semua.. yang direnggut dari kita…” Gueta meneteskan air mata ke pipinya.


Gusion menggeleng. Kembali fokus dengan apa yang ada di bawah sana.


“Aku punya sebuah kewajiban yang harus lebih dulu kutuntaskan, Gueta.” Gusion menarik napas. Dia melompat dari atas gedung, seekor Pegasus melintas di bawahnya, membiarkan Gusion mendarat dipunggungnya. Lalu kembali terbang menghampiri Ague yang terkepung puluhan musuh. Sedang kondisinya sendiri tampak kelelahan.


“Sebuah balas budi, yang harus dituntaskan.”